-->

Notification

×

Iklan

Iklan

AI Membantu Menulis, Jangan Biarkan Manusia Berhenti Berpikir

Sabtu, 22 Agustus 2026 | Agustus 22, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T07:01:52Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah momen menarik dalam sidang skripsi yang saya ikuti Selasa siang kemarin. Skripsi tentang hoaks yang diajukan Parmila, mahasiswi Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, membuka diskusi yang menurut saya jauh lebih luas daripada sekadar soal apakah mahasiswa boleh atau tidak boleh menggunakan artificial intelligence (AI) dalam menyusun karya ilmiah.


Pada kesempatan pertama sebagai salah satu penguji, saya mengapresiasi skripsinya. Saya katakan, secara umum skripsinya bagus dan well prepared. Namun, sebagai bagian dari proses cross check, saya bertanya, “Ada yang membantu dalam menyusun skripsi ini?”


Parmila menjawab, “Ada.”

“Siapa?”

“AI, ChatGPT.”


Sontak kami para penguji berhenti berbicara dan melihat ke arah Parmila. Saya kembali memastikan, “Jadi Anda dibantu AI?”


Dengan cukup meyakinkan dan tanpa raut keraguan, ia menjawab, “Benar.”


Jawaban sederhana itu kemudian menjadi pintu masuk diskusi yang menarik.


Lebih menarik lagi karena ketua sidang sekaligus pembimbing skripsi Parmila, Pak Ruslan, termasuk dosen yang sangat berhati-hati dalam menyikapi penggunaan AI. Beliau juga cukup memahami perkembangan AI dan memiliki pandangan yang kuat tentang bagaimana teknologi tersebut seharusnya ditempatkan dalam penulisan ilmiah. Bahkan, sekitar sebulan sebelumnya kami pernah terlibat dalam diskusi bersama beberapa dosen seprodi mengenai persoalan AI dalam dunia akademik.


Sambil sedikit melirik kepada Pak Ruslan, saya bertanya kepada Parmila, “Apakah Pak Ruslan tahu Anda menggunakan bantuan AI?”

“Tidak.”

Di sinilah diskusi menjadi semakin menarik.


AI sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia


Saya kemudian meminta Parmila menjelaskan secara lebih rinci: sebenarnya AI itu membantu dalam bagian mana?


Jawabannya justru memperlihatkan bahwa persoalan AI tidak sesederhana “pakai” atau “tidak pakai”.


Parmila menjelaskan bahwa ia menggunakan AI untuk membantu menyusun paragraf dan mencari data sesuai konsep yang sedang ia kerjakan. Tetapi hasil yang diberikan AI tidak langsung ia masukkan ke dalam skripsi. Ia melakukan cross check terhadap sumber. Bila paragraf yang diberikan ChatGPT tidak sesuai dengan sumber atau tidak memiliki dasar yang kuat, ia menolaknya.


Bagi saya, ini poin penting.


AI tidak ditempatkan sebagai penulis utama, melainkan sebagai alat bantu dalam proses kerja. Ide, konsep penelitian, pilihan sumber, pemeriksaan data, penilaian benar-salah, dan keputusan akhir tetap berada pada dirinya sebagai peneliti.


Saya kemudian menyetujui penjelasan tersebut. Namun Pak Umar, penguji kedua, memberikan tambahan yang menurut saya juga penting. Menurut beliau, apabila sebuah paragraf dari AI dianggap belum kuat, sebelum langsung ditolak, mahasiswa masih dapat meminta AI membantu menemukan sumber yang lebih sesuai untuk memperkuatnya.


Dari perdebatan kecil di ruang sidang itu, Parmila akhirnya dapat mempertahankan skripsinya sekaligus menjelaskan secara terbuka bagaimana AI digunakan dalam proses penulisan.


Di sinilah kita menemukan satu pertanyaan besar: apakah penggunaan AI dalam karya ilmiah otomatis membuat karya tersebut tidak ilmiah?


Jawabannya, menurut saya, tidak sesederhana itu.


Yang lebih penting bukan hanya apakah AI digunakan, melainkan untuk apa, sejauh mana, bagaimana proses verifikasinya, siapa yang berpikir, dan siapa yang bertanggung jawab atas hasil akhirnya.


