Belajar dari Ustaz Dr. H. Samsul Bahri: merawat harapan, menyaring informasi, dan menemukan kekuatan dalam kasih sayang keluarga
Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Kamis petang, 15 Oktober 2026, saya bersilaturahim ke kediaman Ustaz Dr. H. Samsul Bahri, akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pertemuan setelah sekian waktu tidak berjumpa itu menghadirkan kesan yang menyenangkan. Saya melihat beliau tampak segar, ramah, dan tetap bersemangat menjalani kehidupan, meskipun sudah sekitar dua setengah tahun menghadapi persoalan kesehatan yang membatasi mobilitasnya.
Ada pemandangan yang membuat saya bersyukur. Dari kursi roda yang selama ini menjadi teman setia dalam menjalani aktivitas, beliau berdiri dan berpindah ke sofa tanpa bantuan. Saya tidak hendak menjadikan satu gerakan itu sebagai ukuran kesembuhan, tetapi bagi seorang sahabat yang lama tidak berjumpa, pemandangan tersebut menghadirkan harapan dan rasa syukur tersendiri.
Di tengah keterbatasan fisik, ternyata kehidupan intelektual dan pengabdian beliau tidak ikut berhenti. Rumah telah menjadi ruang kerja, ruang belajar, sekaligus ruang pelayanan kepada umat.
Rumah sebagai ruang pengabdian
Selama menjalani pemulihan, Ustaz Samsul tetap mengajar mahasiswa program sarjana, magister, hingga doktoral. Ada perkuliahan yang dilaksanakan secara daring, ada pula bimbingan dan aktivitas akademik yang dilakukan secara langsung dari rumah. Menulis, membimbing mahasiswa, berdiskusi, dan melayani masyarakat tetap menjadi bagian dari kesehariannya.
Keterbatasan gerak tidak serta-merta membatasi daya pikir dan kontribusi. Teknologi menjadi jembatan, sedangkan kemauan untuk terus berkarya menjadi tenaga penggeraknya.
Kita memperoleh pelajaran bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh seseorang mampu melangkah. Ada kalanya, seseorang yang secara fisik lebih banyak berada di rumah justru tetap menjangkau begitu banyak orang melalui ilmu, tulisan, dan perhatian yang diberikannya.
Tentu, kemampuan setiap orang berbeda. Ada orang sakit yang tetap produktif, ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk beristirahat. Keduanya tidak perlu dibandingkan. Yang patut kita pelajari dari Ustaz Samsul ialah ikhtiar menemukan ruang pengabdian sesuai dengan kemampuan yang tersedia.
Beliau pun tidak mengabaikan pengobatan. Terapi dijalani di bawah pengawasan dokter, obat-obatan dikonsumsi sesuai rekomendasi, dan pengobatan dilanjutkan melalui koordinasi tenaga medis di Banda Aceh dan Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, sesuai jadwal yang ditetapkan. Perjalanan Banda Aceh–Bandung menjadi bagian dari ikhtiar yang memerlukan kesabaran, biaya, tenaga, serta dukungan keluarga.
Di sinilah kita menemukan keseimbangan penting: menjaga semangat bukan berarti mengabaikan penyakit, dan bertawakal bukan berarti menghentikan pengobatan.
Energi positif bukan sekadar kata-kata
Dalam percakapan petang itu, kami banyak membicarakan energi positif dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, termasuk bagi seseorang yang sedang menjalani proses penyembuhan.
Istilah energi positif dalam percakapan sehari-hari tidak selalu berarti energi dalam pengertian fisika. Dalam konteks psikologi, istilah ini lebih tepat dipahami sebagai suasana batin yang konstruktif: harapan, ketenangan, optimisme yang realistis, rasa syukur, hubungan sosial yang mendukung, dan kemampuan menghadapi kesulitan tanpa kehilangan makna hidup.
