Belajar dari kesombongan Iblis: ketika kelebihan berubah menjadi pembangkangan
Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Salah satu ujian paling halus dalam kehidupan beragama adalah ketika seseorang merasa dirinya sudah baik, bahkan merasa lebih baik daripada orang lain. Ia mungkin memiliki ilmu, jabatan, kekayaan, pengalaman, atau kedudukan sosial. Namun, kelebihan yang semestinya menjadi sarana pengabdian justru berubah menjadi alasan untuk meremehkan manusia lain.
Pesan khutbah Jumat Dr. Tgk. Teuku Zulkhairi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 23 Oktober 2026, mengajak kita melanjutkan refleksi tentang kasih sayang dan menjauhi kebencian dengan memeriksa satu sumber kerusakan hubungan antarmanusia: kesombongan. Dalam hal ini, Al-Qur’an menghadirkan sebuah contoh yang sangat mendasar, yakni sikap Iblis ketika diperintahkan Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang makhluk yang membangkang pada masa lalu. Ia adalah peringatan bagi setiap manusia yang merasa memiliki kelebihan, tetapi gagal menempatkan kelebihan tersebut dalam kerangka ketaatan dan kerendahan hati.
Iblis: merasa lebih baik, lalu menolak kebenaran
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 12, ketika bertanya kepada Iblis mengapa ia tidak bersujud sebagaimana yang diperintahkan:
Qala ana khairum minhu khalaqtani min narin wa khalaqtahu min tin.
Artinya, Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Di sinilah letak persoalan yang sangat penting. Iblis membangun penilaiannya berdasarkan asal penciptaan, lalu menjadikan penilaian tersebut sebagai alasan untuk menolak perintah Allah. Ia merasa lebih unggul dan menganggap keunggulan yang diklaimnya cukup untuk membenarkan pembangkangan.
Padahal, persoalannya bukan siapa yang merasa lebih tinggi, melainkan siapa yang bersedia menaati Allah. Iblis gagal memahami bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh klaim keunggulan, tetapi oleh ketaatan terhadap perintah-Nya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 34, Allah SWT juga menjelaskan peristiwa ketika para malaikat diperintahkan bersujud kepada Adam, lalu mereka bersujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri sehingga termasuk golongan yang kafir.
Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim menjelaskan kisah tersebut dalam konteks pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah dan kesombongannya terhadap Adam. Kisah ini memperlihatkan bahwa kesombongan dapat membuat seseorang menolak kebenaran sekalipun kebenaran itu telah nyata baginya.
Kita perlu berhati-hati dalam mengambil pelajaran dari kisah ini. Tidak setiap orang yang memiliki kepercayaan diri atau merasa unggul dalam suatu kemampuan dapat disamakan dengan Iblis. Yang patut diwaspadai ialah pola sikapnya: merasa lebih mulia, menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan kehendak diri sendiri.
Pola inilah yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada orang yang berilmu, memiliki kedudukan, atau bahkan aktif berbicara tentang agama.
Kesombongan dapat bersembunyi di balik ilmu dan jabatan
Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 18 agar manusia tidak memalingkan muka dari orang lain karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh. Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.
Sementara itu, Surah Al-Hujurat ayat 11 melarang orang beriman mengolok-olok orang lain, sebab boleh jadi orang yang direndahkan justru lebih baik daripada orang yang merendahkannya.
Kedua ayat ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam ukuran kemuliaan yang keliru. Manusia mudah menilai berdasarkan penampilan, kekayaan, jabatan, popularitas, pendidikan, atau pengaruh. Padahal, semua itu tidak dengan sendirinya membuktikan kualitas akhlak seseorang.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Dengan demikian, kesombongan bukan hanya soal pakaian mewah, gaya bicara, atau penampilan yang mencolok. Seseorang bisa tampil sederhana, tetapi tetap sombong ketika menolak nasihat karena merasa dirinya paling benar. Sebaliknya, seseorang boleh memiliki prestasi tinggi dan percaya diri tanpa menjadi sombong, selama ia tetap terbuka terhadap kebenaran dan menghormati orang lain.
Dalam pembahasan akhlak, Imam Al-Ghazali melalui Ihya Ulumiddin menguraikan penyakit batin seperti ujub dan takabur yang perlu dikenali serta diobati. Ujub adalah kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, sedangkan takabur berkaitan dengan sikap meninggikan diri di hadapan orang lain.
Dari sudut pandang psikologi, keyakinan bahwa diri lebih unggul dapat membuat seseorang defensif ketika dikritik, sulit mengakui kesalahan, dan cenderung menafsirkan perbedaan sebagai ancaman terhadap harga dirinya. Sebaliknya, kerendahan hati intelektual membantu seseorang menyadari keterbatasan pengetahuannya, mempertimbangkan bukti, dan bersedia belajar dari orang lain.
