-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kultum Zuhur di Fathun Qarib, Dr Jalaluddin: Jangan Sampai IPK Tinggi, Tubuh Tak Berdaya

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T06:36:05Z


BANDA ACEH — Prestasi akademik yang tinggi belum tentu menjamin seseorang siap menghadapi kehidupan. Mahasiswa juga harus memiliki tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, ilmu yang mendalam dan keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat.


Pesan itu disampaikan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, Dr. Jalaluddin, M.A., AWP., CWC, dalam tausiyah salat Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu, 9 September 2026.


Dr. Jalaluddin mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam gaya hidup yang hanya mengejar penampilan, tren dan popularitas, sementara kebutuhan mendasar seperti makan, kesehatan dan kebugaran fisik justru diabaikan.


Ia menyinggung kisah seorang sarjana dari perguruan tinggi ternama dengan IPK hampir sempurna, tetapi disebut mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan karena kondisi kesehatannya.


“Jangan sampai IPK kita tinggi, tetapi tubuh kita tidak berdaya,” ujarnya.


Menurutnya, kisah tersebut harus menjadi pelajaran bahwa membangun sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan meningkatkan kecerdasan intelektual. Kesehatan fisik dan mental juga merupakan modal penting dalam kehidupan.


Ia mengaku melihat sendiri realitas mahasiswa di kampus yang secara akademik memiliki kemampuan baik, tetapi secara fisik tidak selalu prima.


Karena itu, mahasiswa perlu menjaga pola makan, istirahat dan kebugaran.


“Jagalah jiwa, jagalah raga kita,” pesannya.


Jangan Kalahkan Makan oleh Penampilan


Dr. Jalaluddin mengingatkan mahasiswa agar tidak membiarkan kebutuhan untuk tampil keren, mengikuti tren atau mengejar popularitas mengalahkan kebutuhan tubuh.


Menurutnya, aktivitas kuliah yang padat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan makan dan kesehatan.


Ia menyinggung kebiasaan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sejak pagi hingga siang tanpa makan yang cukup.


Padahal, katanya, tubuh juga memiliki hak yang harus dipenuhi.


“Jangan sampai kebutuhan makan kita dikalahkan oleh kebutuhan penampilan,” katanya.


Ia mengajak mahasiswa menjadikan kesehatan sebagai bagian dari pengamalan maqashid syariah, khususnya prinsip hifzh an-nafs, yaitu menjaga jiwa.


Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan bukan sekadar persoalan gaya hidup, tetapi bagian dari tanggung jawab manusia terhadap amanah tubuh yang diberikan Allah SWT.


Fardhu Kifayah Jangan Hanya Dipahami Urusan Jenazah


Dalam tausiyah tersebut, Dr. Jalaluddin juga membawa jamaah pada pembahasan yang lebih luas mengenai fardhu kifayah.


Menurutnya, selama ini masyarakat sering memahami fardhu kifayah sebatas kewajiban mengurus jenazah. Padahal, konsep tersebut dapat diperluas kepada berbagai bidang keahlian yang dibutuhkan umat.


Ia mengaitkannya dengan keberadaan berbagai fakultas di UIN Ar-Raniry yang kini berjumlah 10 fakultas, termasuk Fakultas Kedokteran.


“Ilmu itu sangat luas dan sumbernya dari Allah. Semua itu terwadahi di UIN dengan berbagai fakultasnya,” ujarnya.


Setiap bidang keilmuan, kata dia, memiliki fungsi masing-masing. Ada ahli ekonomi, hukum, pendidikan, Ushuluddin, Adab dan Humaniora, psikologi, kedokteran dan berbagai bidang lainnya.


Ketika setiap orang menguasai bidangnya secara mendalam dan menggunakan keahliannya untuk kepentingan masyarakat, maka keahlian tersebut menjadi bagian dari kebutuhan kolektif umat.


“Ketika kita mengambil spesialisasi atau bidang profesional masing-masing, insyaallah kita akan melengkapi satu sama lain,” katanya.


Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan umum. Mereka harus menjadi ahli di bidang masing-masing.


“Kalau semua kita memahami bidang kita secara mendalam, bukan sekadar ceramah umum, insyaallah kesempurnaan umat akan tercapai,” tambahnya.


Rezeki Dijamin Allah, Tetapi Harus Dikelola


Dr. Jalaluddin kemudian mengajak jamaah merenungkan QS. Hud ayat 6 yang menyatakan bahwa tidak ada satu pun makhluk di bumi melainkan Allah telah menjamin rezekinya.


