-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Mewariskan Generasi Manja - Bagian 1

Minggu, 12 Juli 2026 | Juli 12, 2026 WIB Last Updated 2026-07-12T17:49:41Z


Opini Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Saya masih menyimpan kenangan yang sangat berharga dari perjalanan karier saya sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Pada tahun 1996, atasan sekaligus mentor saya, Prof. M. Amin Aziz (MAA), memberikan sebuah buku yang kemudian banyak memengaruhi cara saya memandang kehidupan, kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia. 


Buku itu berjudul The Magic of Thinking Big karya motivator terkemuka Amerika, David J. Schwartz. Versi bahasa Indonesianya diterbitkan dengan judul Berpikir dan Berjiwa Besar.


Prof. MAA tidak sekadar meminjamkan buku itu kepada saya untuk dibaca. Beliau meminta saya “membedah” isinya, mengidentifikasi gagasan-gagasan penting, kemudian mengembangkannya menjadi modul pelatihan yang dapat diterapkan dalam berbagai program pengembangan sumber daya manusia yang kami kelola.


Saat itu saya dipercaya sebagai Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan Kelembagaan PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) di Jakarta. Salah satu amanah besar yang sedang kami emban adalah mempersiapkan para pengelola Baitul Mal wat Tamwil (BMT), lembaga keuangan mikro syariah yang ketika itu tumbuh di berbagai pelosok Indonesia sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.


Dua angkatan awal yang masih saya ingat hingga kini adalah sekitar lima puluh orang manajer Baitul Qiradh (BAIQI) dari Aceh —karena di Aceh BMT lebih dikenal dengan nama BAIQI— serta sekitar tiga puluh orang manajer dari Timor Timur, yang kini menjadi negara Timor-Leste.


Mereka datang dari latar belakang yang sangat beragam. Ada yang baru lulus perguruan tinggi, ada yang pernah menjadi aktivis mahasiswa, ada yang telah memiliki pengalaman bekerja, dan ada pula yang baru pertama kali mengenal dunia lembaga keuangan syariah. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yaitu semangat yang menyala untuk ikut membangun ekonomi umat.


Pelatihan berlangsung penuh antusiasme. Diskusi berlangsung hingga larut malam. Mereka tidak hanya belajar tentang manajemen, akuntansi, pembiayaan, atau prinsip-prinsip syariah, tetapi juga tentang membangun karakter seorang pemimpin. Sebab kami meyakini bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh sistem, melainkan terutama oleh kualitas manusia yang menjalankannya.


Perjalanan waktu kemudian meskipun tidak semua BMT maupun BAIQI berkembang sesuai harapan. Sebagian berhasil menjadi lembaga yang sehat dan dipercaya masyarakat, tetapi sebagian lainnya harus menghadapi berbagai persoalan, mulai dari lemahnya tata kelola, keterbatasan modal, hingga tantangan sosial dan ekonomi yang berubah begitu cepat.


Daya Juang 


Pengalaman itu mengajarkan satu pelajaran penting kepada saya. Pengetahuan memang penting, tetapi daya juang jauh lebih menentukan. Kecerdasan diperlukan, tetapi karakterlah yang menjaga seseorang tetap bertahan ketika keadaan menjadi sulit.


Tiga puluh tahun telah berlalu. Dunia telah berubah sangat cepat. Revolusi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), otomatisasi industri, ekonomi digital, perubahan iklim, hingga persaingan tenaga kerja global telah mengubah hampir seluruh lanskap kehidupan. 


Banyak jenis pekerjaan hilang, tetapi lebih banyak lagi pekerjaan baru yang lahir dengan tuntutan kompetensi yang berbeda.


Anak-anak muda hari ini hidup di tengah peluang yang jauh lebih besar dibandingkan generasi kami dahulu. Mereka memiliki akses informasi tanpa batas, teknologi yang semakin murah, jaringan global yang terbuka, serta kesempatan belajar dari siapa pun di seluruh dunia. Namun, pada saat yang sama mereka juga menghadapi tekanan yang jauh lebih berat.


Persaingan menjadi semakin ketat. Dunia kerja tidak lagi hanya mencari lulusan yang memiliki indeks prestasi tinggi, tetapi juga mereka yang kreatif, adaptif, mampu bekerja sama, mampu memecahkan masalah, serta memiliki daya tahan menghadapi tekanan.


