Refleksi Filosofis dari Secangkir Kopi, Gigi, dan Hati
Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada percakapan pendek yang kadang-kadang selesai dalam hitungan menit, tetapi justru tinggal lama dalam pikiran. Ia tidak selalu hadir dalam forum ilmiah, seminar, atau majelis resmi. Bisa jadi ia muncul di meja kopi, di sela tawa sahabat lama, lalu tiba-tiba membuka pintu perenungan yang panjang.
Itulah yang saya alami Rabu pagi, 19 Agustus 2026, ketika bersua sejenak dengan dua sahabat lama, Mulia dan Gareng—nama panggilan yang sudah melekat pada sahabat saya itu—di kantin Rumoh Aceh, kompleks UIN Ar-Raniry. Mereka sedang ngopi bersama seorang rekan geologist.
Saya menghampiri meja mereka. Kebetulan Gareng baru saja dilantik sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi USK. Saya pun mengucapkan selamat sambil bercanda, “Mantap, gigi!”
Semua tertawa.
Mulia kemudian menimpali, kurang lebih, “Gigi pada manusia dan binatang sama.”
Tawa kembali pecah. Gareng memang memiliki sedikit pengetahuan di bidang kedokteran hewan, sehingga gurauan itu terasa semakin mengena.
Tetapi kemudian Mulia menambahkan satu kalimat pendek yang justru membuat saya berpikir lebih jauh:
“Kecuali hati pada hewan dan manusia berbeda.”
Kami tertawa lagi. Namun, setelah saya meninggalkan meja itu, kalimat sederhana tersebut justru terus berputar dalam pikiran.
Mulia memang cerdas. Ada kalimat yang keluar sebagai candaan, tetapi menyimpan gagasan yang dalam.
Gigi: simbol kekuatan fisik
Kalau kita melihat kehidupan manusia dan binatang, gigi memang memiliki fungsi yang hampir sama. Gigi digunakan untuk menggigit, memotong, mengunyah, menghancurkan makanan, dan dalam dunia binatang juga menjadi salah satu alat pertahanan sekaligus perlawanan.
Seekor singa menunjukkan taringnya ketika hendak menyerang. Seekor anjing dapat menggunakan giginya untuk mempertahankan diri. Banyak binatang mengandalkan gigi sebagai bagian dari kekuatan fisiknya.
Manusia pun demikian.
Gigi membantu manusia memperoleh makanan dan menjaga fungsi tubuh. Dalam konteks tertentu, “unjuk gigi” bahkan menjadi ungkapan simbolik untuk menunjukkan kekuatan, keberanian, kemampuan, atau posisi tawar.
Menariknya, saya dan Gareng pernah mengalami “unjuk gigi” dalam pengertian yang berbeda.
Ketika saya menjadi manajer CSR Semen Andalas di Lhoknga, pada masa kepemilikan Lafarge dan kemudian Holcim, Gareng bersama kawan-kawan merupakan aktivis lingkungan yang cukup keras memperjuangkan kelestarian lingkungan, termasuk kawasan karst Lhoknga.
Saya berada di satu sisi dengan mandat perusahaan dan kebijakan CSR yang harus saya jalankan. Gareng dan kawan-kawan berada di sisi lain dengan misi menjaga lingkungan. Tentu kami —antara pengelola perusahaan dan aktivis lingkungan— berpedoman pada kebijakan lingkungan yang sama dan standar internasional yang sama.
Kami tentu pernah tegang.
Saya mempertahankan misi perusahaan. Gareng mempertahankan misi lingkungan.
Masing-masing punya argumen, masing-masing punya kepentingan yang ingin diperjuangkan, dan masing-masing sesekali harus menunjukkan “gigi”.
Tetapi ada sesuatu yang lebih kuat daripada gigi. Yaitu Hati.
Gigi bisa berhadapan, hati tetap berteman
Kalau kekuatan fisik membuat seseorang mampu bertahan, maka hati membuat seseorang mampu menjaga hubungan.
Kalau gigi dapat menggigit, hati dapat menahan diri.
Kalau gigi dapat menjadi simbol keberanian untuk menghadapi lawan, hati dapat mengajarkan seseorang bagaimana memperlakukan lawan sebagai sesama manusia.
Itulah mungkin yang membuat saya dan Gareng tetap berteman hingga hari ini.
Kami pernah berada dalam posisi yang berbeda. Pernah saling berhadapan dalam perdebatan. Pernah mempertahankan pandangan masing-masing dengan sungguh-sungguh.
