Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | PSI (partai solidaritas Indonesia), bersikap cerdas dan bergerak cepat dengan (meminta?) pengunduran diri Ade Armando.
Sejak di PSI 11 April 2023 sampai mengumumkan pengunduran diri pada 5 Mei 2026 Ade Armando tidak diketahui bermasalah dengan partainya kecuali bak baik saja. PSI pun tampak bertenaga salah satunya dengan memiliki aset tokoh nasional seperti Ade Armando.
Ade Armando dan juga Grace Natalie terkesan sudah bekerja keras membangun legitimasi partai yang berfokus pada solidaritas, pluralisme, hak hak perempuan dan pemberdayaan pemuda tersebut. Mereka intens menyuarakan misi partai seperti itu.
Bahkan sedikit bernada keras misalnya Grace Natalie, selaku petinggi PSI, menyatakan keberatan dengan kuatnya inisiatif banyak pihak yang mendorong sistem syariah bergerak memasuki mainstream di tanah air. terutama dalam bidang ekonomi. Dia juga menolak perda berbau syariah di daerah daerah.
Demikian pula Ade Armando yang kerap menarasikan beberapa terminologi Islam dari Alquran dan Hadis Nabi saw dari perspektif dia yang berani menyelisihi pandangan umumnya ulama.
Ade dengan gaya berani misalnya menggiring opini melalu video setting podcastnya terkait perintah Alquran untuk membunuh nonis, non muslim. Ini provokatif yang potensial dapat menyulut kesalahpahaman dan pertentangan muslim dan nonis di masyarakat.
Padahal Alquran berbicara hal yang berbeda, yaitu perangilah orang yang memerangi kamu tapi jangan melampaui batas (Albaqarah ayat 190). Maksudnya jangan memulai perang dan jangan ikut nafsu hasrat membunuh. Pasang batasan etika yang ketat meski dalam perang.
Orang orang tua dan anak anak nonis dilarang Allah dibunuh dalam perang, tentu lebih lagi dalam suasana damai. Nonis akomodatif yang menghendaki hidup damai dan harmonis bahkan harus dilindungi.
Jadi pandangan yang benar menurut para ulama (salah satunya Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayeb) bahwa perintah Alquran untuk memerangi kafir adalah karena mereka mempromosikan permusuhan dengan kaum muslim. Jadi yang diperangi adalah sikap dan perilaku permusuhan. Bukan karena mereka kafir atau nonis.
Jadi Ade Armando betul betul keliru dan tampak bersengaja menggiring opini podcastnya itu dengan narasi bahwa Islam menghendaki perang dan memerintahkan membunuh nonis.
Terkesan orientasi yang sama ingin dibangun Ade dalam narasi potongan video ceramah JK di masjid UGM itu. Bahwa seakan JK membenarkan ada perintah umat Islam untuk membunuh atau mematikan musuh sebagai langkah menuju syahid.
Bila PSI juga mengamini pandangan Ade yang satu ini, padahal mereka melibatkan nama JK, maka secara politik tentu itu tidak produktif untuk PSI.
Aset 2029
Dengan nada merendah dan politis Ketua DPP PSI, Bestari Barus, (DetikNews 7 Mei 2026) menyampaikan bahwa PSI partai kecil saja, jadi tidak mungkin mencari masalah dengan nama besar Pak JK (Yusuf Kalla). Bahkan Pak JK pun akrab dengan Pak Jokowi, kata dia, pernah presiden dan wapres.
Dari sini tentu kita paham bahwa PSI perlu fokus bekerja untuk tujuan lebih besar sebagai kendaraan yang kuat bagi Gibran menuju pemilu 2029, dari pada di permukaan terpantau menghabiskan energi berdarah darah dalam kasus penyebaran potongan video itu.
Jadi Ade Armando dan Grace Natalie, dua tokoh yang sudah diketahui menyatu dengan PSI, dengan pergerakan lingkungan politik yang ada saat ini (untuk sementara waktu) dalam kasus mereka yang melibatkan nama JK, bukan hanya tak mungkin dipertahankan sebagai aset tetapi bahkan menjadi beban bagi partai.
Kalaupun Ade dan Natalie, misalnya ini, akan ditolong aliansi PSI nanti di persidangan atau negosiasi damai dalam kasusnya dengan JK, pasti tidak dengan melibatkan partai.
Opini politik yang berkembang dari kasus penyebarluasan potongan video itu tentu tidak menguntungkan bagi PSI. Bahkan dapat menyeret PSI dalam opini negatif publik Indonesia. Padahal PSI, siapa tahu, tengah disiapkan untuk menampung tumpahan suara Prabowo pada 2029 untuk Gibran. Yaitu hal yang setidaknya juga tampak menarik bagi partai Umat dan Amin Rais, bila dikehendaki, untuk Anies Baswedan.
Jadi bila tidak cepat maka tentu ini menggerus legitimasi PSI sebagai partai yang seyogianya ikut diperhitungkan untuk bermain di pemilu akan datang dan diharap kuat berkoalisi dengan poros nasional lainnya dalam mengusung paket presiden-wakil presiden 2029.
Pelajaran
Sementara pada sisi lain tim JK sudah berdiri teguh di sisi JK untuk terus maju di jalur hukum. Hasrat Ade Armando minta maaf kepada JK dan umat Islam agar kasusnya dicabut tidak dibuka jalan.
Jubir JK, Husain Abdullah, mengatakan dengan ini Ade dan siapapun kiranya mengambil pelajarannya. Yang cepat direspon Ade Armando, “pelajaran apa yang bisa diambil?” Tidak ada pelajaran apapun.
