-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Demo Mahasiswa dan Pendekatan Nabi Musa

Jumat, 19 Juni 2026 | Juni 19, 2026 WIB Last Updated 2026-06-19T18:12:06Z

 


Opini Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Gelombang demonstrasi mahasiswa yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia pada pertengahan Juni 2026 merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang wajar. 


Aksi besar mahasiswa tercatat berlangsung pada 12 Juni 2026 di kawasan Bundaran HI Jakarta dan berlanjut pada 15 Juni 2026 di sekitar Istana Negara, DPR, Patung Kuda, serta beberapa daerah lainnya. 


Aksi tersebut melibatkan berbagai aliansi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan dari sejumlah perguruan tinggi.  


Secara umum, mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM, penggunaan APBN, evaluasi sejumlah program pemerintah, penolakan militerisme di ruang sipil, peningkatan kualitas pendidikan, serta berbagai isu tata kelola pemerintahan dan keadilan sosial. 


Di beberapa daerah, tuntutan juga berkembang sesuai persoalan lokal yang dirasakan masyarakat setempat.  


Qaulan Layyinan


Dalam konteks merespon suhu demo di lapangan, pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menarik untuk dicermati. 


Menag mengingatkan agar mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan bahasa yang santun sebagaimana dicontohkan Nabi Musa ketika berdialog dengan Fir’aun. Menurut Menag, tujuan yang baik hendaknya ditempuh dengan cara yang baik pula.  


Pesan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Ketika Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun menghadapi Fir’aun yang zalim dan mengaku sebagai tuhan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an agar keduanya berbicara dengan “qaulan layyinan” atau perkataan yang lemah lembut (QS Thaha Ayat 44).


Konsep qaulan layyinan diatas merupakan salah satu prinsip penting dalam komunikasi Islam. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir’aun agar berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, santun, dan penuh hikmah. 


Perintah ini menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi dakwah dan komunikasi yang berlandaskan kebijaksanaan. 


Melalui qaulan layyinan, seseorang tetap dapat menyampaikan kritik, teguran, dan kebenaran secara tegas tanpa harus menggunakan kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan lawan bicara. 


Jika kepada Fir’aun yang begitu angkuh saja Allah memerintahkan penggunaan bahasa yang santun, maka terlebih lagi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara saat ini, setiap perbedaan pendapat hendaknya disampaikan dengan adab, penghormatan, dan argumentasi yang baik. 


Semangat qaulan layyinan mengajarkan bahwa dialog yang beretika lebih berpeluang membuka hati, meredakan ketegangan, dan menghadirkan solusi dibandingkan komunikasi yang penuh kemarahan dan permusuhan.


Bermartabat


Sikap Nabi Musa bukanlah sikap takut atau tunduk kepada kezaliman, melainkan ketegasan yang dibalut dengan akhlak dan kesantunan. Nabi Musa tetap menyampaikan kebenaran, mengkritik kesesatan Fir’aun, dan mengajak kepada jalan yang benar tanpa caci maki dan penghinaan.


Secara lahiriah, Fir’aun memang tidak menerima dakwah Nabi Musa dan akhirnya ia binasa. Namun dari sisi dakwah, Nabi Musa berhasil menjalankan amanahnya dengan sempurna. Beliau menyampaikan kebenaran secara jelas, bermartabat, dan sesuai petunjuk Allah. 


Pelajaran pentingnya adalah bahwa keberhasilan perjuangan tidak hanya diukur dari diterima atau tidaknya pesan, tetapi juga dari cara yang benar dalam menyampaikannya.


Karena itu, mahasiswa Indonesia sebagai kelompok intelektual dan moral force bangsa sebaiknya tetap menjaga tradisi demonstrasi yang tertib, damai, sesuai hukum, dan bermartabat. 


Aspirasi yang kuat akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan argumentasi yang kokoh, data yang akurat, dan sikap yang santun. 


Mahasiswa juga perlu mewaspadai provokasi yang dapat menyeret aksi menjadi anarkis, merusak fasilitas umum, atau memicu benturan yang merugikan semua pihak.


Dialog


Di sisi lain, pemerintah juga perlu memandang demonstrasi mahasiswa sebagai bagian dari mekanisme koreksi dalam negara demokrasi. Aspirasi mahasiswa tidak semestinya dihadapi dengan pendekatan represif, intimidatif, atau kesan penggunaan tekanan ala militer. 


Pemerintah perlu membuka ruang dialog yang sehat, mendengarkan kritik dengan lapang dada, serta memberikan penjelasan yang rasional terhadap berbagai kebijakan yang dipersoalkan masyarakat. Dialog yang jujur jauh lebih produktif daripada konfrontasi.


Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa sering menjadi pengingat ketika bangsa menghadapi berbagai persoalan. 


Namun sejarah juga mengajarkan bahwa perubahan yang berkelanjutan lahir dari perpaduan antara keberanian menyampaikan kritik dan kebijaksanaan dalam merespons kritik tersebut.


Semoga mahasiswa tetap menjadi penjaga nurani bangsa, pemerintah tetap terbuka terhadap masukan rakyat, dan seluruh elemen bangsa mampu menjaga persatuan. 


Dengan demikian, Indonesia dapat terus membangun dalam suasana aman, damai, demokratis, dan sejalan dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa. 


Agen Fir’aunisme


Adalah wajar dan pada tempatnya mengharap mahasiswa agar berdemo dengan santun, menjaga adab, dan menghindari tindakan anarkis. Tetapi juga wajar mengharap para pejabat (oknum) atas nama pemerintah mempertontonkan perilaku yang tidak santun, kasar dan memancing emosi publik.


Ada pejabat yang berbohong kepada rakyat, mengedepankan kepentingan elit dengan asumsi ada titipan kepentingan pribadi dan atau kelompok dalam berbagai program atau proyek yang sejatinya tidak prorakyat tentu saja tak sejalan dengan misi nabi Musa.


Sikap dan perilaku sombong oknum para pejabat yang memisahkan diri dari keadaan dan keterbatasan rakyat itu juga mencolok mata nabi Musa dan Harun di belakang dia.


Pamer kekayaan yang sementara beberapa oknum pejabat lakukan di tengah kesengsaraan rakyat yang mencekik juga dapat merupakan ekspresi mental yang gagal dan kasar. 


Bila juga ada sementara oknum pejabat berbicara di depan publik dengan bahasa yang dapat menimbulkan kontroversi tanpa mengindahkan perasaan warga negara baik itu dilakukan berdasarkan ilmu atau kepentingan politik dan bisnis dengan mengabaikan akhlak dan etika, maka apa salah pemuda dan mahasiswa bila berperilaku sama. 


Tak sanggup kita dengar kritikan lugas dan tajam masyarakat terhadap mantan pejabat korup yang mengkritik demo mahasiswa. Padahal dia tampil di tengah publik dengan wajah menjijikkan yang masih berlumuran dosa. 


Berhentilah dari perilaku pejabat bermental agen nilai yang menjunjung tinggi fir’aunisme. Bertaubatlah dan ajaklah mahasiswa ikut bersama.


Wallahu a’lam


Banda Aceh, 2 Muharram 1448/ 17 Juni 2026


(Penulis adalah akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update