-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Proses Mati: Jembatan ke Dimensi Lain

Rabu, 14 Oktober 2026 | Oktober 14, 2026 WIB Last Updated 2026-10-14T12:50:40Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Selasa, 13 Oktober 2026, menjadi hari yang kembali mengingatkan keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh tentang betapa dekatnya kematian dengan kehidupan. Pagi itu, kabar duka datang dari Ustaz Israk Ahmadsyah, PhD, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, yang berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya mengejutkan banyak orang, terutama mereka yang selama ini mengenal dan berinteraksi dengannya dalam lingkungan akademik dan pengabdian.


Selepas Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, menjelang keberangkatan kami mengikuti prosesi pemakaman almarhum, saya terlibat dalam sebuah percakapan singkat dengan Wakil Dekan I Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Nazaruddin Musa, PhD. Di tengah suasana duka, Pak Nazar seperti sedang merenungkan sesuatu yang dalam tentang kematian.


Beliau menyampaikan pemikiran yang sederhana, tetapi menarik perhatian saya: sesungguhnya kita semua sedang menjalani proses menuju kematian. Bukan hanya mereka yang sedang sakit, terbaring di rumah sakit, atau berada dalam kondisi kritis, melainkan juga mereka yang sehat dan sedang menjalani kehidupan sehari-hari. Proses penuaan yang berlangsung dalam tubuh kita merupakan salah satu tanda bahwa waktu kehidupan terus bergerak.


Saya spontan melirik diri sendiri. Usia saya lebih tua daripada Pak Nazar. Sambil tersenyum, beliau menghubungkan renungannya dengan firman Allah, kullu nafsin dzā’iqatul maut.


Saya terdiam sejenak. Selama ini, ayat tersebut tentu bukan sesuatu yang asing. Kita mendengarnya dalam ceramah, membacanya dalam Al-Qur’an, dan mengulanginya ketika menghadiri pemakaman. Namun, saya merasa belum cukup memperhatikan kedalaman makna yang dapat direnungkan dari pilihan kata dzā’iqatul maut itu.


Luar biasa, pikir saya. Sebuah percakapan pendek menjelang pemakaman telah membuka pintu pemikiran yang panjang.


Merasakan kematian, bukan sekadar menunggunya


Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ


Kullu nafsin dzā’iqatul maut.


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”


Kalimat yang sama juga terdapat dalam Surah Al-Anbiya ayat 35 dan Surah Al-Ankabut ayat 57. Pengulangan ini menegaskan bahwa kematian merupakan ketetapan universal yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.


Ada baiknya kita memperhatikan pilihan kata yang digunakan Allah. Ayat tersebut tidak berbunyi kullu nafsin maut, melainkan kullu nafsin dzā’iqatul maut. Kata dzā’iqah berasal dari kata dzāqa, yang berkaitan dengan aktivitas mengecap atau merasakan sesuatu.


Dalam bahasa Arab, ungkapan dzā’iqatul maut berarti setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Secara tata bahasa, bentuk tersebut menyatakan kepastian bahwa kematian akan dialami. Ia tidak dengan sendirinya berarti setiap orang telah mengalami kematian secara harfiah sejak lahir.


Namun, di sinilah terbuka ruang renungan yang menarik: jika kematian adalah kepastian yang sedang kita tuju, bukankah kehidupan yang kita jalani hari ini merupakan bagian dari perjalanan menuju perjumpaan itu?


Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berlaku umum bagi seluruh makhluk yang akan mengalami kematian, sedangkan Allah adalah Yang Mahahidup dan tidak mengalami kematian. Imam Al-Qurthubi juga membahas kata dzā’iqah dalam pengertian merasakan kematian, sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh makhluk.


Karena itu, kita dapat mengambil pelajaran reflektif bahwa kematian bukan sekadar urusan orang sakit atau orang lanjut usia. Orang muda, orang sehat, orang yang sedang bekerja, bahkan mereka yang merasa masih mempunyai puluhan tahun untuk hidup, semuanya sedang berjalan menuju batas kehidupan masing-masing.


