Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada pidato yang kita dengar dengan telinga, lalu selesai begitu saja.
Tetapi ada pula pidato yang masuk ke dalam hati, mengusik pikiran, bahkan membuat mata berkaca-kaca.
Pidato Wali Kota Banda Aceh, Bunda Illiza Sa’aduddin Djamal, ketika membuka Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) 2026 tingkat Kota Banda Aceh di halaman Masjid Jamik Lueng Bata, Senin, 7 September 2026, termasuk yang kedua.
Saya tidak tahu mengapa mata saya tiba-tiba berair.
Mungkin karena di hadapan saya ada ratusan anak usia dini dengan wajah-wajah polos, ceria dan penuh semangat. Mereka bernyanyi, mengaji, tampil di panggung dan mengikuti perlombaan dengan kegembiraan khas anak-anak.
Tetapi di balik wajah-wajah mungil itu, saya tiba-tiba melihat masa depan.
Saya melihat cucu saya.
Saya melihat anak-anak dan cucu-cucu kaum Muslimin di Aceh.
Dan saya membayangkan: apakah kita sudah benar-benar menyiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang akan mereka masuki?
Pertanyaan itu terasa menakutkan.
Anak-anak kita sedang hidup di atas gunung berapi
Bunda Illiza menyampaikan pesan parenting yang sangat penting: orang tua harus sigap menjaga perjalanan tumbuh kembang dan masa depan anak-anak.
Pesan itu membuat saya membayangkan anak-anak kita seperti sedang hidup di atas gunung berapi.
Gunung itu tidak selalu mengeluarkan asap yang terlihat.
Kadang ia berbentuk narkoba.
Kadang bernama pergaulan bebas.
Kadang muncul dalam bentuk pornografi.
Kadang datang melalui konten media sosial.
Kadang menyamar sebagai hiburan.
Kadang masuk melalui permainan daring.
Kadang hadir sebagai ajakan teman.
Kadang bahkan masuk ke kamar anak kita melalui sebuah benda kecil bernama telepon genggam.
Yang lebih mengerikan, anak-anak kecil itu belum tahu bahwa gunung tersebut berbahaya.
Mereka belum memiliki kemampuan untuk mengenali semua ancaman.
Mereka belum memiliki kematangan berpikir.
Mereka belum mempunyai benteng pertahanan diri yang kokoh.
Maka siapa yang harus berjaga?
Kita.
Orang tua.
Guru.
Ulama.
Masyarakat.
Dan seluruh orang dewasa.
Kita mengetahui bahayanya, mereka belum
Anak usia empat, lima, enam atau tujuh tahun tidak tahu apa itu narkoba.
Mereka tidak mengerti bagaimana pornografi dapat merusak cara berpikir.
Mereka belum memahami manipulasi media sosial.
Mereka belum mengerti bagaimana sebuah pertemanan dapat membawa seseorang kepada kebaikan atau kehancuran.
Mereka belum memahami berbagai risiko kesehatan dan sosial yang dapat muncul ketika memasuki usia remaja.
Mereka hanya ingin bermain.
Mereka ingin dipuji.
Mereka ingin dicintai.
Mereka ingin didengar.
Mereka ingin mencoba sesuatu yang baru.
Dan justru karena itulah mereka membutuhkan kita.
Anak-anak tidak boleh dibebani tanggung jawab untuk mengenali seluruh bahaya dunia sendirian.
Sebab kitalah yang lebih dahulu mengetahui dunia itu.
WHO menegaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting pembentukan perilaku yang dapat memengaruhi kesehatan dan kehidupan seseorang pada masa dewasa. Pada periode ini, berbagai risiko seperti penggunaan zat, kekerasan, perilaku seksual berisiko, masalah kesehatan mental dan cedera perlu mendapat perhatian serius.
Artinya, persoalan yang kita lihat ketika anak sudah remaja sebenarnya sering kali mempunyai akar yang jauh lebih awal.
Karena itu, jangan menunggu anak berusia 15 tahun untuk mengajarinya berkata “tidak”.
Ajarkan sejak usia lima tahun.
Jangan tunggu anak berusia 17 tahun untuk mengenalkan batas pergaulan.
