Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada kalimat yang selesai diucapkan, lalu selesai pula didengar. Tetapi ada kalimat yang selesai diucapkan, justru baru mulai bekerja di dalam pikiran.
Pernyataan KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam momentum seabad Gontor, termasuk jenis yang kedua. Ia bukan sekadar kalimat. Ia seperti palu yang mengetuk kesadaran, atau bait-bait syair yang mengalir dari seorang faqih yang fasih ilmunya, sahih keyakinannya, kokoh prinsipnya, tetapi tetap santun dalam menyampaikannya.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para tamu undangan, Kiai Hasan melontarkan ungkapan yang kemudian beredar luas di media sosial: “Kau besar aku tak berlindung, kau kuat aku tak gentar, kau kaya aku tak meminta. Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah.”
Kalimat itu memang singkat. Namun, semakin direnungkan, semakin panjang gema maknanya.
Saya justru menangkap bait-bait itu bukan semata-mata ditujukan kepada orang besar di luar sana. Sepertinya beliau sedang berbicara lebih jauh kepada anak-anaknya sendiri: para santri, guru, dan alumni Gontor.
Seolah-olah beliau sedang berpesan: jadilah manusia yang besar jiwanya. Jangan menjadi kecil hanya karena berhadapan dengan kebesaran dunia.
Maka kita pun seperti banyak orang lainnya: berhenti sejenak, menyimak bait demi bait dengan teliti. Kagum, tetapi tidak cukup berhenti pada kekaguman. Sebab di balik kalimat yang pendek itu terdapat bangunan tauhid, harga diri, kemandirian, dan akhlak.
Kau Besar, Aku Tak Berlindung
Inilah bait pertama.
Kebesaran manusia tidak boleh membuat manusia lain kehilangan martabatnya. Jabatan boleh tinggi, pengaruh boleh luas, kekuasaan boleh besar, tetapi semuanya tetap berada dalam genggaman Allah.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
(QS Ali ‘Imran: 26).
Karena itu, seorang Muslim boleh menghormati orang besar, tetapi tidak boleh mempertuhankan kebesarannya. Hormat bukan menyembah. Taat kepada pemimpin dalam perkara yang benar bukan berarti menggantungkan kehormatan diri kepada pemimpin.
Di sinilah letak keindahan kalimat Kiai Hasan.
Kau besar, aku tak berlindung.
Bukan berarti memusuhi orang besar. Bukan pula mengajarkan kesombongan kepada yang lebih berkuasa. Maknanya lebih dalam: perlindungan terakhir seorang manusia bukanlah manusia, tetapi Allah.
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS Ali ‘Imran ayat 26 menjelaskan bahwa seluruh kerajaan dan kekuasaan pada hakikatnya berada di tangan Allah. Manusia hanya menerima amanah kekuasaan untuk suatu masa.
Maka santri boleh berhadapan dengan pejabat tanpa merasa hina, tetapi juga boleh duduk bersama rakyat kecil tanpa merasa tinggi.
Itulah kemerdekaan jiwa.
Kau Kuat, Aku Tak Gentar
Bait kedua lebih menggigit.
Kekuatan dunia sering membuat manusia lain takut. Orang yang memiliki kekuasaan, uang, jaringan, jabatan, atau pengaruh dapat membuat banyak orang memilih diam meskipun mengetahui sesuatu yang benar.
Al-Qur’an memberikan obatnya:
“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman.”
(QS Ali ‘Imran: 175).
Takut kepada Allah tidak melahirkan manusia pengecut. Justru sebaliknya, takut kepada Allah membebaskan manusia dari ketakutan kepada selain-Nya.
Rasulullah SAW juga memberikan penghargaan tinggi kepada keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.
Tetapi di sinilah akhlak harus menjadi rem.
Tidak gentar bukan berarti kasar.
Tidak takut bukan berarti tidak sopan.
Tegas bukan berarti menghina.
Seorang Muslim yang benar-benar merdeka justru semakin santun karena ia tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk meninggikan dirinya.