Sejak lahir, usia kita mulai bertambah. Setiap hari yang berlalu tidak dapat dipanggil kembali. Tubuh tumbuh, mencapai kematangan, kemudian mengalami penuaan. Waktu yang tersisa terus berkurang, meskipun kita tidak pernah mengetahui berapa banyak yang masih tersedia.


Maka, dalam pengertian perjalanan waktu dan kesadaran eksistensial, sejak kita hidup, kita juga sedang menempuh perjalanan menuju kematian. Bukan berarti hidup dan mati berlangsung sebagai keadaan biologis yang sama, melainkan bahwa keduanya terhubung dalam satu perjalanan yang tidak dapat dipisahkan.


Tubuh menua, waktu terus berjalan


Ilmu pengetahuan modern memberi kita sudut pandang yang menarik untuk memahami perjalanan ini. Bidang biologi penuaan atau gerontology mempelajari perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung seiring bertambahnya usia.


National Institute on Aging, lembaga di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat, menjelaskan bahwa penuaan berkaitan dengan perubahan bertahap pada berbagai sistem tubuh, termasuk otak dan saraf, tulang dan otot, jantung dan pembuluh darah, sistem kekebalan, serta proses hormonal dan metabolisme.


Perubahan tersebut berlangsung dengan pola yang berbeda pada setiap individu. Ada orang yang tetap aktif dan produktif pada usia lanjut, sementara orang lain mengalami penurunan fungsi tubuh lebih awal. Faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan kondisi kesehatan ikut memengaruhi perjalanan tersebut.


Temuan ilmiah ini tidak membuktikan bahwa seseorang secara harfiah sedang mengalami kematian pada setiap detik kehidupannya. Akan tetapi, ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa kehidupan biologis bersifat dinamis, mengalami perubahan, dan tidak berlangsung dalam keadaan yang tetap selamanya.


Kita mungkin merasa sehat hari ini. Namun, di dalam tubuh berlangsung proses pembaruan sel, perubahan fungsi organ, dan berbagai mekanisme biologis yang terus bergerak seiring waktu.


Di sinilah sains dan perenungan keagamaan dapat saling memberi perspektif. Sains membantu kita memahami bagaimana tubuh mengalami penuaan. Agama mengajak kita bertanya lebih jauh: untuk apa waktu kehidupan yang terbatas ini digunakan?


Pertanyaan kedua itulah yang semestinya membuat kita tidak hanya sibuk memperpanjang usia, tetapi juga berusaha memperbaiki kualitas hidup dan nilai pengabdian selama usia masih diberikan.


Kematian sebagai perpindahan menuju dimensi lain


Dalam sebuah talkshow Mata Najwa, saya teringat pernah mendengar almarhum Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie menyampaikan pemikiran tentang kematian sebagai proses memasuki dimensi lain. Saya belum dapat memastikan rekaman, episode, dan redaksi persis pernyataan beliau, sehingga gagasan tersebut sebaiknya dipahami sebagai ingatan saya, bukan kutipan langsung yang telah terverifikasi.


Terlepas dari ketepatan redaksinya, gagasan tentang kematian sebagai perpindahan menuju dimensi lain merupakan metafora yang menarik untuk direnungkan.


Kita mengenal kehidupan melalui pengalaman inderawi. Kita melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, bekerja, mencintai, dan berinteraksi dengan sesama. Ketika kematian datang, hubungan seseorang dengan kehidupan dunia sebagaimana kita kenal berakhir. Tubuhnya tidak lagi menjalankan fungsi biologis yang menopang kehidupan duniawi.


Namun, dalam perspektif Islam, berakhirnya kehidupan dunia bukan berarti seluruh keberadaan manusia lenyap tanpa kelanjutan.