Menulis sebenarnya adalah bagian dari berpikir


Kekhawatiran Pak Ruslan sebenarnya sangat beralasan. Yang beliau khawatirkan bukan semata-mata ChatGPT-nya, tetapi kemungkinan mahasiswa menjadi malas berpikir karena terlalu mengandalkan AI.


Ini persoalan serius.


Menulis karya ilmiah bukan sekadar menyusun kata menjadi kalimat, lalu kalimat menjadi paragraf. Dalam proses menulis, seorang mahasiswa sesungguhnya sedang belajar berpikir: menentukan masalah, mencari hubungan antarvariabel, membaca literatur, membandingkan pendapat, menyusun argumentasi, menemukan kelemahan suatu pendapat, mengambil posisi, kemudian mempertanggungjawabkan kesimpulannya.


Karena itu, ada pandangan dalam dunia akademik bahwa writing is thinking—menulis merupakan bagian dari proses berpikir.


Nature pernah memuat pandangan bahwa peneliti perlu berhati-hati mendelegasikan penulisan kepada ChatGPT karena menulis dan berpikir tidak sepenuhnya dapat dipisahkan. Teks yang dihasilkan AI bisa saja terlihat bagus, tetapi belum tentu lahir dari pemahaman mendalam terhadap konteks masalah, kesenjangan penelitian, dampak sosial, tanggung jawab etis, dan nilai-nilai peneliti. (Nature⁠)


Namun perkembangan pemikiran terbaru juga mengingatkan kita agar tidak jatuh pada kesimpulan ekstrem bahwa setiap penggunaan AI otomatis berarti manusia berhenti berpikir. Nature Reviews Bioengineering pada 2026 menyoroti bahwa kekhawatiran tentang hilangnya kerja kognitif memang valid, tetapi menyamakan seluruh aktivitas menulis dengan seluruh aktivitas berpikir juga merupakan kekeliruan. Yang lebih penting adalah kedalaman dan kreativitas keterlibatan intelektual manusia dalam menghasilkan karya. (Nature⁠)


Dengan demikian, persoalannya bukan AI atau manusia, tetapi manusia bersama AI dengan manusia tetap menjadi subjek utama.


Di mana letak dehumanisasinya?


Pak Ruslan menggunakan istilah yang menurut saya sangat menarik: dehumanisasi.


Secara sederhana, dehumanisasi dapat kita pahami sebagai proses ketika manusia kehilangan atau mengurangi kualitas-kualitas yang membuatnya menjadi manusia—dalam konteks ini terutama kemampuan berpikir, menilai, merasakan tanggung jawab, berkreasi, mengambil keputusan, dan belajar melalui proses.


Kalau seorang mahasiswa berkata, “Saya tidak perlu membaca, biar AI yang membaca.”


Kemudian, “Saya tidak perlu memahami teori, biar AI yang menjelaskan.”


Lalu, “Saya tidak perlu mencari sumber, biar AI yang mencarikannya.”


Berikutnya, “Saya tidak perlu menganalisis, biar AI yang menganalisis.”


Dan akhirnya, “Saya tidak perlu menulis, biar AI yang menulis.”


Maka yang terjadi bukan lagi sekadar bantuan teknologi.


Itulah yang patut kita khawatirkan sebagai dehumanisasi intelektual.


Manusia masih memiliki tubuh, masih duduk di depan komputer, masih mengumpulkan tugas, bahkan mendapatkan nilai yang baik. Tetapi proses intelektual yang seharusnya membuatnya tumbuh sebagai manusia justru dialihkan kepada mesin.


Inilah bahaya yang harus diwaspadai.


Sebuah penelitian mengenai penggunaan GenAI di pendidikan tinggi pada 2026 menemukan indikasi bahwa penggunaan AI dapat berkaitan dengan cognitive offloading, keterlibatan yang lebih dangkal terhadap materi, berkurangnya pengaturan usaha kognitif, dan meningkatnya ketergantungan pada AI untuk berpikir. (OJED⁠) 


Penelitian lain pada 2026 juga menunjukkan bahwa hubungan AI dan kemampuan berpikir kritis bersifat ganda: AI dapat menjadi peluang, tetapi ketergantungan kepadanya dapat menjadi risiko. (Nature⁠)


Jadi, kekhawatiran tentang “otak menjadi malas” bukan sekadar kekhawatiran yang tidak berdasar. Tetapi kita juga tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap mahasiswa yang menggunakan ChatGPT pasti mengalami dehumanisasi.


Dehumanisasi terjadi ketika alat bantu mengambil alih fungsi utama manusia.


