Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya merasa seperti kembali menjadi murid. Bukan duduk di ruang kuliah, bukan pula mendengarkan ceramah seorang guru atau membaca buku seorang pakar pendidikan. Guru saya pagi ini justru seorang anak kecil berusia lima tahun: cucu saya, Rania.
Ada pelajaran besar yang saya dapat dari sebuah permintaan sederhana: “Semua nonton Adek tampil, ya.”
Rania dijadwalkan tampil menyanyi lagu nasyid bersama teman-temannya sebagai utusan TPQ Fathun Qarib UIN Ar-Raniry pada ajang FASI 2026 Banda Aceh di halaman Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh. Beberapa hari sebelumnya ia sudah menjalani latihan dengan serius, dibimbing para ummi di TPQ.
Karena merasa penampilannya penting, Rania pun berkali-kali mengingatkan kami.
“Besok Adek tampil, ya. Semua harus datang.”
Bahkan kepada ayahnya ia meminta agar tidak masuk kantor. Bunda dan ayahnya sudah merencanakan cuti setengah hari. Nenda dan kakeknya juga sudah bersiap hadir. Hanya abangnya yang tidak mungkin ikut karena harus tetap masuk sekolah.
Tetapi rupanya komitmen kami belum cukup meyakinkan Rania.
Pagi-pagi sebelum berangkat, ia kembali mengingatkan, “Harus hadir semua ya. Pakai baju yang rapi, nonton Adek tampil.”
Kami menjawab, “Siap, kami datang.”
Namun Rania masih mengirim pesan suara melalui telepon bundanya. Seolah-olah ia sedang melakukan pengecekan daftar hadir.
“Kakek, Nenda kok belum datang? Kan sudah Adek bilang kemarin, besok Adek tampil. Ini sudah besok!”
Saya dan istri pun segera bersiap. Bukan semata-mata karena sebuah acara anak-anak, tetapi karena kami sadar bahwa bagi Rania, kehadiran kami adalah bagian dari penghargaan terhadap sebuah usaha yang sudah ia persiapkan dengan sungguh-sungguh.
Menariknya, ketika abangnya hendak berangkat sekolah, Rania sempat bertanya, “Abang kok pakai baju sekolah?”
Abangnya memang harus tetap sekolah.
Lalu Rania berkata, “Nonton videonya ya nanti.”
Sederhana sekali.
Tetapi dari percakapan seorang anak lima tahun itu saya menemukan pelajaran yang tidak sederhana.
Anak kecil juga ingin dihargai
Kita orang dewasa sering menganggap hal-hal yang dilakukan anak kecil sebagai perkara kecil.
Mereka menyanyi, kita anggap sekadar menyanyi. Mereka menggambar, kita anggap sekadar menggambar. Mereka berani tampil di depan orang banyak, kita anggap biasa. Mereka bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang menurut kita sepele, kita kadang buru-buru memotongnya.
Padahal, yang kecil menurut ukuran kita belum tentu kecil bagi mereka.
Bagi Rania, tampil di panggung bersama teman-temannya bukan perkara biasa. Ia telah berlatih beberapa hari. Ia menunggu hari tampil. Ia mempersiapkan diri. Ia membayangkan keluarganya duduk menyaksikan. Karena itu ia ingin memastikan orang-orang yang ia cintai benar-benar hadir.
Sesungguhnya yang ia minta bukan sekadar penonton.
Ia sedang meminta pengakuan bahwa usahanya berarti.
Di sinilah orang dewasa perlu belajar membaca bahasa anak.
Seorang anak yang berkata, “Lihat aku!” tidak selalu sedang mencari perhatian dalam arti negatif. Bisa jadi ia sedang berkata, “Lihatlah aku sedang belajar.”
Seorang anak yang berkata, “Nanti lihat videoku,” sedang menunjukkan bahwa ia ingin membagikan pengalaman dan kebanggaannya.