Pandangan tersebut memiliki landasan dalam penelitian ilmiah.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Annual Review of Psychology pada 2019, berjudul Positive Affect and Health: What Do We Know and Where Next Should We Go?, membahas hubungan emosi positif dengan berbagai aspek kesehatan fisik. Penelitian dalam bidang ini menunjukkan adanya hubungan antara kesejahteraan psikologis dan sejumlah hasil kesehatan yang lebih baik. Para peneliti juga mempelajari bagaimana emosi, perilaku, respons stres, dan dukungan sosial saling berhubungan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa pikiran positif dapat menyembuhkan semua penyakit atau menggantikan pengobatan medis. (Pressman, Jenkins, dan Moskowitz, 2019).
Apa maknanya bagi kehidupan sehari-hari?
Seseorang yang memiliki harapan cenderung mempunyai alasan untuk terus menjalani rutinitas yang bermanfaat. Ia lebih mudah melihat peluang di tengah keterbatasan, lebih bersedia menerima bantuan, dan dapat menemukan makna dalam aktivitas sederhana. Sebaliknya, tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat mengganggu tidur, menurunkan kualitas hidup, dan mempersulit seseorang menghadapi penyakit.
Karena itu, membangun suasana batin yang baik merupakan bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan. Bukan sebagai jaminan kesembuhan, melainkan sebagai salah satu sumber daya untuk menjalani kehidupan dan pengobatan dengan lebih baik.
Kesan saya, Ustaz Samsul sedang memperlihatkan bagaimana semangat itu dipelihara. Beliau tidak membiarkan seluruh kehidupan ditentukan oleh penyakit. Masih ada mahasiswa yang harus dibimbing, ilmu yang perlu dibagikan, tulisan yang dapat diselesaikan, dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Penyakit hadir sebagai kenyataan, tetapi tidak harus mengambil alih seluruh makna kehidupan.
Menyaring informasi, menjaga ketenangan
Ada pelajaran lain yang menarik dari percakapan kami. Ustaz Samsul cukup selektif menerima informasi yang masuk ke dalam jaringan komunikasi dan kesehariannya. Tidak semua informasi ditanggapi. Terutama informasi yang cenderung negatif, tidak bermanfaat, atau hanya menambah kegaduhan, beliau memilih untuk tidak memberinya banyak ruang.
Sikap ini patut menjadi perhatian generasi muslim di tengah derasnya arus informasi digital.
Setiap hari, telepon genggam kita menerima berita, komentar, perdebatan, kabar buruk, dan berbagai informasi yang menuntut perhatian. Jika semuanya ditanggapi, energi mental kita akan terkuras untuk hal-hal yang belum tentu memberi manfaat.
Padahal, perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Apa yang terus-menerus kita baca, dengar, pikirkan, dan perbincangkan dapat memengaruhi suasana hati serta cara kita memandang kehidupan.
Menyaring informasi bukan berarti menutup diri dari kenyataan atau menghindari kritik yang berguna. Kita tetap perlu mengetahui perkembangan penting, menerima nasihat, dan mengoreksi kesalahan. Namun, kita juga perlu membedakan informasi yang benar-benar bermanfaat dari kabar yang hanya memancing kemarahan, ketakutan, dan prasangka.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang relevan:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
Ayat ini mengajarkan tanggung jawab dalam menerima dan mengikuti informasi. Tidak semua yang sampai ke telinga harus masuk ke dalam keyakinan. Tidak semua yang muncul di layar harus memperoleh tanggapan. Tidak semua perdebatan perlu kita masuki.
Bagi generasi muslim, kemampuan menyaring informasi merupakan bagian dari kedewasaan berpikir sekaligus upaya menjaga kesehatan psikologis. Kita perlu lebih banyak mengisi pikiran dengan ilmu, zikir, percakapan yang membangun, dan pekerjaan yang menghasilkan manfaat.