Al-Qur’an memberikan gambaran tentang fase setelah kematian melalui Surah Al-Mu’minun ayat 99–100. Ketika kematian datang, manusia yang menyadari kekeliruannya memohon agar dikembalikan ke dunia supaya dapat beramal saleh. Akan tetapi, permintaan itu tidak dikabulkan. Allah kemudian berfirman:


وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ


“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”


Ayat ini menjadi landasan penting dalam pembahasan tentang alam barzakh. Secara bahasa, barzakh berarti pemisah atau penghalang. Dalam konteks ayat tersebut, para ulama memahaminya sebagai fase antara kematian dan kebangkitan pada hari kiamat.


Kita boleh menggunakan istilah “dimensi lain” sebagai bahasa perenungan untuk membantu pembaca membayangkan adanya fase kehidupan yang berbeda dari kehidupan dunia. Akan tetapi, kita perlu memahami batasnya: alam barzakh merupakan perkara gaib yang kita imani berdasarkan wahyu, bukan dimensi fisik yang telah diidentifikasi atau dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern.


Karena itu, ungkapan kematian sebagai perpindahan dimensi tidak perlu diperlakukan sebagai teori fisika. Ia lebih tepat menjadi jembatan pemahaman untuk merenungkan bahwa kematian, menurut iman Islam, bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia.


Dari barzakh menuju kehidupan abadi


Jika kematian adalah pintu menuju fase berikutnya, ke manakah perjalanan manusia akhirnya bermuara?


Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah alam barzakh, manusia akan dibangkitkan dan menghadapi pengadilan Allah. Surah Ali Imran ayat 185 melanjutkan pernyataan tentang kematian dengan penegasan bahwa balasan amal disempurnakan pada hari kiamat:


وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.”


Ayat tersebut menghubungkan kematian dengan pertanggungjawaban. Kehidupan dunia bukan perjalanan tanpa arah. Ada amal yang dicatat, amanah yang harus dipenuhi, hak orang lain yang harus dijaga, dan kezaliman yang tidak boleh dianggap selesai hanya karena pelakunya telah meninggal.


Allah kemudian menegaskan bahwa orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh memperoleh kemenangan.


Dengan demikian, tujuan akhir kehidupan bukan semata-mata melewati kematian, melainkan memperoleh keselamatan ketika seluruh perjalanan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Surga dan neraka dalam ajaran Islam bukan sekadar simbol psikologis tentang kebahagiaan dan penderitaan. Keduanya merupakan bagian dari keyakinan mengenai kehidupan akhirat. Sementara itu, bagaimana tepatnya keadaan alam barzakh dan berbagai perkara gaib di dalamnya harus kita pahami berdasarkan keterangan wahyu yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dugaan yang berlebihan.


Hadis mengingatkan kita agar tidak terlambat


Rasulullah saw. mengingatkan manusia tentang kematian melalui sabdanya:


“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan,” yakni kematian.


Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami’ at-Tirmidzi, nomor 2307.


Pesannya bukan agar kita hidup dalam ketakutan, kehilangan semangat, atau berhenti merencanakan masa depan. Sebaliknya, mengingat kematian semestinya membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan waktu.


Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Rasulullah saw. juga memberikan nasihat:


“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”


Seorang pengembara mengetahui bahwa tempat yang disinggahinya bukan tujuan akhir. Ia menggunakan bekal secara bijak, menjaga arah perjalanan, dan tidak menghabiskan seluruh perhatiannya untuk hal-hal yang tidak membawanya ke tujuan.


Demikian pula manusia. Kita boleh membangun rumah, mengejar pendidikan, mengembangkan usaha, meniti karier, mengabdi kepada masyarakat, dan memikirkan masa depan generasi berikutnya. Semua itu dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridai Allah.


Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan dunia hingga lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.


Belajar dari kepergian Ustaz Israk


Pagi itu, kepergian Ustaz Israk Ahmadsyah menjadi kenyataan yang menghidupkan kembali pelajaran tentang kematian. Sehari sebelumnya, atau bahkan beberapa jam sebelumnya, manusia mungkin masih mempunyai agenda, rencana, percakapan, dan harapan. Kemudian, pada saat yang tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya, perjalanan duniawinya berakhir.