Tetapi kami tidak harus menjadi musuh. Kami tetap berteman dalam kebaikan dan untuk kebaikan.
Mulia sendiri adalah sahabat lama saya juga sejak masa saya bekerja di Lhoknga. Ia asli Lhoknga. Setelah menyelesaikan S2 di Jerman, ia pernah membantu program CSR kami, terutama dalam implementasi program beasiswa Semen Andalas. Setelah itu perjalanan pengabdiannya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Direktur Utama PEMA.
Maka, pertemuan singkat tiga sahabat lama di meja kopi itu sebenarnya bukan sekadar pertemuan biasa.
Ada perjalanan hidup di sana.
Ada perbedaan.
Ada ketegangan.
Ada perjuangan.
Tetapi juga ada persahabatan.
Dan semuanya bertahan karena hati tidak dibiarkan kalah oleh gigi.
Binatang memiliki hati, manusia juga memiliki hati
Secara biologis, tentu binatang dan manusia sama-sama memiliki organ hati. Bahkan secara anatomi, jantung adalah organ yang sangat penting bagi kehidupan berbagai makhluk.
Tetapi dalam bahasa spiritual Islam, qalb atau hati memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar organ biologis.
Al-Qur’an berkali-kali berbicara tentang hati sebagai pusat kesadaran, pemahaman, keimanan, ketundukan, dan moralitas manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Ayat ini sangat dalam.
Yang menjadi persoalan manusia ternyata bukan semata-mata apakah matanya melihat, telinganya mendengar, atau pikirannya bekerja. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah hatinya masih mampu memahami kebenaran.
Seseorang bisa memiliki mata yang sehat tetapi hatinya tidak melihat.
Bisa memiliki telinga yang sempurna tetapi hatinya tidak mendengar.
Bisa memiliki kecerdasan tinggi tetapi hatinya tidak tunduk kepada kebenaran.
Di sinilah hati menjadi pembeda yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Hati adalah tempat pertarungan terbesar
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan perspektif luar biasa.
Perbaikan manusia tidak cukup hanya dengan memperkuat tubuhnya. Tidak cukup hanya memperkuat ekonomi. Tidak cukup hanya memperkuat jabatan. Tidak cukup hanya memperkuat kemampuan berbicara. Tidak cukup pula hanya memperkuat jaringan sosial dan pengaruh.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu kekuatan yang menentukan arah seluruh kekuatan tersebut: hati.
Orang yang kuat secara fisik tetapi lemah hatinya dapat menggunakan kekuatannya untuk menindas.
Orang yang kuat secara ekonomi tetapi lemah hatinya dapat menggunakan hartanya untuk menyuap.
Orang yang kuat secara politik tetapi lemah hatinya dapat menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri.
Orang yang kuat secara intelektual tetapi lemah hatinya dapat menggunakan ilmunya untuk membenarkan kesalahan.
Sebaliknya, orang yang memiliki hati yang sehat akan berusaha mengarahkan kekuatan yang dimilikinya kepada kebaikan.
Karena itu Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa Allah tidak menilai manusia semata-mata dari rupa dan tubuhnya, tetapi melihat hati dan amalnya.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hati yang kuat bukan hati yang keras
Ada kesalahpahaman yang perlu kita luruskan. Kekuatan hati bukan berarti hati yang keras.
Hati yang keras adalah hati yang sulit menerima nasihat, sulit memaafkan, tidak mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, dan tidak takut kepada Allah.
Sedangkan hati yang kuat justru adalah hati yang mampu mengendalikan diri.
Ia kuat menahan marah.
Kuat menahan hawa nafsu.
Kuat menolak keserakahan.
Kuat memaafkan.
Kuat menerima kekalahan.
Kuat mengakui kesalahan.
Kuat tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan.
Dan yang paling penting, kuat tetap berada di jalan Allah ketika godaan kehidupan begitu besar.
Allah menyebut tentang qalbun salim, hati yang selamat:
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Inilah ukuran kekuatan yang sebenarnya. Bukan seberapa tajam gigi kita. Bukan seberapa tinggi jabatan kita. Bukan seberapa banyak orang mengenal kita. Tetapi bagaimana kita menghadap Allah dengan hati.
Jangan kalah oleh nafsu
Generasi muda Muslim hari ini hidup dalam dunia yang sangat kompetitif. Mereka didorong untuk kuat, berani, cepat, cerdas, produktif, kreatif, dan mampu bersaing.
