-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Transformasi Gerakan BMT Digital

Senin, 27 April 2026 | April 27, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T06:45:20Z

Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Sukses lokakarya nasional Baitul Mal watTamwil (BMT) yang disanding dengan kongres ABSINDO (asosiasi BMT Indonesia) 17 sd 18 April 2026 di Yogyakarta menjadi pertanda geliat gerakan lembaga keuangan mikro syariah di Indonesia menguat.


Lokakarya dan kongres ini menetapkan arah dan strategi transformasi digital BMT di Indonesia disamping memilih Adhy Suryadi dari BMT Itqan Bandung selaku ketua baru ABSINDO periode 2026-2030. Selamat kepada ketua baru. Insyaallah ABSINDO makin gesit dan energik dalam persaingan sehat industri keuangan mikro syariah di Indonesia.


Lokakarya dan kongres ini disebutkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi, arah kebijakan dan strategi pengembangan BMT di Indonesia.


Prof MAA dari cerita beliau sendiri, — saat saya baru bergabung di PINBUK (pusat inkubas bisnis usaha kecil) dengan posisi pertama sebagai kepala divisi pelatihan pada Maret 1995, setelah melakukan perjalanan mendampingi beliau melakukan presentasi konsep BMT dan embrio PINBUK di Mubes Inshafuddin di Lamno Aceh Barat yang dalam kesempatan itulah dicetuskan oleh ulama Tgk Nasruddin Daud bahwa dalam referensi ulama di Aceh konsep BMT itu dikenal dengan nama Baitul Qiradh, — memang mengambil model BMT Bina Insan Kamil yaitu dari diskusi intensif beliau dengan bang Aries Mufti dan kawan kawan P3UK.


*Gerakan BMT*


Digawangi PINBUK gerakan nasional BMT dicanangkan untuk pertama kalinya oleh Presiden Soeharto dalam pembukaan Muktamar II ICMI 7 Desember 1995 di Jakarta.


Sebagaimana dapat diakses melalui berbagai sumber bahwa BMT, seperti BMT Bina Insan Kamil, sudah dipilih menjadi  alternatif lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) di tanah air pasca bank muamalat (BMI) sebagai bank syariah pertama disusul satu dua BPRS, terbukti tak dapat menjangkau pengusaha kecil dan mikro umat. Terkendala persyaratan 5C perbankan karena BMI (bank Muamalat) dan BPRS adalah bank.


Kala rentang waktu 1992-1994 di kalangan penggerak swadaya masyarakat muslim di Jakarta khususnya di ICMI dibahas peluang solusi yang dapat ditawarkan sebagai jembatan awal ketersediaan modal dengan sistem syariah bagi pengusaha kecil mikro mengingat itu tadi bank Muamalat dan BPRS tidak mungkin. Maka ketemulah BMT.


Masa itu atas inisiatif LSM P3UK sudah beroperasi satu BMT Bina Insan Kamil di Jalan Pramuka Jakarta Pusat, yang berdiri pada Juni 1992, sejalan dengan momentum lahirnya BMI. BMT yang didirikan oleh Bang Aries Mufti, Zainal Arifin, dan Istar Abadi ini dicatat sebagai BMT pertama dan menjadi rujukan awal kiprah BMT di Indonesia.


BMT dalam format baru lembaga keuangan mikro memang muncul ke permukaan dalam euforia kebangkitan LKM syariah dengan BMI sebagai wujud institusi pertamanya. Tetapi konsep dasarnya atau isi dalamnya sebagai lembaga keuangan prakoperasi sudah berkembang jauh lebih dulu, baik di Indonesia atau negara lainnya. 


Yayasan Bina Swadaya (berdiri pada 1967) menjalankan satu program tabungan dan kredit mikro setia kawan dan Credit Union atau Koperasi Kredit (Kopdit) sejak 1989.


Credit Union sendiri diperkenalkan untuk pertama kalinya di Jerman Barat oleh walikota Friedrich Welhelm Raiffeisen pada 1864 sebagai solusi atas kemiskinan melalui konsep self help, swadaya, solidaritas dan pendidikan. 


Di Indonesia konsep Credit Union diperkenalkan pertama kali oleh Pater Albrecht dengan berdiri CUCO (credit union counselling office) pada 4 Januari 1970 di Bandung. 


CUCO ini kemudian berkembang menjadi BK3I (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia) pada 1984. Pada tahun 1987 berdiri CU Pancur Kasih di Kalimantan Barat.


Disisi lain konsep koperasi simpan pinjam sudah mulai dijalankan pemerintah Indonesia sejak 1955.


Yang lebih masif lagi pada masa itu sudah beredar dan berkembang secara luas di beberapa negara model Grameen Bank, yaitu bank untuk rakyat kecil, yang diprakarsai oleh Prof Muhammad Yunus di Bangladesh sejak 1976, dan menjadi bank independen pada 2 Oktober 1983. Konsep Grameen ini bergerak cepat dan dengan itu Prof Muhammad Yunus bersama Grameen Bank mendapat hadiah Nobel pada 2006.


Jadi pada saat dicanangkan pada tahun 1995 BMT sudah bukan merupakan barang baru, tetapi sudah menjadi satu model pendekatan LKMS yang mulai dikenal masyarakat pengusaha kecil mikro. 


PINBUK pun tak bermain di ruang hampa tanpa model dan tak perlu memula dari nol membangun konsep dari awal karena model BMT sebagai aset LKMS umat Islam sudah ada di masyarakat.


