-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Meninggal dalam Tugas, Mungkinkah Itu Jalan Husnul Khatimah?

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T06:28:32Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Kematian selalu datang tanpa janji. Ia tidak menunggu seseorang selesai bekerja, selesai menikmati harta, selesai membangun rumah, selesai meraih jabatan, atau selesai membesarkan anak-anak.


Ia datang pada waktunya.


Yang sering tidak kita pikirkan adalah: dalam keadaan seperti apa kita ingin dijemput kematian?


Pertanyaan itu tiba-tiba terasa begitu dekat dalam ta’ziyah ke kediaman keluarga almarhum Nasruddin Abu Syamah di Banda Aceh, Rabu, 9 September 2026. Di tengah suasana duka, Wakil Rektor II UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Khairuddin, menyampaikan sambutan yang menurut saya layak dibawa pulang oleh setiap orang yang masih diberi umur.


Beliau mengatakan, kematian terbaik adalah husnul khatimah. Seseorang yang meninggal ketika sedang melaksanakan tugas, apabila pekerjaannya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah, memiliki harapan besar mendapatkan akhir kehidupan yang baik.


Kalimat itu sederhana.


Tetapi kalau direnungkan dalam-dalam, ia mengguncang cara kita memandang pekerjaan.


Jangan bertanya, “Kapan ibadah kalau setiap hari bekerja?”


Sebab boleh jadi jawabannya justru:


“Bekerja itulah ibadah.”


Tentu bukan semua pekerjaan otomatis menjadi ibadah. Pekerjaan menjadi ibadah apabila niatnya benar, caranya halal, amanah ditunaikan, tidak menzalimi orang lain, dan hasilnya memberi manfaat.


Di situlah saya melihat kematian almarhum Nasruddin Abu Syamah dari sisi yang berbeda.


Beliau berpulang ketika sedang menjalankan tugas.


Kita tidak boleh memastikan seseorang telah mendapatkan husnul khatimah, karena keputusan itu sepenuhnya milik Allah. Tetapi kita boleh berharap. Kita boleh berbaik sangka kepada Allah. Bahkan kita dapat bersaksi atas apa yang kita lihat dari kehidupan seseorang.


Dan kita berharap, dengan iradah Allah, kepergian beliau dalam keadaan sedang menjalankan amanah pekerjaan menjadi bagian dari akhir kehidupan yang baik.


Jangan pisahkan kantor dari ibadah


Barangkali salah satu kekeliruan kita selama ini adalah memisahkan terlalu tajam antara “ibadah” dan “bekerja”.


Ibadah kita letakkan di masjid.

Pekerjaan kita letakkan di kantor.


Padahal Islam tidak mengenal pemisahan kehidupan seperti itu.


Shalat adalah ibadah.

Tetapi mengajar dengan ikhlas juga dapat menjadi ibadah.

Membimbing mahasiswa adalah ibadah.

Melayani masyarakat adalah ibadah.

Mengurus administrasi dengan jujur adalah ibadah.

Mencari nafkah untuk keluarga adalah ibadah.

Menjalankan jabatan dengan amanah adalah ibadah.


Bahkan seseorang yang duduk berjam-jam menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan, jika ia melakukannya dengan niat yang benar dan untuk kemaslahatan, tidak sedang berada di luar wilayah ibadah.


Allah berfirman:


“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…”

(QS. At-Taubah: 105)


Ayat ini seharusnya membuat kita malu jika bekerja sekadar untuk dilihat manusia.


Sebab yang pertama-tama melihat pekerjaan kita bukan atasan, bukan rektor, bukan dekan, bukan pimpinan lembaga.


Allah melihatnya.


Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa nilai amal sangat bergantung pada niatnya:


“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Maka dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama, tetapi memperoleh nilai yang berbeda.


Yang satu bekerja demi gaji semata.

Yang lain bekerja mencari rezeki halal sekaligus ingin memberi manfaat.


Yang satu mengajar karena kewajiban.

Yang lain mengajar karena ingin mencerdaskan generasi.


Yang satu melayani karena takut dimarahi atasan.

Yang lain melayani karena merasa sedang menunaikan amanah.


Pekerjaannya sama. Nilai di sisi Allah bisa berbeda.


Apa ciri pekerjaan yang menjadi ibadah?


