Bagian Pertama Trilogi “Sabang Wisata Syar’i: Berkah Allah di Ujung Barat Indonesia”
Oleh : Saifuddin A. Rasyid
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7).
Tidak semua daerah memperoleh karunia yang sama. Ada negeri yang dianugerahi pegunungan yang menjulang, ada yang memiliki danau yang mempesona, sementara daerah lain dikaruniai bentangan pantai yang indah.
Bagi Aceh, Allah SWT menghadiahkan sebuah permata di ujung paling barat Indonesia bernama Sabang. Pulau yang berdiri anggun di gerbang Samudra Hindia itu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan anugerah besar yang mengajak setiap orang merenungi kebesaran Sang Pencipta.
Allah menciptakan bumi bukan sekadar untuk dihuni, tetapi juga untuk direnungi. Gunung, lautan, hutan, pantai, dan pulau-pulau yang menghiasi Nusantara merupakan ayat-ayat kauniyah yang memperlihatkan keagungan-Nya.
Sabang adalah salah satunya. Hamparan laut biru yang mengelilinginya, perbukitan hijau yang menyegarkan pandangan, serta keanekaragaman hayati yang tersimpan di daratan maupun bawah laut menjadikan pulau ini seolah sebuah kitab alam yang terbuka. Semakin lama seseorang menikmati keindahannya, semakin terasa betapa kecil manusia di hadapan kebesaran Allah SWT.
Perjalanan menuju Sabang pun memiliki daya pikat tersendiri. Ketika kapal cepat meninggalkan Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, perlahan hiruk-pikuk kota berganti dengan bentangan laut lepas yang tenang.
Ombak berkejaran di sisi kapal, angin laut menyapa wajah para penumpang, sementara cakrawala membentang tanpa batas.
Sekitar empat puluh lima menit hingga satu jam kemudian, siluet Pulau Weh mulai tampak dari kejauhan. Perbukitan hijau yang muncul dari tengah lautan seolah menyambut setiap tamu dengan keramahan yang menenangkan hati.
Sesampainya di Pelabuhan Balohan, suasana damai itu semakin terasa. Jalan-jalan yang bersih, masyarakat yang ramah, kendaraan yang tertib, serta udara yang segar memberikan kesan pertama yang sulit dilupakan.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju pusat Kota Sabang, Pantai Iboih, Pulau Rubiah, hingga Tugu Kilometer Nol Indonesia yang menjadi simbol titik paling barat negeri ini. Setiap sudut menawarkan panorama yang memikat, namun semuanya tetap menghadirkan kesan yang sama: alami, teduh, dan bersahaja.
Tidak mengherankan apabila Sabang semakin diminati wisatawan. Data Dinas Pariwisata Kota Sabang menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 jumlah kunjungan wisatawan mencapai lebih dari 270 ribu orang, didominasi wisatawan nusantara, sementara wisatawan mancanegara juga menunjukkan tren peningkatan.
Angka tersebut mencerminkan bahwa Sabang semakin dipercaya sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia, sekaligus memberi dampak positif bagi hotel, restoran, transportasi, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat.
Daya Tarik
Namun sesungguhnya, daya tarik Sabang tidak berhenti pada angka statistik. Orang mungkin datang karena lautnya yang jernih, terumbu karangnya yang memesona, atau keinginan berdiri di Kilometer Nol Indonesia.
Akan tetapi, mereka kembali karena suasananya. Sabang menghadirkan sesuatu yang kini semakin langka di banyak tempat: ketenangan.
Ketenangan itu lahir dari perpaduan yang indah antara alam yang masih terjaga, masyarakat yang santun, kehidupan keagamaan yang hidup, serta budaya Aceh yang tetap dipelihara.
Azan berkumandang dari masjid-masjid, makanan halal mudah ditemukan, wisata keluarga terasa nyaman, dan keramahan masyarakat menjadi kenangan yang terus dibawa pulang oleh para pengunjung.
