Opini menyambut 98 Tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026
Al-Rasyid.id | Ada saatnya seorang pemuda harus berhenti menikmati kenyamanan, bangkit dari tempat tidur, meninggalkan kursi yang terlalu lama diduduki, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa, agama, dan masa depan generasi setelah saya?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya dapat menentukan arah kehidupan. Sebab, sejarah tidak pernah menjanjikan bahwa jalan menuju masa depan selalu nyaman. Ada tantangan yang harus dihadapi, ada persoalan yang harus diselesaikan, ada ketidakadilan yang perlu diperbaiki, dan ada kerusakan yang tidak boleh dibiarkan hanya karena kita merasa bukan bagian dari persoalan tersebut.
Menjelang peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, pertanyaan itu layak diajukan kepada seluruh generasi muda Indonesia, terutama generasi muda Muslim. Apakah kita sedang mempersiapkan diri menjadi pemilik masa depan atau justru menjadi penonton ketika masa depan kita ditentukan oleh orang lain?
Peringatan tahun ini mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tema tersebut mengingatkan kita bahwa kecintaan kepada tanah air harus dibuktikan dengan kegigihan bekerja dan kepekaan terhadap persoalan sesama. (https://setjen.kemendikdasmen.go.id)
Jangan Terlena oleh Kenyamanan
Pemuda adalah masa ketika tenaga masih kuat, kesempatan masih terbuka, pikiran relatif lentur menerima gagasan baru, dan keberanian mencoba sesuatu masih dapat dipupuk. Namun, semua kelebihan itu tidak otomatis melahirkan kemajuan. Potensi yang tidak dilatih bisa berubah menjadi kemalasan, kecerdasan tanpa arah bisa kehilangan manfaat, dan keberanian tanpa pertimbangan bisa berakhir menjadi tindakan yang merugikan.
Karena itu, pemuda harus waspada terhadap kenyamanan yang melalaikan. Bukan berarti kenyamanan itu salah, melainkan jangan sampai kenyamanan menjadi tempat persembunyian dari tanggung jawab.
Jangan merasa cukup hanya karena hari ini sudah memperoleh gelar sarjana, mempunyai pekerjaan, menikmati penghasilan, memiliki gawai terbaru, atau memperoleh banyak pengikut di media sosial. Semua itu bisa menjadi sarana untuk bertumbuh, tetapi tidak otomatis menjadikan seseorang berguna bagi masyarakat.
Bangunlah lebih cepat dari tempat tidur. Bangkitlah dari tempat duduk yang membuat pikiran berhenti bergerak. Bacalah persoalan di sekitar kita. Pelajari sesuatu yang belum kita kuasai. Temui orang yang memiliki pengalaman berbeda. Mulailah pekerjaan yang bermanfaat, meskipun kecil.
Jika melihat sesuatu yang rusak, jangan hanya merekam dan menyebarkannya. Jika menemukan ketidakberesan, jangan sekadar mengeluh. Masuklah dengan cara yang benar, ajak orang lain, dan bantu memperbaikinya.
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai mengomentari masalah. Yang selalu dibutuhkan ialah orang-orang yang bersedia ikut memikirkan jalan keluar dan bekerja mewujudkannya.
Belajar dari Sumpah Pemuda: Berani Melampaui Perbedaan
Pada 27–28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Mereka tidak menunggu sampai semua perbedaan selesai. Mereka justru menyadari bahwa persatuan harus dibangun di tengah perbedaan.
Lahirnya Sumpah Pemuda menjadi bukti bahwa generasi muda mampu berpikir melampaui kepentingan kelompok dan kedaerahan. Mereka menyatukan tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan Indonesia. (https://muspada.kemenbud.go.id)
Bayangkan, pada masa itu Indonesia belum merdeka. Penjajahan masih berlangsung. Fasilitas komunikasi dan transportasi jauh dari kemudahan yang kita nikmati sekarang. Akan tetapi, keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk merumuskan cita-cita kebangsaan yang besar.
