-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dana Umat Dilirik

Selasa, 28 April 2026 | April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T06:43:51Z

 

Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Heboh lagi Menteri Agama (Menag). Topiknya kali ini dana akikah dan dana kurban. Masih dana umat juga. Dana yang masih dalam kantong dan dompet umat Islam. 


Simpel beliau ketika mengatakan dari pada umat sibuk sibuk menyembelih kambing untuk akikah dan sibuk mengundang (tamu), lebih baik dananya kasih Baznas saja. Atau Istiqlal. Biar mereka yang ngurus. Jadi umat tak repot.


Tak lupa Menag sudah menghitung potensinya, besar. Sekira 32 triliun plus 30 triliun rupiah dana umat Islam dari kedua skema akikah dan kurban itu (setahun?). Besar. Menggiurkan.


Dua bulan lalu Menag bicara soal zakat tak populer di zaman nabi dan sahabat. Alquranpun tak mempopulerkan zakat, katanya. Beliau mengajak kalau umat mau maju maka tinggalkan zakat. Berinfak saja, sedekah saja. 


Tak lama Menag minta maaf secara terbuka. Bukan karena merasa keliru tetapi karena pernyataan beliau itu menimbulkan kekisruhan di masyarakat. Artinya terkesan beliau tetap meyakini bahwa zakat itu tidak perlu dilaksanakan kalau mau umat ini maju. 


Wajar kisruh karena pandangan “zakat tidak populer” itu, ya tidak populer. Bahkan bertolak belakang dengan pandangan mayoritas umat Islam, dan jumhur ulama. 


Soalnya Alquran, dalam banyak ayat menyebut zakat itu dalam format perintah (fi’il amr). Umumnya perintah zakat itu Allah sebut bahkan beriringan dengan perintah mendirikan shalat, aqimusshalah wa atuzzakah. Jadi tentu umat Islam memahami bahwa zakat itu sebagai suatu perintah yang sangat penting, dan hal itu populer dipahami dan ditaati di kalangan umat Islam.


Dana kas masjid juga ditarget. Dana umat yang terkumpul melalui celengan masjid itu umumnya uang kecil, recehan. Impas untuk menutupi kebutuhan pembangunan masjid (pelan pelan, bertahap) atau pengadaan fasilitas pendukung ibadah. Disamping untuk kebutuhan operasional harian dan jum’atan masjid. Jarang ada masjid yang dananya surplus karena sering mendapat rezeki durian runtuh. 


Dana kecil seperti ini pun kena target. Padahal itu swadaya masyarakat untuk membangun fasilitas ibadah mereka masing masing. Dalam pandangan umumnya jamaah masjid menyumbang dana untuk fasilitas masjid itu imbalannya syurga. Yaitu berdasarkan motivasi hadis sahih Nabi SAW sendiri, “man bana masjidan banallahu lahu baytan fil jannah”, barangsiapa membangun masjid Allah bagun untuknya rumah didalam syurga. 


Artinya dana masjid ada dari umat bila digunakan untuk masjid dan fasilitas ibadah. Bukan untuk yang lain.


Potensi dana lain juga mungkin skema waqaf. Baik waqaf benda atau waqaf tunai. Ini juga besar, tersebar dan menggiurkan. 


Sudah Demikian Mendesakkah?


Awalnya Menag kepada media menarget seribu triliun rupiah setahun harus terkumpul dari dana umat dengan berbagai skema. Tapi Presiden menyebut  perkiraan Menag lima ratus triliun rupiah pertahun. Setengahnya. 


Mungkin Menag sudah mengalkulasi ulang potensinya. Karena banyak juga pandangan orang mengatakan itu terlalu ambisius, seribu triliun itu bukan dana kecil. Belum lagi jalannya belum tentu mulus. Buktinya, meskipun masih wacana, gagasan mengumpulkan dana umat itu, sudah menuai banyak silang pendapat. 


Inti silang pendapat itu adalah sudah sedemikian mendesakkah kebutuhan negara? Untuk proyek apa? Bukankah pungutan pajak juga akumulasinya besar? Kemana saja dana pajak rakyat itu berlabuh? Lalu apa impact yang akan diterima umat Islam dari dana umat ini bila dikelola pemerintah? Intinya reaksi terkejut umat Islam itu diekspresikan dalam bentuk pertanyaan pertanyaan. Juga belum ada jawaban atau perencanaannya. 


