Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Muslim Zainuddin, mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk meneladani karakter pemuda Ashabul Kahfi dalam menjaga keimanan, meneguhkan integritas, serta menghadapi tantangan kehidupan di era modern.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Muslim saat memberikan tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, atau 17 Jumadil Awal 1448 Hijriah.
Dalam tausiyah bertema “Meneladani Karakter Pemuda Ashabul Kahfi di Era Modern”, Prof. Muslim mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 13 yang menjelaskan keteguhan iman sekelompok pemuda dalam mempertahankan keyakinan mereka.
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka,” demikian terjemahan ayat yang menjadi landasan refleksi tersebut.
Menurut Prof. Muslim, kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar cerita tentang pemuda pada masa lampau, melainkan sumber pelajaran bagi generasi masa kini tentang keberanian mempertahankan akidah dan kebenaran di tengah tekanan lingkungan.
Ia menjelaskan, para pemuda Ashabul Kahfi memilih mengasingkan diri ke dalam gua demi menjaga keimanan ketika menghadapi penguasa zalim. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan prinsip kebenaran terkadang menuntut pengorbanan dan keberanian mengambil pilihan yang tidak mudah.
“Sepintas, keputusan mereka masuk ke dalam gua mungkin terlihat seperti tindakan melarikan diri. Namun, jika direnungkan, itu merupakan pilihan berani demi mempertahankan iman dan menyelamatkan akidah,” ungkapnya.
Prof. Muslim menegaskan, setidaknya ada dua pelajaran utama yang relevan bagi mahasiswa dan generasi muda dari kisah tersebut, yakni menjaga keimanan dalam kondisi apa pun serta membangun integritas moral dengan keberanian menolak kebatilan.
Jangan gadaikan iman demi kenyamanan
Pada poin pertama, Prof. Muslim mengingatkan bahwa keimanan harus menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika seseorang dihadapkan pada berbagai kesibukan, hiburan, dan kenyamanan duniawi.
Ia menyoroti fenomena sebagian anak muda yang larut dalam aktivitas sehari-hari hingga mengabaikan kewajiban salat. Misalnya, ketika waktu Magrib tiba, sebagian pengunjung kafe tetap asyik berkumpul meskipun tempat wudu dan musala telah tersedia.
Demikian pula ketika pertandingan sepak bola berlangsung. Tidak sedikit anak muda yang terlalu larut menonton pertandingan hingga melalaikan waktu salat, bahkan mengabaikan salat Subuh setelah begadang.
Menurutnya, fenomena tersebut perlu menjadi bahan introspeksi bersama. Kemajuan zaman dan beragam fasilitas hiburan seharusnya tidak membuat generasi muda kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
“Jangan pernah kita menggadaikan iman hanya karena kondisi atau kenyamanan sesaat,” pesannya.
Ia berharap mahasiswa mampu menempatkan hiburan, pergaulan, dan aktivitas lainnya secara proporsional, tanpa mengorbankan kewajiban agama dan tanggung jawab pribadi.
Berani menolak kebatilan di era digital
Pelajaran kedua, lanjut Prof. Muslim, adalah pentingnya menjaga integritas moral dan keberanian menolak kebatilan. Jika pemuda Ashabul Kahfi berani mempertahankan keyakinan di tengah tekanan penguasa zalim, generasi muda masa kini juga harus memiliki keteguhan prinsip ketika menghadapi tantangan lingkungan dan perkembangan teknologi.
Di era digital, mahasiswa berhadapan dengan arus informasi yang begitu deras, beragam pengaruh pergaulan, serta konten yang tidak semuanya sejalan dengan nilai agama dan etika.
Karena itu, generasi muda dituntut memiliki kemampuan menyaring informasi, mempertimbangkan dampak tindakan, serta membedakan hal yang benar dan salah. Kebebasan dalam menggunakan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.
Prof. Muslim mengingatkan bahwa menjadi pemuda beriman bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Sebaliknya, keimanan harus menjadi kompas agar kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pergaulan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif dan bermanfaat.
Empat karakter dalam pergaulan
Pada bagian akhir tausiyahnya, Prof. Muslim menyampaikan empat sikap yang perlu ditanamkan dalam diri generasi muda agar mampu membangun hubungan sosial yang sehat dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Pertama, mengakui kelemahan diri sendiri agar tidak menjadi pribadi yang sombong. Kedua, menghargai kelebihan orang lain sehingga tumbuh sikap saling melengkapi. Ketiga, menghormati orang yang lebih tua sebagai wujud kesantunan. Keempat, menyayangi yang lebih muda sebagai bentuk kepedulian dan pengayoman.
Menurutnya, keempat sikap tersebut merupakan bekal penting dalam membangun karakter, memperkuat hubungan antargenerasi, serta menciptakan lingkungan pergaulan yang harmonis.
Ia berharap mahasiswa UIN Ar-Raniry tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki keimanan yang kokoh, integritas moral, kerendahan hati, dan kepedulian sosial.
Momentum Hari Sumpah Pemuda, menurut pesan yang ditekankannya, hendaknya menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk memperkuat jati diri dan membuktikan bahwa pemuda beriman mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur.
Dengan meneladani karakter Ashabul Kahfi, generasi muda diharapkan mampu menjaga prinsip, menghargai sesama, dan mengembangkan potensi diri untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.
Tausiyah Zuhur tersebut ditutup dengan harapan agar nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Ashabul Kahfi dapat menjadi pedoman bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan, membangun karakter, serta menghadapi dinamika era modern dengan iman dan integritas.
Laporan Saif
