-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bencana dan Ruang Baca

Senin, 29 Juni 2026 | Juni 29, 2026 WIB Last Updated 2026-06-29T16:07:12Z

 


Opini Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Diskusi terbatas pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Daerah Aceh pada pagi ini, Senin, 29 Juni 2026, bertempat di lantai dasar Museum Rumoh Aceh di kompleks UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menyoroti masih sulitnya perbaikan terhadap fasilitas pendidikan, perpustakaan, dan ruang baca bagi siswa, santri, serta masyarakat di wilayah-wilayah yang terdampak bencana banjir dan longsor delapan bulan lalu. 


Buku-buku pelajaran, kitab-kitab keagamaan, dan berbagai koleksi bacaan hanyut diterjang banjir atau tertimbun material longsor bersamaan dengan ambruknya sejumlah bangunan pendidikan. Hingga kini, sebagian besar koleksi tersebut belum tergantikan. 


Akibatnya, siswa dan santri kehilangan akses terhadap bahan bacaan yang memadai sehingga proses pendidikan hanya berjalan sekadar menyesuaikan kondisi fasilitas yang masih rusak dan belum sepenuhnya pulih.


Sumber Belajar


Bencana alam tidak hanya merobohkan gedung dan merusak jalan. Ia juga menghancurkan ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat lahirnya ilmu pengetahuan. 


Ketika perpustakaan ikut tenggelam bersama lumpur, sesungguhnya yang ikut hilang bukan sekadar rak buku, tetapi kesempatan belajar bagi ribuan anak untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan.


Berbagai laporan dari daerah terdampak menunjukkan bahwa kerusakan meliputi sekolah, madrasah, hingga dayah dan pondok pesantren yang mengalami tingkat kerusakan beragam, mulai dari ringan hingga berat. 


Di sejumlah lokasi, perpustakaan sekolah maupun ruang baca komunitas ikut rusak karena terendam banjir atau tertimbun longsor. 


Hingga saat ini, pendataan rinci masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga jumlah final fasilitas pendidikan dan perpustakaan yang terdampak masih terus diperbarui. 


Namun, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kehilangan bahan bacaan merupakan persoalan nyata yang harus segera ditangani.


Sayangnya, proses pemulihan masih berlangsung lambat. Pemerintah memang lebih dahulu memusatkan perhatian pada pemulihan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum. 


Langkah tersebut tentu penting, tetapi fasilitas pendukung pendidikan, khususnya perpustakaan dan ruang baca, jangan sampai terlupakan. 


Pendidikan tidak hanya membutuhkan bangunan kelas, melainkan juga sumber belajar yang menjadi napas kehidupan akademik.


Perpustakaan sering disebut sebagai jantung pendidikan. Sebagaimana jantung memompa darah ke seluruh tubuh, perpustakaan mengalirkan ilmu pengetahuan kepada seluruh warga sekolah maupun masyarakat. 


Denyut pendidikan akan kembali normal apabila ditunjang oleh perpustakaan atau ruang baca yang sehat, koleksi yang memadai, serta lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya budaya literasi.


Dukungan Para Pihak 


Dalam kondisi seperti ini, partisipasi masyarakat menjadi sangat penting. Tidak semua solusi harus menunggu anggaran pemerintah. 


Organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas literasi, hingga individu dapat bergotong royong membantu pemulihan. 


Bentuk bantuan dapat berupa donasi buku pelajaran, kitab-kitab keagamaan, buku cerita anak, ensiklopedia, rak buku, meja baca, komputer, maupun dukungan tenaga sukarelawan untuk membersihkan dan menata kembali perpustakaan yang rusak.


IPI Aceh sendiri berencana dalam waktu dekat menggelar sebuah forum diskusi yang lebih luas untuk menggalang berbagai gagasan percepatan solusi terhadap persoalan ini. 


Diskusi tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas literasi, lembaga filantropi, dan masyarakat sehingga lahir langkah-langkah konkret dalam mempercepat pemulihan perpustakaan di wilayah bencana.


Di bawah koordinasi Nazaruddin Musa, Ph.D., IPI Aceh juga mulai menjalin komunikasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh guna menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki dalam pembenahan kerusakan tersebut. 


Menurut Nazaruddin, upaya ini harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai sumber daya yang tersedia, baik dari pemerintah maupun masyarakat.


Bencana yang terjadi itu merupakan bencana besar, sementara kemampuan sumber daya manusia dan sumber pendanaan yang tersedia masih sangat terbatas. 


Kondisi tersebut semakin berat karena penanganannya tidak berada dalam skema bencana nasional sehingga ruang gerak dan dukungan pembiayaan menjadi lebih terbatas. Oleh sebab itu, kolaborasi menjadi pilihan yang tidak dapat ditunda.


Waqaf Buku dan Kitab


Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan IPI Aceh adalah mengorganisasi program Wakaf Buku dan Kitab bagi sekolah, madrasah, dayah, pondok pesantren, dan ruang baca masyarakat di wilayah terdampak bencana. 


Program ini diharapkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat luas untuk menyumbangkan buku-buku dan kitab-kitab yang masih layak digunakan sesuai kebutuhan lembaga pendidikan penerima manfaat.


Gerakan wakaf buku bukan sekadar mengumpulkan koleksi bacaan, melainkan membangun kembali harapan. Setiap buku yang disumbangkan dapat menjadi jendela ilmu bagi seorang anak yang kehilangan perpustakaannya. 


Setiap kitab yang kembali memenuhi rak-rak dayah dapat menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang sempat terhenti akibat bencana.


Khulasah


Pada akhirnya, pemulihan pascabencana tidak boleh hanya diukur dari berdirinya kembali gedung-gedung yang roboh, tetapi juga dari hidupnya kembali budaya membaca dan belajar di tengah masyarakat. 


Ketika perpustakaan kembali berfungsi, sesungguhnya harapan masyarakat untuk bangkit juga mulai menemukan jalannya.


Semoga seluruh wilayah terdampak bencana di Aceh segera pulih. Semoga sekolah, madrasah, dayah, dan pondok pesantren dapat kembali menjalankan proses pendidikan secara normal. 


Dan semoga gerakan wakaf buku yang akan diinisiasi IPI Aceh mendapat dukungan luas dari masyarakat sehingga bahan bacaan kembali tumbuh, budaya literasi kembali hidup, dan lahir generasi muda Aceh yang cerdas, berakhlak, serta tangguh menghadapi masa depan.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 14 Muharram 1448, 29 Juni 2026


(Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, penasehat IPI Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update