-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pensiun, Bukan Saat Langit Runtuh

Senin, 01 Juni 2026 | Juni 01, 2026 WIB Last Updated 2026-06-01T22:29:46Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id -  Jum’at pekan lalu saya mengalami kejadian dua guru besar di tempat berbeda dalam waktu kurang satu jam menyentuh kalimat pensiun. 


Pertama, Prof Yusny Sabi, saat saya bersama beliau di tengah acara distribusi kurban di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Prof Yusny dihampiri ramah lagi santun dan penuh takzim oleh pejabat mantan stafnya, karena beliau rektor senior UIN Ar-Raniry periode 1990-1995, dan 2005-2009.


Dalam bahasa Aceh sempurna pejabat itu, setelah mencium tangan Prof Yusny, mengatakan singkat to the poin, “saya sudah pensiun, Prof.” 


Tak ada jeda satu detik saya rasa, sang profesor rektor senior langsung menyambut ringkas tegas, “Han ‘ek ku deungo”, tak mau saya dengar, dengan mimik sangat serius.


Basa basi berlanjut tiga atau lima detik sebelum mereka berpisah. Sementara saya terpaku baru saja menyaksikan peristiwa besar.  Soalnya saya sudah mendengar dari pejabat tersebut kalimat yang sama tiga kali pada kesempatan lain sebelum itu. Alhamdulillah sudah pensiun, jadi punya banyak waktu untuk melakukan banyak hal, begitu saya katakan sambil berniat sedikit menghibur kawan. Karena kesan saya kawan tersebut terus berpikir soal sudah pensiun itu. 


Tapi apa yang baru dikatakan Prof Yusny itu hal baru bagi saya. Saya jadi ingin merenung lama lama kalimat sang guru tempat saya menimba banyak hal dalam diam.


Pensiun untuk dijalani bukan untuk ditangisi. Begitu yang langsung melintas di benak saya. Pensiun hanya perjalanan waktu dan setiap orang akan melintasinya. Sama dengan mati, yaitu saat setiap orang harus melintasi untuk berpindah alam ke lain dimensi.


Menakuti pensiun atau mati akan menyebabkan orang runtuh atau meninggal sebelum waktu ajalnya tiba. 


Maka orang seperti ini tak perlu disayangi, tak perlu disanjung. Itu yang saya lihat dari kejadian itu. Menghibur orang yang takut pensiun dan atau takut mati tidak produktif. Malah membuat seseorang tambah manja dan membuat buat perangai minta perhatian agar disayangi.


Tindakan yang tepat adalah meng-“geureudhak”, menciptakan efek kejut. Membuat orang bangun dari meneteskan air mata karena mengira nasib. Pensiun dan mati bukan nasib tetapi hidup yang harus dihadapi. Begitu batin saya bergemuruh menyala nyala. 


Saya kemudian beberapa menit memang terus mengobrol dengan Prof Yusny tentang beberapa tema. Tetapi tak ada yang menarik perhatian saya kala itu ketimbang memikirkan kata pensiun itu tadi.


Saya mendengar sinyalemen beberapa orang memasuki pensiun dengan beban yang berat dan rasa takut yang berlebihan. Maka perusahaan, dunia industri, secara profesional menyiapkan karyawan memasuki masa pensiun dengan tenang. Ada masa persiapan pensiun, MPP.


Program MPP itu, biasanya satu tahun masa kerja, diberikan perusahaan kepada karyawan berdasarkan ketentuan ketenagakerjaan, agar karyawan memiliki kesempatan untuk mengurangi ketinggian, melakukan manuver penyesuaian, bagaikan pesawat terbang saat mengambil ancang ancang untuk melakukan pendaratan.


Tentu perlu dan ada persiapan untuk itu. Banyak referensi dan pelatihan serta pendampingan tersedia. Tetapi itu semua hanya untuk orang yang positif menghadapi masa pensiun. 


Bagi pegawai atau karyawan yang dhaif dan hanya menangisi masa pensiun semua hal itu tak bermanfaat, tak terlihat oleh mereka. Senangnya memikirkan kegelapan yang datang bersama usianya yang beranjak tua. Maka orang begini harus dibentak agar bangun dan melihat sinar cahaya yang tersedia melalui berbagai peluang referensi, pelatihan dan pendampingan. Begitu pelajaran yang saya ambil dari guru kita bersama itu.


Sudah Pensiun Tak Pensiun


Waktu sudah menjelang asar saat saya berpisah dari Prof Yusny. Kami bubar masing masing. Saya ke Fathun Qarib, masjid di lingkungan UIN Ar-Raniry.


Kedua, selesai shalat, di posisi imam, saya berbalik dan menyalami Prof Armiadi Musa, beliau persis di shaf belakang imam.


“Pak Imam ini sudah pensiun tapi belum pensiun”, begitu kira kira kalimat beliau. Memang saya tertegun berat walau saya sempatkan tersenyum sekedar sikap ramah saya kepada orang yang ilmunya tinggi. Tapi dalam pikiran saya, masih masalah tema pensiun?


