-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Wisata Sabang: Ke Mana ICMI Orda Sabang Harus Segera Melangkah?

Minggu, 19 Juli 2026 | Juli 19, 2026 WIB Last Updated 2026-07-19T08:29:56Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Pelantikan pengurus ICMI Organisasi Daerah (Orda) Kota Sabang pada Sabtu, 18 Juli 2026 menjadi sebuah momentum bersejarah. Untuk pertama kalinya ICMI hadir secara resmi di Kota Sabang. 


Pelantikan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal sebuah ikhtiar panjang menghadirkan pemikiran, gagasan, dan kerja nyata bagi kemajuan daerah paling barat Indonesia.


Pada kesempatan tersebut, Wakil Walikota Sabang, Bapak Drs Suradji Junus, menyampaikan harapan yang sangat penting. Beliau berharap pengurus ICMI Orda Sabang tidak menunggu terlalu lama untuk mulai bekerja. 


Semangat yang sedang membara saat pelantikan hendaknya segera diwujudkan dalam program nyata sebelum energi kolektif itu perlahan memudar. Sebuah pesan sederhana, tetapi sangat strategis.



Menurut beliau, ICMI Sabang diharapkan menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Sabang dalam mempertahankan capaian pembangunan yang selama ini telah diraih, sekaligus ikut memikirkan berbagai pembenahan pada sektor-sektor yang masih memerlukan perhatian. 


Pemerintah tentu tidak mungkin bekerja sendiri. Kehadiran organisasi cendekiawan justru menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam memberikan masukan yang konstruktif.


Ketua Majelis Pengurus Wilayah ICMI Aceh, Dr. Taqwaddin, juga mengingatkan bahwa Sabang sesungguhnya telah berhasil mencapai satu tahap penting sebagai destinasi wisata, bukan hanya di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional. 


Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh membuat semua pihak cepat berpuas diri. Dunia pariwisata bergerak sangat dinamis. 


Destinasi yang hari ini diminati wisatawan dapat dengan mudah ditinggalkan apabila kualitas pelayanan dan fasilitas publik tidak terus diperbarui.


Lapangan


Pandangan tersebut terasa sangat relevan apabila melihat kondisi lapangan. Selama berada di Sabang, kami menyaksikan begitu banyak potensi wisata yang luar biasa indah. Pantai, laut, hutan, keramahan masyarakat, dan nuansa religius menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. 


Namun, pada saat yang sama masih terdapat beberapa pekerjaan rumah yang memerlukan perhatian bersama.


Beberapa fasilitas publik di kawasan wisata tampak memerlukan pemeliharaan dan pembaruan. Kawasan seperti Taman Paradiso, Taman Cinta Kasih, maupun sejumlah ruang publik lainnya masih menunjukkan adanya bagian-bagian yang perlu diperbaiki agar kembali nyaman dinikmati wisatawan. 


Dalam industri pariwisata, kesan pertama sering kali menentukan pengalaman pengunjung. Karena itu, pembaruan fasilitas tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan rutin semata, melainkan investasi untuk menjaga daya saing destinasi.


Persoalan lain yang juga masih terlihat adalah kebersihan di beberapa kawasan publik. Di sejumlah titik wisata masih dijumpai sampah yang mengurangi keindahan lingkungan. Padahal, kebersihan merupakan salah satu indikator utama kualitas sebuah destinasi wisata.


Di sisi lain, terdapat hal yang sangat menggembirakan. Kawasan-kawasan permukiman masyarakat Sabang justru terlihat bersih, tertata, dan nyaman. Ini menunjukkan budaya hidup bersih sebenarnya telah tumbuh di tengah masyarakat. 


Tantangan berikutnya adalah menghadirkan semangat yang sama pada seluruh ruang publik sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang konsisten sejak pertama kali tiba hingga meninggalkan Sabang.


Keselamatan 


Hal lain yang menurut hemat penulis perlu segera mendapat perhatian ialah aspek keselamatan wisatawan. Saat perjalanan melalui jalur Ujung Merung menuju Balohan, kami menjumpai satu titik jalan pada tikungan tajam dan turunan yang sebagian badan jalannya runtuh akibat longsor. 


Yang cukup mengkhawatirkan, lokasi tersebut belum dilengkapi tanda-tanda peringatan yang memadai. Bagi masyarakat lokal mungkin kondisi itu sudah diketahui, tetapi bagi wisatawan dari luar daerah yang baru pertama kali melintasi jalur tersebut, situasi tersebut dapat menimbulkan risiko yang tidak kecil.


Keselamatan adalah hak setiap pengguna jalan. Menempatkan rambu sementara, pagar pengaman, atau penanda bahaya sebenarnya merupakan langkah sederhana, tetapi dapat menyelamatkan banyak orang. 


Menunggu perbaikan permanen selesai bukan berarti mengabaikan mitigasi risiko yang dapat dilakukan sejak awal.


Dari sudut pandang seorang pengunjung, kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek keselamatan dan kenyamanan wisatawan masih perlu menjadi prioritas yang lebih kuat. Pariwisata bukan hanya menjual panorama alam, tetapi juga menghadirkan rasa aman, nyaman, dan terlindungi selama berada di daerah tujuan.


Peran 


Di sinilah ICMI Orda Sabang dapat mengambil peran strategis. Sebagai organisasi yang menghimpun para cendekiawan Muslim, ICMI memiliki posisi yang tepat untuk membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas-dinas terkait, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. 


ICMI tidak harus menjadi pelaksana seluruh pekerjaan, tetapi dapat menjadi penghubung gagasan, fasilitator dialog, bahkan motor lahirnya gerakan-gerakan partisipatif.


Misalnya, menginisiasi forum evaluasi destinasi wisata secara berkala, menyusun rekomendasi kebijakan berbasis kajian, menggerakkan aksi gotong royong menjaga kebersihan kawasan wisata, mendorong audit keselamatan fasilitas publik, hingga mengajak dunia usaha dan masyarakat berpartisipasi memperbaiki fasilitas sederhana yang dapat segera ditangani bersama.


Islam sendiri sangat menekankan pentingnya menjaga keselamatan, kebersihan, dan kenyamanan. Tujuan syariat (maqashid syariah) menempatkan perlindungan jiwa sebagai salah satu tujuan utama. 


Kebersihan juga merupakan bagian dari nilai-nilai yang senantiasa diajarkan dalam Islam. Karena itu, membangun destinasi wisata yang aman, bersih, nyaman, dan ramah sesungguhnya bukan hanya tuntutan industri pariwisata modern, tetapi juga implementasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri.


Sabang telah memiliki modal yang sangat besar berupa keindahan alam yang dianugerahkan Allah Swt. Tugas kita sekarang adalah menjaga, merawat, dan terus menyempurnakannya. 


Semakin tinggi kualitas keselamatan, kebersihan, pelayanan, dan kenyamanan, semakin kuat pula citra Sabang sebagai destinasi wisata syar’i yang membanggakan Aceh dan Indonesia.


Pelantikan ICMI Orda Sabang hendaknya menjadi awal lahirnya berbagai ikhtiar kolaboratif. Ketika pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan berjalan seiring, insya Allah Sabang tidak hanya dikenal karena titik Nol Kilometer Indonesia, tetapi juga karena menjadi contoh bagaimana sebuah destinasi wisata dibangun dengan ilmu, kolaborasi, kepedulian, serta nilai-nilai Islam yang menghadirkan keselamatan dan kemaslahatan bagi semua.


Atas Kapal Sabang-Ulelheu, 

4 Safar 1448, 19 Juli 2026


(Penulis akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update