Menurutnya, ayat tersebut harus melahirkan keyakinan bahwa manusia tidak boleh kehilangan optimisme terhadap kemurahan rezeki Allah.


Namun, keyakinan terhadap jaminan rezeki tidak berarti manusia boleh berpangku tangan.


Manusia tetap harus bekerja, belajar, mengembangkan keahlian dan mengelola sumber daya dengan baik.


Ia bahkan mengajak mahasiswa mengkritisi cara pandang ekonomi konvensional yang sering menjelaskan kelangkaan berdasarkan keterbatasan sumber daya dan tidak terbatasnya kebutuhan manusia.


Menurutnya, umat Islam perlu melihat persoalan ekonomi dari perspektif Al-Qur’an.


“Menurut Islam, sumber daya alam sangat melimpah. Ada di bawah bumi, ada di atas bumi, bahkan di dalam bumi itu sendiri,” ujarnya.


Persoalannya, kata dia, bukan semata-mata ada atau tidak adanya sumber daya, tetapi bagaimana manusia mengelola potensi tersebut secara adil dan produktif.


Aceh Kaya Potensi, Kualitas SDM Harus Diperkuat


Dr. Jalaluddin mengambil contoh Singapura dan Aceh.


Singapura memiliki wilayah yang jauh lebih kecil dan sumber daya alam yang terbatas. Namun negara tersebut mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusianya sehingga memiliki pendapatan per kapita yang tinggi.


Sebaliknya, Aceh memiliki wilayah luas dan berbagai potensi sumber daya alam.


“Apakah saya tidak yakin dengan sumber daya Aceh? Bukan. Saya tidak mau mendeskripsikan anak bangsa sendiri. Tetapi boleh jadi potensi dan kesempatan itu belum dikelola dengan baik,” katanya.


Menurutnya, persoalan utama yang harus dijawab adalah bagaimana mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi dan kemaslahatan masyarakat.


Karena itu, pembangunan ekonomi syariah tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan.


Pembangunan harus berorientasi pada maqashid syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Ia juga menyinggung pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian yang mendapat perhatian dalam pengembangan pemikiran maqashid kontemporer.


Al-Qur’an Bukan Hanya untuk Dibaca


Dr. Jalaluddin juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca secara tekstual.


Menurutnya, umat Islam perlu memahami makna, memperbaiki bacaan, mengimplementasikan pesan Al-Qur’an dalam kehidupan dan menyampaikannya kepada orang lain.


Ia menegaskan, tugas tersebut bukan hanya milik ustaz, ulama atau penceramah.


“Jangan memposisikan bahwa tugas ini hanya milik sebagian orang saja. Masing-masing kita adalah pengemban risalah Allah,” katanya.


Dalam konteks mahasiswa, implementasi Al-Qur’an dapat dilakukan melalui bidang keilmuan masing-masing.


Mahasiswa ekonomi dapat membangun sistem ekonomi yang adil. Mahasiswa kedokteran dapat menjaga kehidupan manusia. Mahasiswa hukum dapat memperjuangkan keadilan. Mahasiswa pendidikan dapat mencerdaskan generasi. Mahasiswa psikologi dapat membantu menjaga kesehatan mental. Begitu pula bidang-bidang lainnya.


Dengan demikian, ilmu tidak berhenti menjadi gelar.


Ilmu harus berubah menjadi manfaat.


Dan profesi tidak berhenti menjadi pekerjaan.


Profesi harus menjadi pengabdian.


Dr. Jalaluddin juga mengapresiasi BKM Masjid Fathun Qarib yang terus mengembangkan kreativitas dan menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran lintas disiplin ilmu.


Ia berharap para dosen dapat terus berbagi ilmu kepada mahasiswa melalui masjid, tidak terbatas pada kegiatan rutin mingguan.


Menurutnya, masjid memiliki posisi strategis sebagai ruang bertemunya ilmu, iman dan kehidupan.


Pada akhirnya, pesan Dr. Jalaluddin bermuara pada satu kesadaran: membangun manusia tidak cukup dengan membuatnya pintar.


Manusia harus sehat, beriman, berilmu, memiliki keahlian, berakhlak dan mampu memberikan manfaat.


Sebab percuma memiliki IPK tinggi jika tubuh tidak sehat.


Percuma memiliki ilmu jika tidak memberi manfaat.


Percuma memiliki harta jika tidak membawa maslahat.


Dan percuma memiliki profesi jika tidak menjadi jalan pengabdian.


Karena itu, mahasiswa hari ini bukan hanya sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam fardhu kifayah umat.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update