Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada orang yang mengetahui apa yang harus dikerjakan, tetapi merasa tidak sanggup memulainya. Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan, kesempatan, bahkan dukungan yang cukup, tetapi terus menunda pekerjaan hingga kesempatan itu berlalu. Sebagian terhalang oleh keterbatasan nyata, sementara sebagian lainnya terperangkap dalam kebiasaan menunda, takut gagal, atau enggan menghadapi kesulitan.
Keduanya menghadirkan persoalan yang berbeda, tetapi dapat berujung pada keadaan yang sama: potensi tidak berkembang, amanah tidak tertunaikan, dan kesempatan berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Dalam kehidupan pribadi, keluarga, pendidikan, pekerjaan, maupun pembangunan masyarakat, kita membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang apa yang baik. Kita memerlukan kemampuan untuk bertindak dan kemauan untuk memulai. Mengetahui jalan belum tentu membuat seseorang berjalan. Memiliki peta belum tentu mengantarkannya sampai ke tujuan.
Di sinilah pentingnya merenungkan doa Rasulullah ﷺ yang memohon perlindungan kepada Allah dari al-‘ajz dan al-kasal: ketidakberdayaan dan kemalasan.
Doa yang Mendidik Manusia untuk Bergerak
Dalam hadis sahih, Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Allahumma inni a‘udzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa dhala‘id-dayn, wa ghalabatir-rijal.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kekikiran, dari beratnya beban utang, serta dari dikuasai orang lain.” (HR. al-Bukhari, no. 6369).
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata untuk dibaca ketika menghadapi kesulitan. Ia juga merupakan pendidikan jiwa. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya agar mengenali keadaan-keadaan yang dapat melemahkan manusia dari dalam, kemudian memohon pertolongan Allah untuk mengatasinya.
Menariknya, ketidakberdayaan dan kemalasan disebut berpasangan. Keduanya tidak selalu sama. Seseorang dapat memiliki keinginan kuat tetapi menghadapi keterbatasan kemampuan. Sebaliknya, seseorang mungkin mempunyai kemampuan memadai, tetapi tidak menggunakannya karena enggan berusaha.
Pembedaan ini penting agar kita tidak tergesa-gesa menghakimi orang yang belum berhasil. Tidak setiap kegagalan bersumber dari kemalasan, dan tidak setiap keterlambatan menunjukkan kurangnya kesungguhan. Ada orang yang sedang sakit, menghadapi tekanan ekonomi, kekurangan akses pendidikan, atau memikul beban keluarga yang berat. Mereka membutuhkan dukungan dan kesempatan, bukan sekadar teguran.
Namun, ada pula keadaan ketika manusia sebenarnya dapat bergerak, tetapi membiarkan dirinya terhenti oleh kebiasaan menunda dan keengganan menghadapi tantangan. Di sinilah doa tersebut mengajak kita melakukan pemeriksaan diri.
Memahami Al-‘Ajz dan Al-Kasal
Secara sederhana, al-‘ajz dapat dipahami sebagai ketidakmampuan atau ketidakberdayaan menghadapi suatu urusan. Adapun al-kasal berarti kemalasan atau keengganan untuk mengerjakan sesuatu yang semestinya dapat dilakukan.
Ketidakberdayaan tidak selalu berarti seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan. Bisa jadi ia kehilangan daya untuk bertindak karena tekanan, keterbatasan sumber daya, ketakutan, atau persoalan yang belum mampu diatasinya sendiri. Sementara itu, kemalasan dapat muncul ketika seseorang mengetahui kewajibannya, memiliki kesempatan untuk melaksanakannya, tetapi terus memilih menunda tanpa alasan yang memadai.
Keduanya dapat saling memperkuat. Kebiasaan menunda membuat pekerjaan menumpuk. Pekerjaan yang menumpuk menimbulkan kecemasan. Kecemasan membuat seseorang semakin enggan memulai. Akhirnya, ia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan yang sebagian justru membesar akibat penundaannya sendiri.
Lingkaran ini dapat terjadi pada seorang mahasiswa yang terus menunda tugas, seorang pegawai yang menghindari tanggung jawab, seorang pemimpin yang enggan mengambil keputusan, atau sebuah lembaga yang berkali-kali membicarakan perbaikan tanpa pernah menjalankannya.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Mengapa saya belum berhasil?” Melainkan juga, “Apa yang sebenarnya menghalangi saya, dan langkah apa yang masih dapat saya lakukan?”
Pertanyaan kedua membuka pintu ikhtiar.
Al-Qur’an Mengajarkan Ikhtiar, Bukan Kepasrahan yang Pasif
Al-Qur’an memberikan landasan kuat bagi manusia untuk berusaha. Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini kerap dikaitkan dengan pentingnya perubahan diri. Perubahan memang tidak selalu berada sepenuhnya dalam kendali manusia. Ada keadaan sosial, ekonomi, dan alam yang memerlukan usaha kolektif. Namun, ayat tersebut menegaskan bahwa manusia tidak semestinya menunggu perubahan sambil mengabaikan tanggung jawab yang berada dalam jangkauannya.