Karena itu, percaya diri perlu dibedakan dari kesombongan. Percaya diri membuat seseorang berani mengembangkan kemampuan sekaligus bersedia belajar. Kesombongan membuat seseorang merasa tidak perlu belajar dari siapa pun.
Dari kesombongan menuju pengkhianatan amanah
Persoalan menjadi lebih serius ketika kesombongan diikuti penghinaan, manipulasi, atau pengkhianatan terhadap amanah.
Orang yang diberi jabatan, misalnya, seharusnya memahami bahwa jabatan merupakan tanggung jawab, bukan izin untuk memperlakukan bawahan sesuka hati. Orang yang memiliki ilmu seharusnya membimbing mereka yang belum tahu, bukan menjadikan ketidaktahuan sebagai bahan ejekan. Orang yang dipercaya mengelola harta atau kepentingan masyarakat seharusnya menjaga kepercayaan, bukan menggunakannya untuk keuntungan pribadi.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58 bahwa amanah harus disampaikan kepada yang berhak dan manusia harus menetapkan hukum dengan adil.
Amanah bukan hanya urusan harta atau jabatan. Ia juga mencakup kepercayaan keluarga, tanggung jawab pendidikan, kewajiban profesi, serta penggunaan pengaruh di tengah masyarakat. Mengabaikan amanah demi kepentingan diri sendiri merupakan persoalan moral yang serius, terlebih ketika seseorang merasa kedudukannya membuat dirinya tidak perlu dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks ini, kisah Iblis memberi peringatan yang tajam: jangan sampai kelebihan yang kita miliki membuat kita merasa berada di atas aturan. Jangan sampai ilmu membuat kita merendahkan yang belum tahu, kekayaan membuat kita menghina yang kekurangan, atau jabatan membuat kita mengabaikan hak orang lain.
Kesalehan juga tidak cukup diukur dari kemampuan berbicara tentang kebaikan. Ia harus terlihat dalam kejujuran ketika tidak diawasi, keadilan kepada orang yang tidak disukai, kesetiaan menjaga kepercayaan, dan kesediaan memperlakukan orang yang lebih lemah dengan hormat.
Pelajaran bagi generasi muslim
Pertama, biasakan melakukan muhasabah. Periksa apakah kita mudah tersinggung ketika dikritik, sulit mengakui kesalahan, atau senang mempermalukan orang lain.
Kedua, belajarlah menerima nasihat tanpa langsung menyerang orang yang menyampaikannya. Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
Ketiga, jangan menjadikan kekayaan, gelar akademik, jabatan, keturunan, atau banyaknya pengikut sebagai alasan merasa lebih mulia. Semua kelebihan itu membawa tanggung jawab.
Keempat, jaga amanah sekecil apa pun. Hindari memanipulasi informasi, mengambil hak orang lain, menyalahgunakan kewenangan, dan mengingkari kepercayaan.
Kelima, hentikan kebiasaan menghina, memberi julukan yang menyakitkan, atau menjadikan kekurangan fisik, ekonomi, pendidikan, dan keluarga orang lain sebagai bahan tertawaan.
Keenam, latih kerendahan hati dengan belajar dari siapa saja, meminta maaf ketika salah, dan mengakui jasa orang lain tanpa merasa kehilangan kehormatan.
Ketujuh, jadikan kisah Iblis sebagai bahan introspeksi, bukan sekadar cerita untuk menyalahkan pihak lain. Setiap kali muncul pikiran bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain, tanyakan: apakah penilaian itu membuat kita semakin taat, semakin adil, dan semakin bermanfaat, atau justru semakin angkuh dan sulit menerima kebenaran?
Kedelapan, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan bahwa menjadi unggul bukan berarti merendahkan orang lain. Prestasi yang baik harus berjalan bersama kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kesediaan membantu sesama.
Pada akhirnya, jangan sampai kelebihan yang diberikan Allah menjadi sebab kerusakan akhlak kita. Kisah Iblis mengingatkan bahwa merasa lebih baik dapat menjadi pintu menuju penolakan terhadap kebenaran. Karena itu, semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Manusia yang benar-benar kuat tidak perlu membuat orang lain merasa kecil. Ia cukup memperbesar manfaat dirinya bagi sesama.
Jangan meniru kesombongan Iblis: merasa lebih baik lalu menolak kebenaran. Jadikan setiap kelebihan sebagai alasan untuk semakin bersyukur, semakin amanah, dan semakin rendah hati di hadapan Allah serta sesama manusia.
Wallahu a’lam
Darussalam 23 Oktober 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib)
