Al-Rasyid.id | Mahasiswa diajak untuk taat menjalankan ajaran agama, serius belajar, dan mendekatkan diri kepada Allah, sementara para dosen dan pemimpin diminta membina generasi muda dengan pendekatan santun dan persuasif.
Dr. Teuku Chalidin Yacob menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jum’at di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Jumat 5 Zulhijah 1447 H bertepatan dengan 22 Mei 2026 M.
Dalam khutbahnya, pendiri dan pimpinan Ashabul Kahfi Islamic Center Sydney Australia itu mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah kurban Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bagaimana seorang ayah dan pemimpin semestinya memperlakukan generasi muda dengan kelembutan dan dialog.
“Ibrahim tidak mentang-mentang sebagai ayah langsung memaksakan kehendaknya untuk menyembelih Ismail. Ibrahim menggunakan panggilan yang lembut, ya bunayya atau wahai anakku,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah menerima perintah Allah, Nabi Ibrahim menyampaikan hal itu dengan baik kepada Ismail dan meminta pendapat putranya tersebut. Sikap santun dan persuasif itu dinilai penting diteladani oleh orang tua, guru, dosen, maupun pemimpin kepada anak didik dan bawahannya.
“Tidak kasar, tidak semena-mena, tetapi secara lembut berdialog dan meminta partisipasi agar tujuan bersama dapat tercapai,” katanya.
Sebaliknya, lanjut Chalidin, generasi muda dan mahasiswa juga perlu mengambil pelajaran dari sikap Nabi Ismail AS yang taat dan ikhlas menjalankan perintah Allah. Tetapi juga kritis, sejauh itu kebenaran atas perintah Allah siap melaksanakan. Menurutnya, Ismail sebagai seorang pemuda mampu menerima perintah berat tersebut karena memahami bahwa itu merupakan perintah Allah SWT.
“Ismail langsung setuju bersama ayahnya menjalankan perintah Allah tanpa tedeng aling-aling. Inilah gambaran puncak keikhlasan seorang hamba,” ujarnya.
Ia menegaskan, keikhlasan menjadi kunci keberkahan dalam menjalankan agama dan ibadah. Karena itu, umat Islam diminta tidak beribadah karena motivasi selain Allah SWT.
Di akhir khutbahnya, ustaz yang telah lebih dari tiga puluh tahun bermukim di Australia itu juga mengajak umat Islam untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina menghadapi penjajahan Israel.
Menurutnya, umat Islam perlu bersatu dan tidak membesar-besarkan perbedaan mazhab maupun tata cara ibadah di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat saat ini.
“Yang penting bagi kita adalah melakukan yang terbaik menurut ukuran keikhlasan ibadah kepada Allah dan kemaslahatan sesama umat manusia,” pungkasnya.