Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda, Banyumas, Jawa Tengah, Gus Ajir Ubaidillah, menyampaikan tausiyah Subuh Mahabbah di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (26/10/2026), bertepatan dengan 15 Jumadil Awal 1448 Hijriah.
Tausiyah bertema “Rasulullah Inspirasi Mahasantri: dari Krisis Identitas Menuju Pribadi Berintegritas” tersebut dilaksanakan oleh Ma’had Al-Jami’ah UIN Ar-Raniry berkolaborasi dengan Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama (PKMB) serta Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Fathun Qarib UIN Ar-Raniry.
Dalam tausiyahnya, Gus Ajir mengajak mahasiswa dan mahasantri menjadikan perjalanan hijrah Rasulullah saw. sebagai inspirasi dalam membangun karakter, memperkuat identitas keislaman, dan menumbuhkan integritas diri.
Ia menjelaskan, hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum perubahan besar dalam perjalanan dakwah Islam, dari fase pembinaan umat menuju pembangunan masyarakat dan peradaban.
Menurutnya, perjalanan hijrah mengandung pelajaran tentang pengorbanan, kesabaran, keberanian, serta pentingnya perencanaan dalam mewujudkan perubahan.
“Perubahan besar membutuhkan pengorbanan, kesabaran, perencanaan, dan keberanian. Tidak ada perjuangan besar yang selalu berjalan dengan mudah,” demikian pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.
Gus Ajir juga mengingatkan mahasiswa dan mahasantri yang sedang menuntut ilmu jauh dari kampung halaman agar tidak melupakan orang tua, keluarga, dan masyarakat asal mereka. Kesempatan belajar di perguruan tinggi dan lingkungan pesantren, katanya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia menambahkan, proses beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk menghadapi kerinduan terhadap kampung halaman atau homesickness, merupakan bagian dari perjalanan pendewasaan diri. Kesulitan tersebut hendaknya tidak menjadi alasan untuk berhenti berkembang, tetapi menjadi kesempatan melatih kemandirian, kesabaran, dan kedewasaan.
Tiga Strategi Membangun Peradaban
Memasuki pembahasan utama, Gus Ajir memaparkan tiga strategi Rasulullah saw. dalam membangun masyarakat Madinah, yakni membangun dan memakmurkan masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, serta membangun kesepakatan bersama melalui Piagam Madinah.
Strategi pertama adalah menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga memiliki peran penting dalam pendidikan, penguatan persaudaraan, musyawarah, dan kegiatan sosial yang bermanfaat.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan peradaban tidak cukup hanya dengan menghadirkan gedung dan fasilitas yang memadai, tetapi harus disertai pembangunan kualitas manusia, terutama keimanan dan akhlak.
Dalam konteks kehidupan kampus, masjid dapat menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, mengembangkan kelompok belajar, memperkuat pembinaan keagamaan, dan mendorong lahirnya berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat.
Strategi kedua adalah memperkuat persaudaraan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. ketika mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah.
Gus Ajir menekankan pentingnya membangun budaya saling membantu, menghargai perbedaan, dan mengembangkan potensi bersama. Mahasiswa yang berasal dari beragam daerah dan latar belakang hendaknya menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Ia juga mengingatkan bahwa persaudaraan yang sehat harus dibangun atas dasar kepedulian, tanggung jawab, kemandirian, dan keinginan untuk saling menguatkan.
“Budaya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan; budaya saling mengingatkan, bukan saling mempermalukan; dan budaya bekerja sama, bukan berlomba-lomba mencari pengakuan,” menjadi pesan penting yang relevan bagi kehidupan mahasiswa dan organisasi kampus.
Adapun strategi ketiga adalah membangun kesepakatan bersama melalui Piagam Madinah. Gus Ajir menjelaskan bahwa pengalaman Rasulullah saw. dalam mengatur kehidupan masyarakat Madinah memberikan pelajaran tentang pentingnya persatuan, keadilan, tanggung jawab bersama, dan penghormatan terhadap kesepakatan.
Menurutnya, persatuan tidak mengharuskan setiap orang memiliki latar belakang yang sama. Masyarakat yang beragam tetap dapat hidup berdampingan dan bekerja sama apabila memiliki komitmen terhadap tanggung jawab bersama.
Ia mengaitkan pelajaran tersebut dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama perlu dikelola secara bijaksana agar menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang damai dan maju.
Dalam konteks organisasi mahasiswa, ia mengingatkan pentingnya menaati aturan, menghormati hasil musyawarah, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Membangun Integritas dan Rasa Memiliki
Selain membahas strategi pembangunan Madinah, Gus Ajir mengajak mahasantri menumbuhkan rasa memiliki atau sense of belonging terhadap lingkungan tempat mereka belajar dan tinggal.
Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya bertanya tentang manfaat yang dapat diperoleh dari kampus, pesantren, atau organisasi. Ia juga harus memikirkan kontribusi yang dapat diberikan untuk memajukan lingkungan tersebut.
Mahasiswa, misalnya, perlu mengambil bagian dalam menjaga fasilitas kampus, memakmurkan masjid, membangun hubungan yang baik dengan sesama, serta menghadirkan gagasan dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan. Generasi muda, katanya, tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi harus mampu membuktikannya melalui kebiasaan baik, kedisiplinan, tanggung jawab, dan karya nyata.
Melalui keteladanan Rasulullah saw., mahasiswa dan mahasantri diharapkan mampu bergerak dari krisis identitas menuju pribadi yang memiliki keyakinan kuat, akhlak mulia, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang akhir tausiyah, Gus Ajir turut mengajak jamaah menghidupkan waktu pagi dengan berzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan melaksanakan salat sunah setelah matahari terbit sesuai ketentuan waktunya.
Ia berharap kegiatan Subuh Mahabbah tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi menjadi ruang pembinaan yang menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw., memperkuat karakter Islami, dan mendorong lahirnya generasi muda yang berilmu serta bermanfaat bagi umat.
“Makmurkan masjid, perkuat persaudaraan, dan jaga persatuan serta tanggung jawab bersama,” menjadi pesan penutup yang menegaskan bahwa pembangunan peradaban harus dimulai dari pembenahan diri, penguatan hubungan antarmanusia, dan komitmen untuk menghadirkan kebaikan bagi lingkungan.
Laporan Saif
