Dari pesan Al-Qur’an hingga kecakapan menghadapi masa depan
Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada kalanya sebuah tausiyah tidak berhenti ketika penceramah menutup pembicaraan dan jamaah meninggalkan masjid. Pesannya justru mulai bekerja setelah itu: mengusik pikiran, menggugah kesadaran, dan mendorong orang memeriksa kembali perilakunya sendiri. Tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu, 21 Oktober 2026, menjadi salah satu momentum untuk melakukan perenungan semacam itu.
Wakil Dekan I Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Julianto, S.Ag., M.Si., mengangkat pesan penting mengenai kemampuan manusia memahami ayat-ayat Allah dengan hati, mata, dan telinga. Bagi seorang Muslim, ketiganya bukan sekadar perangkat biologis yang memungkinkan manusia merasakan dan mengenali dunia. Ketiganya juga merupakan amanah yang harus digunakan untuk menemukan kebenaran, menerima petunjuk, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah.
Menariknya, pesan tersebut segera mendapat tanggapan dari Tgk Muhammad Yusuf, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry yang pernah menjadi kolega Bapak Julianto ketika beliau sebelumnya ber-homebase di fakultas tersebut. Tgk Yusuf, yang juga dikenal luas oleh masyarakat Aceh sebagai pendakwah, menyampaikan komentarnya secara langsung dan to the point melalui grup Forcita. Dengan latar belakang akademik dan pengalaman dakwahnya di tengah masyarakat, tanggapan beliau tidak hanya relevan bagi warga kampus, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat Islam secara umum.
Menurut inti tanggapannya, Allah memberikan hati, mata, dan telinga kepada setiap manusia—dan juga jin—agar ketiganya menjadi jalan untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya. Apabila potensi tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya, manusia justru dapat tersesat dari tujuan penciptaannya. Ia mengingatkan terutama mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, termasuk mereka yang berada di lingkungan fakultas yang dekat dengan Masjid Fathun Qarib. Namun, pesan itu sesungguhnya melampaui batas kampus: ia ditujukan kepada setiap Muslim yang memiliki kesempatan mendengar azan, menerima nasihat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tgk Yusuf menyoroti keadaan ketika seseorang dapat mendengar azan dan menjangkau masjid dengan mudah, tetapi membiarkan panggilan tersebut berlalu seolah-olah ditujukan kepada orang lain. Padahal, azan merupakan panggilan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah. Jika panggilan yang begitu dekat saja tidak menggerakkan kesadaran, kita patut bertanya kepada diri sendiri: untuk apa kemampuan mendengar itu diberikan, jika panggilan menuju kebaikan tidak mendapatkan respons?
Teguran Tgk Yusuf terasa keras. Namun, kekuatan sebuah teguran bukan terletak pada kerasnya kata-kata, melainkan pada kemampuannya membuat seseorang berani bercermin. Jawaban terbaik terhadap teguran seperti ini bukanlah perdebatan untuk mempertahankan diri, tetapi kesediaan memperbaiki perilaku.
Tentu, kedekatan dengan masjid tidak dengan sendirinya menjadi ukuran tunggal kualitas iman seseorang. Ada keadaan, tanggung jawab, dan uzur yang berbeda-beda. Karena itu, pesan ini lebih tepat dipahami sebagai ajakan bermuhasabah, bukan sebagai dasar untuk menghakimi orang lain.
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apakah selama ini kita sudah benar-benar cerdas menggunakan hati, mata, dan telinga?
Ketika alat tersedia, tetapi fungsinya tidak dijalankan
Allah memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai persoalan ini dalam Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 179. Ayat tersebut menjelaskan tentang manusia dan jin yang memiliki hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami; memiliki mata, tetapi tidak menggunakannya untuk melihat; serta memiliki telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk mendengar. Ayat itu kemudian mengingatkan tentang kelalaian mereka.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menerangkan bahwa persoalannya bukan ketiadaan perangkat untuk menerima petunjuk, melainkan kegagalan memanfaatkan perangkat tersebut untuk memperoleh hidayah.
