-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Gawai Ramai, Meunasah Jangan Sunyi

Sabtu, 12 September 2026 | September 12, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T23:18:12Z


Menjemput Kembali Guru Ngaji dan Menghidupkan Pengajian Anak-Remaja di Gampong Aceh


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada obrolan ringan yang kadang justru melahirkan kegelisahan besar.


Sabtu siang, 12 September 2026, di sela rehat Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII ICMI Aceh di Azana Oasis Hotel Banda Aceh, saya sempat nimbrung semeja dengan tiga intelektual senior Aceh: Prof Yusny Saby, Prof Sofyan A. Gani, dan Prof Hasanuddin Yusuf Adan.


Tidak ada pembicaraan yang terlalu formal. Kami hanya berbincang santai di sela padatnya agenda Musywil. Namun, dari obrolan lepas itu muncul satu persoalan yang kemudian kami sepakati perlu dipikirkan lebih serius: langkanya guru ngaji dan semakin berkurangnya pengajian anak serta remaja di sebagian gampong Aceh.


Prof Sofyan A. Gani bercerita tentang pengalamannya suatu sore ketika singgah di sebuah kampung di Aceh. Di dekat meunasah, ia melihat sejumlah anak dan remaja berkumpul. Mereka santai, tetapi hampir semuanya sibuk dengan gawai di tangan masing-masing.


Pemandangan yang sebenarnya sangat biasa hari ini.


Anak-anak bermain dengan gawai. Remaja berselancar di dunia digital. Jari mereka aktif menyentuh layar, sementara meunasah berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.


Prof Sofyan kemudian bertanya kepada beberapa orang dewasa di sekitar mereka: apakah anak-anak dan remaja tersebut mengaji di meunasah?


Tidak ada jawaban.


Mereka hanya tersenyum dan tertunduk.


Senyum dan tundukan kepala itu justru terasa lebih banyak berbicara daripada jawaban panjang.


Prof Yusny Saby dan Prof Hasanuddin Yusuf Adan membenarkan bahwa fenomena semacam itu tampaknya bukan hanya terjadi di satu gampong.


Saya pun menyampaikan pengalaman yang tidak jauh berbeda. Di kampung saya, pengajian anak-anak masih ada melalui TPA. Namun, pengajian khusus remaja di meunasah belum tersedia.


Dari obrolan sederhana itulah muncul satu pertanyaan yang terasa semakin penting:


Saat gawai semakin ramai di tangan anak-anak kita, apakah meunasah justru semakin sunyi?


6.516 gampong dan sebuah pekerjaan besar


Aceh memiliki sekitar 6.516 desa/gampong. Angka itu bukan sekadar statistik administrasi. Di baliknya terdapat ribuan komunitas, ribuan keluarga, ribuan meunasah dan masjid, serta jutaan harapan tentang masa depan generasi Aceh.


Kita belum memiliki data resmi yang memetakan secara menyeluruh berapa persen gampong di Aceh yang masih memiliki pengajian anak dan berapa persen yang memiliki pengajian remaja secara rutin di meunasah atau masjid.


Karena itu, jangan kita membuat angka sendiri.


Justru ketiadaan data tersebut harus menjadi pekerjaan rumah pertama.


Kita perlu mengetahui kondisi sesungguhnya.


Berapa gampong yang memiliki TPA?


Berapa yang memiliki guru ngaji tetap?


Berapa yang memiliki pengajian remaja?


Berapa meunasah yang aktif setiap sore atau malam?


Berapa guru ngaji yang sudah lanjut usia dan belum memiliki kader pengganti?


Dan yang paling penting: bagaimana kemampuan anak dan remaja kita dalam membaca Al-Qur’an serta melaksanakan shalat?


Pertanyaan-pertanyaan ini layak dijawab melalui pemetaan sederhana di seluruh Aceh.


Sebab kita tidak boleh berbicara tentang generasi emas 2045, sementara fondasi keimanan, kemampuan membaca Al-Qur’an, ibadah dan akhlaknya tidak kita ukur dan perkuat sejak sekarang.


Gawai bukan musuh, tetapi jangan sampai menjadi guru utama


Kita tidak perlu memusuhi gawai.


Gawai adalah bagian dari kehidupan zaman ini. Dengan gawai, anak-anak dapat belajar, membaca, mencari informasi, bahkan mempelajari Al-Qur’an.


Persoalannya bukan pada gawainya.