Di sinilah letak keistimewaan Sabang sebagai destinasi wisata syar’i. Wisata syar’i bukan berarti membatasi kegembiraan atau mengurangi kebebasan wisatawan menikmati keindahan alam.
Sebaliknya, wisata syar’i menghadirkan pengalaman berwisata yang lebih bermartabat. Alam dinikmati tanpa dirusak, tamu dihormati tanpa dibedakan, ekonomi tumbuh tanpa mengorbankan akhlak, dan masyarakat memperoleh manfaat tanpa kehilangan identitasnya sebagai masyarakat yang religius.
Sabang mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus dibayar dengan hilangnya nilai-nilai agama. Pembangunan tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pariwisata tidak identik dengan gemerlap hiburan yang mengabaikan norma dan etika. Justru ketika pembangunan dikelola secara amanah, masyarakat menjaga adat dan syariat, serta alam tetap dilestarikan, lahirlah destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenteramkan jiwa.
Tetap Lestari
Dalam Islam, rasa syukur tidak cukup diucapkan melalui lisan. Syukur diwujudkan dengan menjaga nikmat agar tetap lestari. Laut yang bersih, hutan yang hijau, pantai yang terawat, keramahan masyarakat, serta keamanan yang dirasakan wisatawan merupakan bagian dari syukur kolektif atas karunia Allah.
Sebaliknya, jika alam dieksploitasi tanpa kendali, kemaksiatan dibiarkan tumbuh, dan pembangunan mengabaikan nilai-nilai moral, maka manusia sendirilah yang akan merasakan akibatnya.
Karena itu, keberhasilan pembangunan Sabang tidak semestinya hanya diukur dari bertambahnya jumlah wisatawan atau meningkatnya pendapatan daerah.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, penguatan syariat Islam, dan kesejahteraan masyarakat. Inilah hakikat pembangunan yang menghadirkan keberkahan.
Di berbagai belahan dunia, banyak destinasi wisata kehilangan ruhnya ketika pembangunan hanya mengejar jumlah pengunjung dan keuntungan ekonomi. Pantai menjadi penuh sampah, budaya lokal terkikis, masyarakat tersisih, dan identitas daerah perlahan memudar.
Sabang hendaknya tidak menempuh jalan itu. Kemajuan tetap harus diraih, tetapi dengan tetap menjaga keseimbangan antara pembangunan, konservasi lingkungan, dan nilai-nilai Islam yang telah menjadi jati diri masyarakat Aceh.
Sabang sesungguhnya bukan hanya milik masyarakat Sabang, bukan pula hanya kebanggaan Aceh. Ia adalah salah satu wajah Indonesia di gerbang paling barat Nusantara.
Amanah ini harus dijaga bersama oleh pemerintah, pelaku usaha, tokoh agama, akademisi, masyarakat, dan para wisatawan yang datang menikmati keindahannya. Sebab, semakin besar nikmat yang Allah titipkan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memeliharanya.
Khulashah
Akhirnya, Sabang mengajarkan kepada kita bahwa pariwisata bukan semata-mata perjalanan menikmati keindahan alam. Ia juga merupakan perjalanan menyaksikan kebesaran Allah, mensyukuri nikmat-Nya, serta belajar menjaga amanah yang telah dipercayakan kepada manusia.
Selama lautnya tetap biru, hutannya tetap hijau, azan tetap berkumandang dari masjid-masjidnya, masyarakatnya tetap ramah, dan pembangunan berjalan dalam koridor syariat serta kemaslahatan, Sabang akan terus menjadi destinasi wisata syar’i yang membanggakan Aceh, Indonesia, bahkan dunia.
Sabang bukan sekadar tujuan perjalanan, tetapi perjalanan menuju rasa syukur.
Wallahu a’lam
Banda Aceh, 3 Safar 1448, 18 Juli 2026
(Penulis akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)
