-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Langkah Awal dan Algoritma Kemaksiatan

Minggu, 18 Oktober 2026 | Oktober 18, 2026 WIB Last Updated 2026-10-18T23:05:36Z


Memutus Rantai Keburukan, Membangun Jalan Kebaikan


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah pelajaran penting dari tausiyah Subuh Ustaz Prof. Ilham Maulana, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK), pada kegiatan Safari BBC di Masjid An-Nur, Gampong Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Ahad, 18 Oktober 2026. Beliau mengajak jamaah memperhatikan langkah pertama dalam kehidupan, baik ketika memulai kebaikan maupun ketika berhadapan dengan keburukan. Sebab, langkah pertama dapat membuka jalan bagi langkah-langkah berikutnya, sampai seseorang terbiasa dengan arah yang dipilihnya.


Pesan ini menarik ketika kita membacanya melalui metafora algoritma. Dalam dunia komputasi, algoritma merupakan serangkaian instruksi atau langkah logis untuk menyelesaikan suatu persoalan atau menghasilkan keluaran tertentu. Sebuah proses berjalan mengikuti urutan, kondisi, dan keputusan yang telah ditetapkan. Ketika suatu pola berulang, sistem dapat menjalankan proses berikutnya secara lebih teratur dan efisien.


Dalam kehidupan manusia, tentu tidak sesederhana mesin. Manusia mempunyai akal, hati nurani, kehendak, pengalaman, dan kemampuan untuk bertobat serta mengubah keputusan. Namun, algoritma dapat menjadi metafora yang membantu kita memahami bagaimana sebuah kebiasaan terbentuk dan mengapa langkah pertama begitu menentukan arah perjalanan.


*Algoritma dalam Kebiasaan Manusia*


Bayangkan seseorang yang mulai membiasakan diri menunda salat. Pada awalnya, ia mungkin hanya menunda beberapa menit karena kesibukan. Lama-kelamaan, penundaan itu menjadi kebiasaan. Ketika kesibukan datang lagi, ia semakin mudah memberikan alasan untuk menunda. Jika tidak segera dikoreksi, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi sikap meremehkan kewajiban.


Hal serupa berlaku pada kebohongan, kemarahan, pergaulan yang buruk, penyalahgunaan amanah, hingga perilaku yang merugikan orang lain. Sebuah pelanggaran kecil yang tidak disesali dapat menurunkan kepekaan hati terhadap pelanggaran berikutnya. Batas yang dahulu terasa tegas perlahan menjadi longgar.


Sebaliknya, seseorang yang membiasakan salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, bersedekah, dan menolong sesama sedang membangun pola kebaikan. Pada mulanya, ia mungkin harus memaksa diri untuk memulai. Namun, ketika dilakukan dengan kesungguhan dan konsistensi, kebaikan itu semakin mudah menjadi bagian dari kehidupannya.


Dalam psikologi perilaku, pembentukan kebiasaan juga dipahami melalui hubungan antara pemicu, tindakan, dan konsekuensi yang memperkuat atau melemahkan kemungkinan suatu tindakan diulang. Charles Duhigg, dalam The Power of Habit, mempopulerkan penjelasan tentang lingkaran kebiasaan yang melibatkan isyarat, rutinitas, dan ganjaran. Penjelasan ini membantu kita memahami mengapa suatu perilaku dapat berulang, meskipun tidak berarti seluruh perilaku manusia bisa dijelaskan hanya dengan satu rumus.


Karena itu, algoritma kehidupan dapat mengarah kepada dua kemungkinan: algoritma kebaikan yang memperkuat ketaatan, atau algoritma keburukan yang menyeret manusia semakin jauh dari petunjuk Allah.


*Iblis dan Strategi Langkah demi Langkah*


Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai cara manusia harus menghadapi godaan setan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:


“Wa lā tattabi‘ū khuṭuwātisy-syaiṭān, innahū lakum ‘aduwwum mubīn.”


Artinya: “Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”


Peringatan serupa terdapat dalam Surah An-Nur ayat 21. Allah tidak sekadar melarang manusia mengikuti setan, tetapi secara khusus menggunakan ungkapan khuṭuwātusy-syaiṭān, yakni langkah-langkah setan. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa kesesatan dapat berkembang melalui rangkaian tahapan, bukan hanya melalui satu tindakan besar yang langsung terlihat akibatnya. Tafsir Ibnu Katsir atas ayat tersebut menjelaskan larangan mengikuti jalan, cara, dan perintah setan yang mengantarkan manusia kepada perbuatan keji dan mungkar. .


Iblis tidak selalu datang dengan ajakan yang tampak buruk sejak awal. Ia dapat membungkus godaan dengan alasan yang terdengar masuk akal, menjanjikan keuntungan, membangkitkan rasa penasaran, atau menumbuhkan keyakinan bahwa pelanggaran kecil tidak akan membawa akibat serius.


