-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Spirit Bola, Energi Sosial, dan Ghirah Keagamaan

Minggu, 28 Juni 2026 | Juni 28, 2026 WIB Last Updated 2026-06-28T17:35:30Z

 


Opini Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak kisah yang melampaui sekadar menang dan kalah. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah perjalanan tim nasional Iran. Setelah hasil imbang melawan Mesir, Iran akhirnya tersingkir dari turnamen. 


Di balik hasil tersebut, perhatian dunia tertuju pada berbagai kendala yang mereka hadapi, termasuk pembatasan yang menyebabkan skuad Iran tidak dapat bermukim di Amerika Serikat selama penyelenggaraan turnamen sehingga harus bolak-balik dari Meksiko menuju lokasi pertandingan. Kondisi itu dinilai mengganggu pemulihan fisik, konsentrasi, dan persiapan tim. 


Berbagai laporan juga menyebut pelatih dan kapten Iran menyampaikan kritik terhadap situasi tersebut, sementara Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberikan apresiasi atas kehadiran dan sikap sportif tim Iran sepanjang turnamen. 


Sportivitas dan Energi Sosial


Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, satu pelajaran penting dapat dipetik. Dunia sepak bola memperlihatkan bahwa semangat sportivitas mampu menyatukan manusia lintas bangsa, budaya, bahasa, dan agama. 


Banyak pecinta sepak bola memberikan simpati kepada para pemain Iran bukan semata karena identitas negaranya, melainkan karena mereka melihat perjuangan, keteguhan, dan semangat fair play yang ditampilkan di lapangan. 


Dalam olahraga, penghormatan terhadap lawan, kepatuhan terhadap aturan, dan penghargaan terhadap perjuangan merupakan nilai universal yang menggerakkan emosi kolektif masyarakat dunia.


Pertanyaannya, bagaimana jika energi sosial sebesar itu juga hadir dalam kehidupan beragama, khususnya di kalangan umat Islam?


Bayangkan apabila semangat berjamaah, disiplin, solidaritas, dan kecintaan terhadap nilai-nilai kebaikan tumbuh sekuat gairah masyarakat menyambut pertandingan sepak bola. 


Masjid akan semakin hidup, kegiatan pendidikan berkembang, kepedulian sosial meningkat, dan umat akan memiliki kekuatan moral yang jauh lebih besar dalam menghadapi berbagai persoalan zaman.


Tantangan


Saat ini umat Islam di berbagai belahan dunia menghadapi beragam tantangan, mulai dari kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, konflik bersenjata, pengungsian, ketidakadilan, Islamofobia, hingga berbagai krisis kemanusiaan. 


Tantangan tersebut membutuhkan persatuan, kerja sama, dan dukungan masyarakat internasional berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, tanpa memandang agama maupun kebangsaan. Dukungan terhadap siapa pun yang tertindas merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Islam. 


Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)


Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Lebih luas lagi, semangat membela yang lemah tidak boleh dibatasi oleh identitas agama semata. Keadilan merupakan nilai universal. 


Karena itu, negara-negara Muslim bersama masyarakat dunia seyogianya memperkuat kerja sama untuk membela siapa pun yang mengalami penindasan, melawan kekejaman, penjajahan, keserakahan, kesombongan, kebohongan, dan tindakan sewenang-wenang yang mengabaikan martabat manusia serta nilai-nilai akhlak mulia.


Emosi Positif


Spirit sepak bola juga mengajarkan pentingnya menerima kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Tidak ada pemain yang sukses tanpa latihan, disiplin, kerja sama, dan kepatuhan terhadap aturan permainan. 


Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya sangat dekat dengan ajaran Islam. Seorang Muslim diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), bekerja keras, menghargai orang lain, serta menaati aturan yang tidak bertentangan dengan syariat.


Bagi generasi muda, emosi positif dalam sepak bola dapat menjadi energi untuk membangun masa depan. 


Kegigihan seorang atlet dalam berlatih, kesabaran menghadapi kegagalan, semangat bangkit setelah kalah, dan kekompakan dalam tim merupakan karakter yang sangat dibutuhkan dalam menempuh pendidikan, membangun karier, mengembangkan usaha, maupun mengabdi kepada masyarakat. 


Semangat kompetisi yang sehat hendaknya menjadi jalan menuju keberhasilan yang diridhai Allah dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.


Karena itu, mencintai sepak bola tentu bukanlah sesuatu yang keliru. Yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai menonton pertandingan atau bermain bola membuat seseorang meninggalkan shalat, mengabaikan kewajiban belajar, melalaikan pekerjaan, atau mengorbankan tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat. 


Hiburan seharusnya menjadi penyegar jiwa, bukan penghalang menuju kesuksesan dunia dan akhirat.


Pada akhirnya, sepak bola mengajarkan bahwa kekuatan terbesar lahir dari persatuan, disiplin, sportivitas, dan saling menghormati. 


Jika nilai-nilai itu mampu dihadirkan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, maka umat Islam akan memiliki energi sosial yang jauh lebih besar untuk membangun peradaban yang berkeadilan, berakhlak mulia, serta membawa rahmat bagi seluruh manusia.


Wallahu a’lam


Banda Aceh 13 Muharram 1448, 28 Juni 2026


(Penulis adalah akademisi dan pegiat moderasi beragama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update