Selamat kepada Prof. Mujimulia dan jajaran ICMI Aceh Besar periode 2026–2031
Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Sabtu, 5 September mendatang menjadi momentum penting bagi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh Besar. Pada hari itu, kepengurusan ICMI Aceh Besar periode 2026–2031 dengan ketua terpilih Prof. Mujimulia akan dilantik oleh Ketua ICMI Orwil Aceh Dr. Taqwaddin.
Kita mengucapkan selamat dan berharap kepengurusan baru ini tidak berhenti pada seremoni pelantikan. Lebih dari itu, pelantikan harus menjadi titik awal untuk menghadirkan gagasan, gerakan, dan kerja nyata bagi kemajuan Aceh Besar.
Aceh Besar bukan sekadar kabupaten yang luas wilayahnya. Ia memiliki posisi yang sangat strategis. Kabupaten ini mengitari dan menjadi penyangga bagi Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh. Di dalamnya terdapat kawasan pesisir, pegunungan, pertanian, perkebunan, perikanan, kawasan pendidikan, objek wisata, pusat-pusat keagamaan, serta masyarakat dengan kekayaan tradisi dan budaya yang kuat.
Potensi itu adalah modal besar. Tetapi potensi tidak otomatis berubah menjadi kemajuan. Ia membutuhkan ilmu pengetahuan, kepemimpinan, tata kelola, investasi, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan yang tepat.
Di sinilah ICMI Aceh Besar dapat memainkan peran strategis.
Cendekiawan harus hadir di tengah persoalan masyarakat
ICMI bukan organisasi yang hanya berbicara tentang gagasan di ruang seminar. Sebagai organisasi cendekiawan, ICMI seharusnya menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, kebutuhan masyarakat dan perubahan zaman.
Karena itu, ICMI Aceh Besar periode 2026–2031 perlu menempatkan dirinya sebagai mitra pemerintah sekaligus mitra masyarakat.
Sebagai mitra pemerintah, ICMI dapat memberikan gagasan, kajian, masukan kebijakan dan alternatif penyelesaian berbagai persoalan pembangunan. Sebagai mitra masyarakat, ICMI harus mampu mendengar kegelisahan rakyat, membaca potensi lokal, menghubungkan berbagai kekuatan sosial dan membantu masyarakat menemukan jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.
Dengan demikian, ICMI tidak mengambil alih pekerjaan pemerintah dan tidak pula menjadi oposisi terhadap pemerintah. ICMI mengambil posisi yang lebih konstruktif: menjadi rumah gagasan, jembatan kolaborasi dan pengawal moral pembangunan.
Ekonomi: dari potensi menjadi kekuatan
Salah satu agenda penting ICMI Aceh Besar adalah ikut mendorong penguatan ekonomi masyarakat.
Aceh Besar mempunyai basis ekonomi yang sangat beragam. Pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, perdagangan, pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki ruang pengembangan yang besar.
Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak ada potensi. Pertanyaannya adalah bagaimana potensi itu diberi nilai tambah.
Petani jangan hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah. Nelayan jangan hanya menjadi penjual hasil tangkapan. Pelaku UMKM jangan berhenti pada pasar lokal. Anak-anak muda jangan hanya menjadi konsumen ekonomi digital, tetapi harus didorong menjadi pelaku ekonomi digital.
ICMI dapat mempertemukan akademisi, pemerintah, dunia usaha, perbankan, praktisi dan komunitas untuk merancang ekosistem ekonomi yang lebih kuat.
Bahkan, ICMI Aceh Besar dapat menginisiasi forum ekonomi Aceh Besar, semacam ruang temu rutin antara pemerintah, pengusaha, akademisi, pelaku UMKM dan masyarakat untuk membicarakan persoalan ekonomi secara konkret.
Pendidikan: investasi paling panjang
Pembangunan Aceh Besar juga harus dimulai dari manusianya.
ICMI dapat mengambil peran besar dalam penguatan pendidikan, terutama pendidikan yang mengintegrasikan ilmu, iman, karakter dan keterampilan.
Jangan sampai anak-anak Aceh Besar hanya mendapatkan pendidikan untuk memperoleh ijazah. Mereka harus dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang berubah cepat.
Literasi digital, kecerdasan buatan, bahasa asing, kewirausahaan, kepemimpinan, keterampilan vokasional dan pendidikan karakter harus mendapat perhatian.
ICMI juga dapat membangun jaringan dengan perguruan tinggi di Aceh untuk menghadirkan program pendampingan sekolah, peningkatan kapasitas guru, beasiswa, riset terapan dan pengembangan talenta anak muda.
Aceh Besar membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan.
Kesehatan masyarakat: membangun manusia yang sehat
Bidang kesehatan juga tidak boleh dilepaskan dari agenda pembangunan.
ICMI dapat mendorong gerakan kesehatan masyarakat yang berbasis keluarga dan komunitas. Persoalan gizi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, pola hidup sehat, sanitasi, air bersih dan pencegahan penyakit membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Kesehatan tidak semata-mata urusan rumah sakit dan tenaga medis. Kesehatan adalah urusan masyarakat.
Karena itu, ICMI dapat bekerja sama dengan organisasi profesi, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, pemerintah gampong, dunia usaha dan organisasi masyarakat untuk membangun budaya hidup sehat.
Kebudayaan dan identitas Aceh Besar
Aceh Besar juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa.
Pembangunan tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya. Kemajuan justru harus berjalan bersama dengan pelestarian identitas.
ICMI dapat ikut mendorong dokumentasi sejarah lokal, pelestarian tradisi, pengembangan seni budaya, literasi sejarah dan penguatan nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal.
Budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan dapat menjadi kekuatan ekonomi baru melalui pariwisata, ekonomi kreatif dan industri berbasis identitas lokal.
Lingkungan dan kesiapsiagaan bencana
Aceh Besar juga menghadapi tantangan ekologis dan kebencanaan. Wilayahnya yang luas dengan karakter geografis yang beragam membutuhkan perhatian serius terhadap lingkungan.
ICMI dapat mendorong lahirnya gerakan masyarakat sadar lingkungan, konservasi sumber daya alam, edukasi kebencanaan dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
Cendekiawan harus mampu mengingatkan bahwa pembangunan yang mengabaikan lingkungan pada akhirnya akan membebani generasi berikutnya.
Membangun kolaborasi, bukan berjalan sendiri
Salah satu agenda paling penting bagi ICMI Aceh Besar periode 2026–2031 adalah membangun kolaborasi pentahelix: pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media.
ICMI tidak akan mampu mengerjakan semua persoalan sendirian. Justru kekuatan ICMI terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai kekuatan.
ICMI dapat duduk bersama dengan organisasi keagamaan, pemuda, perempuan, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, organisasi profesi, komunitas masyarakat sipil, media dan pemerintah gampong.
Dari pertemuan itu harus lahir program konkret.
Bukan terlalu banyak seminar, tetapi sedikit seminar yang melahirkan banyak tindakan.
Bukan terlalu banyak rekomendasi, tetapi rekomendasi yang benar-benar dikawal sampai menjadi kebijakan atau program.
Agenda strategis ICMI Aceh Besar 2026–2031
Agar kehadirannya terasa, ICMI Aceh Besar perlu memiliki beberapa agenda strategis.
Pertama, membangun pusat kajian dan gagasan Aceh Besar yang menghasilkan policy brief dan rekomendasi pembangunan berbasis data.
Kedua, menyusun peta potensi Aceh Besar, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya, pariwisata, sumber daya manusia hingga potensi desa.
Ketiga, membangun jaringan cendekiawan muda Aceh Besar, agar ICMI tidak hanya kuat hari ini tetapi memiliki regenerasi yang kokoh.
Keempat, mendorong inkubasi UMKM dan ekonomi kreatif, dengan mempertemukan pelaku usaha dengan mentor, perbankan, pemerintah dan pasar.
Kelima, membangun program pendidikan dan beasiswa bagi generasi muda potensial, terutama mereka yang memiliki prestasi tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
Keenam, mengembangkan gerakan masyarakat sehat dan peduli lingkungan melalui kolaborasi lintas organisasi.
Ketujuh, menguatkan literasi digital dan kecerdasan buatan, sehingga masyarakat Aceh Besar tidak menjadi korban perubahan teknologi, tetapi menjadi pelaku perubahan.
Kedelapan, menjadikan ICMI sebagai rumah dialog pembangunan, tempat pemerintah dan masyarakat dapat bertemu dalam suasana ilmiah, terbuka dan konstruktif.
Kesembilan, membangun database tokoh dan keahlian cendekiawan Aceh Besar sehingga pemerintah dan masyarakat dapat mengakses keahlian yang mereka perlukan.
Kesepuluh, membuat indikator keberhasilan ICMI lima tahun ke depan. Dengan demikian, pada akhir periode kepengurusan nanti masyarakat dapat melihat apa yang benar-benar telah dikerjakan.
Aceh Besar sebagai tonggak penyangga ibu kota
Ketika Aceh Besar dicanangkan sebagai salah satu wilayah penyangga ibu kota provinsi Aceh, sesungguhnya tanggung jawabnya semakin besar.
Kabupaten penyangga tidak cukup hanya menjadi tempat tinggal, tempat lewat atau tempat mengambil sumber daya. Ia harus menjadi wilayah yang memiliki kekuatan ekonomi, sumber daya manusia, infrastruktur, lingkungan dan tata kehidupan sosial yang sehat.
Aceh Besar harus mampu berdiri sebagai kabupaten yang maju tetapi tetap berkarakter.
Di sinilah ICMI dapat menjadi salah satu kekuatan intelektual dan moral yang ikut mengawal perjalanan tersebut.
Kita tentu berharap pemerintah Aceh Besar membuka ruang kolaborasi yang luas bagi ICMI. Sebaliknya, ICMI juga harus mampu menjaga independensi, objektivitas dan tradisi intelektualnya. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik harus disertai solusi. Gagasan harus disertai kerja. Dan kerja harus disertai keteladanan.
Akhirnya, selamat kepada Prof. Mujimulia dan seluruh pengurus ICMI Aceh Besar periode 2026–2031. Selamat pula kepada seluruh keluarga besar ICMI Aceh Besar.
Semoga pelantikan pada Sabtu, 5 September nanti bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan awal dari lima tahun pengabdian yang penuh gagasan dan kerja nyata.
Aceh Besar memiliki tanah yang luas, sejarah yang panjang, masyarakat yang kuat dan potensi yang besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan menghubungkan semuanya dalam sebuah gerakan pembangunan yang terarah.
ICMI Aceh Besar dapat mengambil bagian di sana: menjadi jembatan antara ilmu dan kebijakan, antara pemerintah dan masyarakat, antara potensi dan peluang, serta antara cita-cita dan kenyataan.
Jika itu mampu dilakukan, Aceh Besar bukan hanya menjadi penyangga ibu kota provinsi.
Aceh Besar dapat menjadi tonggak yang kokoh bagi kemajuan Aceh.
Wallahu a’lam
Barabung Aceh Besar 7 Rabiul Awal 1448, 19 Agustus 2026
(Penulis, warga Barabung Darussalam Aceh Besar)