Kisah Nabi Adam AS dan istrinya memberikan gambaran yang jelas. Dalam Surah Al-A’raf ayat 20, setan membisikkan godaan kepada keduanya dengan menjanjikan bahwa mereka akan menjadi malaikat atau termasuk golongan yang kekal. Dalam Surah Taha ayat 120, godaan itu digambarkan melalui janji pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa.


Godaan tersebut mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang dilarang. Yang semula merupakan batas ketaatan ditampilkan sebagai kesempatan memperoleh keuntungan. Inilah salah satu bahaya langkah pertama: manusia mulai menerima cara berpikir yang membenarkan pelanggaran, sebelum akhirnya melakukan tindakan yang dilarang.


Dalam kehidupan sekarang, bentuknya bisa berupa ajakan berbohong demi keuntungan kecil, menerima pemberian yang mengandung konflik kepentingan, mengakses sesuatu yang tidak pantas karena penasaran, atau mengikuti pergaulan yang perlahan menjauhkan seseorang dari nilai agama. Ketika langkah awal telah diterima, pembenaran untuk langkah berikutnya bisa semakin mudah ditemukan.


Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, dalam pembahasannya tentang perjalanan hati dan godaan setan, mengingatkan pentingnya menjaga pintu-pintu yang mengantarkan manusia kepada penyimpangan. Pelajaran yang dapat kita tarik ialah bahwa menjaga diri tidak cukup hanya dengan menolak kemaksiatan pada ujungnya. Kita juga harus mengenali jalan yang mengarah kepadanya.


Setan memang menggoda, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Karena itu, menyadari adanya godaan tidak boleh membuat kita menyalahkan setan atas setiap kesalahan, apalagi menjadikannya alasan untuk tidak bertobat.


*Jangan Biarkan Keburukan Menjadi Kebiasaan*


Pesan Prof. Ilham berikutnya sangat penting: bagaimana jika seseorang sudah telanjur melangkah ke arah yang salah? Apakah ia harus merasa tidak memiliki jalan keluar?


Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Kesalahan harus diakui, tetapi kesalahan bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan berikutnya. Justru ketika seseorang menyadari dirinya sedang terjebak, saat itulah ia harus menghentikan rangkaian keburukan tersebut.


Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar RA:


“Ittaqillāha ḥaitsumā kunta, wa atbi‘is-sayyi’atal-ḥasanata tamḥuhā, wa khāliqin-nāsa bikhuluqin ḥasan.”


Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1987). .


Hadis ini mengajarkan bahwa setelah melakukan keburukan, kita tidak boleh membiarkan diri terus berjalan pada arah yang sama. Kita perlu segera melakukan koreksi, bertobat, dan mengiringi kesalahan dengan amal saleh.


Jika kita terlanjur menyakiti seseorang dengan ucapan, langkah perbaikannya bukan sekadar memperbanyak zikir, melainkan juga meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Jika kita mengambil hak orang lain, kita harus mengembalikannya. Jika kita terbiasa meninggalkan kewajiban, kita harus membangun kembali disiplin ibadah. Kebaikan yang dilakukan harus relevan dengan kesalahan yang hendak diperbaiki.


Dalam perspektif algoritma, inilah upaya memutus rangkaian keburukan. Kita menghentikan pemicu, mengubah keputusan, dan memilih tindakan baru yang mengarahkan kehidupan kepada kebaikan. Namun, metafora ini tetap memiliki batas: amal saleh bukan mekanisme otomatis yang membatalkan seluruh dosa tanpa syarat. Pertobatan yang sungguh-sungguh menuntut penyesalan, penghentian dosa, tekad untuk tidak mengulanginya, serta penyelesaian hak manusia jika pelanggaran menyangkut orang lain.


Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 114 bahwa sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Ayat ini memberikan harapan kepada orang yang ingin memperbaiki diri. Pintu kebaikan tetap terbuka selama manusia bersedia kembali kepada Allah.


Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa nilai suatu tindakan tidak terlepas dari niatnya. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa amal-amal bergantung pada niat. Niat baik karena itu harus diikuti tindakan yang benar, sedangkan niat buruk tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi perbuatan. Dalam hadis sahih lainnya, Nabi SAW menjelaskan bahwa orang yang berniat melakukan keburukan tetapi tidak jadi melakukannya karena Allah tidak diperlakukan sama dengan orang yang benar-benar mengerjakannya.


Kita perlu berhati-hati dalam memahami hal ini: bukan berarti setiap kesalahan otomatis selesai hanya karena setelahnya kita melakukan satu kebaikan. Pesannya adalah agar kita tidak membiarkan kesalahan menjadi akhir perjalanan. Kita harus segera berbalik, memperbaiki diri, dan menjadikan kebaikan sebagai arah baru kehidupan.