Inilah perbedaan antara memiliki fasilitas dan menggunakannya secara benar. Mata yang sehat belum tentu membuat seseorang mampu melihat persoalan secara jernih. Telinga yang berfungsi normal belum tentu membuat seseorang bersedia mendengarkan kebenaran. Hati yang hidup secara biologis juga belum tentu melahirkan kesadaran moral dan ketundukan kepada Allah.
Kita dapat menyaksikan gejalanya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang melihat orang lain mengalami kesulitan, tetapi memilih tidak peduli. Seseorang mendengar nasihat yang benar, tetapi menolaknya karena bertentangan dengan kepentingan pribadi. Seseorang mengetahui bahwa tindakannya merugikan orang lain, tetapi tetap melakukannya karena merasa mampu mencari pembenaran.
Di sinilah kecerdasan manusia diuji. Bukan hanya kecerdasan mengumpulkan pengetahuan, melainkan kecerdasan mengubah pengetahuan menjadi kesadaran dan kesadaran menjadi tindakan.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan dalam Surah Al-Isra’ ayat 36 agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya. Pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Kita tidak cukup mengatakan, “Saya hanya meneruskan informasi.” Kita harus memeriksa apakah informasi itu benar. Kita tidak cukup berdalih, “Saya hanya mengikuti kebiasaan.” Kita perlu menimbang apakah kebiasaan tersebut baik. Kita tidak cukup mengaku, “Saya tidak tahu.” Kita juga perlu bertanggung jawab atas kesediaan kita mencari tahu.
Dengan demikian, ketiga potensi itu tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual. Semuanya juga berhubungan dengan etika, tanggung jawab sosial, profesionalisme, dan cara manusia mengambil keputusan.
Hati: kecerdasan berpikir yang tidak kehilangan nurani
Dalam bahasa sehari-hari, hati sering dikaitkan dengan perasaan, sedangkan pikiran dikaitkan dengan akal. Namun, Al-Qur’an menggunakan istilah hati atau qalb dalam pengertian yang lebih luas, termasuk kemampuan memahami dan mengambil pelajaran.
Surah Al-Hajj ayat 46 mengingatkan bahwa yang dapat menjadi buta bukan hanya mata, melainkan hati yang berada di dalam dada. Artinya, seseorang dapat memiliki penglihatan yang baik dan pengetahuan yang luas, tetapi tetap gagal menangkap makna moral dari kenyataan yang disaksikannya.
Kita bisa menyaksikan kemiskinan tanpa tergerak menolong. Kita bisa mengetahui adanya ketidakadilan tanpa merasa perlu membela kebenaran. Kita bisa memahami akibat buruk korupsi, tetapi tetap tergoda mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Masalahnya bukan selalu kekurangan informasi. Kadang-kadang, masalahnya justru hati yang tidak lagi memberi tempat kepada kebenaran ketika kebenaran itu mengganggu kepentingan diri.
Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amalnya. Hadis riwayat Muslim ini menegaskan pentingnya keadaan batin sekaligus tindakan yang lahir darinya.
Hati yang baik bukan sekadar hati yang mudah tersentuh. Hati yang baik juga harus mampu menimbang, membedakan, dan mengendalikan diri. Empati tanpa pertimbangan dapat membuat seseorang mudah dimanipulasi; kecerdasan tanpa nurani dapat membuat seseorang piawai membenarkan tindakan yang salah.
Karena itu, kita memerlukan dua keterampilan sekaligus: thinking skill dan feeling skill—keterampilan berpikir dan keterampilan merasa.
Keterampilan berpikir membantu manusia menganalisis persoalan, menguji bukti, mengenali hubungan sebab-akibat, dan mempertimbangkan pilihan. Keterampilan merasa membantu manusia memahami penderitaan orang lain, menyadari dampak tindakannya, serta menjaga hubungan antarmanusia.
Keduanya perlu berjalan bersama. Berpikir tanpa empati berisiko melahirkan keputusan yang dingin. Merasa tanpa berpikir dapat membuat seseorang bertindak hanya berdasarkan dorongan sesaat.
