Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Tadi sebelum berangkat salat Subuh, saya membaca sebuah postingan Prof. Sri Suyanta di grup dosen UIN Ar-Raniry, Forduna. Judulnya sangat pendek: “Self Control.” Namun justru karena pendek itulah ia terasa mengundang untuk direnungkan. Seperti biasa, saya tidak mampu melewati tulisan muhasabah Prof. Sri begitu saja tanpa meninggalkan komentar, meskipun singkat: “Ini pelajaran bagi orang yang pernah memecahkan piring makannya sendiri.”
Setelah itu saya berangkat ke masjid. Sepulang dari masjid, judul pendek itu kembali menarik perhatian saya. Saya membacanya lagi, lalu berpikir: betapa banyak persoalan dalam kehidupan sesungguhnya bukan karena kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi karena kita gagal mengendalikan diri ketika emosi sedang mengambil alih kendali.
Di situlah pentingnya self control—kemampuan mengendalikan diri.
Self control bukan berarti seseorang tidak boleh marah, kecewa, sedih, tersinggung atau merasa tertekan. Manusia memang memiliki emosi. Yang menjadi persoalan adalah ketika emosi mengendalikan akal, lalu melahirkan perkataan dan tindakan yang merusak diri sendiri, merusak orang lain, bahkan merusak keadaan yang sebenarnya masih mungkin diperbaiki.
Orang yang kehilangan kendali bisa mengatakan sesuatu yang kemudian ia sesali. Ia bisa membanting benda yang sebenarnya ia perlukan. Ia bisa menyakiti orang yang sebenarnya ia cintai. Ia bisa mengirim pesan dalam keadaan marah, lalu menyesal setelah membacanya kembali. Bahkan, dalam keadaan tertentu, seseorang dapat mengambil keputusan besar hanya karena dorongan emosi sesaat.
Itulah makna dari kalimat saya tentang “memecahkan piring makannya sendiri.” Ketika marah, kita mungkin merasa sedang menghukum orang lain. Padahal yang pecah bisa jadi justru milik kita sendiri.
Menahan diri adalah kekuatan
Al-Qur’an memberikan pujian yang sangat tinggi kepada orang yang mampu menahan amarah. Allah berfirman:
“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Perhatikan urutannya. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa orang baik adalah orang yang tidak pernah marah. Tetapi orang yang mampu menahan amarah dan kemudian memilih memaafkan.
Rasulullah ﷺ juga memberikan ukuran kekuatan yang berbeda dari ukuran manusia pada umumnya. Beliau bersabda:
“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menarik. Dalam pandangan manusia, kekuatan sering diukur dari kemampuan mengalahkan orang lain. Dalam pandangan Rasulullah ﷺ, kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Mengalahkan ego.
Mengalahkan dorongan membalas.
Mengalahkan keinginan untuk berkata kasar.
Mengalahkan tangan yang ingin memukul atau membanting.
Mengalahkan jemari yang ingin menulis sesuatu yang menyakitkan.
Dengan demikian, self control bukan kelemahan. Ia adalah bentuk kekuatan yang paling sulit karena lawannya bukan orang lain, melainkan diri sendiri.
Sabar bukan pasif
Dalam Islam, sabar juga tidak berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena tanpa ikhtiar. Sabar adalah kemampuan mempertahankan kendali diri sehingga seseorang tetap dapat memilih respons yang benar dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Sabar membutuhkan kemampuan mengelola waktu antara stimulus dan respons.
Ada sesuatu yang terjadi kepada kita. Kita tersinggung. Kita marah. Kita merasa diserang. Tetapi sebelum memberikan reaksi, ada ruang kecil yang sangat berharga: jeda.
Di dalam jeda itulah akal, iman dan kebijaksanaan seharusnya mengambil alih.
Orang yang tidak memiliki kendali diri langsung bereaksi. Orang yang memiliki kendali diri memberi dirinya kesempatan untuk berpikir: Apa akibat perkataan saya? Apa manfaat tindakan saya? Apakah masalah ini akan selesai atau justru semakin besar?
Islam mengajarkan teknik mengendalikan amarah
Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk praktis ketika seseorang marah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring.”
(HR. Abu Dawud)
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketika marah, seseorang perlu berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Ini menunjukkan bahwa pengendalian diri dalam Islam bukan sekadar nasihat abstrak. Ada tindakan konkret: berhenti, mengubah posisi, mengambil jarak, menenangkan diri dan mengingat Allah.
Bahkan diam dapat menjadi bentuk kecerdasan.
Tidak semua perkataan harus dijawab.
Tidak semua tuduhan harus dibalas.
Tidak semua provokasi harus dilayani.
Tidak semua persoalan harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.
Kadang-kadang jawaban terbaik adalah menunggu sampai hati kembali tenang.
Para ulama dan psikolog berbicara dalam bahasa yang berbeda
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah banyak menjelaskan tentang perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan dorongan batinnya. Dalam kerangka pemikirannya, manusia harus mampu menempatkan akal dan iman sebagai pengendali dorongan yang dapat menjerumuskannya.
Imam al-Ghazali juga memberikan perhatian besar terhadap pengendalian jiwa. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, beliau membahas bagaimana manusia harus mendidik nafsu, amarah dan syahwat agar tidak menjadi penguasa kehidupan.