*Menjaga Langkah Pertama Generasi Muslim*


Bagi generasi muda Muslim, menjaga langkah pertama merupakan tantangan besar. Mereka hidup di tengah derasnya informasi, budaya digital, pergaulan yang beragam, serta tawaran kesenangan yang datang hampir tanpa jeda. Tidak semua yang populer itu baik, dan tidak semua yang terasa menyenangkan membawa manfaat.


Langkah pertama menuju keburukan bisa dimulai dari rasa penasaran yang tidak dikendalikan, tontonan yang merusak kehormatan diri, candaan yang merendahkan orang lain, atau keberanian mencoba sesuatu yang telah diketahui terlarang. Jika diulang, tindakan tersebut dapat mengubah ukuran kepantasan dan melemahkan rasa bersalah.


Karena itu, pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan mana yang halal dan haram. Generasi muda juga perlu dibekali kemampuan mengenali proses yang mengantarkan seseorang kepada pelanggaran. Mereka perlu belajar berkata tidak, mengelola dorongan diri, memilih teman, mengatur penggunaan teknologi, dan berani meninggalkan lingkungan yang mendorong kemaksiatan.


Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, menekankan pentingnya melatih jiwa, mengawasi diri, dan membiasakan amal yang baik. Jiwa tidak cukup diarahkan dengan pengetahuan, tetapi juga harus dididik melalui latihan yang konsisten. Seseorang yang ingin menjaga dirinya perlu membangun kebiasaan baik sebelum datang godaan yang lebih berat.


Setidaknya ada enam langkah yang perlu dijaga oleh generasi Muslim.


Pertama, periksa niat sebelum bertindak. Tanyakan kepada diri sendiri apakah langkah yang akan diambil mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya.


Kedua, kenali pintu masuk kemaksiatan. Waspadai rasa penasaran, pembenaran diri, tekanan teman sebaya, keserakahan, dan kebiasaan kecil yang berulang. Jangan menunggu sampai akibatnya besar untuk mulai berhati-hati.


Ketiga, bangun algoritma kebaikan. Mulailah dari tindakan yang nyata: menjaga salat, membaca Al-Qur’an setiap hari, memilih makanan halal, menjaga lisan, dan membiasakan sedekah. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten akan membantu membentuk karakter.


Keempat, pilih lingkungan yang menguatkan iman. Teman, keluarga, guru, dan komunitas memiliki pengaruh terhadap keputusan seseorang. Berjamaah bukan hanya berkumpul, melainkan saling mengingatkan dan membantu ketika salah seorang mulai menyimpang.


Kelima, segera putus rangkaian keburukan. Jika telanjur melakukan kesalahan, jangan menunda pertobatan. Hentikan perbuatannya, perbaiki akibatnya, mintalah maaf jika menyakiti orang lain, dan iringi dengan amal saleh.


Keenam, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap anak Adam melakukan kesalahan, dan orang-orang yang terbaik di antara mereka adalah yang bertobat. Riwayat ini mengandung pesan agar manusia tidak menyerah ketika jatuh, melainkan segera bangkit dan kembali kepada Allah. .


Pada akhirnya, kehidupan manusia senantiasa menawarkan pilihan. Ada jalan kebaikan yang menguatkan iman, membentuk akhlak, dan mengantarkan kepada rida Allah. Ada pula jalan keburukan yang bermula dari langkah kecil, kemudian berkembang menjadi kebiasaan dan menjauhkan manusia dari petunjuk-Nya.


Tausiyah Prof. Ilham Maulana mengingatkan kita bahwa langkah pertama bukan perkara sepele. Ia dapat menjadi pintu bagi perjalanan panjang yang menentukan arah kehidupan. Karena itu, jangan meremehkan satu keputusan kecil, baik ketika hendak melakukan kebaikan maupun ketika mulai tergoda melakukan keburukan.


Mari kita bangun algoritma ketaatan dalam diri, keluarga, dan masyarakat. Mulailah dari niat yang benar, tindakan yang baik, dan kebiasaan yang terjaga. Jika terlanjur salah, jangan biarkan satu kesalahan melahirkan kesalahan berikutnya. Putuskan rangkaiannya dengan pertobatan dan amal saleh.


Sebab, yang perlu kita jaga bukan hanya ke mana langkah kita akan berakhir, melainkan juga langkah pertama yang sedang kita ambil hari ini. Dari sanalah kebiasaan terbentuk, karakter tumbuh, dan masa depan kehidupan dunia serta akhirat dipertaruhkan.


Wallahu a’lam 


Darussalam, 18 Oktober 2026


(Penulis, Tgk Imum Meunasah Barabung Darussalam Aceh Besar, gampong tempat tinggal Prof Ilham Maulana)


Foto: dua dari kiri; Ust Erwandi (koordinator BBC), Prof Ilham Maulana (kostum maron), penulis, H Safwan Yusuf, dan para sahabat BBC

×
Berita Terbaru Update