Al-Rasyid.id - Dalam pandangan Islam, uang negara bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran. Ia adalah amanah. Di dalamnya ada hak rakyat miskin, kebutuhan pendidikan, akses kesehatan, perlindungan sosial, keselamatan publik, hingga masa depan generasi yang belum memiliki suara. Rabat (29/06)
Karena itu, persoalan fiskal bukan hanya soal kemampuan negara memperoleh pendapatan, melainkan tentang bagaimana negara menentukan prioritas penggunaannya.
Islam mengajarkan bahwa kekuasaan pada hakikatnya adalah tanggung jawab. Seorang pemimpin tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan, tetapi juga atas apa yang ia abaikan. Ketika kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi, ketika sekolah masih kekurangan fasilitas, ketika layanan kesehatan sulit dijangkau, ketika rakyat kecil dibebani harga hidup yang semakin mahal, maka pengeluaran negara untuk hal-hal yang tidak mendesak patut dipertanyakan secara moral.
Dalam maqashid al-syari‘ah, kebijakan publik seharusnya diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Artinya, fiskal negara harus lebih dahulu memastikan rakyat dapat hidup aman, sehat, terdidik, memiliki pekerjaan yang layak, serta terlindungi dari kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi.
Kekacauan prioritas terjadi ketika anggaran lebih sibuk membiayai kemewahan daripada kemaslahatan; lebih cepat mengurus citra daripada menyelesaikan penderitaan; lebih besar untuk seremoni daripada pelayanan; dan lebih longgar untuk kepentingan elite daripada kebutuhan rakyat.
Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seorang pemimpin adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Dalam bahasa yang lebih sederhana: negara tidak boleh hidup nyaman di atas kesulitan rakyatnya sendiri.
Islam tidak melarang pembangunan besar, proyek strategis, diplomasi, pertahanan, maupun penguatan institusi negara. Semua itu dapat menjadi kebutuhan. Namun urutannya harus benar. Yang darurat didahulukan daripada yang pelengkap. Yang menyangkut hidup orang banyak harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok kecil. Yang memberi manfaat nyata harus lebih utama daripada yang hanya menghasilkan pujian sesaat.
Fiskal yang sehat bukan fiskal yang sekadar besar nilainya, melainkan fiskal yang adil arah penggunaannya. Sebab dalam Islam, keberkahan anggaran tidak lahir dari banyaknya uang yang dibelanjakan, tetapi dari sejauh mana uang itu benar-benar meringankan beban rakyat dan menghadirkan kemaslahatan.
Negara yang baik bukan negara yang paling mewah pengeluarannya, tetapi negara yang paling amanah dalam menentukan prioritasnya.
