(Laporan Saif)
Banda Aceh – Salah satu tugas utama manusia, terlebih seorang mukmin, adalah terus berupaya mencari hidayah Allah SWT. Hidayah itu, menurut intelektual muslim dan pendakwah Prof. Ilham Maulana, dapat ditemukan di berbagai tempat, terutama melalui keberadaan masjid dan majelis ilmu.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas MIPA USK itu dalam tausiyah pada agenda Safari Subuh BBC yang berlangsung di Masjid Baitul Musyahadah, Gampong Geuceu Kayee Jato, Bada Aceh, Ahad (21/6/2026) bertepatan dengan 6 Muharram 1448 Hijriyah.
“Sebagai seorang mukmin, salah satu tugas utama kita adalah mencari hidayah Allah. Hidayah itu ada di mana-mana, dan salah satu tempat terpenting untuk mendulang hidayah adalah masjid,” ujarnya.
Menurut Prof. Ilham Maulana, salah satu cara memperoleh dan memelihara hidayah adalah dengan rajin menghadiri majelis ilmu, mendengarkan tausiyah agama, serta terus menyambung tali silaturrahim dengan sesama muslim.
“Menjaga persaudaraan sesama muslim adalah kewajiban agar iman dan hidayah Allah terus terpupuk dalam diri kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya senantiasa berserah diri kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam keadaan dan situasi apa pun, seorang mukmin harus menjaga keselamatan imannya.
“Bila iman kita selamat, maka urusan-urusan yang lain akan Allah mudahkan dengan iradah dan ma’unah-Nya,” lanjutnya.
Dalam tausiyah tersebut, Prof. Ilham menegaskan bahwa seorang muslim diperintahkan hanya takut kepada Allah SWT dan tidak takut kepada apa pun selain-Nya, termasuk tidak takut kepada kematian.
Ia mengingatkan umat Islam agar mewaspadai penyakit cinta dunia dan takut mati sebagaimana telah diperingatkan Rasulullah SAW. Menurutnya, rasa takut yang benar adalah takut kepada Allah, Sang Pencipta langit, bumi, dan seluruh isinya, sekaligus Yang Maha Mengendalikan kehidupan dan kematian manusia.
“Allah adalah satu-satunya, bukan salah satu, yang wajib kita cintai tanpa tandingan dan tanpa sekutu. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan lakukan hendaknya hanya karena Allah, karena perintah-Nya dan karena larangan-Nya,” ungkapnya.
Prof. Ilham menjelaskan, kecintaan kepada pasangan hidup, anak-anak, orang tua, sesama manusia, harta benda, dan berbagai kenikmatan dunia harus diletakkan dalam bingkai kecintaan kepada Allah SWT.
Ia juga menuturkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari nafsunya. Namun, yang terpenting adalah berupaya memperoleh keridaan Allah melalui doa dan pengendalian diri sehingga keinginan dan hasrat yang dimiliki tetap berada dalam koridor yang diridhai-Nya.
“Kita tidak membiarkan diri dikuasai oleh hawa nafsu, tetapi kita rela hidup bersama nafsu yang tunduk kepada kehendak Allah,” ujarnya.
Di akhir tausiyahnya, Prof. Ilham Maulana mengingatkan jamaah agar selalu waspada terhadap godaan setan yang terus berusaha mendorong manusia kepada kerusakan melalui hawa nafsu.
“Karena itu, hendaknya kita senantiasa takut kepada Allah dan tunduk kepada-Nya dalam setiap keadaan,” pesannya.