Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Umurnya sekira empat puluh ketika pemuda matang dan tampan itu harus keluar meninggalkan Mesir. Namanya Musa. Nabi Musa alaihissalam.
Pasalnya di Mesir dia memukul seorang Qibti yang zalim, penganiaya seorang Bani Israil lemah (kaumnya nabi Musa) yang meminta tolong padanya. Dengan satu bogem mentah yang dilepaskan Musa orang Qibti itu tewas. Tak sengaja ia telah membunuhnya.
Keputusan kerajaan yang dipimpin Firaun, tangkap Musa. Menghindar maka Musa keluar dari Mesir. Kisah ini dapat dibaca dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 15 dst.
Ia telah berjalan sejauh hampir tujuh ratus kilometer, selama delapan hari. Sampailah dia di Madyan, satu kota yang dibangun pada sekira 1.500 tahun sebelum Masehi, yang kalau ditelusuri saat ini posisinya di sekitar kota Tabuk, Saudi Arabia. Tak jauh dari perbatasan dengan Syria dan Yordania. Jarak dari Kairo ke Tabuk saat ini sekira 686 km, 9 jam perjalanan darat. Sementara bila meneruskan perjalanan pada jalur yang sama dari Tabuk ke Makkah sekira 1.050 km, 11 jam perjalanan darat.
Disinilah kisah cintanya dimulai. Saat Musa berteduh di bawah pohon, dalam kelelahan dan rasa lapar yang menusuk, dia melihat dari jarak yang tak terlalu jauh satu antrian orang orang dan ternak kambing bersama mereka. Dia perhatikan dengan baik, rupanya orang sedang antri di suatu sumur untuk memberi minum ternak ternak mereka.
Menarik perhatiannya juga di deretan paling belakang antrian itu ada dua perempuan muda yang berdiri terpisah, bersama ternak mereka pula.
Begitulah Musa, intuisinya tajam. Dia meyakini sepertinya kedua perempuan muda itu memerlukan bantuan. Tak menunggu lama Musa mendekat.
(Selanjutnya ceritanya dapat dinikmati dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 23 sampai 28).
Kedua perempuan itu, yaitu Shafura dan adiknya. Shafura meminta tolong pada Musa agar dapat mengakses sumur yang terkesan sudah dikuasai kaum pria di depan sana.
Satu kisah menceritakan sumur itu sudah ditutup dengan batu besar, yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh pria dewasa, sebelum Shafura mengambil air.
Musa memindahkan batu itu dengan mudah, sendirian, dan mengambil air untuk Shafura dan saudaranya. Kambing mereka kenyang. Shafura bergegas pulang. Musa pun segera kembali berteduh di tempat semula.
Dia merasa sangat lapar dan berdoa dengan khusyu’ kepada Allah, kiranya dapat diberikan sedikit makanan.
Tak lama dia melihat Shafura kembali dan dengan malu malu sambil menutup muka dengan ujung pakaiannya ia menyampaikan permintaan ayahnya agar Musa bersedia datang ke rumah untuk diberi hadiah atas kebaikannya. Tak lupa Shafura juga menjelaskan bahwa ayahnya sudah tua dan sudah kehilangan penglihatannya. Dalam referensi yang kuat lelaki tua itu adalah nabi Syuaib alaihissalam.
Rupanya Shafura menceritakan episode cerita diatas kepada ayahnya, Nabi Syuaib. Shafura juga meminta ayahnya agar berkenan mempekerjakan pemuda itu untuk mengelola ternak mereka.
Musa bersedia menemui Nabi Syuaib di rumahnya. Setelah mendengar penjelasan Musa Syuaib memberi perlindungan kepadanya. “Kamu boleh tinggal disini, kamu aman.”
Syuaib mempertimbangkan permintaan puterinya untuk mempekerjakan Musa. Tapi dia juga menangkap satu esensi poin penting yang tidak diucapkan puterinya.
Demikianlah orang tua dalam memahami dan memaknai bahasa puteri kesayangannya. Mudah berbicara kepada orang tua yang arif dan paham hasrat seorang anak perempuan. Seperti hati Shafura, putrinya, yang berbunga bunga, hati Nabi Syuaib juga senang padanya.
Syuaib menawarkan Musa untuk menikahi salah satu putrinya. Silahkan pilih. Tentu tak menunggu selesai Musa menarik napas panjangnya Syuaib langsung berkata, “tapi kamu wajib menandatangani kontrak dengan saya sebagai maharnya, yaitu bekerja pada saya, mengelola ternak saya, selama delapan tahun atau kamu sempurnakan sepuluh tahun.”