Dalam Surah An-Najm ayat 39, Allah juga berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini mengingatkan manusia tentang nilai usaha. Hasil akhirnya tidak selalu persis seperti yang diharapkan, tetapi usaha tetap menjadi bagian penting dari tanggung jawab manusia.
Rasulullah ﷺ bahkan memberikan pedoman yang sangat praktis. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim, no. 2664).
Tiga pesan ini tersusun secara menarik. Pertama, manusia diminta mengejar sesuatu yang bermanfaat. Kedua, ia diperintahkan memohon pertolongan Allah. Ketiga, ia diingatkan agar tidak menyerah dalam ketidakberdayaan.
Dengan demikian, Islam tidak menempatkan doa dan ikhtiar sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Doa menguatkan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan ikhtiar menjadi bentuk tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.
Tawakal bukan alasan untuk tidak bergerak. Sebaliknya, tawakal memberikan keteguhan ketika seseorang telah berusaha, tetapi belum memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan.
Dari Psikologi hingga Manajemen: Mengapa Manusia Menunda?
Psikologi modern mengenal fenomena prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda pekerjaan meskipun seseorang mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat merugikan dirinya. Kebiasaan ini tidak selalu muncul karena seseorang tidak memahami tugasnya. Kadang-kadang, tugas terasa terlalu besar, hasilnya tidak pasti, atau kemungkinan gagal menimbulkan ketidaknyamanan emosional.
Seseorang yang takut hasil pekerjaannya tidak sempurna, misalnya, dapat terus menunggu sampai merasa benar-benar siap. Padahal, kesiapan yang sempurna mungkin tidak pernah datang. Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya dapat dimulai secara sederhana justru tidak pernah dikerjakan.
Dalam pengelolaan organisasi, persoalan serupa dapat terlihat ketika rapat demi rapat menghasilkan banyak gagasan, tetapi tidak disertai pembagian tugas, tenggat waktu, dan evaluasi. Energi habis untuk membicarakan rencana, sementara pelaksanaan terus menunggu.
Karena itu, salah satu prinsip manajemen yang berguna ialah memecah pekerjaan besar menjadi langkah-langkah kecil yang jelas. Tujuan yang jauh perlu diterjemahkan menjadi tindakan harian yang dapat diukur. Pekerjaan yang terasa berat menjadi lebih mungkin diselesaikan ketika seseorang mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan.
Meski demikian, kita perlu berhati-hati. Tidak semua kesulitan memulai pekerjaan dapat disederhanakan menjadi persoalan disiplin. Kelelahan berkepanjangan, gangguan kesehatan, tekanan psikologis, lingkungan yang tidak mendukung, dan beban yang tidak proporsional juga dapat menghambat seseorang. Dalam keadaan seperti itu, istirahat, bantuan profesional, pembagian beban, atau perubahan lingkungan mungkin lebih diperlukan daripada sekadar memaksa diri bekerja lebih keras.
Prinsipnya, kita perlu membedakan antara tidak mau, belum mampu, dan sedang membutuhkan pertolongan. Ketiganya memerlukan pendekatan yang berbeda.
Kemalasan Pribadi dan Ketidakberdayaan Kolektif
Jika ditarik ke ruang yang lebih luas, doa ini juga relevan bagi kehidupan masyarakat dan lembaga.
Sebuah komunitas dapat memiliki sumber daya manusia yang cerdas, kekayaan alam yang besar, serta peluang ekonomi yang terbuka. Namun, semua itu tidak otomatis melahirkan kesejahteraan apabila tidak disertai kemampuan mengelola potensi dan kesediaan bekerja sama.
Kadang-kadang, kita terlalu lama membicarakan kekurangan, menyalahkan keadaan, atau menunggu seseorang datang membawa perubahan. Kritik tentu diperlukan, terutama ketika ada kebijakan yang tidak tepat atau ketidakadilan yang harus diperbaiki. Akan tetapi, kritik akan kehilangan daya konstruktif apabila tidak diikuti usulan, keberanian bertindak, dan kesediaan mengambil bagian dalam penyelesaian masalah.
Dalam konteks Aceh, misalnya, harapan membangun generasi unggul tidak cukup dengan mengulang slogan tentang masa depan. Pendidikan harus diperkuat, keluarga perlu menghadirkan keteladanan, lembaga mesti meningkatkan mutu pelayanan, dan masyarakat perlu membuka ruang bagi anak-anak muda untuk tumbuh serta berkontribusi.
Tidak semua hambatan dapat diselesaikan oleh satu orang. Ada masalah yang membutuhkan kebijakan pemerintah, investasi, kerja lintas lembaga, dan perubahan sistem. Namun, kompleksitas masalah tidak boleh menjadi alasan untuk meniadakan langkah-langkah yang sudah mungkin dilakukan.