Tawakal sebagai sumber kekuatan batin
Energi positif seorang muslim tidak berhenti pada optimisme psikologis. Ada dimensi spiritual yang memberikan kedalaman makna, yakni iman, doa, tawakal, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar berada dalam pengetahuan serta ketentuan Allah.
Tawakal bukan sikap pasif yang menunggu keajaiban tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah manusia mengerahkan kemampuan yang dimilikinya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim, hadis nomor 2664.
Pesannya sangat kuat. Seorang muslim diajak untuk tetap berusaha, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah pada kelemahan. Dalam menghadapi penyakit, semangat itu diwujudkan melalui pengobatan, kepatuhan terhadap arahan dokter, doa, kesabaran, dan dukungan orang-orang terdekat.
Al-Qur’an juga menyebut dirinya sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’ [17]: 82).
Ayat ini memberikan landasan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Membaca, memahami, merenungkan, dan mengamalkan petunjuknya dapat menjadi sumber ketenteraman, pengharapan, serta kekuatan spiritual.
Allah juga berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Ketenteraman batin bukan berarti seseorang tidak pernah sedih, cemas, atau takut. Orang yang beriman pun dapat mengalami semua itu. Yang membedakannya ialah tempat ia kembali mencari kekuatan, makna, dan harapan.
Karena itu, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan memperbanyak ibadah dapat menjadi bagian dari ikhtiar mendampingi pengobatan. Amalan-amalan tersebut tidak perlu dipertentangkan dengan ilmu kedokteran. Keduanya berada dalam ranah yang dapat saling melengkapi, dengan tetap memahami batas dan peran masing-masing.
Terapi air dan batas penjelasan ilmiah
Dalam kehidupan masyarakat muslim, terdapat kebiasaan membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu memohon kepada Allah agar air yang diminum atau digunakan menjadi sebab kebaikan dan kesembuhan. Praktik ini sering disebut sebagai bagian dari ruqyah atau ikhtiar spiritual, bergantung pada tata cara dan keyakinan yang menyertainya.
Secara keagamaan, doa dan bacaan Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang muslim untuk memohon kesembuhan kepada Allah. Namun, kita perlu membedakan keyakinan spiritual tersebut dari klaim ilmiah mengenai perubahan struktur air.
Sebagian orang mengaitkan pembicaraan tentang air dan kata-kata dengan karya Masaru Emoto, penulis dan peneliti Jepang yang memopulerkan foto kristal air setelah air diberi perlakuan berupa kata-kata atau niat tertentu. Gagasannya menarik perhatian publik, tetapi klaim bahwa kata-kata baik atau bacaan tertentu mengubah struktur air dengan cara yang menghasilkan manfaat kesehatan khusus belum memiliki dukungan ilmiah yang kuat dan konsisten. Foto kristal yang dipilih secara subjektif juga rentan terhadap bias penilaian dan pemilihan sampel.
Karena itu, kita sebaiknya tidak menyebut penelitian Emoto sebagai bukti ilmiah yang sudah memastikan bahwa air yang dibacakan ayat Al-Qur’an memiliki struktur khusus atau daya penyembuh medis.
Lantas, bagaimana kita menempatkan terapi air yang disertai bacaan Al-Qur’an?
Kita dapat memahaminya sebagai bagian dari ikhtiar spiritual, selama dilakukan dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang memberikan kesembuhan, bukan air atau bacaan itu sendiri sebagai kekuatan mandiri. Doa, bacaan Al-Qur’an, dan air yang diminum secara wajar tidak perlu dipertentangkan dengan pengobatan. Namun, air yang dibacakan ayat tidak boleh dipromosikan sebagai pengganti obat, terapi, atau tindakan medis yang dibutuhkan.
Sikap ini memungkinkan kita menghormati keyakinan agama tanpa mengaburkan batas antara dalil keagamaan dan pembuktian ilmiah.
Tujuh langkah membangun energi positif
Dari perjumpaan saya dengan Ustaz Samsul, kita dapat merumuskan beberapa langkah sederhana bagi generasi muslim untuk memelihara energi positif dalam kehidupan.