Dalam psikologi, Daniel Goleman memopulerkan konsep kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Konsep tersebut bukan padanan langsung dari pengertian hati dalam Islam, tetapi memberi sudut pandang yang berguna untuk memahami bagaimana kesadaran emosi memengaruhi perilaku dan hubungan sosial.
Dalam konteks keagamaan, kecerdasan hati melangkah lebih jauh: bukan hanya mengenali emosi, tetapi juga menundukkan keinginan kepada nilai kebenaran dan tanggung jawab kepada Allah.
Kita mengenal ungkapan, “Jangan hanya merasa pintar, tetapi pintar merasa.” Ungkapan ini mengandung pelajaran penting. Jangan sampai seseorang begitu yakin dengan kecerdasannya sehingga kehilangan kepekaan terhadap orang lain. Jangan sampai gelar akademik membuat seseorang merasa selalu benar. Jangan sampai jabatan membuat seseorang tidak lagi sanggup menerima kritik.
Pintar merasa bukan berarti mengutamakan perasaan di atas fakta. Maksudnya ialah memiliki kepekaan yang cukup untuk menyadari bahwa tindakan kita memiliki akibat bagi orang lain, dan kerendahan hati untuk mengoreksi diri ketika ternyata kita keliru.
Hati yang cerdas menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kebijaksanaan, bukan sebagai alat untuk meninggikan diri.
Mata: melihat lebih jauh daripada yang tampak
Mata adalah pintu penting untuk mengenali kenyataan. Namun, melihat tidak selalu berarti memahami apa yang dilihat. Orang dapat menyaksikan gejala tanpa memahami akar persoalannya, atau terpaku pada kejadian hari ini tanpa memikirkan akibatnya pada masa mendatang.
Di sinilah mata dapat menjadi metafora bagi foresight, yakni kemampuan melihat kemungkinan masa depan, memperkirakan konsekuensi, dan menyiapkan langkah menghadapi perubahan.
UNESCO mengembangkan konsep futures literacy, yaitu kemampuan memahami peran gambaran masa depan dalam cara manusia berpikir dan bertindak pada masa kini. Kemampuan ini membantu orang membayangkan berbagai kemungkinan, mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian, serta menemukan pilihan baru ketika keadaan berubah.
Gagasan ini sangat dekat dengan tuntunan Islam agar manusia memperhatikan apa yang dipersiapkannya untuk hari esok. Dalam Surah Al-Hasyr ayat 18, orang beriman diingatkan untuk bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk masa depan.
Ayat tersebut memiliki dimensi akhirat yang mendasar, tetapi juga mendorong budaya evaluasi dan persiapan. Kita perlu melihat bukan hanya apa yang sedang dikerjakan, melainkan juga ke mana pekerjaan itu akan membawa kita.
Mahasiswa, misalnya, tidak cukup melihat tugas yang harus dikumpulkan hari ini. Ia perlu melihat kompetensi yang harus dibangun untuk lima atau sepuluh tahun mendatang. Dosen tidak cukup melihat materi yang harus disampaikan di kelas. Ia perlu memperkirakan perubahan ilmu, teknologi, dan kebutuhan masyarakat yang akan dihadapi mahasiswanya.
Demikian pula pemimpin. Ia tidak cukup melihat keberhasilan program pada akhir tahun anggaran. Ia harus memperhitungkan dampaknya terhadap kualitas manusia, kelestarian lingkungan, kesempatan generasi berikutnya, dan daya tahan institusi.
Kemampuan melihat jauh ke depan bukan berarti meramalkan masa depan secara pasti. Masa depan selalu mengandung ketidakpastian. Justru karena itu, manusia perlu belajar membaca kecenderungan, menguji asumsi, menyusun beberapa skenario, dan menyiapkan pilihan yang masuk akal.