Ada beberapa tanda yang patut kita periksa pada diri sendiri.


Pertama, niatnya benar.


Kedua, pekerjaannya halal. Tidak mungkin pekerjaan yang dibangun di atas penipuan, korupsi dan kezaliman kemudian kita klaim sebagai ibadah.


Ketiga, amanah. Allah memerintahkan manusia menunaikan amanah kepada yang berhak.


Keempat, profesional dan bersungguh-sungguh. Islam tidak mengajarkan bekerja asal selesai.


Kelima, memberikan manfaat. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.


Keenam, tidak membuat kita melupakan Allah.


Inilah ujian yang sesungguhnya.


Jangan sampai kita begitu sibuk bekerja untuk Allah sampai lupa Allah.


Jangan sampai kita sibuk mencari rezeki halal tetapi meninggalkan shalat.


Jangan sampai mengejar karier membuat keluarga terlantar.


Jangan sampai mengejar jabatan membuat kita kehilangan kejujuran.


Sebab ibadah bukan hanya soal apa yang kita kerjakan, tetapi juga bagaimana kita mengerjakannya dan apa yang pekerjaan itu lakukan terhadap hati kita.


Hidup ini hanya sekejap


Pesan tersebut semakin dalam dalam tausiyah ta’ziyah yang disampaikan dai kondang Ustaz Fahmi Sofyan.


Ta’ziyah bersama Biro Rektor, Fakultas Psikologi dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry itu mempertemukan para pimpinan, dekan, pejabat, karyawan, dan keluarga besar kampus. Almarhum Nasruddin Abu Syamah memang memiliki homebase di kedua fakultas tersebut.


Ustaz Fahmi Sofyan dalam tausiyah beliau pada kesempatan yang sama mengingatkan sesuatu yang sebenarnya kita semua tahu, tetapi sering kita lupakan:

Dunia ini hanya sebentar.

Kita hidup seakan-akan akan tinggal selamanya.


Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Mengejar jabatan setinggi-tingginya.

Membangun rumah sebesar-besarnya.

Memperluas usaha.

Memperbanyak keinginan.

Padahal usia terus berkurang.


Yang bertambah bukan hanya umur.

Yang sesungguhnya berkurang adalah jatah umur kita.


Karena itu, pesan Ustaz Fahmi terasa menusuk: jangan terlalu banyak berhura-hura. Jadikan semua aktivitas sebagai ibadah.


Kita boleh mencari harta.

Bahkan Islam tidak melarang menjadi kaya.


Tetapi, sebagaimana pesan beliau, jangan sampai harta masuk ke hati. Biarlah harta berada di tangan, dikelola dengan baik, digunakan untuk keluarga, membantu orang lain dan menjadi jalan kebaikan.


Sebab persoalannya bukan berapa banyak harta yang kita miliki, melainkan berapa banyak harta yang berhasil kita ubah menjadi amal.


Harta di tangan, bukan di hati


Ada orang miskin yang hatinya penuh harta.


Ada orang kaya yang hatinya ringan terhadap harta.


Yang pertama mungkin memiliki sedikit, tetapi hidupnya dikuasai keinginan memiliki.


Yang kedua mungkin memiliki banyak, tetapi hartanya berada di tangannya, bukan di hatinya.


Itulah barangkali makna zuhud yang sering keliru kita pahami.


Zuhud bukan berarti tidak boleh memiliki.


Zuhud adalah tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki.


Begitu pula keluarga. Dalam selingan yang ringan tetapi penuh pesan, Ustaz Fahmi bahkan menyampaikan bahwa menambah istri pun boleh, tetapi tanggung jawab jangan asal-asalan.


Pesannya bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh.


Pesannya adalah: apa pun yang kita pilih dalam kehidupan, harus siap kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Keluarga adalah amanah.

Harta adalah amanah.

Jabatan adalah amanah.

Ilmu adalah amanah.

Pekerjaan adalah amanah.

Dan umur adalah amanah yang paling mahal.


Husnul khatimah dimulai sejak sekarang


Kita sering berbicara tentang husnul khatimah seolah-olah ia baru dimulai beberapa menit sebelum kematian.


Tidak.


Husnul khatimah sesungguhnya dipersiapkan sepanjang hidup.