Beberapa pejabat, baik eksekutif atau legislatif, termasuk Menag sendiri, bicara potensi zakat untuk membiayai MBG (proyek makanan bergizi gratis). Reaksi kuat para ulama mengatakan tidak boleh. Karena zakat ada aturan pemanfaatannya sesuai asnaf delapan yang secara eksplisit ditetapkan sendiri oleh Allah. 


Suara tegas juga keluar dari ketua umum MUI soal ini. Tidak boleh zakat digunakan untuk MBG. 


Walau wacana tetap tetapi tampaknya mentok. Maka, mungkin itu alasannya, konteksnya, Menag bicara zakat tidak populer. Jadi bayar infak saja atau sedekah biasa saja. Jadi kan tidak diatur atur pakai asnaf delapan seperti zakat. Jadi hentikan bayar zakat dan perbesar infak atau sedekah. Lebih produktif dan umat akan maju. Itu kira kira, tapi belum tentu seperti itu. Namanya juga opini.


Empat Puluh Lantai


Presiden mengumumkan pembangunan gedung empat puluh lantai untuk MUI diatas lahan 4000 meter bekas kedutaan Inggris, di lokasi sekitar Bundaran HI. Baznas, dan lembaga umat milik negara lainnya serta ormas Islam akan dapat tempat di gedung itu. 


Tapi MUI menolak dan menyebut bila dibangun gedung itu tidak atas permintaan MUI, dan tak akan dikelola oleh MUI.


Lalu Menag menjelaskan itu gedung LPDU (lembaga pengembangan dana umat). MUI akan dapat tempat di tempat terpisah. 


Kalau benar penjelasan Menag diatas maka langkah penggalangan kekuatan dana umat untuk kepentingan negara ini akan sangat serius. Juga prestisius. Gedung empat puluh lantai diatas lahan seluas 4000 meter persegi di lokasi sangat strategis di jantung Jakarta itu bernada mercusuar. Pasti ini sangat menarik bagi pialang ataupun fund managers. Ini bisnis keuangan dan filantropi yang dahsyat.


Sikap Umat


Menghadapi wacana dana umat ini umat Islam hanya perlu bersikap tenang saja. Ini baru sebatas wacana. Tidak perlu merasa terbakar jenggot dan panik. Umat Islam Indonesia sudah terbiasa melihat deru angin berbeda bersilang arah dan zig-zag pemikiran kacau dan menggelitik dari pihak pihak tertentu sudah biasa.


Ketika angin ribut masih berhembus kencang maka yang aman bagi kita adalah diam saja di dalam rumah masing masing. Tunggu sampai akhir perjalanan angin itu berujung dimana dan menyisakan potensi impact apa yang perlu dibenahi. 


Namun bersikap masa bodoh, pasrah saja juga terlarang dalam agama. Kita menyiapkan langkah langkah sesuai yang diajarkan Nabi kita Muhammad saw. Pastikan dan jangan tergesa gesa. Prinsip, kita punya. Sesuai yang diajarkan baginda. 


Tetap meningkatkan kedekatan dengan Allah. Perbanyak kebaikan agar Allah suka kepada kita dan akan membantu kita pada saat diperlukan. 


Biarkan orang orang melakukan manuver sambil meliak liuk di udara. Seakan dunia akan digenggamnya. Padahal mungkin nafasnya pun tak banyak lagi tersisa.


Memang kita tak diperbolehkan meminta keburukan, tetapi mendoakan kebaikan bagi orang orang yang buruk adalah suatu kebaikan. 


Jangan mencaci Menag karena beliau juga manusia, seorang hamba dhaif yang sedang mencari cara untuk menata dunia yang akan ditinggalkannya. Kalau tak dapat mengingatkan dan menolongnya maka biarkanlah dia. Kita doakan keselamatan dirinya dari potensi istidraj yang  akan mempertinggi tempat jatuhnya. Demikian pula bagi tokoh bangsa lainnya. 


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 28 April 2026


(Penulis adalah Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update