-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Tetangga Bisa Saling Menguatkan

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T23:22:54Z


Refleksi Ngopi Bersama Imeum Mukim Lhoknga


Oleh Saifuddin A Rasyid 

Al-Rasyid.id | Kamis siang, 8 Oktober 2026, saya kembali duduk ngopi bersama Imeum Mukim Lhoknga, Pak Firdaus Akbar. Tempatnya sederhana, sebuah warung kopi dekat kediaman beliau di Lampaya, Lhoknga. Tempat yang dulu juga biasa kami datangi untuk berbincang, ketika saya masih aktif bekerja di lingkungan pabrik Semen Andalas.


Kali ini obrolan kami mengalir ringan, tetapi membawa pesan yang cukup dalam tentang hubungan masyarakat Lhoknga dengan pabrik yang sekarang bernama PT Solusi Bangun Andalas (SBA).


Pak Mukim menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang menurut saya menarik untuk direnungkan.


Hubungan masyarakat dengan pabrik, katanya, “lumayan aman dan tenang.” Berbeda dengan masa lalu ketika saya masih aktif di perusahaan. Dulu, menurut beliau, hubungan itu lebih dinamis. Sekarang lebih tenang.


Saya tersenyum mendengarnya.


Bukan karena “tenang” berarti tidak ada persoalan. Justru dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat yang hidup bertetangga, ketenangan adalah salah satu indikator bahwa mekanisme komunikasi, kepercayaan dan penyelesaian persoalan berjalan semakin baik.


Kemukiman Lhoknga dengan empat gampong di dalamnya merupakan salah satu kawasan yang berada dalam lingkar utama wilayah operasional plant SBA. Karena itu, hubungan keduanya tidak mungkin hanya dibangun melalui surat-menyurat, seremoni, atau program bantuan. Ia harus dibangun melalui hubungan sosial yang terus-menerus.


Dalam perspektif stakeholder theory yang dikembangkan R. Edward Freeman, perusahaan tidak berdiri sendirian. Masyarakat, pemerintah, pekerja, pemasok, konsumen dan berbagai kelompok yang dipengaruhi atau memengaruhi perusahaan merupakan bagian dari ekosistem pemangku kepentingan. Keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang sangat terkait dengan kemampuan mengelola hubungan tersebut. 


Maka hubungan perusahaan dan masyarakat sesungguhnya bukan hubungan “pemberi” dan “penerima”. Lebih tepat kalau disebut hubungan para tetangga yang memiliki kepentingan untuk hidup berdampingan secara sehat.


Dari Konflik ke Komunikasi


Mengapa sebuah hubungan yang dahulu dinamis bisa menjadi lebih tenang?


Ada banyak kemungkinan. Tetapi dalam manajemen hubungan masyarakat, beberapa faktor biasanya sangat menentukan: komunikasi terbuka, kepercayaan, respons terhadap aspirasi, konsistensi program, keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan sebelum menjadi konflik.


Di sinilah saya melihat pentingnya komunikasi yang tidak hanya dilakukan ketika perusahaan memiliki program.


Perusahaan jangan hanya datang kepada masyarakat ketika hendak memberikan bantuan. Masyarakat juga jangan hanya datang kepada perusahaan ketika membutuhkan bantuan.


Hubungan yang sehat justru terjadi ketika kedua belah pihak terbiasa duduk bersama sebelum persoalan menjadi besar.


Menariknya, SBA pada 23 September lalu juga menggelar Forum Konsultasi Masyarakat (FKM) di Lhoknga dan Leupung. Forum tersebut secara eksplisit ditempatkan sebagai ruang komunikasi dua arah untuk menyerap aspirasi, mengevaluasi program CSR dan memperkuat kolaborasi. 


Ini penting.


Sebab kepercayaan tidak lahir dari satu program. Ia lahir dari pengalaman berulang bahwa ketika masyarakat berbicara, ada yang mendengar; ketika perusahaan memiliki persoalan, ada ruang untuk menjelaskan; dan ketika terdapat perbedaan, tersedia meja untuk mencari titik temu.


Freeman bahkan melihat pengelolaan stakeholder bukan sekadar menghindari konflik kepentingan, melainkan menemukan irisan kepentingan sehingga perusahaan dan stakeholder dapat menciptakan nilai bersama. 


Mesin Penyedot Pasir dan Makna CSR yang Produktif


Obrolan kami kemudian menyentuh kegiatan yang baru saja diikuti Pak Mukim bersama tim Community Relations SBA.


Hari itu SBA menyerahkan mesin penyedot pasir kepada nelayan Lhok Krueng Raba, yang diterima Panglima Laot Harumbia. Penyerahan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) SBA 2026. Hadir pula unsur Panglima Laot, DKP, Muspika, aparat keamanan, para keuchik, tokoh agama, tokoh masyarakat, termasuk Imeum Mukim Lhoknga. 


Menurut Pak Mukim, bantuan itu cukup baik karena dapat membantu nelayan menghadapi kondisi kuala yang perlahan mengalami pendangkalan akibat proses alamiah, sehingga aktivitas keluar-masuk perahu menjadi lebih mudah.


Bagi saya, di sinilah kita bisa membedakan antara CSR yang sekadar dibelanjakan dengan CSR yang diberdayakan.


Bantuan konsumtif mungkin selesai ketika barang diterima. Tetapi fasilitas produktif memiliki kemungkinan untuk terus menghasilkan manfaat setelah seremoni selesai.


Mesin penyedot pasir, dalam konteks ini, bukan sekadar sebuah benda. Ia merupakan alat produksi sosial-ekonomi apabila benar-benar dipelihara, dikelola dan digunakan untuk mendukung aktivitas nelayan.