Antara percaya dan tidak. Tapi Musa segera setuju. Hatinya juga berdebar debar. Dia memilih Shafura. Sambil mungkin dia sedikit melirik lirik mencari cari Shafura dengan matanya. Dia juga menyetujui kontrak jasa bekerja di usaha ternak Nabi Syuaib. Dia terima jasa sepuluh tahun bekerja sebagai maharnya.
Musa dan isterinya Shafura sejak saat itu tinggal bersama di Madyan, menikmati hidup sambil menyelesaikan kontrak maharnya. Dia selesaikan dengan waktu pilihannya, selama sepuluh tahun, dari minimal delapan tahun yang diperjanjikan. Sebelum kemudian dia mendapat perintah dari Allah untuk bersama isterinya kembali ke Mesir dan menjalankan tugas kenabian disana.
Qawiyun Amin
Shafura mempersonifikasikan Musa dengan kalimat yang sangat bagus ketika dia menjelaskan sosok Musa kepada ayahnya. “Dia qawiyun amin, ayah, sangat pantas kita pekerjakan dia untuk mengelola ternak kita.”
Syuaib menyimak penjelasan puterinya. Tentu dengan intuisi seorang ayah yang juga nabi. “Bagaimana kamu tahu?” Shafura menjelaskan, “dia mengangkat batu besar yang menutup sumur sendirian, dan ketika kami berjalan ke rumah ini dia menyuruh saya berjalan di belakang, dia tidak mau berjalan di belakangku.” Sepertinya nabi Syuaib senyum senyum melihat cara Shafura meyakinkan dirinya.
Kalimat Shafura, qawiyun amin, bahwa Musa orang yang kuat dan berakhlak layak dipercaya, itu diabadikan Allah dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 26.
Buku buku tafsir umumnya menjelaskan bahwa qawiyun adalah bentuk kecerdasan fisikal dari Musa yang mencerminkan kemampuan dan ketangkasannya dalam bertindak secara fisik dan juga aspek kecerdasan intelektualnya. Yang membuat dia dapat bertindak secara tepat dan memiliki tujuan (objective) yang jelas.
Kemampuan fisik dan ilmu yang dimilikinya tidak digunakan sembarangan dan serampangan. Dia terukur untuk tujuan yang baik.
Dua hal seperti dijelaskan diatas. Dia terbukti kuat ketika tak sengaja menonjok mati orang Qibti sekali pukul. Juga sanggup mengangkat batu besar yang menutupi sumur sendirian. Bahkan secara cepat mampu menimba air dari sumur untuk diminumkan kepada kambing kambing Shafura.
Saat melihat Shafura sudah pulang Syuaib sempat terperangah, “wah cepat sekali kamu selesai memberi minum ternak kita hari ini?” Shafura menjelaskan dengan senang hati, menceritakan kepada ayahnya apa yang dialaminya di sumur tadi bersama Musa.
Sementara, sifat “amin” pada diri Musa terlihat dari sikap dia yang lurus tak hendak mengganggu Shafura dan adiknya saat dia membantu mereka. Selesai membantu Musa segera kembali ke tempatnya berteduh lalu memanjatkan doa kepada Rabbnya meminta diberikan makanan. Juga ketika berjalan ke rumah Syuaib bersama Shafura. Dia suruh Shafura berjalan di belakang. Bagi seorang pria dewasa posisi berjalan depan belakang seperti ini tentu sudah dapat dipahami dengan baik, tak perlu dijelaskan.
“Amin” adalah kecerdasan spiritual dari Musa. Yang terlihat dari cara dia berbicara dan bertindak. Bahwa ada Allah yang mengawasinya dari setiap tindakannya. Allah adalah tujuannya. Maka muncullah integritas baik akhlak mulia dari pribadinya. Orang seperti Musa layak dipercaya sebagai sosok yang melindungi dan menjaga diri dan menjaga lingkungannya atas nama Allah.
Kapasitas dan Integritas
Dalam bahasa operasional di lingkungan kita, sifat qawiyun amin sepadan dapat ditemukan pada pemuda berdaya. Yaitu pemuda single mandiri yang memiliki kapasitas (able dan capable) dari segi fisik, ilmu dan skill, dan terjaga integritas mereka, dari segi akhlak, jujur dan amanah.
