Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini bersama ketua ICMI Aceh Dr Taqwaddin saya ikut menghadiri acara pelantikan pengurus ICMI Orda Kota Sabang bertempat di aula kantor Walikota Sabang.
Ketua ICMI Sabang yang dilantik, Dr Fajran Zain, berharap kehadiran ICMI di sabah dapat berperan untuk bersama sama pemerintah kota dan tokoh masyarakat untuk ikut meningkatkan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat dalam mengantisipasi kemajuan Sabang sebagai satu wilayah penting di kawasan ini.
Hal yang sama juga disampaikan oleh ketua MPW ICMI Aceh Dr Taqwaddin bahwa ICMI merupakan kekuatan yang dapat terus berdiri bersama masyarakat untuk antara lain mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama wakil walikota Drs Suradji Junus bahkan menantang pengurus ICMI Sabang tidak langsung padam setelah dilantik tetapi terus bergerak menjadi mitra kerja pemerintah dalam membangun Sabang lebih sejahtera, terutam kesejahteraan warga kota Sabang sebagai satu destinasi kunjungan wisata di tanah air.
Bukan Penonton
Tidak ada gunanya sebuah destinasi wisata dipadati wisatawan jika masyarakat di sekitarnya hanya menjadi penonton. Sebaliknya, sebuah destinasi akan benar-benar diberkahi apabila kehadiran wisatawan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.
Di situlah sesungguhnya ruh pembangunan wisata syar’i: menghadirkan keberkahan, bukan sekadar keramaian.
Sabang telah dianugerahi Allah SWT bentang alam yang luar biasa. Pantai-pantai berpasir putih, laut yang jernih, terumbu karang yang indah, bukit hijau, serta posisi strategis sebagai gerbang paling barat Indonesia merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak daerah. Namun, potensi tersebut baru akan bernilai tinggi apabila mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara luas.
Wisata syar’i tidak hanya berbicara tentang tersedianya makanan halal, tempat ibadah yang nyaman, atau pakaian yang santun. Lebih dari itu, wisata syar’i adalah sistem ekonomi yang dibangun di atas nilai keadilan, keberkahan, kejujuran, dan pemerataan manfaat.
Setiap tamu yang datang diharapkan menjadi sebab bertambahnya rezeki masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas Aceh.
Warung kopi lokal, rumah makan khas Aceh, usaha penyewaan kendaraan, penginapan keluarga, toko suvenir, pemandu wisata, nelayan yang menyediakan wisata bahari, hingga pelaku ekonomi kreatif harus menjadi bagian dari mata rantai ekonomi tersebut.
Semakin panjang rantai ekonomi lokal yang terlibat, semakin besar pula manfaat yang dirasakan masyarakat.
Kualitas SDM
Karena itu, pembangunan wisata di Sabang tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas sumber daya manusia.
Pelatihan pelayanan wisata, penguasaan bahasa asing, literasi digital, pemasaran produk, pengelolaan homestay, kebersihan lingkungan, hingga pemahaman mengenai pelayanan berbasis nilai-nilai Islam harus menjadi agenda bersama.
Di sinilah peran perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, tokoh agama, komunitas masyarakat, dan organisasi cendekiawan menjadi sangat strategis.
Sabang membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan kebijakan pembangunan agar seluruh potensi dapat bergerak dalam satu arah.
Dalam konteks ini, ICMI Orda Sabang dapat mengambil peran sebagai pusat gagasan dan penggerak kolaborasi. Kehadiran para cendekiawan bukan untuk mengambil alih peran pemerintah, melainkan menghadirkan pemikiran, kajian, inovasi, dan jejaring yang memperkuat arah pembangunan wisata syar’i.
Gagasan yang lahir dari forum-forum ilmiah dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pengalaman Yang Berkesan
Sabang juga perlu memperkuat identitasnya. Wisatawan tidak hanya mencari pemandangan yang indah, tetapi juga pengalaman yang berkesan.
Mereka ingin menikmati kuliner khas, mengenal budaya masyarakat, merasakan keramahan penduduk, mendengar kisah sejarah Pulau Weh, serta menyaksikan bagaimana nilai-nilai Islam hidup berdampingan dengan keramahan terhadap tamu.
Dalam perspektif Islam, memuliakan tamu merupakan akhlak yang sangat dianjurkan. Nilai inilah yang dapat menjadi kekuatan utama Sabang. Keramahan yang tulus, pelayanan yang jujur, lingkungan yang bersih, keamanan yang terjaga, dan suasana religius akan menjadi promosi terbaik yang tidak dapat dibeli dengan biaya iklan sebesar apa pun. Wisatawan yang puas akan kembali, bahkan mengajak keluarga dan sahabatnya untuk datang.
Pembangunan wisata juga harus memperhatikan kelestarian alam. Laut yang bersih, pantai yang terawat, terumbu karang yang lestari, dan hutan yang hijau merupakan aset yang tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat.
Prinsip keberlanjutan harus menjadi komitmen bersama agar generasi mendatang tetap dapat menikmati anugerah Allah yang sama.
Khulashah
Pada akhirnya, keberhasilan wisata syar’i di Sabang bukan hanya diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat, tumbuhnya usaha-usaha lokal, terjaganya lingkungan, serta semakin kuatnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.
Ketika keindahan alam bertemu dengan kualitas sumber daya manusia, tata kelola yang baik, dan keberkahan nilai-nilai syariat, Sabang akan tumbuh menjadi destinasi wisata yang bukan hanya memikat mata, tetapi juga menenteramkan hati dan menyejahterakan masyarakat.
Inilah hakikat wisata syar’i yang sesungguhnya: alam menjadi anugerah, masyarakat menjadi pelaku utama, ekonomi tumbuh dengan adil, dan setiap langkah pembangunan bermuara pada kemaslahatan serta keberkahan yang diridhai Allah SWT.
Wallahu a’lam
Sabang, 3 Safar 1448, 18 Juli 2026
(Penulis akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)