Lalu, apa alasan generasi muda sekarang untuk menyerah kepada keadaan?
Kita memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas, teknologi komunikasi yang menghubungkan dunia, kesempatan belajar lintas negara, dan ruang partisipasi publik yang semakin terbuka. Tantangan kita memang berbeda, tetapi kesempatan untuk berbuat juga jauh lebih besar.
Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti menjadi upacara, pembacaan ikrar, pemasangan spanduk, dan unggahan ucapan selamat. Semangatnya harus hidup dalam keberanian menyatukan kekuatan, memperbaiki pendidikan, menciptakan lapangan kerja, menjaga persaudaraan, dan membangun Indonesia yang lebih adil.
Jangan Serahkan Masa Depan kepada Orang Lain
Pemuda harus belajar membaca ke mana arah bangsa ini bergerak. Jangan hanya sibuk mengikuti peristiwa hari ini, tetapi tidak pernah memikirkan akibatnya bagi kehidupan sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun mendatang.
Pelajari politik dan kepemimpinan negara. Pahami bagaimana kebijakan publik dibuat, bagaimana anggaran digunakan, bagaimana kekuasaan diawasi, dan bagaimana kepentingan rakyat seharusnya ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Pemuda tidak harus semuanya menjadi politisi, tetapi tidak boleh semuanya buta politik.
Pelajari ekonomi dan nasib rakyat. Mengapa sebagian keluarga masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok? Mengapa lulusan pendidikan tinggi belum tentu memperoleh pekerjaan yang sesuai? Bagaimana usaha kecil dapat tumbuh, petani dan nelayan memperoleh nilai tambah, serta anak muda membangun usaha produktif tanpa terjebak utang yang tidak terkendali?
Pelajari pendidikan dan kebudayaan. Apakah sekolah dan kampus sudah melatih manusia untuk berpikir kritis, berkarakter, berkomunikasi, bekerja sama, dan menciptakan sesuatu? Bagaimana kebudayaan bangsa dapat berkembang tanpa kehilangan akar dan jati dirinya?
Pelajari pula ketahanan bangsa dan ketahanan diri. Perhatikan pengaruh budaya populer, arus informasi, konsumerisme, judi daring, narkoba, pornografi, perundungan, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk manipulasi digital. Jangan menolak semua hal dari luar secara membabi buta, tetapi jangan pula menerima semuanya tanpa pertimbangan.
Keterbukaan harus disertai kemampuan menyaring. Kemajuan harus disertai kebijaksanaan.
Anak muda perlu memahami bahwa masa depan tidak akan otomatis menjadi lebih baik hanya karena teknologi semakin canggih. Masa depan ditentukan oleh kualitas manusia yang mengendalikan teknologi, arah kebijakan yang dipilih, nilai yang dipertahankan, dan keberanian memperbaiki kesalahan.
Jangan biarkan masa depan Anda, keluarga Anda, dan anak cucu Anda sepenuhnya ditentukan oleh agenda orang lain. Susunlah cita-cita sendiri, pelajari strateginya, bangun kemampuan, dan ambil bagian dalam menentukan arah perubahan.
Ali bin Abi Thalib: Ketika Keberanian Bertemu Kesetiaan
Dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu teladan penting tentang peran generasi muda dalam perjuangan Rasulullah saw.
Ali tumbuh dekat dengan Nabi Muhammad saw. Ia dikenal sebagai pribadi yang berani, berilmu, dan memiliki kesetiaan yang kuat. Dalam peristiwa hijrah, ia bersedia tidur di tempat tidur Rasulullah untuk membantu melindungi beliau ketika kaum Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Nabi. Peristiwa ini memperlihatkan keberanian seorang pemuda yang bersedia mengambil risiko demi amanah yang lebih besar daripada keselamatan dirinya sendiri.
Keberanian Ali bukan sekadar keberanian fisik. Ia juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan, bimbingan, dan pembentukan akhlak Rasulullah saw. Di sinilah letak pelajaran pentingnya: keberanian akan lebih bermakna apabila dipandu ilmu, kesetiaan pada kebenaran, dan tanggung jawab.