Dari outsourcing writing menjadi outsourcing thinking


Inilah garis batas yang perlu kita jaga.


Menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa adalah satu hal.


Menggunakan AI untuk mencari alternatif struktur tulisan adalah hal lain.


Meminta AI memberikan pertanyaan kritis terhadap rancangan penelitian juga dapat menjadi aktivitas pembelajaran.


Tetapi menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI adalah persoalan yang berbeda.


Mahasiswa yang mengatakan, “Saya sudah mempunyai gagasan, lalu saya minta AI membantu mengorganisasikan gagasan tersebut,” berbeda dengan mahasiswa yang mengatakan, “Saya belum mempunyai gagasan, tolong AI yang membuat semuanya.”


Yang pertama menggunakan AI sebagai asisten.


Yang kedua berpotensi menjadikan AI sebagai pengganti proses berpikir.


Ini pula yang membuat kasus Parmila menjadi menarik. Dari penjelasannya, AI bukan menjadi sumber kebenaran terakhir. Ia masih melakukan cross check, membandingkan hasil AI dengan sumber, dan menolak informasi yang tidak sesuai. Dalam pengertian itu, AI justru menjadi bagian dari proses dialog intelektual.


Tetapi ada satu catatan penting: penggunaan AI semestinya juga transparan kepada pembimbing.


Kalau seorang mahasiswa menggunakan AI dalam bagian tertentu dari skripsinya, pembimbing sebaiknya mengetahui bentuk penggunaannya. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk memastikan penggunaannya berada dalam batas etika akademik.


AI juga bisa berbahaya karena terdengar meyakinkan


Salah satu masalah besar AI generatif adalah kemampuannya menghasilkan kalimat yang sangat meyakinkan, termasuk ketika informasinya keliru.


Itulah sebabnya AI tidak boleh ditempatkan sebagai sumber ilmiah terakhir.


AI dapat membantu menemukan arah pencarian, tetapi sumber asli tetap harus diperiksa.


AI dapat membantu menyusun kemungkinan argumentasi, tetapi argumentasi tersebut harus diuji.


AI dapat memberikan referensi, tetapi mahasiswa harus membuka dan membaca sumber aslinya.


AI dapat menyarankan data, tetapi data harus diverifikasi.


AI dapat membantu membuat paragraf, tetapi mahasiswa harus memahami setiap kalimat yang dicantumkan atas namanya.


Bahkan dalam dunia publikasi ilmiah internasional, penggunaan AI semakin diarahkan pada prinsip transparansi dan akuntabilitas. Nature, misalnya, menetapkan bahwa AI tidak dapat menjadi penulis karena AI tidak dapat memikul tanggung jawab atas isi karya; penggunaan AI juga perlu didokumentasikan. (Nature⁠)


Ini prinsip yang sederhana tetapi sangat penting:


AI boleh membantu menghasilkan teks, tetapi AI tidak boleh mengambil alih tanggung jawab ilmiah.


Ada banyak manfaat AI untuk mahasiswa


Kita juga tidak boleh melihat AI hanya dari sisi ancamannya.


AI dapat membantu mahasiswa yang kesulitan memulai tulisan.

AI dapat membantu menyederhanakan konsep yang rumit.


AI dapat menjadi teman berdiskusi ketika mahasiswa sedang mengembangkan gagasan.


AI dapat membantu mencari kata kunci untuk penelusuran literatur.


AI dapat membantu membandingkan beberapa konsep.


AI dapat membantu menemukan kelemahan argumentasi.


AI dapat membantu menerjemahkan atau memperbaiki struktur bahasa.


AI dapat menjadi “reviewer awal” yang memberikan pertanyaan kritis terhadap sebuah tulisan.


Bagi mahasiswa yang bahasa akademiknya belum kuat, AI bahkan dapat membantu memperbaiki kemampuan ekspresi tanpa harus menghilangkan gagasan asli mahasiswa.


Sebuah kajian mengenai pengalaman peneliti menggunakan AI dalam penulisan akademik juga menunjukkan adanya manfaat untuk meningkatkan kelancaran bahasa dan membantu penulis yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan. Namun pada saat yang sama muncul persoalan mengenai identitas akademik, suara penulis, autentisitas, dan kepemilikan intelektual. (Nature⁠)


Maka AI sesungguhnya bisa menjadi tangga, tetapi jangan sampai berubah menjadi kursi roda intelektual yang membuat kita tidak lagi mau berjalan.