Kau Kaya, Aku Tak Meminta
Bait ketiga menyentuh penyakit manusia yang sangat tua: ketergantungan kepada kekayaan orang lain.
Islam tidak mengharamkan kekayaan. Islam justru memuji tangan yang memberi. Tetapi Islam tidak ingin manusia kehilangan harga dirinya karena mengejar pemberian.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Pesannya jelas: jadilah manusia yang mampu memberi, bukan manusia yang hidup dengan menengadahkan tangan.
Karena itu, “kau kaya aku tak meminta” bukan ajakan menjadi anti-orang kaya. Ini adalah pendidikan mental agar seseorang tidak menjual prinsip demi fasilitas.
Ada orang yang tidak memiliki banyak harta tetapi kaya harga diri.
Ada pula yang memiliki banyak harta tetapi miskin kemerdekaan jiwa.
Kemandirian seperti inilah yang sejak lama menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren: belajar berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada belas kasihan manusia, dan menjadikan kemampuan memberi sebagai kemuliaan.
Maka santri dididik bukan hanya untuk bertanya:
“Apa yang akan saya dapat?”
Tetapi lebih dahulu bertanya:
“Apa yang dapat saya berikan?”
Di Atas Hanya Allah, di Bawah Hanya Tanah
Inilah mahkota dari seluruh bait.
Kalimat ini sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam.
Di atas hanya Allah.
Artinya, jangan ada sesuatu pun yang ditempatkan sebagai tandingan Allah dalam penghambaan, ketundukan, dan ketergantungan hati.
Di bawah hanya tanah.
Artinya, setinggi apa pun manusia terbang dengan jabatan, kekayaan, popularitas, dan pengaruh, tempat akhirnya tetap sama: tanah.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Semua yang ada di atas bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS Ar-Rahman: 26–27).
Maka kalimat itu bukan slogan kosong.
Ia adalah kompas vertikal sekaligus rem horizontal.
Vertikalnya: hanya Allah yang menjadi tujuan tertinggi.
Horizontalnya: manusia harus sadar bahwa dirinya sama-sama akan kembali menjadi tanah.
Karena itu, semakin tinggi seseorang, seharusnya semakin rendah hati.
Semakin kuat, semakin mampu melindungi yang lemah.
Semakin kaya, semakin banyak memberi.
Semakin berilmu, semakin santun.
Semakin tinggi jabatan, semakin besar kesediaan untuk dikritik.
Di situlah kekuatan sebuah prinsip menemukan keindahannya: kokoh tanpa congkak, tegas tanpa kasar, berani tanpa arogan.
Tegas karena Iman, Luas karena Ilmu
Saya melihat kekuatan ucapan Kiai Hasan bukan semata-mata karena suara yang lantang atau pilihan kata yang tajam.
Kekuatan itu justru muncul karena fondasinya iman, cakrawalanya ilmu, dan pengendalinya akhlak.
Imam Al-Ghazali banyak mengingatkan bahwa ilmu semestinya melahirkan perubahan diri dan amal. Ilmu yang benar tidak membuat seseorang semakin merasa besar di hadapan manusia, tetapi semakin sadar akan kebesaran Allah.
Karena itu, generasi Muslim tidak cukup meniru nada ketegasan Kiai Hasan.
Yang jauh lebih penting adalah meniru akar ketegasannya.
Jangan hanya meniru kalimatnya.
Tiru tauhidnya.
Jangan hanya meniru keberaniannya.
Tiru kedalaman ilmunya.
Jangan hanya meniru ketegasannya.
Tiru akhlaknya.
Jangan hanya meniru keberaniannya berkata “tidak”.
Pelajari terlebih dahulu kapan harus berkata “tidak”, kepada siapa, untuk apa, dan dengan cara bagaimana.
Sebab keberanian tanpa ilmu dapat berubah menjadi kecerobohan. Ketegasan tanpa akhlak dapat berubah menjadi kesombongan. Kemandirian tanpa tawakal dapat berubah menjadi keangkuhan.
Lima Jalan untuk Generasi Muslim
Apa yang dapat kita wariskan dari semangat itu kepada generasi Muslim?