Pemuda tidak harus menunggu menjadi pejabat, tokoh terkenal, atau orang kaya untuk memberi manfaat. Mereka dapat memulainya dengan menjaga amanah, membela orang yang diperlakukan tidak adil, membantu masyarakat, mengembangkan ilmu, serta berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.
Teladan lain dapat dilihat pada Muhammad al-Fatih, yang memimpin penaklukan Konstantinopel pada 1453 ketika berusia sekitar 21 tahun. Ia tumbuh melalui pendidikan agama, pengetahuan, strategi militer, dan kepemimpinan. Keberhasilannya menunjukkan pentingnya persiapan panjang di balik sebuah pencapaian besar.
Keduanya mengingatkan kita bahwa usia muda bukan alasan untuk meremehkan kemampuan seseorang. Namun, usia muda juga bukan jaminan keberhasilan. Potensi harus dibentuk melalui disiplin, ilmu, latihan, dan keteguhan tujuan.
Sepuluh Pemuda dan Guncangan Perubahan
Bung Karno pernah melontarkan ungkapan yang sangat terkenal: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ungkapan ini telah lama menjadi simbol keyakinan terhadap kekuatan generasi muda.
Pesannya bukan bahwa jumlah kecil pemuda dengan sendirinya mampu menyelesaikan semua persoalan. Yang hendak ditegaskan ialah besarnya daya perubahan ketika pemuda memiliki cita-cita, keberanian, pengetahuan, dan semangat kolektif.
Lihat Malala Yousafzai dari Pakistan. Ketika masih remaja, ia berani menyuarakan hak anak perempuan untuk memperoleh pendidikan, meskipun menghadapi ancaman serius. Ia kemudian menjadi penerima Nobel Perdamaian termuda pada 2014.
Lihat pula Mark Zuckerberg, yang mengembangkan Facebook ketika masih berusia mahasiswa, atau para perintis muda di berbagai bidang sains, kesehatan, dan teknologi yang mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi. Kisah mereka bukan untuk menyuruh setiap pemuda menjadi miliarder atau terkenal. Pelajarannya adalah bahwa gagasan, jika disertai kemampuan dan kerja keras, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang berdampak luas.
Tetapi ukuran keberhasilan tidak boleh semata-mata kekayaan, popularitas, atau banyaknya pengikut. Pemuda yang menciptakan teknologi untuk membantu petani, mengajar anak-anak di daerah terpencil, membangun usaha yang membuka lapangan kerja, merawat lingkungan, atau mendampingi masyarakat yang tertinggal juga sedang mengguncang dunia dalam lingkupnya sendiri.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Terkadang, ia bermula dari sebuah kampung, ruang kelas, bengkel, laboratorium, masjid, atau kelompok kecil yang memutuskan untuk berhenti mengeluh dan mulai bekerja.
Akhlak: Benteng yang Tidak Boleh Runtuh
Di tengah semua dorongan untuk maju, ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: akhlak.
Kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan manipulasi. Kekuasaan tanpa akhlak dapat berubah menjadi penindasan. Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan. Teknologi tanpa akhlak dapat digunakan untuk menipu, merusak reputasi, menyebarkan kebencian, dan memperdaya manusia.
Karena itu, benteng terpenting generasi muda bukan hanya kekuatan fisik, gelar akademik, sertifikat kompetensi, atau kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Benteng itu adalah akhlak yang membimbing seluruh kemampuan tersebut agar digunakan untuk kebaikan.
Allah Swt. memuji Rasulullah saw. dalam Al-Qur’an, Surah Al-Qalam ayat 4:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Rasulullah saw. bukan hanya membawa ajaran tentang ibadah, tetapi juga memberikan teladan dalam kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Pesan ini menempatkan akhlak sebagai bagian mendasar dari misi kenabian. Maka, pemuda Muslim tidak cukup hanya pandai berbicara tentang agama. Ia harus menunjukkan agama melalui perilaku: jujur ketika bekerja, adil ketika memimpin, santun ketika berbeda pendapat, amanah ketika diberi tanggung jawab, dan berani memperbaiki kesalahan tanpa merendahkan orang lain.