Di tengah masyarakat kita saat ini banyak kita dapati pemuda berdaya seperti nabi Musa. Mereka memiliki kedua kekuatan seperti yang dipersonifikasikan Shafura diatas. Yaitu qawiyun dan amin. Punya kapasitas dan juga integritas
Adalah pemuda berdaya yang memiliki kapasitas fisik yang sempurna. Sehat lahir dan batin. Megambil perduli dan inisiatif untuk melakukan kebaikan dengan fisiknya itu. Melakukan berbagai aktifitas fisik dalam kebaikan.
Mereka selalu melatihkan otot otot mereka dengan berolahraga dan juga bekerja mengelola apa saja, meraih hasil dengan caranya. Yang penting bermanfaat dan halal.
Pemuda seperti ini tidak duduk melempem dan membebani orang tua dan orang lain. Tidak baperan dan manja. Dia percaya diri dengan fisiknya yang bagus, seperti nabi Musa.
Pemuda berdaya juga berkapasitas dalam ilmu yang digeluti dan variasi skill yang dikuasainya. Percaya diri dengan ilmunya dan melakukan apa saja yang baik dengan skillnya itu. Dia mengajar, menolong orang, dan atau bekerja secara profesional.
Sisi lain dari pemuda berdaya adalah menjaga integritas. Dia, seperti nabi Musa, menjaga diri dari pengaruh buruknya akhlak. Bagaimana buruknya pengaruh Firaun kala itu di Mesir sudah diketahui dalam sejarah. Tapi Musa tak terpengaruh dengan keburukan akhlak Firaun padahal dia hidup bersama dengannya dalam istana raja. Istana raja Firaun. Kurang lebih sama seperti pelajaran bagaimana Rasulullah SAW terselamatkan dari buruknya akhlak kaum Quraisy di Makkah pada masa beliau di zaman jahiliyah.
Pemuda berdaya berupaya menjaga diri dari pengaruh buruk perkecamukan hidup bersama teknologi informasi saat ini. Di mana orang orang mudah sekali terpeleset dalam efek negatifnya. Pemuda berdaya menjaga diri, bersih dari pengaruh negatif itu.
Pemuda berdaya memiliki fisik yang sehat dan kuat, ilmunya dan skillnya bermanfaat, serta secara ikhlas berkiprah di masyarakat.
Menanti Shafura
Di tengah gempuran tingginya harga emas, dan tingginya martabat sosial dalam budaya pernikahan di masyarakat kita, para pemuda berdaya sedikit tertahan dan gontai untuk melangkah. Jebakan tembok budaya yang terlanjur membentang di tengah masyarakat membuat hal ini tidak mudah bagi mereka. Prinsip mudahkan pernikahan seperti yang dipromosikan oleh Nabi SAW tak dapat berjalan dengan serta-merta.
Pemuda berdaya dengan kapabilitas dan integritas mereka punya segalanya, kecuali emas, untuk melangkah ke pelaminan. Sementara calon permaisuri yang berharap kedatangan mereka pun tak kurang potensinya. Tapi kedua insan ini tak kuasa. Terjepit dibawah gagahnya budaya.
Memang tak mudah tetapi bolehlah berharap akan muncul banyak Shafura zaman now ke permukaan, di tengah tebalnya lapisan gengsi di masyarakat kita. Mereka siap tampil ke depan membuat keputusan bila telah menemukan calon pemuda berdaya pujaan hatinya. Ambil jalan bagaikan Shafura dan Musa, yang menetapkan mahar dalam bentuk jasa. Mahar dalam bentuk perjanjian kerja.
Semoga juga masih ada para ayah seperti nabi Syuaib yang mudah mengerti hasrat cinta puteri mereka dan siap memberi tantangan kepada pemuda berdaya untuk bekerja sama.
Para pemuda berdaya banyak ditemukan di masjid masjid, di perusahaan dan lembaga profesional, di pesantren dan dayah, di madrasah tahfizh atau sekolah sekolah rakyat, dan juga lembaga swadaya masyarakat.
Mereka berkutat mengangkat martabat diri, keluarga dan masyarakat bangsanya. Tetapi beban ekonomi dan beban sosial mereka berat, dalam menjalankan misi hidup dan perjuangannya. Namun mereka selalu hadir dan aktif sebagai anak masyarakat yang bertanggung jawab.
Ayo pemuda berdaya jalan terus walau tak ringan tantangannya. Semoga Allah mudahkan ada cara mengambil spirit cinta nabi Musa dan isterinya Shafura. Membangun bahtera keluarga dengan solusi mahar jasa di tengah gemerlapnya emas yang dipuja bagaikan berhala.
Wallahu a’lam.
Banda Aceh, 2 Februari 2026.
(Penulis adalah Bendahara ICMI Aceh)