Dalam kehidupan pribadi, kecerdasan melihat masa depan berarti berani bertanya: jika kebiasaan saya hari ini diteruskan selama lima tahun, akan menjadi seperti apakah kehidupan saya? Jika penggunaan waktu tidak berubah, apakah cita-cita saya akan tercapai? Jika ilmu tidak diperbarui, apakah saya masih mampu memberi manfaat?
Dalam kehidupan beragama, pertanyaan itu perlu ditambah: jika cara hidup saya sekarang terus berlangsung, apakah saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?
Mata yang cerdas bukan hanya melihat peluang untuk memperoleh keuntungan. Ia juga melihat risiko sebelum terlambat, kebutuhan sebelum menjadi krisis, dan akibat sebelum keputusan diambil.
Telinga: mendengar untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran berbicara
Di tengah perkembangan teknologi informasi, manusia menerima begitu banyak pesan setiap hari. Berita, komentar, video pendek, pesan grup, pendapat ahli, gosip, promosi, dan beragam klaim berlomba mendapatkan perhatian.
Kita semakin mudah mendengar banyak hal, tetapi belum tentu semakin terampil menyimak. Informasi dapat masuk dengan cepat, sementara proses memeriksa kebenarannya tertinggal. Orang dapat membaca satu judul, kemudian merasa sudah memahami seluruh persoalan. Ia dapat mendengar potongan pernyataan, lalu segera menyimpulkan niat orang yang berbicara.
Karena itu, telinga yang cerdas memerlukan listening skill atau keterampilan mendengarkan.
Mendengarkan secara aktif bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara. Kita berusaha memahami isi pesan, mengenali konteks, menangkap maksud, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan memeriksa apakah pemahaman kita sesuai dengan apa yang disampaikan.
Dalam dunia pendidikan, keterampilan ini membantu dosen memahami kesulitan mahasiswa yang tidak selalu berani mengungkapkannya. Mahasiswa dapat memahami materi lebih baik jika bersedia menyimak, bukan sekadar mencatat untuk menghadapi ujian.
Dalam organisasi, seorang pemimpin yang mau mendengarkan memperoleh informasi yang mungkin tidak muncul dalam laporan formal. Ia dapat menemukan persoalan operasional, keberatan pegawai, kebutuhan masyarakat, dan gagasan perbaikan yang sebelumnya terabaikan.
Dalam keluarga, mendengarkan dapat mencegah kesalahpahaman. Seseorang yang merasa didengar biasanya memiliki ruang lebih baik untuk menjelaskan persoalan tanpa harus terlebih dahulu meninggikan suara.
Namun, mendengarkan tidak berarti menerima semua yang dikatakan orang lain. Telinga harus bekerja bersama akal dan hati. Informasi yang didengar perlu diuji, terutama ketika menyangkut tuduhan, fitnah, provokasi, dan berita yang belum jelas sumbernya.
Di sinilah Surah Al-Isra’ ayat 36 kembali relevan. Larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan mengingatkan kita agar tidak menjadikan apa yang didengar sebagai kebenaran sebelum melakukan pemeriksaan yang memadai.
Dalam konteks media sosial, kecerdasan telinga berarti tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi. Dalam kehidupan kampus, ia berarti bersedia mendengar kritik tanpa langsung menganggapnya sebagai serangan pribadi. Dalam kehidupan beragama, ia berarti tidak sekadar mendengar azan dan nasihat, tetapi memberikan respons yang sesuai dengan tuntunan yang dipahami.
Khusus mengenai azan, ada perbedaan antara mendengar bunyi dan menyadari panggilannya. Seseorang mungkin mendengar azan dengan jelas, tetapi pikirannya tetap terserap oleh pekerjaan atau hiburan. Di sini persoalannya bukan pada fungsi pendengaran, melainkan pada perhatian, kesadaran, dan kemauan menanggapi panggilan tersebut.
Telinga yang cerdas membuat manusia tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga penyaring informasi. Ia mengetahui kapan perlu menyimak, kapan harus memeriksa, kapan patut bertanya, dan kapan sebaiknya tidak ikut menyebarkan sesuatu.