Bagaimana seharusnya mahasiswa menggunakan AI?


Saya kira ada prinsip sederhana yang dapat kita tawarkan.


Pertama, berpikir sebelum bertanya kepada AI.


Jangan membuka ChatGPT dengan pikiran kosong. Baca masalahnya, pahami topiknya, rumuskan pertanyaan, kemudian gunakan AI untuk memperkaya pemikiran.


Kedua, jangan menyerahkan gagasan utama kepada AI.


Pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, argumentasi utama, interpretasi data, dan kesimpulan harus lahir dari pemahaman peneliti.


Ketiga, verifikasi setiap informasi penting.


Jangan percaya hanya karena kalimat AI terlihat ilmiah.


Keempat, buka sumber aslinya.


Jika AI menyebut jurnal, buku, peraturan, hadis, ayat, statistik, atau pendapat ahli, mahasiswa harus memeriksa sumber tersebut secara langsung.


Kelima, gunakan AI untuk bertanya balik.


Misalnya: “Apa kelemahan argumentasi saya?” atau “Apa perspektif yang berlawanan dengan pendapat ini?” Dengan demikian AI justru digunakan untuk melatih critical thinking.


Keenam, transparan.


Jika AI digunakan secara substantif dalam proses penulisan, penggunaannya perlu dicatat sesuai kebijakan institusi dan jurnal yang dituju.


Dan yang paling penting:


Mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh isi karya ilmiahnya tanpa bergantung kepada AI ketika berada di ruang sidang.


Kalau internet mati dan ChatGPT tidak bisa dibuka, ia tetap harus bisa menjelaskan skripsinya.


Itulah tanda bahwa manusia masih menjadi penulis dan peneliti.


Dosen juga harus berubah


Persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada mahasiswa.


Dosen juga harus berubah.


Kalau dosen melarang AI secara total sementara mahasiswa hidup dalam dunia digital yang AI-nya sudah ada di telepon genggam mereka, larangan semata mungkin tidak efektif.


Yang lebih penting adalah mendidik mahasiswa bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab.


Dosen perlu mengajarkan AI literacy, bukan sekadar melarang AI.


Dosen perlu memberikan contoh prompt yang baik, mengajarkan verifikasi sumber, membahas hallucination, membedakan fakta dengan keluaran generatif, mengajarkan etika akademik, serta menunjukkan kapan AI boleh dan kapan tidak boleh digunakan.


Penilaian juga perlu berubah.


Jika tugas hanya meminta mahasiswa “buatlah makalah 10 halaman”, maka AI sangat mudah mengambil alih.


Tetapi jika mahasiswa diminta menjelaskan proses menemukan masalah, menunjukkan catatan bacaan, mempertahankan argumentasi, membandingkan sumber, mempresentasikan temuan, melakukan refleksi, dan mempertanggungjawabkan tulisannya secara lisan, maka ruang untuk sekadar “copy-paste dari AI” menjadi jauh lebih kecil.


UNESCO sendiri mendorong pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan GenAI di pendidikan dan penelitian, termasuk pengembangan kompetensi guru dan peserta didik, perlindungan data, desain pedagogis, serta kebijakan penggunaan AI yang etis, aman, adil, dan bermakna. (UNESCO⁠)


Kepada pengelola prodi dan fakultas


Menurut saya, program studi dan fakultas tidak perlu memilih antara menolak AI atau membiarkan AI tanpa batas.


Pilihan yang lebih bijak adalah mengatur, mendidik, dan mengawasi penggunaannya.


Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan.


Pertama, setiap prodi perlu memiliki pedoman penggunaan AI dalam tugas, skripsi, tesis, disertasi dan penelitian.


Kedua, perlu dibedakan antara penggunaan AI untuk belajar, menyunting, brainstorming, mencari arah literatur, analisis awal, dengan penggunaan AI untuk menghasilkan keseluruhan karya.


Ketiga, mahasiswa perlu diwajibkan memahami prinsip verifikasi sumber dan tanggung jawab akademik.


Keempat, pembimbing perlu mengetahui apakah dan bagaimana mahasiswa menggunakan AI.


Kelima, perlu dikembangkan model penilaian yang tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga proses berpikir mahasiswa.