Tentu kita paham bahwa ketika seseorang berada dalam satu kegelapan, gelap mata, atau gelap suasana batin dan mata hati, orang tak akan mampu melihat dan mengambil pelajaran apapun. Karena dalam keadaan sepeti itu seseorang sedang dikuasai oleh nafsunya, bukan oleh hasrat dan kearifannya yang bersih.
Husain menyebut pelajaran dari JK untuk bangsa ini adalah legacy, warisan. Yaitu warisan akan nilai kehidupan berbangsa yang mengedepankan keharmonisan dan kedamaian sebagai sebuah bangsa yang hiterogen.
JK sudah diakui dunia sebagai seorang yang memiliki visi kuat sebagai pemimpin yang cinta damai. Dengan rekam jejak beliau di masyarakat Indonesia sudah diketahui beliau bertangan dingin membangun perdamaian di tengah beberapa konflik. Beliau layak disebut bapak perdamaian.
Pelajaran lain yang harus diambil oleh siapapun, yaitu oleh orang yang berbeda dari jalan pikiran Ade Armando, adalah pelajaran menggiring opini publik dengan mengolah karya orang lain dengan tujuan provokatif dan agitas untuk meruntuhkan legacy dan nama baik seseorang, serta mempromosikan ketidakjujuran, adalah bertentangan dengan norma hukum dan moral bagsa ini.
Di tengah pertarungan politik tentu dipercaya ada kepentingan yang berseliweran kesana kemari. Hal itu tidak menjadi alasan bagi siapapun untuk menentang hukum, merendahkan norma dan akhlak moral bangsa.
Generasi masa depan mesti diberi jaminan mendapatkan satu kepastian pembelajaran dari masa saat ini untuk kehidupan berkesinambungan sebagai bangsa. Tentu tidak bijak kepada mereka kita wariskan pola kehidupan yang buruk dan pelajaran menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
Kepepet dan kebelet untuk (terus) berkuasa adalah satu keadaan sebagai manusia, tetapi mengendalikan diri dari cara cara jahat untuk memaksa kehendak adalah bertentangan dengan nilai kemanusiaan itu sendiri. Karena pada setiap pemaksaan yang kita lakukan ada hak hak orang lain yang terabaikan. Bahkan mungkin juga hak hak Tuhan.
Inilah legacy, nilai yang patut diperjuangkan untuk generasi mendatang. Mereka tidak hidup pada masa seperti kita tetapi pada masa mereka sendiri yang berbeda.
Bukankah kita akan punya harga diri yang baik disisi generasi mendatang bila sempat kita wariskan kebaikan untuk mereka. Sebaliknya relakah kita zaman akan mencatat dan mengingat kita adalah pecundang dari legacy baik dan gemar menebar keburukan dan kejahatan.
Kembali
Saya meyakini akan ada saatnya Ade Armando kembali. Dia bukan orang buruk pada awalnya. Dia orang baik. Tetapi mungkin sedang melakukan petualangan politik dan “bisnis” yang menyeretnya ke jalan yang mungkin juga dia sendiri dan keluarganya tidak menyukainya.
Saya mengenal Ade Armando sebagai orang baik sejak Ade, Fahri Hamzah dan saya ikut bersama dalam satu tim di MPP ICMI, bidang informasi dan perpustakaan, kepengurusan 1995-2000, kalau tidak silap, masa periode ketua Adi Sasono.
Sebagaimana layaknya di ICMI diskusi selalu hidup dengan argumentasi terbuka yang mengerucut pada misi penguatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Ade Armando cerdas, karena dia kuat dalam strategi komunikasi. Sementara Fahri Hamzah kuat dalam manhaj pergerakan umat Islam ala PKS. Mereka orang orang cerdas, saya belajar banyak dari mereka.
Entah sejak kapan perubahan terjadi, tetiba sekira 20 tahun kemudian saya sudah mendengar Ade Armando ditabok orang di bawah terik matahari dan digadang tanpa baju ditengah kerumunan masa pendemo presiden Jokowi di Jakarta.
Saya ikut sedih mendengar itu. Tapi saya coba memahami jalan ceritanya, karena Ade Armando diklaim sebagai salahsatu buzzer, konten kreator, penyedia informasi dan pengiring opini yang bekerja sangat dekat dengan penguasa. Sebagian orang mempelesetkan dia sebagai “buzzeRp”, maksudnya buzzer bayaran yang bekerja secara khusus sesuai pesanan.
Dari titik ini sebenarnya ada harapan kita untuk para tokoh pegiat informasi seperti Ade Armando, Abu Janda, atau lainnya yang berbisnis dengan cara kerap membuat umat Islam sakit hati, agar segera kembali.
Pandangan ini mungkin bahkan ditertawakan Ade dan Abu Janda sendiri, tetapi Allah yang membolak balik hati tidak diam dan akan memberi jalan kembali atau Allah menakdirkan mereka istidraj, membiarkan tetap begitu, menikmati kesuksesan sampai mereka mati.
Adapun untuk Indonesia kedepan kita mengharap kebaikan. Akan lebih baik bila para tokoh nasional yang sevisi dengan para pengawal moral bangsa merapatkan barisan untuk menahan semakin kuatnya arus informasi dan upaya legitimasi kekuasaan yang mengenyampingkan nilai nilai.
Akan hilang harapan generasi Indonesia ke depan tatkala nilai nilai keagungan yang dicita citakan pendiri bangsa ini tak lagi dapat diteruskan sebagai legacy yang dipegang sebagai rujukan masa depan dan kekuatan berbangsa.
Siapa bergerak cepat akan melesat, selamat atau mudharat, legacy nilai atau legitimasi partai.
Wallahu a’lam.
Banda Aceh 11 Mei 2026
(Penulis adalah pengajar MK Aspek Hukum Sistem Informasi pada FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Bendahara ICMI Aceh)