Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Anggota Tim 9 Wali Nanggroe Aceh, Dr. Tgk. Tarmizi M. Daud, M.Ag., menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan kecerdasan intelektual seharusnya mengantarkan manusia semakin mengenal, takut, dan taat kepada Allah SWT. Kecerdasan yang tidak melahirkan ketundukan kepada Allah justru kehilangan makna hakikinya.
Pesan tersebut disampaikan Tgk. Tarmizi dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah memahami perumpamaan-perumpamaan (tamsil) yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisis, dan menghasilkan berbagai inovasi, sekaligus memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
Ia merujuk Surah Al-Ankabut ayat 43 yang menjelaskan bahwa perumpamaan-perumpamaan tersebut diberikan Allah kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya secara mendalam kecuali orang-orang yang berilmu.
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan pentingnya ilmu dalam menggali makna dan hikmah di balik berbagai fenomena kehidupan. Ilmu tidak cukup hanya menghasilkan kecakapan intelektual atau kemajuan teknologi, tetapi juga harus membimbing manusia mengenal kebesaran Allah.
Ilmu, gelar akademik, dan kualitas iman
Mengutip pemikiran Syekh Ibn Athaillah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam, Tgk. Tarmizi mengingatkan bahwa semakin dalam seseorang memahami ilmu, seharusnya semakin tumbuh pula rasa takut dan ketundukannya kepada Allah.
Karena itu, menurutnya, gelar akademik mulai dari sarjana, magister, doktor hingga guru besar semestinya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas iman dan amal saleh.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan semata tidak menjamin seseorang berada di jalan kebenaran. Iblis, misalnya, menjadi pelajaran tentang bagaimana pengetahuan dan pengakuan atas keberadaan Allah tidak dengan sendirinya melahirkan kepatuhan ketika kesombongan menguasai diri.
“Yang harus kita bedakan adalah orang yang sekadar cerdas dengan orang berilmu yang semakin mengenal Tuhannya,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
Tgk. Tarmizi juga menguraikan pentingnya membangun keyakinan melalui ilmu. Ia mengingatkan jamaah tentang tiga tingkatan keyakinan, yakni ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin, yang menggambarkan pendalaman keyakinan melalui pengetahuan, penyaksian, dan keyakinan yang semakin mantap.
Dengan fondasi ilmu yang kuat, seorang Muslim diharapkan mampu memahami dan mempertanggungjawabkan keyakinannya, bukan sekadar mengikuti sesuatu tanpa pemahaman yang memadai.
Teknologi manusia dan kemahakuasaan Allah
Dalam khutbah tersebut, Tgk. Tarmizi turut menggunakan kemajuan teknologi sebagai perumpamaan untuk mengingatkan manusia tentang keterbatasan dirinya.
Ia mencontohkan kemampuan manusia menciptakan pesawat terbang melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengolahan berbagai bahan dari alam. Namun, bahan baku serta hukum-hukum alam yang memungkinkan teknologi itu berfungsi bukanlah ciptaan manusia.
Manusia dapat mengolah besi menjadi pesawat dan merancang teknologi agar pesawat mampu terbang. Akan tetapi, manusia tidak menciptakan bumi, besi, dan udara dari ketiadaan.
Perumpamaan tersebut, menurut pesan khutbahnya, mengajak manusia agar tidak berhenti mengagumi kecanggihan teknologi, tetapi juga merenungkan kebesaran Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta seluruh hukum yang mengaturnya.
Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semestinya memperkuat kesadaran spiritual, bukan menumbuhkan kesombongan atau membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan petunjuk Allah.
Ilmu harus bermuara pada ibadah
Lebih lanjut, Tgk. Tarmizi menegaskan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk belajar, bekerja, mengembangkan teknologi, dan membangun kehidupan sosial, perlu diarahkan kepada pengabdian kepada Allah SWT.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan Surah Al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati seorang Muslim ditujukan kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Menurutnya, ibadah tidak terbatas pada ibadah mahdhah yang tata caranya telah ditentukan syariat. Berbagai aktivitas di luar ibadah mahdhah juga dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar, dilakukan dengan cara yang sesuai syariat, dan diarahkan untuk menghasilkan kemaslahatan.
Ia juga mengingatkan jamaah tentang kehidupan akhirat sebagai tempat pertanggungjawaban atas ilmu dan amal selama hidup di dunia. Gelar akademik, kekayaan, dan jabatan tidak dapat menjadi ukuran akhir keberhasilan manusia. Yang lebih mendasar ialah bagaimana semua karunia tersebut digunakan untuk kebaikan dan pengabdian kepada Allah.
Khutbah itu ditutup dengan penekanan bahwa umat Islam perlu menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan teknologi, tetapi juga memiliki iman yang kokoh, akhlak yang baik, serta kesadaran mendalam tentang tujuan hidupnya.
Dengan memadukan kecerdasan intelektual, kekuatan spiritual, dan amal saleh, ilmu diharapkan menjadi jalan bagi manusia untuk mencapai makrifatullah—mengenal Allah—serta menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan.
Laporan Saif