Kenalkan sejak dini.
Jangan menunggu anak kecanduan gawai untuk mengajarkan disiplin digital.
Bangun kebiasaan sejak pertama kali ia mengenal teknologi.
Air tempat anak-anak kita berenang semakin keruh
Ada satu perumpamaan yang terus terbayang dalam pikiran saya.
Bayangkan kita mempunyai ikan kecil.
Ikan itu sehat.
Ikan itu lincah.
Tetapi kita masukkan ia ke dalam kolam yang airnya keruh dan tercemar.
Ikan itu tidak pernah diberi tahu bahwa air tersebut mengandung racun.
Ia hanya berenang karena memang itulah dunianya.
Kalau kemudian ikan itu sakit, apakah kita akan menyalahkannya?
Tentu tidak.
Kita akan memeriksa airnya.
Kita akan mencari sumber pencemarannya.
Kita akan membersihkan kolamnya.
Begitulah seharusnya kita melihat anak-anak.
Anak adalah ikan kecil yang sedang berenang di air kehidupan yang kita ciptakan.
Kalau lingkungan mereka semakin keruh, jangan buru-buru menyalahkan anak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Siapa yang membuat air ini keruh?
Siapa yang membiarkan narkoba beredar?
Siapa yang memproduksi konten pornografi?
Siapa yang mengeksploitasi anak?
Siapa yang menjual rokok kepada anak?
Siapa yang membuat konten buruk menjadi tontonan sehari-hari?
Siapa yang membiarkan anak terlalu lama sendirian bersama gawai?
Dan siapa yang di rumah justru memberikan contoh buruk kepada anak?
Jawabannya sering kali kembali kepada kita: orang-orang dewasa.
Maka jangan sampai orang dewasa membuat dunia anak-anak semakin rusak, lalu orang dewasa pula yang memarahi anak karena menjadi korban kerusakan tersebut.
Indonesia Emas tidak dimulai pada 2045
Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045.
Pidato tentang Indonesia Emas ada di mana-mana.
Tetapi saya ingin bertanya:
Emas seperti apa yang sedang kita persiapkan?
Kalau anak-anak hari ini tidak memiliki akidah yang kokoh, akhlak yang baik, daya tahan mental, kemampuan mengendalikan diri dan kecakapan menggunakan teknologi secara sehat, apakah kita yakin mereka siap menjadi generasi emas?
Anak yang hari ini berusia lima tahun akan berusia sekitar 24 tahun pada 2045.
Yang hari ini berusia sepuluh tahun akan berusia sekitar 29 tahun.
Mereka akan berada pada usia produktif.
Mereka akan menjadi pengambil keputusan.
Mereka akan membangun keluarga.
Mereka akan memimpin lembaga.
Mereka akan mengelola ekonomi.
Mereka akan menentukan arah masyarakat dan bangsa.
Maka Indonesia 2045 sedang tumbuh di depan mata kita hari ini.
Ia sedang berada di ruang keluarga kita.
Ia sedang duduk di kelas PAUD.
Ia sedang belajar membaca Al-Qur’an di TPQ.
Ia sedang berlari di halaman masjid.
Ia bahkan mungkin sedang duduk di samping kita sambil meminta sebuah telepon genggam.
Inilah yang harus kita sadari.
Benteng pertama bernama keluarga
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini seharusnya membuat setiap orang tua berhenti sejenak.
Anak bukan proyek sekolah.
Anak bukan sekadar urusan guru.
Anak bukan tanggung jawab pemerintah.
Anak adalah amanah.
Al-Qur’an bahkan memberikan perintah yang sangat tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6).
Karena itu, benteng pertama bukan pagar rumah.
Benteng pertama adalah akidah.
Benteng kedua adalah akhlak.
Benteng ketiga adalah keteladanan orang tua.
Benteng berikutnya adalah ilmu, komunikasi, disiplin, lingkungan pertemanan dan kemampuan menggunakan teknologi secara sehat.
Jangan menjadi orang tua yang hanya hadir ketika anak sudah jatuh
Inilah salah satu kekeliruan parenting yang harus kita hindari.
Kita baru panik setelah anak terjerumus.