Di sinilah perbedaan antara mengakui keterbatasan dan menyerah kepada keterbatasan. Yang pertama merupakan sikap realistis; yang kedua berisiko mematikan harapan.
Tujuh Langkah Keluar dari Ketidakberdayaan dan Kemalasan
Lalu, bagaimana doa ini diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari?
Pertama, kenali hambatan yang sesungguhnya. Jangan buru-buru menyebut diri malas ketika masalahnya adalah kelelahan, kekurangan keterampilan, atau ketidakjelasan tujuan. Sebaliknya, jangan pula terus menyalahkan keadaan apabila ada bagian yang sebenarnya dapat diperbaiki.
Kedua, mulailah dari tindakan terkecil. Jika ingin menulis, mulailah dengan satu paragraf. Jika ingin memperbaiki kesehatan, mulailah dengan kebiasaan yang sesuai dengan kondisi tubuh. Jika ingin menyelesaikan persoalan organisasi, tetapkan satu keputusan dan siapa yang bertanggung jawab melaksanakannya.
Ketiga, tetapkan waktu dan ukuran keberhasilan. Niat baik membutuhkan jadwal, sementara rencana membutuhkan indikator. Jangan hanya berkata, “Saya akan mengerjakannya.” Tentukan kapan memulai dan apa yang harus selesai.
Keempat, bangun kebiasaan, bukan hanya mengandalkan semangat. Semangat dapat naik dan turun. Kebiasaan yang sederhana dan konsisten membantu seseorang tetap bergerak ketika motivasi sedang melemah.
Kelima, carilah bantuan ketika diperlukan. Bertanya kepada orang yang berpengalaman, belajar keterampilan baru, meminta dukungan keluarga, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional bukanlah tanda kelemahan. Itu merupakan bentuk ikhtiar untuk mengatasi keterbatasan.
Keenam, evaluasi tanpa merendahkan diri. Jika suatu cara tidak berhasil, periksa kembali caranya. Kegagalan satu strategi tidak selalu berarti kegagalan seluruh tujuan. Perbaiki pendekatan, atur ulang langkah, dan lanjutkan selama tujuan tersebut masih baik dan layak diperjuangkan.
Ketujuh, iringi usaha dengan doa dan tawakal. Bacalah doa Rasulullah ﷺ dengan memahami maknanya. Mohonlah kekuatan kepada Allah, kemudian gunakan kemampuan yang telah dianugerahkan-Nya. Hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah, tetapi tanggung jawab berusaha tidak boleh ditinggalkan.
Apabila ketidakberdayaan berlangsung lama hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan yang tepat. Ada persoalan yang tidak cukup diselesaikan dengan nasihat singkat, dan ada keadaan yang membutuhkan pendampingan lebih serius.
Jangan Biarkan Potensi Berhenti sebagai Niat
Doa berlindung dari al-‘ajz dan al-kasal mengajak kita memahami bahwa manusia membutuhkan dua kekuatan sekaligus: kemampuan untuk bertindak dan kemauan untuk menggerakkan kemampuan tersebut.
Kemampuan tanpa kemauan dapat membuat potensi terpendam. Kemauan tanpa kemampuan yang memadai dapat membuat seseorang terus menghadapi kesulitan yang sama. Karena itu, keduanya perlu ditumbuhkan melalui pembelajaran, latihan, kedisiplinan, lingkungan yang mendukung, dan pertolongan Allah.
Tidak setiap hari kita mampu melakukan pekerjaan besar. Ada masa ketika langkah harus diperlambat, tenaga perlu dipulihkan, dan bantuan orang lain perlu diterima. Itu bukan selalu kemalasan. Yang perlu diwaspadai ialah ketika keterbatasan dijadikan alasan untuk tidak mencoba, atau ketika penundaan berulang kali dibiarkan tanpa usaha memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, doa bukan sekadar permohonan agar Allah menghilangkan hambatan dari jalan kita. Doa juga dapat menjadi pengingat agar kita tidak menambah hambatan melalui kelalaian sendiri.
Ketika berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan,” kita sekaligus diajak bertanya kepada diri sendiri: kemampuan apa yang perlu saya bangun, pekerjaan apa yang harus saya mulai, amanah apa yang belum saya tunaikan, dan pertolongan apa yang perlu saya cari?
Mungkin kita belum sanggup menyelesaikan seluruh persoalan hari ini. Namun, selama masih ada langkah baik yang dapat dilakukan, jangan biarkan hari berlalu hanya dengan penyesalan dan rencana.
Berdoalah dengan sungguh-sungguh, bergeraklah dengan kemampuan yang ada, belajarlah ketika belum mampu, dan bertawakallah setelah berikhtiar. Sebab, masa depan tidak dibangun hanya oleh mereka yang memiliki banyak rencana, melainkan oleh mereka yang bersedia memulai langkah-langkah baik, sekecil apa pun, secara konsisten.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Darussalam 10 Jimadil Awal 1448, 21 Oktober 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Ranriry Banda Aceh)
