Opini: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Suatu sore belum lama ini saya kembali berhenti di persimpangan traffic light Kampus Darussalam Banda Aceh. Lampu merah menyala. Saya menghentikan kendaraan di belakang garis henti. Namun seperti yang sering terjadi, beberapa sepeda motor melaju begitu saja melintasi persimpangan.
Di belakang mereka, pengendara lain ikut bergerak. Dalam hitungan detik, pelanggaran berubah menjadi iring-iringan.
Pemandangan seperti itu menghadirkan satu pertanyaan yang mengusik pikiran saya.
Mengapa orang-orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi, bahkan mungkin sebagian telah bergelar sarjana, magister, doktor, profesor, atau bekerja sebagai aparatur negara, masih memilih menerobos lampu merah?
Bukankah pendidikan semestinya membuat seseorang semakin menghargai aturan?
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak pelanggaran yang terjadi setiap hari.
Pengetahuan Tidak Selalu Menjadi Perilaku
Psikologi modern telah lama menjelaskan bahwa mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat seseorang melakukannya.
Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa manusia sering mengambil keputusan secara cepat, spontan, dan mengikuti kebiasaan. Dalam kondisi seperti itu, pengetahuan rasional sering kalah oleh dorongan sesaat.
Itulah sebabnya seorang dokter masih bisa merokok, seorang ekonom bisa boros, seorang akademisi bisa terlambat, dan seorang mahasiswa yang memahami aturan lalu lintas tetap menerobos lampu merah.
Masalahnya bukan pada pengetahuan tetapi karakter dan kebiasaan.
Efek Ikut-ikutan
Ada teori lain dalam psikologi sosial yang disebut social proof.
Sederhananya, manusia cenderung menganggap suatu tindakan benar apabila dilakukan oleh banyak orang.
Ketika satu pengendara menerobos lampu merah, pengendara berikutnya menjadi lebih berani. Ketika sepuluh orang melanggar, pelanggaran tampak wajar. Ketika ratusan orang melakukannya setiap hari, lahirlah budaya.
Budaya itulah yang paling sulit diubah. Orang akhirnya tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” Yang muncul justru pertanyaan, “Semua orang juga melakukan.”
Kampus Mengajarkan Ilmu, Tetapi Juga Karakter
Universitas dibangun bukan hanya untuk menghasilkan lulusan yang pintar. Lebih dari itu, universitas bertugas membentuk manusia yang bertanggung jawab.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya IPK, jumlah publikasi, akreditasi, atau ranking dunia.
Ada ukuran lain yang sering terlupakan. Apakah lulusan kampus memiliki integritas ketika tidak ada yang mengawasi?
Simpang traffic light Kampus Darussalam sesungguhnya merupakan laboratorium karakter yang sangat sederhana. Tidak ada dosen yang memberi nilai. Tidak ada ujian. Tidak ada absensi. Yang ada hanyalah pilihan. Berhenti atau menerobos.
Integritas Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Stephen R. Covey pernah mengatakan bahwa karakter dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mungkin berhenti selama tiga puluh detik tampak sepele. Namun dari situlah lahir kesabaran. Dari kesabaran lahir disiplin. Dari disiplin lahir integritas. Dan dari integritas lahir kepercayaan masyarakat.
Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa mencari jalan pintas dalam hal kecil, ia lebih mudah mencari pembenaran ketika menghadapi persoalan yang lebih besar.
Islam dan Budaya Tertib
Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama. Al-Qur’an memerintahkan agar orang beriman menaati aturan yang sah selama tidak bertentangan dengan syariat.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kehadirannya memberikan rasa aman kepada orang lain. Artinya, keselamatan pengguna jalan merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga.
Menerobos lampu merah bukan hanya persoalan hukum. Ia juga persoalan akhlak.
Tujuh Kebiasaan Orang yang Beradab di Jalan Raya
Budaya disiplin dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana.
Pertama, menganggap jalan raya sebagai ruang bersama, bukan milik pribadi.
Kedua, berhenti sebelum garis henti ketika lampu merah menyala.
Ketiga, mengelola emosi dan tidak menjadikan keterlambatan beberapa detik sebagai alasan melanggar.
Keempat, memberi contoh kepada anak-anak dan generasi muda.
Kelima, menghormati hak pengguna jalan lain.
Keenam, berani menjadi orang yang taat meskipun orang lain melanggar.
Ketujuh, menjadikan disiplin sebagai identitas seorang insan akademik.
Dari Simpang Darussalam untuk Indonesia
Barangkali persoalan lampu merah di Simpang Kampus Darussalam tampak kecil.
Namun sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa maju dibangun bukan semata karena sumber daya alamnya, melainkan karena masyarakatnya menghormati aturan bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan jutaan sarjana, tetapi juga jutaan warga negara yang memiliki disiplin dan integritas.
Mungkin perubahan besar itu tidak dimulai dari ruang sidang, gedung parlemen, atau laboratorium penelitian.
Boleh jadi, perubahan itu justru dimulai dari keputusan sederhana seorang mahasiswa, dosen, atau pegawai yang memilih berhenti ketika lampu merah menyala, meskipun tidak ada polisi yang berjaga.
Karena sesungguhnya ukuran kecerdasan bukanlah seberapa banyak ilmu yang kita kuasai, melainkan seberapa konsisten kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan salah satu ruang ujian karakter yang paling jujur adalah sebuah persimpangan.
Wallahu a’lam
Darussalam 29 Muharram 1448, 14 Juli 2026
(Penulis akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Meunasah Barabung dan Imuemsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam)