Persoalannya adalah ketika gawai hadir setiap hari, sementara guru ngaji tidak hadir secara rutin.


Anak akhirnya mendapatkan banyak “guru” dari layar.


Ada yang mengajarkan ilmu.

Ada yang mengajarkan hiburan.

Ada yang mengajarkan kebaikan.


Tetapi ada pula yang secara perlahan mengajarkan kekerasan, pornografi, konsumtivisme, pergaulan bebas, judi online dan berbagai perilaku yang merusak.


Di sinilah guru ngaji memiliki posisi yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh teknologi.


Guru ngaji bukan hanya mengajarkan huruf hijaiyah.


Ia mengajarkan Al-Fatihah agar anak mampu membaca dalam shalat.


Ia mengajarkan wudhu agar anak memahami kesucian.


Ia mengajarkan shalat agar anak mengenal kewajibannya kepada Allah.


Ia mengajarkan adab agar anak tahu bagaimana menghormati orang tua, guru dan sesama.


Dan ketika anak memasuki usia remaja, guru ngaji dapat menjadi tempat bertanya tentang persoalan-persoalan kehidupan yang terkadang tidak mudah mereka sampaikan kepada orang tua.


Karena itu, guru ngaji bukan sekadar pengajar. Ia adalah salah satu penjaga benteng moral masyarakat.


Jangan menunggu remaja meninggalkan masjid


Kita sering berbicara tentang bahaya narkoba, judi online, tawuran, pergaulan bebas dan kecanduan gim.


Semua itu memang harus diperangi.


Namun ada ancaman lain yang jauh lebih sunyi: hilangnya hubungan anak dan remaja dengan Al-Qur’an dan masjid.


Anak yang tidak dibiasakan membaca Al-Qur’an akan kesulitan ketika harus membaca ayat-ayat dalam shalat.


Remaja yang tidak dibiasakan shalat berjamaah akan lebih mudah menganggap shalat sebagai kewajiban yang berat daripada kebutuhan jiwa.


Dan remaja yang tidak memiliki guru agama tempat bertanya akan mencari jawaban melalui internet.


Padahal internet tidak selalu memberikan jawaban yang benar.


Maka membangun kembali pengajian remaja di meunasah sesungguhnya bukan hanya program keagamaan.


Ini adalah program ketahanan generasi.


Tanggung jawab pertama tetap berada di keluarga


Allah SWT berfirman dalam QS At-Tahrim ayat 6:


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”


Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya menyediakan makanan, pakaian, pendidikan formal dan kebutuhan ekonomi.


Ada tanggung jawab untuk menjaga iman dan akhlaknya.


Karena itu, pendidikan agama anak tidak boleh seluruhnya diserahkan kepada sekolah, TPA, dayah atau guru ngaji.


Orang tua adalah madrasah pertama.


Rasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap pembiasaan shalat sejak usia dini. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan agar orang tua memerintahkan anak-anak melaksanakan shalat ketika berusia tujuh tahun.


Pesannya jelas: ibadah perlu diajarkan sekaligus dibiasakan.


Kalau kita ingin remaja Aceh rajin shalat, jangan baru mulai menegur ketika mereka sudah berusia 15 atau 17 tahun.


Pembiasaan itu harus dimulai sejak kecil.


Meunasah jangan hanya menjadi bangunan


Aceh memiliki warisan sosial-keagamaan yang sangat kuat: meunasah.


Dahulu meunasah bukan sekadar tempat shalat.


Ia menjadi pusat pendidikan agama, tempat anak-anak belajar mengaji, tempat pemuda berkumpul, tempat masyarakat bermusyawarah dan tempat nilai-nilai sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Karena itu, revitalisasi meunasah tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan.


Meunasah harus kembali hidup dengan kegiatan.


Salah satunya adalah pengajian anak dan remaja.


Tidak harus setiap malam.


Dua atau tiga kali dalam seminggu pun sudah sangat berarti.


Yang penting ada guru, jadwal, materi, peserta dan kesinambungan.


Dari 6.516 gampong menjadi sebuah gerakan


Di sinilah ICMI Aceh dapat mengambil peran strategis.


ICMI tidak perlu mengambil alih TPA, dayah, masjid atau meunasah yang sudah berjalan. Justru ICMI dapat menjadi penghubung antara intelektual, ulama, pemerintah, perguruan tinggi, dayah, BKM, pemuda dan masyarakat.