Akhlak bukan penghambat kemajuan. Akhlak adalah pagar agar kemajuan tidak menghancurkan manusia.
Di tengah persaingan yang keras, pemuda perlu memiliki prinsip. Tidak semua yang menguntungkan layak dilakukan. Tidak semua yang viral pantas ditiru. Tidak semua cara yang menghasilkan uang dapat dibenarkan. Tidak semua kemenangan layak dirayakan apabila diperoleh dengan mengorbankan kejujuran.
Jadilah generasi yang kuat tanpa menjadi kasar, kritis tanpa menjadi pembenci, berani tanpa kehilangan kesantunan, dan berhasil tanpa merendahkan orang lain.
Kuasai Teknologi, Jangan Dikuasai Teknologi
Kita sedang hidup pada masa ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robotika, otomatisasi, dan pengolahan data mengubah dunia dengan cepat. Pemuda yang mengabaikan perkembangan ini berisiko tertinggal. Namun, pemuda yang menyerahkan seluruh pikirannya kepada mesin juga berisiko kehilangan kemandirian.
Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menempatkan kemampuan berpikir analitis, ketahanan dan keluwesan menghadapi perubahan, kepemimpinan, kreativitas, serta literasi teknologi sebagai keterampilan penting dalam dunia kerja. Keterampilan AI dan data juga diperkirakan semakin dibutuhkan.
Karena itu, kuasailah teknologi. Pelajari AI, robotika, pemrograman, keamanan digital, pemasaran digital, dan berbagai keterampilan yang relevan dengan bidang masing-masing. Gunakan AI sebagai teman berpikir dan mitra kerja untuk mencari informasi, menguji gagasan, menganalisis data, dan meningkatkan produktivitas.
Namun, ingatlah: teknologi adalah alat, bukan tujuan. Mesin dan robot adalah alat bantu, bukan pengganti seluruh pertimbangan kemanusiaan. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi manusia tetap harus memeriksa kebenaran dan bertanggung jawab atas isinya. AI dapat menawarkan analisis, tetapi manusia harus mempertimbangkan konteks, keadilan, dan akibat keputusan.
Jangan sampai pemuda lebih percaya kepada mesin daripada akal sehat, lebih sibuk mengejar tren daripada membangun kompetensi, atau lebih mahir menyalin jawaban daripada memahami persoalan.
Gunakan teknologi untuk memperluas kemampuan, bukan untuk mematikan daya pikir. Manfaatkan kemudahan digital untuk menciptakan karya, bukan sekadar menghabiskan waktu. Jadikan kemajuan teknologi sebagai jalan untuk meningkatkan martabat manusia.
Menyiapkan Diri Ketika Orang Tua Tidak Lagi Mendampingi
Ada satu kenyataan yang harus dipahami setiap pemuda: pada suatu masa, orang tua tidak lagi dapat selalu berada di samping kita. Mereka tidak selamanya bisa memberi nasihat, menyediakan kebutuhan, menyelesaikan masalah, atau melindungi kita dari setiap kesulitan.
Karena itu, masa muda harus menjadi masa persiapan menuju kemandirian.
Pertama, perkuat iman dan akhlak. Jadikan agama sebagai kompas ketika menghadapi pilihan sulit, bukan sekadar identitas yang ditampilkan dalam pergaulan.
Kedua, bangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Jangan berhenti belajar setelah menerima ijazah. Baca buku, ikuti pelatihan, pelajari bahasa asing, kuasai teknologi, dan terus tingkatkan kemampuan sesuai perubahan zaman.
Ketiga, latih kemandirian ekonomi. Belajar mengelola uang, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko utang, serta membangun keterampilan yang bernilai. Jangan menggantungkan seluruh masa depan pada satu pekerjaan atau satu sumber penghasilan.