Pandangan seperti ini sejalan dengan pendekatan community and local development yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan. World Bank mencatat bahwa ketika masyarakat mendapatkan dukungan teknis, finansial, informasi dan aturan yang jelas, mereka dapat mengorganisasi diri untuk menentukan prioritas, membangun infrastruktur skala kecil dan memperkuat mata pencaharian. 


Karena itu, ukuran keberhasilan CSR seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:


“Berapa rupiah yang sudah dikeluarkan?”


Tetapi bergerak kepada pertanyaan:


“Berapa besar nilai tambah yang tercipta setelah bantuan diberikan?”


Apakah pendapatan meningkat? Apakah biaya produksi turun? Apakah aktivitas ekonomi menjadi lebih lancar? Apakah masyarakat semakin mandiri? Apakah ketergantungan kepada bantuan justru berkurang?


Di situlah CSR naik kelas menjadi pemberdayaan.


Koperasi: Dari Bantuan Menuju Kemandirian


Obrolan kami kemudian berbelok ke koperasi.


Pak Firdaus memang memiliki pengalaman sebagai bagian dari tim ahli pendampingan teknis koperasi di Aceh. Kami sendiri pernah bertemu dalam sejumlah kegiatan pendampingan koperasi dan usaha kecil-mikro, bahkan sejak sebelum saya aktif di Semen Andalas.


Pandangan kami ternyata masih sama: koperasi harus ditempatkan sebagai wadah kemandirian ekonomi masyarakat, bukan sekadar kendaraan untuk memperoleh bantuan.


Ini penting.


Sebab persoalan koperasi sering bukan semata-mata kekurangan modal. Banyak koperasi justru menghadapi persoalan sumber daya manusia, tata kelola, administrasi, disiplin organisasi, kemampuan membaca pasar, dan profesionalisme manajemen.


Karena itu koperasi kecil membutuhkan pendampingan.


Bahkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 menegaskan bahwa koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Fungsi koperasi antara lain mengembangkan potensi ekonomi anggota, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial, serta memperkokoh perekonomian rakyat. Prinsipnya mencakup demokrasi, kemandirian, pendidikan perkoperasian dan kerja sama antarkoperasi. 


Artinya, koperasi bukan sekadar organisasi yang memiliki badan hukum. Ia harus memiliki badan usaha yang sehat, tata kelola yang baik dan anggota yang benar-benar berdaya.


Karena itu, pendampingan manajemen bagi koperasi-koperasi kecil justru sangat penting.


Modal tanpa manajemen bisa habis.


Bantuan tanpa kapasitas bisa berhenti.


Tetapi modal yang bertemu dengan kapasitas, tata kelola dan pasar akan melahirkan kemandirian.


Membangun Hubungan yang Saling Menguntungkan


Di penghujung kopi siang itu, kami sampai pada kesepakatan sederhana.


Kami akan terus saling menguatkan untuk memberikan dukungan kepada teman-teman di plant SBA agar dapat menjalankan bisnis secara sehat, sekaligus memberikan dampak positif kepada masyarakat.


Bukan hubungan yang satu menang dan yang lain kalah.


Bukan pula hubungan perusahaan memberi lalu masyarakat menerima.


Tetapi hubungan yang menghasilkan manfaat timbal balik.


Dalam gagasan creating shared value yang dikembangkan Michael Porter dan Mark Kramer, nilai sosial dan nilai ekonomi tidak selalu harus dipertentangkan. Justru perusahaan dapat memperkuat daya saingnya sambil memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial masyarakat di tempat perusahaan beroperasi. 


Maka idealnya, pabrik tumbuh, masyarakat juga tumbuh.


Perusahaan sehat, masyarakat sekitar juga semakin berdaya.


Bisnis berkembang, ekonomi lokal ikut bergerak.


Dan ketika muncul persoalan, jangan dibiarkan menjadi bisik-bisik, prasangka atau bara kecil yang suatu saat menjadi api.


Segera dibicarakan.

Dicari titik temu.

Dibuka ruang dialog.

Diselesaikan dengan kepala dingin.


Sebab begitulah kehidupan bertetangga.


Kita tidak mungkin selalu memiliki pandangan yang sama. Tetapi kita selalu bisa mencari cara untuk tetap hidup berdampingan dengan saling menghormati.


Saya teringat kembali kalimat Pak Mukim tentang perubahan suasana dari masa lalu yang dinamis menuju keadaan sekarang yang lebih tenang.


Mungkin ketenangan itu bukan berarti semua persoalan sudah selesai.


Ketenangan adalah tanda bahwa ketika persoalan muncul, kita semakin tahu bagaimana cara membicarakannya.


Dan bagi saya, itulah salah satu bentuk kematangan dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat.


Bukan tidak pernah berbeda.


Tetapi berbeda tanpa harus bermusuhan.


Bukan tidak pernah memiliki kepentingan masing-masing.


Tetapi mampu menemukan kepentingan bersama.


Karena pada akhirnya perusahaan dan masyarakat Lhoknga memang bukan dua dunia yang terpisah.


Mereka bertetangga.


Dan tetangga yang baik bukanlah tetangga yang tidak pernah berbeda pendapat.


Tetangga yang baik adalah mereka yang ketika berbeda, masih bersedia duduk bersama untuk minum kopi.


Mungkin sesederhana itu.


Dan mudah-mudahan dari meja-meja kopi seperti inilah lahir banyak kesepahaman untuk membangun Lhoknga yang semakin aman, produktif dan sejahtera.


Perusahaan tumbuh bersama masyarakat. Masyarakat berdaya bersama perusahaan.


Itulah hubungan yang semestinya kita rawat.


Wallahu a’lam 


Darussalam Banda Aceh 8 Oktober 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, pegiat pemberdayaan masyarakat)

×
Berita Terbaru Update