Saya membayangkan sebuah gerakan:


Gerakan 6.516 Gampong, 6.516 Meunasah Mengaji


Gerakan ini dapat dimulai dengan enam langkah.


Pertama, pemetaan.


Data seluruh gampong tentang keberadaan TPA, guru ngaji, pengajian anak dan pengajian remaja perlu dihimpun.


Kedua, menghidupkan kembali pengajian remaja.


Jangan sampai anak rajin mengaji ketika SD, tetapi berhenti ketika memasuki SMP dan SMA.


Justru pada usia remaja mereka menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks.


Ketiga, mencetak guru ngaji muda.


Mahasiswa UIN Ar-Raniry, USK dan perguruan tinggi lainnya dapat dilibatkan. Alumni dayah, pemuda masjid dan kader organisasi Islam juga dapat menjadi pendamping.


Keempat, meningkatkan kapasitas guru ngaji.


Guru ngaji perlu dibekali bukan hanya ilmu Al-Qur’an dan dasar-dasar agama, tetapi juga pemahaman tentang psikologi remaja, teknologi, media sosial dan komunikasi generasi digital.


Kelima, memberikan penghargaan yang layak.


Jangan karena guru ngaji mengajarkan agama kemudian pengabdiannya dianggap tidak memerlukan dukungan. Mereka mengabdi, tetapi mereka juga memiliki keluarga dan kebutuhan hidup.


Keenam, menguatkan peran orang tua.


Pengajian di meunasah harus diteruskan dengan pembiasaan di rumah.


Rumah dan meunasah harus menjadi dua benteng yang saling menguatkan.


Sebuah jihad intelektual yang nyata


Gagasan ini terasa relevan dengan semangat Musywil VIII ICMI Aceh.


Kita berbicara tentang kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, pendidikan, pembangunan manusia dan Indonesia Emas 2045.


Semua itu penting.


Namun, pembangunan manusia tidak boleh hanya diukur dari kecerdasan akademik dan kemampuan ekonomi.


Manusia unggul juga harus memiliki iman, akhlak dan tanggung jawab sosial.


Dan generasi seperti itu tidak lahir tiba-tiba.


Ia lahir dari keluarga.

Ia tumbuh di sekolah.

Ia ditempa di dayah.

Ia dibimbing di masjid dan meunasah.

Dan ia diperkuat oleh lingkungan masyarakat.


Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang.


Jangan bertanya hanya:


“Berapa banyak sekolah yang kita bangun?”


Tetapi tanyakan juga:


“Berapa banyak meunasah yang masih terdengar suara anak-anak membaca Al-Qur’an?”


Jangan hanya bertanya:


“Berapa banyak anak yang memiliki gawai?”


Tetapi tanyakan:


“Berapa banyak anak yang memiliki guru ngaji?”


Dan jangan hanya bertanya:


“Apakah anak-anak kita pintar?”


Tanyakan pula:


“Apakah mereka mengenal Allah, mampu membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat dan memiliki akhlak yang baik?”


Sebab membangun peradaban tidak selalu dimulai dari gedung besar.


Kadang ia dimulai dari seorang guru ngaji yang duduk bersila bersama lima orang anak selepas Magrib.


Dari seorang remaja yang kembali membuka Al-Qur’an.


Dari seorang ayah yang bertanya kepada anaknya, “Sudah mengaji hari ini?”


Dan dari sebuah meunasah kecil yang kembali dipenuhi suara ayat-ayat Allah.


6.516 gampong adalah angka.


Tetapi jika di setiap gampong ada guru ngaji, pengajian anak dan remaja, serta meunasah yang hidup, angka itu dapat berubah menjadi kekuatan peradaban.


Maka mari kita mulai.


Saat gawai ramai, meunasah jangan sunyi.


Sebab ketika suara Al-Qur’an semakin hilang dari meunasah, yang sesungguhnya sedang kita kehilangan bukan sekadar sebuah kegiatan.


Kita sedang kehilangan salah satu benteng peradaban Aceh.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 30 Rabiul Awal 1448, 12 September 2026


(Penulis, peserta Musywil ICMI Aceh dari unsur organisasi wilayah ICMI Aceh)


Foto, dari kiri: Prof Sofyan A. Gani, penulis, Prof Yusny Saby, dan Prof Hasanuddin Yusuf Adan

×
Berita Terbaru Update