Keempat, bangun kesehatan fisik dan mental. Disiplin tidur, olahraga, menjaga pola makan, mengelola emosi, dan berani meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan merupakan bagian dari ketahanan diri.
Kelima, pilih lingkungan pergaulan yang sehat. Carilah teman yang saling mengingatkan, bukan hanya teman yang selalu membenarkan. Bangun jejaring dengan orang-orang yang memiliki ilmu, integritas, dan semangat berkarya.
Keenam, berlatih mengambil keputusan dan menanggung konsekuensinya. Jangan selalu menunggu orang lain menyelesaikan masalah. Mulailah dari tanggung jawab sederhana di rumah, kampus, tempat kerja, organisasi, dan masyarakat.
Ketujuh, tumbuhkan kepedulian sosial. Pemuda yang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi. Belajarlah memahami kesulitan orang lain dan berkontribusi sesuai kemampuan.
Kedelapan, miliki rencana hidup yang dapat dievaluasi. Tentukan kemampuan apa yang hendak dikuasai dalam satu tahun, karya apa yang ingin dihasilkan, masalah apa yang ingin dibantu penyelesaiannya, dan kebiasaan apa yang harus diperbaiki.
Kemandirian bukan berarti memutus hubungan dengan orang tua atau menolak nasihat orang yang lebih tua. Kemandirian berarti mampu berdiri dengan tanggung jawab, sambil tetap menghormati pengalaman dan kebijaksanaan mereka.
Jangan Menunggu Sempurna untuk Mulai Bergerak
Pemuda Indonesia, terutama generasi muda Muslim, tidak boleh hanya menjadi pewaris nama besar bangsa dan umat. Kita harus menjadi penerus perjuangan, pengembang ilmu, penjaga nilai, dan pencipta masa depan.
Tidak semua orang harus menjadi pemimpin nasional. Tidak semua harus menjadi ilmuwan besar. Tidak semua harus menjadi pengusaha sukses. Namun, setiap orang dapat menjadi manusia yang berguna di bidangnya masing-masing.
Jika menjadi guru, jadilah guru yang mencerdaskan dan membentuk karakter. Jika menjadi pengusaha, bangun usaha yang jujur dan membuka lapangan kerja. Jika menjadi pejabat, gunakan kewenangan untuk melayani rakyat. Jika menjadi ilmuwan, hasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Jika menjadi pendakwah, sampaikan kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan akhlak. Jika menjadi petani, nelayan, teknisi, pekerja, atau seniman, lakukan pekerjaan dengan kompetensi dan integritas.
Jangan menunggu semua keadaan ideal untuk mulai berbuat. Mulailah dengan apa yang dimiliki, dari tempat kita berada, dan bersama orang-orang yang bersedia bekerja.
Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa perubahan besar dapat dimulai ketika generasi muda menyatukan tekad. Zaman sekarang menuntut lebih dari sekadar tekad: kita membutuhkan ilmu, strategi, keterampilan, ketahanan diri, dan akhlak yang kokoh.
Bangunlah benteng akhlak, gebraklah zaman dengan ilmu dan karya. Jangan biarkan kenyamanan melumpuhkan keberanian. Jangan biarkan teknologi merampas kemandirian berpikir. Jangan biarkan perbedaan memecah persaudaraan. Dan jangan biarkan masa depan bangsa ditentukan tanpa keikutsertaan generasi mudanya.
Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam, modal besar, atau teknologi canggih. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki manusia berkarakter, berpengetahuan, berdaya saing, dan bersedia bekerja untuk kepentingan bersama.
Pada peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda ini, mari kita perbarui janji kepada tanah air: bukan hanya mengaku bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, tetapi juga bertekad menjadi generasi yang menjaga kehormatan bangsa, memajukan umat, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Jangan hanya menjadi pemuda yang bangga pada sejarah. Jadilah pemuda yang kelak dibanggakan oleh sejarah.
Wallahu a’lam
Darussalam Basa Aceh 27 Oktober 2026
(Penulis, pengurus ICMI Aceh)