Pertama, kuatkan tauhid sebelum membangun keberanian.
Anak-anak kita harus belajar bahwa yang paling besar bukan jabatan manusia, melainkan Allah. Dengan tauhid yang kokoh, mereka tidak mudah silau oleh popularitas dan tidak mudah tunduk kepada tekanan.
Kedua, bangun harga diri tanpa membangun kesombongan.
Ajarkan anak untuk menghormati orang kaya tanpa merasa rendah, menghormati pejabat tanpa menjilat, dan menghormati ulama tanpa kehilangan daya kritis.
Ketiga, biasakan hidup mandiri.
Tidak semua kebutuhan harus dicari dari orang lain. Belajar, bekerja, berkarya, berusaha, dan memberi harus menjadi budaya generasi Muslim.
Keempat, latih keberanian menyampaikan kebenaran dengan adab.
Kebenaran tidak memerlukan makian. Ketegasan tidak membutuhkan penghinaan. Kritik yang baik justru lahir dari kepedulian.
Kelima, tanamkan kesadaran bahwa semua akan kembali menjadi tanah.
Ini obat paling sederhana bagi kesombongan. Ketika manusia mengingat tanah tempat kembalinya, ia akan lebih berhati-hati ketika berdiri di atas panggung dunia.
Maka, jika ada yang bertanya apa yang membuat seorang Kiai Hasan Abdullah Sahal tampak begitu tegak di hadapan kebesaran dunia, barangkali jawabannya bukan karena beliau merasa lebih besar daripada dunia.
Justru karena beliau tahu bahwa di atas dunia ada Allah dan di bawah manusia ada tanah.
Itulah sebabnya kalimatnya terasa seperti bait syair yang tidak mudah dipatahkan. Mengalir, tetapi menghantam. Tegas, tetapi tidak kehilangan adab. Pendek, tetapi panjang gema maknanya.
Seakan-akan tidak ada titah raja sekalipun yang mampu menghentikan bait-bait itu ketika keyakinan telah menemukan bahasanya.
Kiai Hasan adalah salah seorang guru bangsa yang telah menghabiskan usia untuk pendidikan, pesantren, santri, umat, dan bangsa. Kita berdoa, semoga Allah SWT menganugerahkan kepada beliau kesehatan yang prima, umur yang penuh keberkahan, dan kekuatan untuk terus menyalakan api perjuangan.
Usianya mungkin tidak lagi muda.
Tetapi semangatnya masih membara.
Seperti tebing karang yang diterpa ombak, tetapi tidak runtuh.
Ditempa badai, tetapi tidak roboh.
Barangkali begitulah gambaran manusia yang telah lama ditempa oleh iman, ilmu, pengabdian, disiplin, dan keikhlasan.
Tidak basah oleh hujan pujian.
Tidak kuyup oleh keringat perjuangan.
Tidak silau oleh kebesaran dunia.
Tidak gentar oleh kekuatan manusia.
Tidak meminta-minta kepada kekayaan.
Sebab kompas hidupnya sederhana:
Di atas hanya Allah.
Di bawah hanya tanah.
Tugas kita bukan sekadar mengagumi kalimat itu.
Tugas kita adalah menjadikannya karakter.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar membaca dunia. Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan dunia.
Dan kepada generasi itulah semangat Kiai Hasan layak diwariskan:
beriman dalam prinsip, berilmu dalam berpikir, mandiri dalam berdiri, berani dalam kebenaran, dan santun dalam pergaulan.
Semoga lahir dari rahim pendidikan kita anak-anak muda yang besar jiwanya, luas ilmunya, bersih hatinya, tinggi cita-citanya, dan kokoh pendiriannya.
Generasi yang ketika berhadapan dengan kebesaran dunia tidak menyembahnya; ketika berhadapan dengan kekuatan tidak gentar; ketika berhadapan dengan kekayaan tidak mengemis; dan ketika mencapai ketinggian tidak lupa bahwa di bawahnya tetap menunggu tanah.
Di atas hanya Allah.
Di bawah hanya tanah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Darussalam 17 Rabiul Akhir 1448, 28 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