Orang yang ingin mati dalam keadaan baik harus membiasakan hidup dalam kebaikan.


Orang yang ingin mati dalam keadaan beriman harus menjaga imannya sejak sekarang.


Orang yang ingin mati dalam keadaan beribadah harus membiasakan dirinya beribadah sejak sekarang.


Orang yang ingin mati dengan hati bersih harus belajar membersihkan hati sejak sekarang.


Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari cara mati yang indah, tetapi lupa membangun cara hidup yang indah.


Para ulama menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda yang diharapkan dari husnul khatimah adalah seseorang meninggal dalam keadaan beriman, istiqamah dalam ketaatan, dan berada dalam amal saleh.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka…”

(QS. Fussilat: 30)


Kata yang penting di sana adalah istiqamah.


Bukan hanya rajin sesekali.

Bukan baik hanya ketika sedang mendapat musibah.

Bukan rajin beribadah hanya ketika sedang takut mati.

Tetapi terus berjalan dalam kebaikan.


Nasruddin meninggalkan pertanyaan untuk kita


Mungkin inilah hadiah paling besar dari sebuah kematian.


Orang yang telah meninggal tidak lagi dapat memperbaiki amalnya.


Tetapi orang yang datang berta’ziyah masih diberi kesempatan.


Almarhum Nasruddin tidak lagi dapat kembali ke kantor untuk memperbaiki niat.

Kita masih bisa.


Beliau tidak lagi dapat menambah amal.

Kita masih bisa.


Beliau tidak lagi dapat meminta maaf kepada orang lain.

Kita masih bisa.


Beliau tidak lagi dapat mengubah pekerjaan menjadi ibadah.

Kita masih bisa.


Maka jangan hanya kita doakan orang yang telah pergi.

Biarkan kematiannya juga mengubah kita yang masih hidup.


Barangkali itulah makna terdalam sebuah ta’ziyah.


Kita datang untuk menghibur keluarga yang kehilangan, tetapi sebenarnya kita juga sedang datang untuk diingatkan bahwa suatu hari nanti giliran kita yang dita’ziyahkan.


Hari ini kita berdiri di rumah duka.

Suatu hari mungkin orang lain berdiri di rumah kita.


Hari ini kita membaca doa untuk almarhum.

Suatu hari mungkin orang lain membaca doa untuk kita.


Hari ini kita mengantarkan orang ke kubur.

Suatu hari kita yang diantarkan.


Pertanyaannya tinggal satu:

Ketika saat itu datang, kita sedang membawa apa?


Jabatan tidak ikut masuk liang lahat.

Gelar akademik tidak ikut masuk liang lahat.

Rumah tidak ikut masuk liang lahat.

Mobil tidak ikut masuk liang lahat.

Harta tidak ikut masuk liang lahat.


Yang ikut hanyalah amal.


Maka sungguh beruntung seseorang yang menghabiskan hidupnya dalam pekerjaan yang menjadi ibadah, amanah yang menjadi amal, ilmu yang menjadi manfaat, harta yang menjadi sedekah, dan keluarga yang menjadi ladang pahala.


Dan sungguh indah jika Allah menjemputnya ketika ia sedang berada di jalan itu.


Kita tidak tahu kapan kematian akan datang.


Tetapi kita dapat memilih sedang apa kita ketika ia datang.


Semoga Allah mengampuni almarhum Nasruddin Abu Syamah, menerima amal kebajikannya, melapangkan kuburnya dan menempatkannya bersama orang-orang saleh.


Dan untuk kita yang masih diberi kesempatan hidup, mari belajar dari kepergian beliau:


Jangan menunggu tua untuk beribadah. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu pensiun untuk berbuat baik. Dan jangan menunggu kematian mendekat untuk memperbaiki hidup.


Bekerjalah dengan niat ibadah. Jalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Jadikan harta di tangan, bukan di hati. Jadikan seluruh aktivitas sebagai bekal akhirat.


Sebab kita tidak pernah tahu:


Boleh jadi pekerjaan yang sedang kita keluhkan hari ini justru menjadi amal terakhir yang mengantarkan kita menuju husnul khatimah.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 27 Rabiul Awal 1448, 9 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)


Foto: Prof Khairuddin dan Isteri Almarhum Pak Nas

×
Berita Terbaru Update