Pertama, luruskan niat dan temukan makna hidup. Jangan mengukur nilai diri hanya dari capaian material, jabatan, atau kemampuan fisik. Selalu ada ruang untuk berbuat baik, sekalipun dalam keadaan terbatas.
Kedua, rawat hubungan dengan Allah. Jadikan salat, membaca Al-Qur’an, zikir, dan doa sebagai kebiasaan yang memberi arah serta ketenteraman batin. Jangan hanya mendekat kepada Allah ketika kesulitan datang, tetapi bangunlah hubungan itu dalam keseharian.
Ketiga, ikhtiarkan kesehatan secara bertanggung jawab. Jaga pola tidur, konsumsi makanan yang baik, bergerak sesuai kemampuan, dan ikuti anjuran tenaga medis. Untuk orang yang sedang sakit, jenis aktivitas dan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Keempat, seleksi informasi. Periksa kebenaran berita, kurangi paparan yang tidak perlu, dan hindari kebiasaan menanggapi semua provokasi. Berikan perhatian lebih kepada ilmu, kabar yang bermanfaat, dan percakapan yang membangun.
Kelima, pertahankan produktivitas yang realistis. Tidak semua orang harus menghasilkan sesuatu setiap hari. Akan tetapi, jika keadaan memungkinkan, kegiatan sederhana seperti membaca, menulis, belajar, atau berkomunikasi dengan sahabat dapat membantu menjaga rasa bermakna.
Keenam, bangun lingkungan yang mendukung. Pilih pergaulan yang menghadirkan ketulusan, bukan hanya keramaian. Jadilah orang yang memberi harapan kepada orang lain, terutama mereka yang sedang menghadapi ujian.
Ketujuh, latih syukur dan kesabaran secara bersamaan. Syukur membantu kita mengenali nikmat yang masih ada, sedangkan sabar menolong kita menghadapi hal-hal yang belum berubah. Keduanya tidak mengharuskan kita berpura-pura bahagia atau menyembunyikan rasa sakit.
Ketujuh langkah ini bukan resep instan untuk menyembuhkan penyakit. Ia merupakan ikhtiar membangun kualitas hidup yang lebih baik, memelihara kesehatan psikologis, dan menguatkan kemampuan menghadapi ujian.
Cinta seorang istri, kekuatan sebuah keluarga
Di antara seluruh kesan dari kunjungan petang itu, ada satu pemandangan yang sangat menyentuh hati saya: hubungan Ustaz Samsul dengan istrinya.
Saya melihat komunikasi mereka berlangsung cair dan hangat. Ada kenyamanan dalam cara mereka berinteraksi. Saya tidak menangkap kesan bahwa hubungan itu dibebani suasana yang kaku, meskipun keluarga ini telah melewati perjalanan pengobatan yang panjang dan tidak mudah.
Tentu, apa yang saya lihat hanya sepotong kecil dari kehidupan mereka. Saya tidak mengetahui seluruh kelelahan, kecemasan, pengorbanan, dan doa yang mungkin berlangsung ketika orang lain tidak menyaksikannya. Namun, justru dalam keseharian yang sederhana itu, saya menangkap pelajaran tentang cinta yang bekerja, bukan sekadar cinta yang diucapkan.
Istri Ustaz Samsul, bersama anak-anak mereka, memberikan dukungan yang kuat dan sabar. Mendampingi orang yang sedang sakit dalam waktu panjang membutuhkan keteguhan yang tidak sederhana. Ada waktu, tenaga, perhatian, penyesuaian rutinitas, serta kesediaan untuk terus hadir ketika proses penyembuhan belum memberikan kepastian tentang kapan semuanya akan pulih.
Petang itu saya sempat merasa baper menyaksikan ekspresi keikhlasan sang istri dalam mendampingi suaminya. Ada kelembutan yang menyenangkan untuk dilihat, sekaligus pelajaran yang dalam untuk direnungkan.