Kita baru bertanya setelah nilainya jatuh.
Kita baru memeriksa pergaulannya setelah muncul masalah.
Kita baru menyita gawai setelah anak kecanduan.
Kita baru mencari bantuan setelah narkoba masuk ke kehidupannya.
Padahal pagar dibuat sebelum jurang, bukan setelah orang jatuh ke dalamnya.
Karena itu orang tua harus hadir lebih awal.
Kenali teman anak.
Kenali guru dan lingkungan belajarnya.
Ketahui apa yang ia tonton.
Dengarkan ceritanya.
Beri ruang bertanya.
Jangan membuat anak merasa bahwa setiap pertanyaan akan dibalas dengan kemarahan.
Sebab kalau rumah tidak menjadi tempat anak bertanya, ia akan mencari jawaban di luar rumah.
Dan kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjawab pertanyaannya.
Ajarkan anak memiliki benteng di dalam dirinya
Pengawasan orang tua memang penting.
Tetapi pengawasan tidak mungkin dilakukan selama 24 jam.
Akan tiba saatnya anak berada jauh dari ayah dan ibunya.
Karena itu tujuan parenting bukan sekadar membuat anak takut kepada orang tua.
Tujuannya adalah membuat anak mampu menjaga dirinya sendiri ketika tidak ada orang tua di sampingnya.
Inilah benteng pertahanan diri.
Ajarkan ia mengenal Allah.
Ajarkan ia malu berbuat dosa.
Ajarkan ia memilih teman.
Ajarkan ia berkata tidak.
Ajarkan ia mengendalikan keinginan.
Ajarkan ia meminta pertolongan ketika menghadapi masalah.
Ajarkan ia bahwa tubuhnya berharga.
Ajarkan ia bahwa dirinya memiliki kehormatan.
Ajarkan ia bahwa tidak semua yang muncul di internet harus dipercaya.
Dan yang paling penting, jadilah contoh dari semua yang kita ajarkan.
Sebab anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Karena itu, FASI bukan sekadar perlombaan
Di sinilah saya melihat pentingnya agenda seperti FASI.
Jangan kita lihat FASI hanya sebagai panggung lomba anak-anak.
Jangan hanya melihat siapa juara satu dan siapa juara dua.
Jangan hanya menghitung piala.
Lihatlah sesuatu yang jauh lebih besar.
Di panggung itu anak belajar berani.
Anak belajar tampil.
Anak belajar membaca Al-Qur’an.
Anak belajar bernyanyi dan bernasyid.
Anak belajar berkompetisi secara sehat.
Anak belajar bersahabat.
Anak belajar mencintai agamanya.
Dan yang paling penting, anak sedang menemukan jalan untuk membangun benteng pertahanan dirinya.
FASI adalah salah satu bentuk ikhtiar agar anak-anak kita tidak tumbuh tanpa arah.
Saya mengapresiasi Bunda Illiza yang mengingatkan persoalan ini dengan suara yang tegas.
Sebab membangun generasi saleh bukan pekerjaan sehari.
Bukan pula pekerjaan satu lembaga.
Ini adalah pekerjaan peradaban.
Wahai para ayah dan ibu, kakek dan nenek, guru, ustaz, ulama dan seluruh orang dewasa:
Berhati-hatilah.
Anak-anak kita sedang menuju masa depan yang kita sendiri belum tahu persis seperti apa bentuknya.
Jangan biarkan mereka berjalan tanpa kompas.
Jangan biarkan mereka berenang dalam air yang keruh.
Jangan biarkan mereka hidup di lereng gunung berapi tanpa benteng.
Kita tahu bahayanya. Mereka belum.
Maka sebelum mereka tumbuh besar, sebelum mereka memasuki dunia remaja, sebelum mereka menjadi pemuda, sebelum mereka menjadi manusia produktif Indonesia 2045, bangunlah benteng itu sekarang.
Sebab ketika anak sudah dewasa, sering kali kita hanya bisa memanen apa yang kita tanam ketika mereka masih kecil.
Dan masa depan anak-anak kita sesungguhnya sedang kita tanam hari ini.
Wallahu a’lam
Darussalam 8 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)