Dan seorang anak yang berkali-kali meminta orang tuanya datang menyaksikan penampilannya mungkin sedang membangun satu keyakinan penting dalam dirinya: “Apa yang saya lakukan berharga.”
Apresiasi bukan berarti memanjakan
Dalam pendidikan anak usia dini, apresiasi terhadap proses merupakan bagian penting dalam membangun motivasi dan rasa percaya diri. Para ahli perkembangan anak seperti Erik Erikson menjelaskan bahwa pada usia dini anak sedang membangun rasa inisiatif. Mereka ingin mencoba, melakukan sesuatu, menunjukkan kemampuan, dan merasakan bahwa tindakannya diterima secara positif.
Sementara Maria Montessori menekankan pentingnya memberikan ruang kepada anak untuk melakukan sesuatu sendiri sesuai tahap perkembangannya. Orang dewasa bukan mengambil alih seluruh proses, tetapi menyiapkan lingkungan yang memungkinkan anak tumbuh melalui pengalaman.
Karena itu, ketika anak berlatih menyanyi, jangan buru-buru berkata, “Salah, begini caranya!”
Ketika anak menggambar, jangan langsung mengambil pensilnya untuk memperbaiki.
Ketika anak belajar berbicara di depan orang lain, jangan memotong setiap kalimatnya hanya karena kita merasa tahu apa yang ingin ia katakan.
Jangan potong kompas pendidikan anak.
Kita boleh mengetahui arah yang hendak dituju. Kita orang dewasa sudah mengalami banyak hal. Kita tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Tetapi anak belum memiliki pengalaman seperti kita.
Bagi anak, proses adalah pendidikan itu sendiri.
Biarkan mereka mencoba. Biarkan mereka belajar. Biarkan sesekali salah. Dampingi, luruskan dengan sabar, kemudian beri kesempatan mencoba kembali.
Jangan sampai karena ingin anak cepat pintar, kita justru merusak proses belajarnya.
Al-Qur’an mengajarkan pentingnya membangun generasi
Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap pendidikan keluarga dan generasi.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa pendidikan keluarga bukan pekerjaan sampingan. Menjaga keluarga berarti membimbing, mendidik, memberi teladan dan membangun karakter mereka sejak dini.
Al-Qur’an juga mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya. Luqman tidak mendidik dengan satu kalimat lalu selesai. Ia membangun nilai secara bertahap: tauhid, kesadaran kepada Allah, shalat, amar makruf nahi mungkar, kesabaran, kerendahan hati dan etika dalam kehidupan.
Itulah pendidikan yang tidak menggunakan jalan pintas.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Anak bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah atau ustaz di TPQ. Mereka adalah amanah bersama.
Ayah dan ibu bertanggung jawab. Kakek dan nenek punya peran. Guru memiliki tanggung jawab. Ulama, tokoh masyarakat dan pemerintah pun memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuhnya generasi.
Jangan abaikan hal-hal kecil
Rania pagi ini mengajarkan kepada saya satu prinsip penting: jangan meremehkan hal-hal kecil yang positif dari seorang anak.
Hari ini mungkin hanya menyanyi di panggung.
Besok mungkin berani berbicara di depan kelas.
Lusa mungkin berani menyampaikan pendapat.
Beberapa tahun kemudian mungkin berani memimpin organisasi.
Kelak mungkin menjadi guru, dokter, ulama, pengusaha, ilmuwan, birokrat, pemimpin masyarakat atau profesi apa pun yang bermanfaat.
Kita tidak pernah tahu seberapa jauh sebuah pengalaman kecil hari ini akan memengaruhi perjalanan hidup seorang anak di masa depan.
Karena itu, ketika seorang anak berkata, “Lihat aku!”, jangan selalu menjawab dengan kesibukan kita.
Kadang-kadang letakkan telepon.
Hentikan pekerjaan sebentar.
Tatap matanya.
Dengarkan ceritanya.
Saksikan penampilannya.
Tepuk tangannya.
Peluk ia setelah selesai.
