-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Artikulasi Imam Masjid Non Aliran

Rabu, 20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB Last Updated 2026-05-21T03:17:45Z



Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Lokakarya dengan tema penguatan kompetensi imam dan tatakelola masjid yang profesional, moderat, dan melayani umat, di UIN R-Raniry Banda Aceh Rabu 20 Mei 2026, menarik kita cerna. 


Soalnya lokakarya yang digawangi PKMB (pusat kerohanian dan moderasi beragama) itu sejalan dengan hasrat masyarakat dan kebutuhan masjid berdaya yang sedang dipromosikan oleh kementerian agama. 


Masjid bukanlah tempat yang tak punya ruang untuk menampung aspirasi kemajuan dan rumah bersama umat Islam yang diharap memberikan perlindungan, kesejukan, dan kedamaian, dalam menempa energi perjalanan panjang umat manusia.


Pupus harapan masyarakat ketika beberapa kali kita dengar ada masjid yang tak mampu menjadi tonggak kuat dan terombang ambing dengan arus persepsi dan narasi kelompok atau aliran pemahaman dalam beragama. 


Yaitu ketika masjid bergulir ke arah yang tidak dapat dikendalikan dan bergerak sesuai arah angin yang selalu berubah mengikuti musim.


Spirit ini antara lain dibawa ke dalam lokakarya diatas, dengan maksud memberikan pencerahan dan menimbulkan keberanian lebih meyakinkan bagi para imam dan pengurus badan kemakmuran masjid untuk bersikap dan menjalankan roda kepemimpinan masjid sesuai yang dikehendaki.


Dua pemateri utama sangat kompeten tampil di lokakarya  itu. Pertama, Prof Ilham Maulana, cendekiawan pengelola masjid dan penceramah berpengalaman terkemuka. Kedua, Ustaz Mardhatillah, Qari  profesional pelatih tahsin dan tilawatil Quran, dan Imam yang diminati banyak jamaah. Keduanya berbagi pembahasan sesuai topik yang disiapkan panitia. 


Bebas Aliran


Menarik kita bicarakan hal hal yang deras mengalir dari kedua pemateri di ruang seminar itu. setidaknya tujuh poin berikut ini. 


Pertama, masjid bukan hanya tempat ibadah mahdhah. Tetapi juga ibadah ghairu mahdhah. Orang memang datang ke masjid untuk mendapatkan ketenangan beribadah dalam munajat masing masing kepada Allah. 


Tetapi di masjid seyogianya jamaah juga  mendapatkan bonus kemaslahatan sosial dalam interaksi sesama jamaah.  Ini dapat secara otomatis terjadi tetapi masjid dapat dengan bersengaja memfasilitasi.


Kedua, di masjid ada solusi. Masalah apapun dapat ditemukan jawabannya di masjid. Karena orang dengan latar belakang apapun, yang potensial dapat menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi, ada di masjid. 


Ketiga, bebas aliran, yaitu seyogianya kita tidak gampang memasukkan orang kedalam  kotak. Sangat mudah dan sering kita mengkotak kotakkan orang dalam kelompok kelompok kecil yang seakan saling berseberangan, hanya karena casing, pakaian dan penampilan berbeda. 


Padahal persamaan asasi kita dengan berbagai kelompok itu umumnya sama. Sama sama ahli kiblat. Tapi hanya karena perbedaan kecil yang remeh temeh kita rela memisahkan diri atau memisahkan saudara kita dari rumah besar umat di masjid. Bagaimana kita akan mempertanggung jawabkan sikap dan perilaku kita itu nanti di hadapan Allah dan Nabi saw?


Keempat, ada ruang kebebasan yang cukup untuk remaja. Remaja adalah jamaah dengan karakteristik khas yang penting mendapat tempat di masjid. 


Mengenai ini pengurus masjid perlu legowo karena umumnya mereka kritis dan berorientasi ke depan. Memberikan ruang dan peran yang cukup untuk mereka namun dibimbing dengan santun.


Kelima, ramah anak. Seperti remaja, anak juga adalah masa depan masjid. Hati dan diri mereka diperlukan untuk kelanjutan kehidupan masjid.


