Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada persahabatan yang lahir dari ruang kuliah. Ada yang tumbuh dari organisasi. Ada pula yang justru ditempa oleh kehidupan sehari-hari: tinggal bertetangga, makan bersama, saling menolong, bahkan sama-sama mencari tambahan uang untuk menyambung kehidupan sebagai mahasiswa.
Persahabatan saya dengan Prof. Adli Abdullah termasuk yang terakhir itu.
Sekitar pertengahan 1992 hingga akhir 1994, saya dan istri tinggal bersebelahan dengan Adli dan istrinya di sebuah paviliun rumah dinas Dato’ Wan Abdul Wahid —Sekjen Kementerian Tanah dan Koperasi— di Jalan Ledang, Kuala Lumpur. Letaknya persis di belakang gedung Parlemen Malaysia. Kini kawasan itu sudah berubah menjadi kawasan mewah. Tetapi bagi kami, tempat tersebut tetap menjadi rumah kenangan—tempat dua keluarga muda menjalani hari-hari sebagai mahasiswa S2 di International Islamic University Malaysia (IIUM).
Di sela-sela kesibukan kuliah, saya dan Adli menjadi “pengusaha kecil” dadakan. Kami menjual obat secara keliling menggunakan sepeda motor, terutama ke lokasi-lokasi pembangunan yang banyak dihuni pekerja Indonesia. Mereka sulit keluar dari tempat kerja, sehingga kami datang menawarkan obat. Lumayan laku, lumayan pula hasilnya untuk menambah uang belanja.
Kalau saya berjualan, sesekali saya tertangkap polis. Adli biasanya lebih beruntung. Mungkin karena senyumnya manis dan wajahnya lugu, mungkin karena gaya bicaranya yang cakologis, atau mungkin memang ia punya bakat diplomasi tingkat tinggi.
Salah satu buktinya terjadi saat Lebaran.
Kami berempat suami isteri pergi ke Kuantan, Pahang, menggunakan mobil VW milik Dato’ Wan. Dato’ dan Datin beserta keluarga sudah pulang lebih dahulu. Saya satu-satunya yang bisa menyetir, tetapi masalahnya saya tidak memiliki SIM Malaysia. Maka saya menjadi sopir sekaligus orang yang paling deg-degan.
Adli duduk sebagai navigator. “Kiri… kiri… kanan… awas ada tanjakan!” Ia menjadi penumpang paling sibuk.
Selepas melewati Genting Island, jalan mulai sepi. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat pos pemeriksaan polisi.
Adli mendadak panik.
“Tgk Fuddin, pakai peci! Pakai peci!”
Saya tidak mengerti apa hubungannya peci dengan polisi. Tetapi Adli sudah sibuk meminta istrinya mencari peci putih di tas belakang. Mobil semakin dekat. Kaca jendela sudah saya turunkan. Polisi semakin dekat.
Saya pasrah. Dalam pikiran saya: selesai sudah hari ini!
Untung peci ditemukan. Adli langsung mengenakannya—meski agak miring—lalu ketika polisi mendekat, ia menyapa dengan santai:
“Assalamu’alaikum.”
Polisi menjawab, “Wa’alaikumussalam.”
“Ke mana?”
“Nak ke Kuantan, silaturrahim keluarga lah.”
Polisi melihat ke dalam mobil. Lalu dengan ramah berkata, “Sila, baik-baik ya.”
Kami pun melaju.
Saya masih tertegun. Mungkin lima detik tadi saya tidak ingat membaca zikir, ayat Al-Qur’an, apalagi selawat agar terlepas dari kesulitan.
Setelah agak jauh, Adli tertawa lepas.
“Alhamdulillah!”
Kami semua ikut tertawa.
Saat itulah saya semakin mengenal Adli: ia memang rajanya cagok. Batu karang yang keras dihadapinya dengan kelembutan. Ia punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Bahkan peci putih pun bisa menjadi bagian dari strategi diplomasi.
Ada satu hal di Kuantan, banyak makanan lebaran disajikan di rumah keluarga Dato’ dan Datin kecuali nasi karena rupanya kalau lebaran orang itu tidak makan nasi memadai dengan hidangan lebaran. Kami makan seperti tamu dan keluarga yang lain, tetapi pas waktu setelah shalat zuhur tiba Adli bilang ke isterinya “lapar”, belum makan nasi.