Katakan, “Kakek bangga melihat Adek berani tampil.”
Kalimat itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik bagi kita, tetapi bisa menjadi bekal kepercayaan diri bertahun-tahun bagi seorang anak.
Apa yang harus dilakukan orang dewasa?
Ada beberapa langkah cerdas yang perlu kita lakukan.
Pertama, ayah dan ibu harus menjadi penonton pertama bagi perjuangan anak. Tidak semua prestasi anak membutuhkan hadiah. Kadang kehadiran orang tua adalah hadiah terbaik.
Kedua, apresiasi proses, bukan hanya hasil. Jangan hanya berkata, “Kamu menang.” Katakan pula, “Kamu sudah berlatih dengan sungguh-sungguh.”
Ketiga, jangan mempermalukan anak ketika gagal. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Bantu mereka memahami kesalahan, bukan membuat mereka takut mencoba lagi.
Keempat, kakek dan nenek harus menjadi sumber kehangatan. Kehadiran mereka dapat menjadi kenangan emosional yang sangat kuat bagi cucu-cucu.
Kelima, guru dan para ummi harus memberikan ruang tumbuh. Anak jangan hanya diarahkan untuk tampil sempurna, tetapi dibimbing menikmati proses belajar.
Keenam, ulama dan tokoh masyarakat perlu terus membangun budaya pendidikan yang ramah anak. Masjid, TPQ, sekolah dan lingkungan masyarakat harus menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar.
Ketujuh, pemerintah perlu memberi ruang dan dukungan bagi kegiatan anak. Festival anak, FASI, kegiatan keagamaan, seni, olahraga dan kreativitas bukan sekadar acara seremonial. Di sana sedang dibangun keberanian dan karakter generasi masa depan.
Belajar dari Rania
Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana: pagi ini bukan Rania yang perlu belajar dari kakeknya. Justru kakeknya yang berguru kepada Rania.
Ia mengajarkan tentang kesungguhan.
Ia mengajarkan tentang keberanian.
Ia mengajarkan pentingnya dukungan keluarga.
Dan yang paling penting, ia mengajarkan kepada kita bahwa setiap anak ingin merasa dihargai atas usaha yang dilakukannya.
Mungkin kelak Rania tidak mengingat semua nasihat yang diberikan kepadanya pagi ini.
Tetapi sangat mungkin ia mengingat bahwa ketika ia tampil di atas panggung pada FASI 2026, orang-orang yang dicintainya datang menyaksikan.
Ia akan tahu bahwa keluarganya hadir ketika ia sedang berusaha.
Dan barangkali, tanpa kami sadari, kehadiran sederhana itu sedang menanamkan satu benih besar dalam dirinya:
“Aku berharga. Usahaku dihargai. Aku boleh mencoba. Aku boleh belajar. Dan aku tidak berjalan sendirian.”
Bukankah pendidikan pada akhirnya memang tentang menanam benih?
Kita tidak boleh memaksa benih menjadi pohon dalam sehari. Kita hanya perlu memastikan tanahnya baik, airnya cukup, sinar mataharinya tersedia, dan ia dirawat dengan sabar.
Jangan potong kompas pertumbuhan anak. Jangan buru-buru menggantikan proses mereka dengan kemampuan kita sebagai orang dewasa. Dampingi, arahkan, hargai dan bersabarlah.
Sebab anak-anak hari ini bukan sekadar anak-anak yang sedang tumbuh.
Mereka adalah masyarakat masa depan yang sedang belajar menjadi manusia melalui cara kita memperlakukan mereka hari ini.
Dan pagi ini, seorang cucu berusia lima tahun telah mengingatkan saya: kadang-kadang untuk menjadi guru yang baik, kita harus bersedia menjadi murid yang baik di hadapan anak-anak kita sendiri.
Wallahu a’lam
Lueng Bata, 25 Rabiul Awal 1448, 7 September 2026
(Penulis, imam besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Foto: Dari kiri; Qalesya, Rania, dan Azura