Tak lama Prof Armiadi pamit mau ke lokasi distribusi kurban. Sedang saya masuk ke ruang mihrab, ada sofa disitu tempat imam yang baru bertugas biasanya dapat bersantai.


Saya memang sudah memasuki masa pensiun sejak lebih dari satu tahun lalu. Tetapi yang saya rasakan saya masih sibuk. Ada beberapa hal yang berlanjut dari kebiasaan saat saya aktif. Tetapi juga ada hal hal baru yang muncul dalam aktifitas saya karena saya sudah memiliki banyak waktu dan sudah terbebas dari tekanan rutinitas. 


Memang ada benarnya komentar Prof Armiadi tadi, pikir saya. Komen itu sama persis dengan komen isteri saya. Sudah pensiun tapi sepertinya masih terus sibuk? Tanya isteri saya sekali waktu belum lama. Saya senyum kala itu. Tapi saat Prof Armiadi tadi komen saya tidak serius senyumnya. Karena saya mikir. Benar juga.


Saya tidak tahu persis usia Prof Yusny sang rektor senior. Tetapi beliau sudah termasuk sepuh. Baik di UIN maupun di lingkungan lain. Beliau juga ketua dewan penasehat ICMI Aceh. Memang sudah sepuh tapi tak berhenti beraktifitas. Masih nyetir mobil sendiri. Masih ikut keliling daerah, ke kota dan kabupaten, menghadiri acara acara ICMI.


Mengisi seminar, diskusi, dan rajin bersilaturahmi. Di kampus, di masjid, di ruang pertemuan dinas dan hotel, juga warung kopi. 


Tak tampak ada raut sedih walau sudah ditinggal isteri setia beliau. Tak tampak tanda sepi. Hidup harus terus berjalan, demikian pelajaran berikutnya. 


Yang betul adalah Prof Yusny, bukan saya. Beliau yang sudah lama pensiun tapi tidak pernah pensiun. Terus bergerak, produktif di usia senja. Tampaknya Prof Yusny tak takut tua. 


Prof Yusny pernah cerita pengalaman Dr Mahathir Mohammad yang usianya sudah melewati satu abad. Rahasia kuat Dr Mahathir, katanya, terus berpikir dan berkarya. Jadi Dr Mahathir tak tua tua. Terus ada untuk bangsanya, dan untuk umat manusia.


Rupanya kata pensiun itu pada awalnya tidak ada. Ia ada ketika diadakan, yang membuat sebagian orang pada ketakutan. 


Sedikit berseloroh tahun lalu Prof Mujib, rektor UIN Ar-Raniry berkata kepada saya dalam pidatonya di satu forum di ruang teater UIN Ar-Raniry yang dihadiri banyak orang. “Ust Saif, pensiun itu hanya soal secarik kertas, sedang perjuangan dan pengabdian terus berjalan”, kata rektor yang disambut tepuk tangan hadirin sambil semua melihat ke arah saya. 


Saya rasa saat itu Prof Mujib sedang menduga saya akan merana. Padahal saya sudah siap melewati jebakan itu dan memanage kehidupan tua saya. Belum tahu dia.


Pensiun, Selamat Bahagia


Bagi rekan rekan yang sudah cukup usia, sudah atau akan memasuki masa pensiun, maka selamatlah berbahagia. Berhentilah berpikir sulit saat memasuki usia pensiun. Karena tanpa dipikirpun sulit itu sudah pasti ada.


Yang perlu adalah terus berjalan karena usia tak surut ke belakang. Kesulitan akan hilang bila kita ubah ia menjadi tantangan (challenges). Karena setiap tantangan ada solusinya. Sedang kesulitan menjebak kita ke jalan buntu.


Banyak tips dan bimbingan yang dapat membantu kita memilih, menyiasati dan mejalani saat saat penting itu, tentu saja bila kita telah keluar dari lingkaran yang membuat kita tertekan. 


Pilihlah prinsip hidup di usia tua setelah pensiun itu untuk persiapan meninggal dunia. Tentu kita takut bila saatnya tiba kita akan pergi dengan tergesa gesa. Penting tentunya kita melakukan sesuatu selagi umur masih tersisa. 


Jadi adalah keliru bila masa pensiun akan dibiarkan mengalir ke bisnis berat berikutnya. Karena kita para pensiunan harus mengurang membangun tanggung jawab yang kelak akan menjadi beban orang orang di belakang kita. 


Juga keliru bila masa pensiun digunakan seluruhnya untuk menanti kapan waktunya tiba. Karena kalau ditunggu kita akan bosan karena ia tak datang juga. Bergeraklah mendekat tanpa menunggu. Karena siapa tahu ia memang sudah sangat dekat dengan kita. 


Berbahagialah. Bersiap siagalah.


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 1 Juni 2026


(Penulis adalah imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Bensahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update