Tiga potensi, satu arah kehidupan
Hati, mata, dan telinga tidak seharusnya bekerja sendiri-sendiri. Ketiganya perlu terhubung dalam satu proses pengambilan keputusan.
Mata melihat kenyataan dan kemungkinan. Telinga menerima keterangan, nasihat, dan informasi dari berbagai sumber. Hati menimbang makna, nilai, dan arah tindakan. Akal menguji alasan dan bukti. Setelah itu, manusia mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.
Dalam bentuk yang sederhana, kita dapat menggambarkannya sebagai tiga pertanyaan.
Mata bertanya: Apa yang sesungguhnya sedang terjadi, dan ke mana keadaan ini dapat membawa kita?
Telinga bertanya: Apa yang perlu saya dengar, siapa sumbernya, dan apakah informasi ini dapat dipercaya?
Hati bertanya: Apakah keputusan yang akan saya ambil benar, adil, bermanfaat, dan diridai Allah?
Ini bukan pembagian fungsi biologis secara mutlak. Hati dalam pengertian keagamaan bukan satu-satunya tempat manusia menilai moral, dan mata serta telinga juga terlibat dalam proses berpikir. Ketiganya merupakan metafora yang membantu kita memahami pentingnya persepsi, penerimaan informasi, pertimbangan nilai, dan tindakan.
Persoalan muncul ketika hubungan itu terputus. Mata melihat peluang, tetapi hati tidak memedulikan kehalalannya. Telinga menerima informasi, tetapi mata dan akal tidak memeriksa faktanya. Hati ingin melakukan kebaikan, tetapi manusia tidak mau melihat kenyataan atau mendengar nasihat yang diperlukan untuk mewujudkannya.
Karena itu, kecerdasan yang kita butuhkan bukan hanya kecerdasan akademik, digital, atau emosional. Kita membutuhkan kecerdasan yang mengintegrasikan pengetahuan, kepekaan, pertimbangan moral, dan kemampuan bertindak.
Kemajuan teknologi dapat memperluas jangkauan mata dan telinga melalui kamera, sensor, rekaman, serta jaringan informasi. Kecerdasan buatan bahkan membantu manusia mengolah data dalam jumlah yang sulit ditangani secara manual. Namun, semua itu tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana.
Teknologi dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi manusia tetap perlu memeriksa kebenarannya. Teknologi dapat membantu memperkirakan kecenderungan, tetapi manusia tetap perlu mempertimbangkan dampak keputusan. Teknologi dapat menghasilkan banyak pilihan, tetapi manusia tetap harus menentukan mana yang layak dilakukan.
Kemampuan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kompas moral menjadi salah satu tantangan penting pendidikan masa kini. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang hanya mahir mengoperasikan perangkat, tetapi lemah dalam menyaring informasi, memahami orang lain, dan mempertimbangkan akibat tindakannya.
Mengapa dekat dengan masjid belum tentu dekat dengan pesan-Nya?
Kembali kepada tanggapan Tgk Muhammad Yusuf, kedekatan fisik dengan Masjid Fathun Qarib menghadirkan sebuah pertanyaan reflektif bagi warga kampus.
Masjid berada di lingkungan akademik. Azan terdengar. Kesempatan untuk berjamaah tersedia bagi mereka yang memungkinkan dan tidak memiliki uzur. Di sekitar masjid juga berlangsung aktivitas belajar, mengajar, berdiskusi, dan membangun pengetahuan.
Namun, apakah kedekatan tersebut selalu melahirkan kedekatan batin?
Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan UIN Ar-Raniry. Mengingat Tgk Yusuf juga dikenal luas sebagai pendakwah di Aceh, pesannya relevan dibawa ke ruang kehidupan masyarakat yang lebih luas. Ia berlaku bagi setiap Muslim yang memiliki kesempatan mendekati masjid, mendengar nasihat, dan mengembangkan kehidupan spiritualnya.
Kita perlu membedakan antara mengetahui kewajiban dan menunaikannya, antara mendengar nasihat dan mengambil pelajaran, serta antara berada di lingkungan yang baik dan benar-benar memanfaatkan kebaikan yang tersedia.