Keenam, kampus perlu meningkatkan kompetensi dosen dalam AI. Tidak mungkin kita meminta mahasiswa bijak menggunakan AI kalau dosennya sendiri tidak cukup memahami teknologi tersebut.


Ketujuh, perlu dibangun budaya akademik yang menghargai kejujuran, proses, kreativitas, dan argumentasi, bukan sekadar tulisan yang terlihat rapi.


Sebab pada akhirnya, yang harus kita pertahankan bukan sekadar “kemurnian tulisan tanpa AI”, tetapi kemurnian tanggung jawab intelektual manusia.


Belajar berdamai dengan teknologi


Saya teringat kembali kepada Parmila di ruang sidang itu.


Ada sesuatu yang menarik dari keberaniannya mengakui bahwa ia menggunakan ChatGPT. Pengakuan itu justru membuka ruang diskusi yang sehat.


Mungkin generasi kita sedang memasuki sebuah fase baru dalam sejarah pendidikan.


Dulu kalkulator membuat manusia tidak lagi menghitung semuanya dengan tangan.


Mesin pencari membuat manusia tidak lagi harus menghafal semua informasi.


Perangkat lunak membuat manusia tidak lagi menggambar semuanya secara manual.


Sekarang AI mulai membantu manusia membaca, menulis, menerjemahkan, merumuskan, bahkan berdiskusi.


Persoalannya bukan apakah teknologi akan mengambil alih sebagian pekerjaan manusia. Itu sudah terjadi dan akan terus terjadi.


Persoalan yang jauh lebih penting adalah:


Apa yang tidak boleh kita serahkan kepada mesin?


Jawabannya adalah kemampuan untuk menentukan nilai, mengambil tanggung jawab, membangun karakter, merasakan penderitaan manusia lain, mempertimbangkan etika, mencari kebenaran, dan membuat keputusan berdasarkan kesadaran moral.


AI tidak memiliki tanggung jawab moral atas skripsi kita.


AI tidak hadir dalam ruang sidang untuk mempertanggungjawabkan kesimpulan.


AI tidak menerima kritik penguji.


AI tidak mengalami kegelisahan seorang mahasiswa ketika penelitiannya gagal.


Dan dalam pengertian itulah, manusia tetap memiliki wilayah yang tidak boleh diserahkan kepada mesin.


Jangan anti-AI, tetapi jangan pula menjadi budak AI


Maka saya memahami kekhawatiran Pak Ruslan tentang dehumanisasi.


Kekhawatiran itu bukan berarti kita harus memusuhi teknologi.


Sebaliknya, justru karena kita manusia, kita harus mampu menempatkan teknologi pada tempatnya.


AI harus menjadi alat pemberdayaan manusia, bukan pengganti manusia.


AI seharusnya membuat mahasiswa semakin banyak membaca, bukan semakin malas membaca.


AI seharusnya membuat mahasiswa semakin kritis, bukan semakin mudah percaya.


AI seharusnya membuat mahasiswa semakin produktif, bukan semakin bergantung.


AI seharusnya membantu mahasiswa menulis lebih baik, bukan membuat mereka kehilangan kemampuan menulis.


AI seharusnya memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran.


Dan barangkali inilah formula sederhana yang dapat kita pegang:


Berpikir dengan kepala sendiri, menulis dengan tanggung jawab sendiri, memeriksa dengan sumber yang benar, lalu menggunakan AI sebagai alat bantu.


Jangan sampai kita memasuki zaman kecerdasan buatan dengan manusia yang justru kehilangan kecerdasannya.


Teknologi boleh semakin cerdas.

Tetapi manusia harus tetap lebih bijaksana.


Sebab tujuan pendidikan tinggi bukan mencetak manusia yang paling pandai menggunakan ChatGPT.


Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu berpikir, mampu mencari kebenaran, mampu mempertanggungjawabkan pengetahuan, dan tetap manusiawi ketika berhadapan dengan teknologi.


Dalam konteks itulah, diskusi kecil di ruang sidang skripsi Parmila menjadi pelajaran yang jauh lebih besar: AI boleh membantu kita menulis, tetapi jangan pernah membiarkan AI mengambil alih proses menjadi manusia yang berpikir.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 9 Rabiul Awal 1448, 22 Agustus 2026


(Penulis, akademisi IP FAH UIN Ar-Raniry)


Keterangan foto, dari kiri: Umar, Ade Nufus, Parmila, Ruslan, Penulis)

×
Berita Terbaru Update