Setengah kaget Datin mendengar.
“Memanglah orang Aceh satu ini wajiblah makan nasi”.
Sambil Datin terus beranjak menanak nasi.
Adli juga take it easy sekaligus easy going.
Ketika istrinya pulang ke Aceh untuk melahirkan, saya pernah melihatnya menyapu lantai kamar dengan kain pel. Ketika ditanya istri saya mengapa tidak memakai sapu, jawabannya polos, “Sapunya hilang.”
Padahal sapunya ada di situ!
Pernah pula ia dinasihati isteri saya agar sedikit gemuk dengan minum susu segar. Karena dia kurus kala itu. Nasihat itu ia ikuti dengan penuh kesungguhan. Terlalu sungguh-sungguh malah.
Suatu pagi terdengar teriakannya, “Kak Lina, saya mencret, tak berhenti-henti!”
Rupanya susu segar diminumnya terlalu banyak. Niat mau gemuk, malah mencret. Jadi tambah kurus dia pagi itu. Sejak itu mungkin ia belajar bahwa segala sesuatu, termasuk susu, ada takarannya.
Tetapi di balik kelucuan itu ada sesuatu yang lebih serius: Adli adalah orang yang senang membantu.
Uangnya sering habis membantu teman. Bahkan kadang ia sendiri tidak tahu ke mana uangnya pergi. Ia juga pelupa berat. Anehnya, sifat pelupa itu justru menjadi berkah dalam hubungan sosialnya. Kesalahan orang lain mudah ia lupakan. Yang lebih lama ia ingat justru kebaikan orang.
Barangkali itulah salah satu rahasia perjalanan hidupnya.
Hari ini Adli telah menjadi profesor. Jabatan akademik tertinggi yang tentu tidak mudah diraih. Tetapi ketika melihat perjalanan panjangnya, saya merasa keberhasilan Adli bukan karena ia manusia tanpa kekurangan.
Justru sebaliknya.
Ia memiliki kelemahan, tetapi tidak pernah sibuk menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk berhenti. Ia memiliki kekurangan, tetapi tidak menjadikannya beban yang harus terus dipikirkan. Ia berjalan saja. Belajar saja. Membantu orang saja. Menjalani hidup dengan ringan, tetapi tetap bergerak maju.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang saya dapat dari seorang sahabat lama bernama Adli Abdullah.
Orang hebat bukan selalu orang yang tidak memiliki kekurangan. Orang hebat adalah orang yang tidak membiarkan kekurangannya menghalangi langkahnya.
Anak-anak saya dulu memanggilnya “Abucut”, karena saat itu tubuhnya memang masih cut alias kecil. Tetapi bagi keluarga kami, Abucut bukan sekadar tetangga. Ia sudah menjadi bagian dari keluarga kecil kami di Kuala Lumpur.
Dari penjual obat eceran di antara bangunan-bangunan pekerja Indonesia, dari perjalanan Lebaran dengan peci miring, dari susu yang berujung mencret, dari sapu yang katanya hilang, hingga akhirnya berdiri sebagai profesor—ternyata hidup memang menyimpan jalan yang tidak pernah bisa kita tebak.
Yang kita perlukan hanyalah terus berjalan.
Prof Adli, sahabatku, semoga tetap menjadi Adli yang dulu: sederhana, lugu, easy going, suka membantu, mudah memaafkan, dan tidak terlalu sibuk menghitung kelemahan diri sendiri.
Karena mungkin justru itulah kekuatanmu.
Selamat, Prof. Adli Abdullah. Teruslah sukses dan semoga perjalanan akademik, persahabatan, dan pengabdianmu selalu dipenuhi keberkahan Allah SWT.
Dari seorang sahabat lama yang pernah menjadi teman seperjuangan, teman jualan obat keliling, dan teman satu mobil tanpa SIM Malaysia.
Indrapuri 6 Sept 2026
(Kami yang ikut mendoakan keberkahan: Saif, Kak Lina, Wilda, Yasar, Fitri, Musabiq, Asyraf, Arsyad, Rania, Zayyan)