Seseorang dapat berada di lingkungan akademik yang maju, tetapi tidak memperbarui ilmunya. Ia dapat tinggal di lingkungan religius, tetapi tidak membangun kebiasaan ibadah. Ia dapat sering mengikuti seminar, tetapi tidak menerapkan pelajarannya. Semua itu memperlihatkan bahwa kesempatan tidak selalu berbanding lurus dengan pemanfaatan kesempatan.
Teguran yang baik seharusnya membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri. Sebelum menilai orang lain yang tidak hadir di masjid, tanyakan apakah kita sendiri telah memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Sebelum mengkritik orang yang tidak mau mendengar, periksa apakah kita bersedia mendengarkan kritik. Sebelum menyalahkan generasi muda yang kurang memiliki visi, lihat apakah kita telah memberikan teladan tentang pentingnya mempersiapkan masa depan.
Dengan cara itu, teguran tidak berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Ia menjadi pintu untuk memperbaiki diri bersama.
Melatih kecerdasan hati, mata, dan telinga
Kecerdasan tidak cukup dibangun melalui ceramah dan pengetahuan. Ia perlu dilatih melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Setidaknya ada beberapa langkah praktis yang dapat kita terapkan.
Pertama, melatih kecerdasan hati.
1. Membiasakan muhasabah. Luangkan waktu setiap hari untuk meninjau perilaku sendiri. Apa yang sudah dilakukan dengan baik? Siapa yang mungkin dirugikan? Apa yang perlu diperbaiki esok hari?
2. Menguji niat sebelum bertindak. Sebelum berbicara, mengunggah sesuatu, mengambil keputusan, atau menggunakan kewenangan, tanyakan apakah tindakan itu benar dan membawa manfaat atau hanya memuaskan ego.
3. Melatih empati. Cobalah memahami persoalan dari sudut pandang orang lain. Dengarkan pengalaman mereka tanpa buru-buru menyalahkan atau menawarkan pembenaran.
4. Membiasakan diri menerima koreksi. Jangan menganggap setiap kritik sebagai penghinaan. Pisahkan cara penyampaian kritik dari substansinya, lalu ambil pelajaran yang benar.
5. Memadukan doa dengan tindakan. Memohon petunjuk kepada Allah harus disertai kesungguhan mencari kebenaran, memperbaiki kesalahan, dan menunaikan tanggung jawab.
Kedua, melatih kecerdasan mata.
1. Membiasakan pengamatan yang teliti. Jangan langsung menyimpulkan persoalan dari satu kejadian. Perhatikan konteks, bukti, dan faktor yang memengaruhinya.
2. Melatih pandangan jangka panjang. Setiap pekan, tinjau apakah penggunaan waktu, pengelolaan keuangan, pengembangan ilmu, dan kebiasaan ibadah mendukung tujuan hidup yang ingin dicapai.
3. Membuat skenario masa depan. Untuk keputusan penting, pertimbangkan beberapa kemungkinan: apa yang terjadi jika rencana berhasil, jika sebagian asumsi keliru, atau jika muncul perubahan yang tidak diperkirakan?
4. Belajar dari perubahan. Amati perkembangan ilmu, teknologi, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Jangan menunggu sampai perubahan menjadi masalah besar sebelum mulai beradaptasi.
5. Melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Jadikan pengamatan terhadap alam, kehidupan, dan perjalanan manusia sebagai jalan untuk memperdalam syukur, tanggung jawab, dan kesadaran akan keterbatasan diri.
Ketiga, melatih kecerdasan telinga.
1. Berlatih mendengarkan secara utuh. Beri kesempatan orang lain menyelesaikan penjelasannya sebelum menyela atau menyampaikan bantahan.
2. Memeriksa sumber informasi. Ketika menerima berita atau klaim penting, periksa sumber asli, tanggal, konteks, dan bukti pendukungnya. Jangan menyebarkan sesuatu hanya karena sesuai dengan keyakinan pribadi.
