-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pemakaman Imam Ali Khamenei dan Wahdatul Ummah

Senin, 06 Juli 2026 | Juli 06, 2026 WIB Last Updated 2026-07-07T05:13:23Z


Opini Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Imam Ali Khamenei, 9 Juli 2026 lalu, yang wafat akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, menjadi salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian masyarakat dunia. 


Jutaan manusia memadati jalan-jalan Teheran untuk mengantarkan kepergian sang imam menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Para pemimpin negara, ulama, dan tokoh publik dari berbagai negara turut hadir memberikan penghormatan terakhir. 


Lautan manusia yang mengiringi prosesi pemakaman itu bukan sekadar menggambarkan rasa kehilangan terhadap seorang pemimpin, tetapi juga memancarkan sebuah pesan besar kepada dunia bahwa persaudaraan, solidaritas, dan martabat sebuah bangsa tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan senjata.


Dalam perspektif penulis, pemakaman tersebut akan menjadi simbol bangkitnya kembali semangat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah. Spirit persatuan umat yang selama bertahun-tahun disuarakan oleh Imam Ali Khamenei menemukan momentumnya bukan hanya di Iran, melainkan di berbagai negeri Muslim. 


Wahdatul Ummah


Gagasan mengenai wahdatul ummah, yakni persatuan umat Islam di atas perbedaan mazhab, organisasi, etnis, dan kebangsaan, memperoleh makna baru ketika jutaan manusia menyadari bahwa ancaman terhadap satu bagian umat pada hakikatnya merupakan ancaman terhadap seluruh umat.


Pesan yang selama ini juga disampaikan oleh Grand Imam Al-Azhar, Syekh Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, memperoleh relevansi yang semakin kuat. Beliau berulang kali mengingatkan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang merusak persaudaraan Islam. 


Perbedaan merupakan bagian dari khazanah intelektual umat yang harus dikelola dengan ilmu, adab, dan dialog, bukan dengan saling mencela atau saling mengkafirkan.


Para ulama Ahlus Sunnah sejak masa klasik pun telah mengingatkan agar vonis kafir tidak dijatuhkan kepada sesama ahlul kiblat hanya karena perbedaan ijtihad atau mazhab. 


Prinsip inilah yang perlu terus dihidupkan kembali. Umat Islam memerlukan keberanian untuk membuka ruang dialog, saling memahami, dan menerima kenyataan bahwa keragaman pemikiran merupakan bagian dari sejarah panjang peradaban Islam.


Konsekuensi Geopolitik


Dalam gambaran hipotetis ini, wafatnya Imam Ali Khamenei juga memunculkan konsekuensi geopolitik yang jauh melampaui batas-batas Iran. Upaya Amerika Serikat dan Israel untuk melemahkan Iran justru menghasilkan efek yang berlawanan. 


Persatuan nasional Iran semakin menguat di bawah kepemimpinan penerusnya. Rasa senasib di kalangan masyarakat Iran melahirkan solidaritas baru yang sulit dipatahkan oleh tekanan dari luar.


Lebih jauh lagi, dunia mulai menyaksikan bergesernya konfigurasi kekuatan internasional. Negara-negara yang selama ini berada dalam posisi netral mulai meninjau kembali orientasi politik luar negeri mereka. 


Sebagian melihat perlunya menghadirkan keseimbangan baru dalam tata dunia agar tidak didominasi oleh satu poros kekuatan semata. 


Dalam skenario demikian, lahirnya poros-poros kerja sama baru bukan lagi didorong oleh kesamaan ideologi semata, melainkan oleh kepentingan menjaga kedaulatan, martabat bangsa, dan tatanan internasional yang lebih berkeadilan.


Saling Melengkapi


Di sisi lain, perang juga memperlihatkan sisi lain umat Islam. Sebagian masih terjebak dalam perdebatan Sunni-Syiah yang berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit yang lebih sibuk menyerang sesama Muslim daripada memikirkan penderitaan masyarakat akibat perang. 


Fenomena demikian menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat Islam sesungguhnya bukan hanya datang dari luar, melainkan juga dari ketidakmampuan mengelola perbedaan di dalam tubuh umat sendiri.


Karena itu, gagasan ukhuwah Islamiyah harus dipahami secara lebih luas. Persaudaraan Islam bukan berarti menghapus seluruh perbedaan, melainkan membangun komitmen untuk saling menghormati di tengah perbedaan. 


Sementara ukhuwah insaniyah mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak hidup, hak memperoleh keamanan, dan hak mempertahankan martabatnya tanpa memandang agama maupun kebangsaannya. 


Kedua konsep tersebut saling melengkapi sebagai fondasi bagi terciptanya dunia yang damai dan berkeadilan.


Apabila sebuah tragedi besar mampu membangkitkan kesadaran kolektif umat Islam untuk meninggalkan permusuhan internal dan kembali menjadikan persatuan sebagai agenda utama, maka pengorbanan itu tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi pelajaran berharga bagi generasi berikutnya. 


Kekuatan umat Islam tidak terletak pada banyaknya jumlah penduduk semata, tetapi pada kemampuan mereka menjadikan perbedaan sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan.


Khulashah


Akhirnya, peristiwa ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar suatu bangsa bukan hanya berada pada persenjataan, melainkan pada persatuan rakyatnya. 


Demikian pula kekuatan umat Islam tidak semata-mata terletak pada jumlah penganutnya, tetapi pada kesediaan mereka saling menguatkan, menghormati, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama. 


Semoga semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah, dan cita-cita wahdatul ummah terus tumbuh sebagai energi moral bagi umat Islam dan seluruh bangsa di dunia dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, serta kemajuan peradaban manusia.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 21 Muharram 1448, 6 Juli 2026


(Penulis adalah akademisi dan pegiat moderasi beragama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh) 

×
Berita Terbaru Update