Bahasa modern kemudian mengenal istilah emotional regulation dan self-control. Dalam psikologi, kemampuan mengatur emosi dipandang sebagai bagian penting dari kemampuan seseorang menyesuaikan diri, mengambil keputusan dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Psikolog Muslim seperti Malik Badri mengingatkan pentingnya melihat manusia secara utuh: bukan hanya sebagai makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual. Karena itu, pengendalian diri tidak cukup hanya dengan teknik psikologis; ia juga membutuhkan pembinaan hati, kesadaran kepada Allah dan orientasi moral.
Di sinilah psikologi dan ajaran Islam dapat saling memperkaya. Psikologi membantu manusia memahami bagaimana emosi bekerja dan bagaimana perilaku dapat dikelola. Islam memberikan arah: untuk apa emosi itu dikendalikan dan ke mana perilaku itu harus diarahkan.
Apa yang harus dilakukan orang yang sulit mengontrol diri?
Pertama, kenali pemicunya.
Jangan hanya mengatakan, “Saya memang pemarah.” Tanyakan: kapan biasanya saya marah? Kepada siapa? Dalam situasi apa? Apa yang biasanya menjadi pemicunya?
Kedua, kenali tanda-tanda awal.
Tubuh biasanya memberikan sinyal sebelum seseorang kehilangan kendali: suara mulai meninggi, jantung berdebar, napas cepat, tangan mengepal, wajah memanas atau pikiran mulai dipenuhi keinginan membalas.
Ketiga, buat jeda.
Jangan mengambil keputusan penting ketika emosi berada di puncaknya. Tinggalkan ruangan bila perlu. Duduklah. Diam. Tarik napas perlahan. Berwudu. Salat dua rakaat. Berzikir. Berjalan sejenak. Yang penting, jangan memberikan kesempatan kepada emosi untuk langsung berubah menjadi tindakan.
Keempat, ubah kalimat dalam kepala.
Jangan berkata, “Dia memang sengaja menghancurkan saya.” Cobalah berkata, “Saya belum tahu seluruh persoalannya.” Jangan berkata, “Saya harus membalas.” Katakan, “Saya harus memilih respons yang paling baik.”
Kelima, jangan biarkan jemari menjadi senjata.
Di zaman media sosial, seseorang tidak perlu mengangkat tangan untuk menyakiti orang lain. Cukup beberapa detik mengetik komentar atau pesan dalam keadaan marah, luka bisa ditinggalkan berhari-hari bahkan bertahun-tahun.
Keenam, evaluasi setelah kejadian.
Jika kita gagal mengendalikan diri, jangan berhenti pada penyesalan. Tanyakan: apa pemicunya, di mana saya kehilangan kendali, siapa yang terkena dampaknya, dan apa yang harus saya lakukan agar kejadian itu tidak berulang?
Ketujuh, latih pengendalian diri dalam perkara-perkara kecil.
Seseorang tidak tiba-tiba menjadi sabar ketika menghadapi persoalan besar. Kesabaran dibangun dari latihan kecil setiap hari: menahan komentar, menunda respons, mendengarkan orang sampai selesai, menerima perbedaan, mengalah dalam perkara yang tidak prinsip dan memilih diam ketika bicara hanya akan memperkeruh keadaan.
Jangan sampai kita memecahkan piring sendiri
Ada orang yang setelah marah akhirnya berkata, “Seandainya tadi saya diam.”
Ada yang setelah mengirim pesan berkata, “Mengapa saya tulis itu?”
Ada yang setelah membanting barang berkata, “Untuk apa saya melakukan ini?”
Ada yang setelah menyakiti orang terdekat baru menyadari bahwa persoalan awal sebenarnya kecil, tetapi reaksinya membuat persoalan menjadi besar.
Inilah tragedi hilangnya self control: masalah yang sebenarnya kecil dapat berubah menjadi kerusakan besar karena reaksi yang tidak terkendali.
Karena itu, komentar singkat saya kepada Prof. Sri Suyanta tadi pagi ternyata mengandung pelajaran yang lebih dalam daripada yang saya bayangkan: “Ini pelajaran bagi orang yang pernah memecahkan piring makannya sendiri.”
Piring itu bisa menjadi metafora kehidupan.
Jangan karena marah kepada seseorang, kita menghancurkan hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Jangan karena tersinggung oleh satu kalimat, kita memutus persaudaraan.
Jangan karena kalah dalam sebuah perdebatan, kita merusak kehormatan.
Jangan karena emosi sesaat, kita mengambil keputusan yang harus kita tanggung bertahun-tahun.
Belajarlah berhenti sebelum bereaksi.
Sebab antara kemarahan dan tindakan terdapat sebuah ruang. Di ruang itulah kedewasaan kita diuji.
Generasi muda Muslim perlu belajar bahwa keberanian bukan berarti berani melawan semua orang. Kecerdasan bukan berarti selalu memenangkan perdebatan. Kebebasan bukan berarti bebas mengatakan apa saja. Dan kekuatan bukan berarti mampu membuat orang lain takut.
Kekuatan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri:
“Saya sedang marah, tetapi saya tidak akan membiarkan kemarahan menentukan siapa diri saya.”
Itulah self control.
Itulah manajemen diri.
Itulah latihan kesabaran.
Dan pada akhirnya, itulah salah satu bentuk jihad melawan diri sendiri.
Karena jangan sampai dalam usaha memenangkan pertengkaran dengan orang lain, kita justru kalah melawan diri sendiri dan akhirnya memecahkan piring tempat kita sendiri makan.
Wallahu a’lam
Darussalam 8 Rabiul Awal 1448
(Penulis, imam besar masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry)
Note: Foto: penulis bersama para dosen pejuang kesabaran melalui ilmu dan buku, dari kanan; manar, khatib, nazar, mukhtar, suherman, dan penulis)