Saya teringat bahwa dalam Islam, pernikahan bukan hanya ikatan untuk berbagi kebahagiaan ketika keadaan lapang. Pernikahan juga merupakan perjanjian untuk saling menjaga ketika salah seorang berada dalam keadaan lemah.
Al-Qur’an menggambarkan hubungan suami istri sebagai tempat memperoleh ketenteraman, disertai kasih dan sayang:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum [30]: 21).
Kasih sayang dalam ayat ini terasa nyata ketika cinta menjelma menjadi kesediaan untuk merawat, menemani, menguatkan, dan bersabar. Cinta bukan hanya tentang siapa yang menggenggam tangan kita ketika berjalan bersama, melainkan siapa yang tetap setia ketika salah seorang tidak lagi mampu berjalan seperti dahulu.
Saya membayangkan betapa berharganya dukungan semacam itu bagi seseorang yang sedang berjuang memulihkan kesehatan. Kehadiran keluarga tidak menggantikan dokter atau terapi, tetapi dapat menjadi sumber kekuatan emosional yang sangat berarti dalam menjalani proses pengobatan.
Bagi para istri dan suami generasi muslim, inilah pelajaran yang layak dibawa pulang. Merawat pasangan bukan pekerjaan kecil. Dalam pandangan iman, kesetiaan dan pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga Allah membalas kesabaran dan kasih sayang istri Ustaz Samsul serta anak-anak mereka dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Merawat harapan, melanjutkan ikhtiar
Silaturahim petang itu mengajarkan saya bahwa energi positif tidak selalu hadir melalui pidato yang membakar semangat atau nasihat yang panjang. Kadang-kadang, ia tampak melalui seorang akademisi yang tetap mengajar dari rumah, seorang pasien yang tekun mengikuti terapi, sebuah keluarga yang saling menguatkan, dan seorang istri yang merawat suaminya dengan penuh kasih.
Kita belajar bahwa manusia tidak selalu mampu memilih ujian yang datang, tetapi dapat terus berikhtiar menentukan bagaimana ia menyikapinya. Kita belajar menyaring informasi agar pikiran tidak dipenuhi kegaduhan, mendekat kepada Al-Qur’an untuk memperoleh ketenteraman, dan tetap menghormati pengobatan sebagai bagian dari usaha mencari kesembuhan.
Di atas semuanya, kita belajar bahwa kesembuhan adalah harapan yang perlu diperjuangkan, bukan janji yang dapat dipastikan oleh optimisme semata.
Kepada Ustaz Dr. H. Samsul Bahri, saya menyampaikan apresiasi dan doa. Semoga Allah senantiasa menguatkan hati, memudahkan setiap tahapan terapi, memberkahi ilmu dan pengabdian yang terus beliau jalankan, serta memberikan jalan terbaik menuju kesembuhan.
Kepada istri dan anak-anak beliau, penghormatan yang tulus atas kesabaran, keteguhan, dan dukungan yang terus diberikan. Semoga kasih sayang yang terawat di rumah itu menjadi sumber ketenteraman dan pahala yang tidak terputus.
Semoga kita semua belajar menjadi manusia yang tidak mudah kehilangan harapan, tidak lelah berikhtiar, tidak lalai memohon pertolongan Allah, dan tidak pelit memberikan kasih sayang kepada mereka yang sedang menghadapi ujian.
Sebab, terkadang, salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan menuju kesembuhan bukan hanya obat yang diminum atau terapi yang dijalani, melainkan juga hati yang terus berharap, iman yang tetap terpelihara, dan keluarga yang tidak pernah berhenti menemani.
Semoga Allah memberikan kesembuhan, kekuatan, dan kemudahan kepada Ustaz Samsul Bahri. Amin ya Rabbal ’alamin.
Wallahu a’lam
Darussalam 15 Oktober 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