Memang terkadang mereka melakukan hal hal yang cenderung mengganggu tetapi orang tuanya dan pengurus masjid turun untuk mengelola dan membimbing mereka. Boleh mereka melakukan kekeliruan dan bermain di masjid tetapi perlu selalu diberitahu hal yang sebenarnya. Secara persuasif. 


Orang tua dan pengurus yang bijak adalah yang membawa dan membimbing anak. Bukan mengusir mereka dari masjid.


Keenam, pengelolaan dana masjid yang transparan. Dapat dipastikan jarang ada kecurigaan jamaah dalam hal ini. Tetapi keteraturan pengelolaan keuangan menjadi citra manajemen masjid yang baik dan menimbulkan trust yang lebih besar untuk berbagai program yang dijalankan masjid.


Ketujuh, perlu kebersamaan yang baik dalam mengelola konflik apabila terjadi. Jangan biarkan benih benih konflik membesar dan membakar. Bawa ke ranah musyawarah dengan melibatkan stakeholder masjid untuk mendapatkan kesepakatan yang terbaik. 


Imam Artikulatif


Di masjid, imam adalah cermin yang memantul cahaya dan memantik pesona. Karena itu Imam tidak boleh siapa saja. Ada kriterianya. Ada tanggung jawabnya. 


Karena itu imam diseyogiakan memiliki kemampuan dan artikulasi yang baik. Karena sengketa perasaan seringkali terjadi dari artikulasi imam yang  terabaikan. 


Kalau kita merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia, artikulasi diartikan sebagai lafal atau pengucapan kata yang jelas. 


Secara umum dikaitkan dengan kejelasan pengucapan huruf, kata dan kalimat dalam berbicara, bernyanyi, dan tentu saja juga “mengaji”. Sehingga pesan yag disampaikan dapat didengar atau ditangkap dengan jelas oleh pendengar.


Maka adalah kewajiban bagi imam untuk memastikan pengucapan huruf, kata dan kalimat ayat ayat Al-Fatihah sesuai kaedah yang ditetapkan para ulama berdasarkan ketentuan (ilmu) dari Nabi saw. Demikian pula pengucapan ayat ayat atau surah lainnya.


Imam diseyogiakan pula artikulatif, jelas dan terang,  dalam gerakan shalat yang standar berdasar ilmu.


Disamping itu imam juga dikehendaki artikulatif dalam sikap dan perilaku sehari hari. Dari dirinya dapat ditangkap dengan jelas nilai nilai kebaikan dan contoh teladan dalam ukuran standar yang dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya.


Menjadi imam di masjid masjid bukam merupakan pilihan tetapi kemuliaan yang didapat oleh seseorang langsung dari Allah. Karena itu bagi seseorang yang telah diminta maju menjadi imam maka dirinya perlu mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugas mulia itu dengan baik. 


Tanggung jawab juga dipahami dengan kewajiban terus menerus mengupgrade diri dalam hal bacaan ayat dan surah berdasar kaedah tahsin dan ilmu tajwid, gerakan bardasarkan fikih shalat, dan memenuhi kaedah perilaku sehari hari sesuai tuntunan akhlak islami.


Sebagai orang yang sudah ditunjuk Allah dan diikuti jamaah (masyarakatnya) maka Imam posisinya terdepan yang selalu transparan dalam pandangan manusia. 


Bagi imam yang merasa kurang, dari pengetahuan sendiri atau masukan dari kolega para imam atau jamaahnya, maka dirinya perlu bersyukur dan berbesar hati. Lalu melakukan perbaikan dengan beristighfar minta ampun dan pertolongan dari Allah. 


Terhadap itu semua imam merasa bahagia bila mendapat dorongan dari Allah dan hambaNya untuk melakukan kajian untuk meningkatnya kafasihan ilmu dan kesalihan sikap dan perilaku. Dengan itu Allah akan menurunkan cahayaNya.


Para imam untuk diikuti bukan untuk dikritisi. Bila imam bersalah atau keliru maka makmum perlu mengingatkan agar ia kembali. Bukan mengkritisi. 


Tapi bila imam sudah keliru, bersalah, tak kembali juga setelah diingatkan, maka makmum dibolehkan memisahkan diri. Yaitu mufaraqah dari imam yang tidak layak diikuti.


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 21 Mei 2026


(Penulis adalah Tgk Imum Meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update