Semua itu baik. Tetapi jangan sampai pendidikan kehidupan hanya mengajarkan bagaimana mempertajam gigi, sementara lupa menguatkan hati.
Anak-anak kita perlu diajarkan ilmu, tetapi juga kejujuran.
Perlu diajarkan keberanian, tetapi juga kerendahan hati.
Perlu diajarkan kompetisi, tetapi juga sportivitas.
Perlu diajarkan bagaimana memenangkan pertandingan, tetapi juga bagaimana menerima kekalahan.
Perlu diajarkan bagaimana memperjuangkan kepentingan, tetapi juga bagaimana menghormati kepentingan orang lain.
Sebab manusia yang hanya mengandalkan “gigi” akan mudah menjadikan kehidupan sebagai pertarungan siapa yang paling kuat.
Sementara manusia yang mengandalkan hati akan melihat kehidupan sebagai amanah yang harus dijalani dengan tanggung jawab.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Perhatikan: kekuatan itu justru terlihat pada kemampuan menahan diri. Bukan pada kemampuan melampiaskan diri.
Hati yang dekat kepada Allah
Kekuatan hati tidak lahir begitu saja. Ia harus dibangun.
Dengan shalat.
Dengan zikir.
Dengan membaca Al-Qur’an.
Dengan ilmu.
Dengan muhasabah.
Dengan memperbanyak istighfar.
Dengan bergaul dengan orang-orang baik.
Dengan belajar memaafkan.
Dengan menjaga kejujuran.
Dan dengan terus mendekatkan diri kepada Allah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan hati bukan berarti kehidupan tanpa masalah.
Hati yang kuat tetap bisa menghadapi konflik.
Tetap bisa mengalami kegagalan.
Tetap bisa berbeda pendapat.
Tetap bisa kehilangan.
Tetap bisa berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran.
Tetapi ia tidak kehilangan arah.
Ia tahu kepada siapa harus kembali.
Dari meja kopi menuju pelajaran kehidupan
Saya kemudian tersenyum sendiri ketika mengingat percakapan singkat di kantin Rumoh Aceh itu.
Kami memulai dengan gigi.
Kami tertawa tentang gigi.
Kemudian Mulia menyebut hati.
Ternyata dari dua kata sederhana itu kita bisa membaca perjalanan manusia.
Gigi mengajarkan tentang kekuatan fisik.
Hati mengajarkan tentang kekuatan spiritual.
Gigi diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.
Hati diperlukan untuk menentukan untuk apa kehidupan dijalani.
Gigi dapat membuat kita mampu bertahan menghadapi dunia.
Tetapi hati membuat kita tahu bagaimana seharusnya kita hidup di dunia.
Gigi boleh tajam.
Tetapi hati jangan kasar.
Gigi boleh kuat.
Tetapi hati harus lembut.
Gigi boleh digunakan untuk mempertahankan diri.
Tetapi hati harus mampu menahan diri.
Dan ketika suatu hari gigi tidak lagi kuat, tubuh tidak lagi perkasa, jabatan telah selesai, kekuasaan telah berakhir, popularitas telah surut, dan usia telah menua, yang akan menentukan kualitas perjalanan kita bukan lagi ketajaman gigi.
Melainkan kebersihan hati.
Mungkin inilah pelajaran paling dalam dari candaan tiga sahabat lama di sebuah meja kopi: kita boleh memiliki gigi yang kuat, tetapi jangan hidup hanya dengan mengandalkan gigi. Bangunlah hati.
Sebab gigi membantu kita menghadapi kehidupan, sedangkan hati membantu kita menemukan arah kehidupan.
Dan pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah.
Maka bersiaplah menjalani kehidupan dengan menguatkan hati, bukan hanya mempertajam gigi; dengan mendekat kepada Allah, bukan sekadar mengandalkan kekuatan nafsu dan fisik.
Sebab mungkin yang membuat manusia benar-benar manusia bukanlah karena ia memiliki gigi yang lebih kuat daripada makhluk lain, tetapi karena ia diberi kemampuan untuk memiliki hati yang mengenal Tuhannya.
Wallahu a’lam
Darussalam 8 Rabiul Awal 1448, 20 Agustus 2026
(Penulis, Imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)
Note: foto, dari kiri; Mulia, geologist, penulis, dan Gareng