Hulu Ledak


Kembali ke topik, PINBUK tak merancang konsep BMT dan lembaga inipun tidak diinisiasi untuk mendirikan dan memiliki BMT. Tetapi PINBUK dengan instrument BMT yang lahir dari sejarah panjang evolusi pemikiran dan spirit kebangkitan sistem keuangan mikro syariah di Indonesia berperan menjadi hulu ledak gerakan perkembangan model BMT sebagai amunisi alternatif di Indonesia.


Peran ini sudah dimainkan dengan baik oleh PINBUK. Sejak didirikan pada 13 Maret 1995, lembaga pengembang swadaya masyarakat (LPSM) ini  terus bergerak tak berhenti, walau tentu langkah langkahnya tak terkecuali terimbas cuaca perjalanan politik sekitar yang dilalui. Tak seutuhnya mulus. Tetapi tetap dan terus mengawal gerakan nasiona BMT itu. 


Sejatinya ada satu ide yang dibawa bersama kala itu adalah satu desa satu BMT. Jadi ini spirit dasar gerakan nasional itu. Yaitu untuk memberi kemampuan masyarakat kecil di berbagai pelosok desa dapat menjangkau modal pembiayaan usaha. 


Ketimpangan yang dirasakan kala itu adalah pengusaha mikro unbankable tak mendapat fasilitas modal kecuali melalui rentenir, yang umumnya mahal dan mencekik. Belum lagi ada rentenir terindikasi membawa misi tertentu yang merugikan umat Islam. 


Sementara perbankan dengan branch baking system lebih berfungsi menyedot dana desa untuk diputar ke pengusaha besar ketimbang menyalurkan kredit atau pembiayaan ke pengusaha kecil mikro di desa. Pasalnya itu tadi unbankable, tak memenuhi syarat 5C bank. Kala itu program kredit mikro perbankan belum dikenal kecuali yang dijalankan BRI dengan takesra dan kukesranya.


Dengan rancangan satu desa satu BMT dipersepsikan sumber pendanaan di desa dapat ditahan tetap berputar di desa dan ini solusi modal untuk masyarakat kecil mikro. 


Dengan skema gerakan nasional diatas sejatinya berdiri dan beroperasi setidaknya 76 ribu BMT atau koperasi desa dan lebih 8 ribu BMT atau koperasi kelurahan.


Namun demikianlah nasib sebuah gerakan. Seringnya berkelindan dengan cuaca politik dan goodwil pemerintah.   Banyak situasi perubahan terjadi dan maju mundurnya keadaan sekitar yang berpengaruh. Sehingga BMT yang mampu lahir dari gerakan nasional BMT itu dalam berbagai modelnya jauh tak menjangkau target diatas. Dari data yang ada saat ini memang tak sampai 5000 BMT di Indonesia.


Tetapi semangat kebangkitan LKMS berbadan hukum koperasi yang tumbuh dengan semangat yang sejalan dengan gerakan nasional itu, pun dengan model dan nama berbeda, tentu jauh lebih besar dari itu. 


Artinya masyarakat pengusaha kecil mikro telah memiliki akses kepada pembiayaan usaha. Belum lagi perbankan juga sudah masif dapat membuka unit unit program pembiayaan mikro. Ini capaian yang membahagiakan.


Tantangan


Tantangan dari gerakan BMT berikutnya adalah digitalisasi. BMT, demikian pula koperasi dan LKMS lainnya, tak dapat menghindar dari langkah adaptif penyesuaian terhadap teknologi yang semakin berkembang.


Ini yang juga disampaikan direktur PINBUK dalam meeting  manajemen 21 April lalu di Cijantung Jakarta. Yaitu gagasan yang sejalan dengan hasil lokakarya nasional BMT di Yogya dan langkah konkrit yang perlu ditempuh untuk menegaskan kemampuan BMT semakin kuat dan luas. 


Berbarengan dengan itu tentu saja tantangan berikutnya adalah kapasitas sumber daya manusia. Karena teknologi digital dan AI yang potensial diadopsi dalam operasional BMT itu adalah sejatinya mesin. Mesin tidak dapat berpikir kecuali atas perintah dan input manusia. Karena itu diperlukan manusia yang berkapasitas untuk mengendalikan mesin mesin itu, selaku man behind the gun.


Kejujuran sebagai nyawa utama bisnis dalam bidang keuangan tentu saja yang melekat langsung pada sumber daya manusia juga hal yang sangat esensial. Beberapa kasus BMT kolaps terkait secara kuat dengan kejujuran disamping kapasitas manajemen lainnya.


Satu lagi tantangan dalam arus persaingan tajam di masa depan adalah kemampuan sinergi dan kolaborasi. BMT sebagai unit entitas mandiri perlu mengaitkan diri dalam jaringan kejamaahan bisnis yang proporsional. Inilah sejatinya fungsi asosiasi yang secara profesional dapat saling menguatkan. 


Selamat terus berjuang, para pegiat BMT dan LKMS lainnya, dalam satu visi dan misi besar pembebasan umat Islam khususnya sebagai bagian terbesar dari bagsa yang besar ini. Lihat tantangan makin besar, tetapi kekuatan kita juga makin bertambah dengan satu niat dan sinergi yang terus berkembang.


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 27 April 2026


(SAR, Saifuddin A. Rasyid, adalah Pembina Yayasan PINBUK dan Bendahara ICMI Aceh).

×
Berita Terbaru Update