3. Meminta klarifikasi. Jika pesan yang diterima belum jelas, bertanyalah dengan santun daripada membangun kesimpulan berdasarkan dugaan.
4. Membuka diri terhadap pandangan berbeda. Mendengarkan pendapat yang berbeda bukan berarti harus menyetujuinya. Tujuannya agar kita memahami persoalan secara lebih utuh sebelum mengambil keputusan.
5. Merespons panggilan kebaikan. Ketika mendengar azan, nasihat, atau ajakan membantu sesama, jangan berhenti pada bunyi yang sampai ke telinga. Pertimbangkan bagaimana meresponsnya sesuai kemampuan, kewajiban, dan keadaan.
Latihan-latihan tersebut akan lebih bermakna apabila dilakukan secara konsisten. Kita dapat memulai dengan satu kebiasaan kecil setiap hari, kemudian mengevaluasi perkembangannya setiap pekan. Ukurannya bukan seberapa banyak teori yang kita kuasai, melainkan apakah perilaku kita semakin jernih, bijaksana, dan bermanfaat.
Jangan sampai fasilitas berubah menjadi kesia-siaan
Tausiyah Bapak Julianto dan tanggapan Tgk Muhammad Yusuf membawa kita kembali kepada pertanyaan yang sangat mendasar: untuk apa Allah memberikan kemampuan kepada manusia jika kemampuan itu tidak digunakan untuk kebaikan?
Hati bukan sekadar tempat menyimpan perasaan. Ia harus menjadi ruang kesadaran dan pertimbangan moral. Mata bukan sekadar alat melihat keadaan sekarang. Ia harus membantu kita mengenali kenyataan, membaca perubahan, dan mempersiapkan masa depan. Telinga bukan sekadar penerima bunyi. Ia harus menjadi jalan untuk memahami nasihat, menyaring informasi, dan menangkap panggilan kebenaran.
Ketiganya perlu bekerja bersama agar manusia tidak hanya pintar mengetahui, tetapi juga bijaksana memutuskan; tidak hanya cepat melihat, tetapi juga mampu memahami; tidak hanya banyak mendengar, tetapi juga bersedia menerima pelajaran.
Bagi warga kampus, pesan ini dapat dimulai dari hal yang dekat: menggunakan ilmu untuk memberi manfaat, memanfaatkan lingkungan masjid untuk memperkuat hubungan dengan Allah, bersedia mendengar kritik, dan membangun kompetensi yang relevan dengan masa depan.
Bagi masyarakat luas, pesannya sama: jangan membiarkan kemudahan teknologi, kelimpahan informasi, dan kesibukan sehari-hari membuat kita kehilangan kepekaan terhadap kebenaran dan sesama.
Pada akhirnya, kecerdasan hati, mata, dan telinga bukan perlombaan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Ia merupakan perjalanan untuk terus memperbaiki diri. Sebab, semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya tentang apa yang belum diketahui; semakin tinggi kedudukannya, semestinya semakin kuat pula tanggung jawabnya; dan semakin banyak kesempatan yang diterimanya, semestinya semakin besar pula manfaat yang diberikannya.
Kita tidak dapat memilih semua informasi yang datang, semua perubahan yang terjadi, atau semua keadaan yang harus dihadapi. Namun, kita dapat melatih cara melihat, cara mendengar, cara menimbang, dan cara bertindak.
Semoga hati kita tidak kehilangan nurani, mata kita tidak berhenti pada permukaan, dan telinga kita tidak tertutup terhadap kebenaran. Semoga ketiganya menjadi jalan untuk menambah ilmu, memperbaiki akhlak, menebarkan manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebab, yang paling disayangkan bukanlah ketika manusia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik, melainkan ketika kesempatan itu terbuka, petunjuk telah datang, tetapi hati, mata, dan telinganya tidak digunakan untuk mengambil pelajaran.
Wallahu a’lam
Darussalam 10 Jumadil Awal 1448, 21 Oktober 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