Di sinilah saya melihat sebuah paradoks yang patut kita renungkan bersama. Ketika tantangan kehidupan semakin besar, justru muncul kecenderungan sebagian generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang terlalu melindungi mereka dari kesulitan. 


Banyak yang sejak kecil terbiasa memperoleh segala sesuatu dengan mudah. Mereka jarang diberi kesempatan memikul tanggung jawab, kurang dilatih menghadapi kegagalan, dan tidak terbiasa menyelesaikan persoalan hidup secara mandiri.


Tentu tidak adil jika kita menyamaratakan seluruh generasi muda. Masih sangat banyak pemuda Indonesia yang bekerja keras, berprestasi, dan menginspirasi. 


Namun, gejala tumbuhnya mentalitas instan, mudah menyerah, enggan bersusah payah, serta kecenderungan menyalahkan keadaan ketika menghadapi kegagalan merupakan fenomena yang tidak dapat diabaikan.


Cara Berpikir 


Padahal Indonesia sedang memasuki masa yang sangat menentukan. Bonus demografi yang akan mencapai puncaknya menjelang Indonesia Emas 2045 merupakan peluang besar yang belum tentu terulang. 


Ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada usia nonproduktif, bangsa ini memiliki kesempatan melompat menjadi negara maju. Namun, peluang itu hanya akan menjadi kenyataan apabila usia produktif tersebut benar-benar produktif, bukan sekadar produktif secara umur.


Di sinilah saya kembali teringat kepada David J. Schwartz. Salah satu pesan terpenting dalam The Magic of Thinking Big adalah bahwa keberhasilan seseorang lebih dahulu ditentukan oleh cara berpikirnya daripada keadaan yang mengelilinginya. 


Menurut Schwartz, banyak orang gagal bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena mereka terlalu sering membesar-besarkan kesulitan dan mengecilkan potensi dirinya sendiri.


Schwartz menulis bahwa seseorang harus terlebih dahulu percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan. Ketika keyakinan itu tumbuh, pikiran akan mulai mencari berbagai cara untuk mewujudkannya. 


Sebaliknya, ketika seseorang sejak awal berkata, “Saya tidak mungkin berhasil,” maka sesungguhnya ia telah menutup pintu kreativitas dan membatasi seluruh potensi yang Allah anugerahkan kepadanya.


Pandangan itu terasa semakin relevan pada masa sekarang. Banyak anak muda yang sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa, tetapi kehilangan keberanian untuk melangkah karena terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. 


Media sosial sering kali memperlihatkan kesuksesan orang lain tanpa memperlihatkan perjuangan panjang di baliknya. Akibatnya, sebagian generasi muda ingin menikmati hasil tanpa bersedia menjalani proses.


Padahal sejarah selalu mengajarkan bahwa tidak ada pribadi besar yang lahir dari kehidupan yang serba mudah. Kesulitan justru menjadi sekolah terbaik bagi lahirnya karakter yang kuat. Kegagalan menjadi guru yang paling jujur. Dan tantangan adalah laboratorium yang membentuk manusia menjadi lebih matang.


Karena itulah, menurut saya, tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan hanya melahirkan lulusan yang cerdas, tetapi melahirkan generasi yang memiliki daya juang, kemandirian, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, dan semangat belajar sepanjang hayat. 


Bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang selalu menunggu jalan dipermudah. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu membuka jalan di tengah berbagai kesulitan.


Pertanyaannya, bagaimana cara membangun karakter seperti itu? Apa saja langkah yang dapat dilakukan agar kaum muda tidak tumbuh menjadi generasi yang manja, tetapi menjadi generasi yang tangguh, kreatif, dan mandiri?


Tujuh Prinsip 


Pada bagian berikutnya, bagian kedua dari opini ini, kita akan melihat tujuh prinsip yang dapat menjadi bekal bagi para manajer muda, mahasiswa, dan seluruh generasi muda Indonesia untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan, dengan memadukan pemikiran David J. Schwartz, para pakar pengembangan diri dunia, serta nilai-nilai luhur ajaran Islam.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 27 Muharram 1448, 12 Juli 2026

×
Berita Terbaru Update