Kita yang mengantar jenazahnya ke pemakaman sesungguhnya sedang menyaksikan satu batas kehidupan yang juga akan kita lewati.


Ada yang berpulang pada usia muda, ada yang mencapai usia lanjut. Ada yang meninggal setelah sakit berkepanjangan, ada pula yang kepergiannya datang begitu cepat. Perbedaan itu tidak mengubah satu kepastian: tidak seorang pun memiliki kuasa mutlak atas kapan perjalanan dunianya berakhir.


Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya berapa lama kita akan hidup, tetapi apa yang sedang kita lakukan dengan kehidupan yang masih tersisa.


Apakah ilmu yang kita miliki telah memberi manfaat kepada orang lain? Apakah jabatan yang kita pegang telah menjadi jalan pengabdian? Apakah harta yang kita kumpulkan telah membawa keberkahan? Apakah keluarga yang menjadi amanah kita telah memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan teladan yang baik?


Dan yang tidak kalah penting, apakah hubungan kita dengan Allah semakin baik seiring bertambahnya usia?


Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun. Ia justru menjadi alat untuk memeriksa diri sendiri sebelum kesempatan itu berakhir.


Jangan menunggu kematian untuk mulai hidup dengan benar


Percakapan singkat dengan Pak Nazaruddin Musa selepas Zuhur tadi mengajarkan saya bahwa sebuah renungan dapat lahir dari satu kata dalam Al-Qur’an. Kata dzā’iqatul maut mengajak kita melihat kematian bukan semata-mata sebagai berita duka yang datang dari rumah sakit, kampus, atau rumah tetangga, tetapi sebagai kepastian yang seharusnya membentuk cara kita menjalani kehidupan.


Dalam pengertian perjalanan waktu, kita semua sedang menuju kematian. Dalam pengertian biologis, tubuh kita mengalami perubahan dan penuaan. Dalam perspektif iman, kematian menjadi pintu menuju alam barzakh, kemudian kebangkitan, pengadilan Allah, dan kehidupan akhirat.


Kita tidak mengetahui kapan pintu itu akan terbuka bagi diri kita. Yang berada dalam jangkauan ikhtiar kita adalah bagaimana mempersiapkan diri sebelum saat itu tiba.


Maka, selagi masih diberi napas, perbaikilah salat, luruskan niat, mintalah maaf kepada orang yang pernah kita sakiti, tunaikan amanah, lunasi kewajiban, peliharalah keluarga, dan sebarkan manfaat melalui ilmu serta pekerjaan kita. Jangan menunda kebaikan dengan alasan masih muda, masih sehat, atau masih mempunyai banyak waktu.


Sebab, boleh jadi, ketika kita sibuk menghitung sisa usia orang lain, sesungguhnya waktu kita sendiri juga terus berjalan.


Kematian memang sebuah perpisahan bagi mereka yang ditinggalkan. Namun, dalam keyakinan Islam, ia bukanlah penghapusan seluruh keberadaan manusia. Ia adalah perpindahan dari kehidupan dunia menuju fase berikutnya dalam perjalanan yang akan berakhir pada pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Semoga kepergian Ustaz Israk Ahmadsyah menjadi pengingat yang melembutkan hati kita. Semoga Allah mengampuni segala khilaf almarhum, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya dalam rahmat dan rida-Nya.


Dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup tidak hanya menghitung hari yang telah berlalu, tetapi sungguh-sungguh mengisi hari yang tersisa dengan amal saleh.


Sebab, pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa jauh kita berhasil berjalan di dunia, melainkan seberapa baik bekal yang kita bawa ketika perjalanan itu sampai pada batasnya.


Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu.


Amin ya Rabbal ‘alamin.


Tanjong Aceh Besar, 13 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)


Foto: proses pemakaman Ust Israk di Gampong Tanjong Kec Inginjaya Aceh Besar

×
Berita Terbaru Update