-->

Notification

×

Iklan

Iklan

IRI, BENCI, DAN DENGKI: PENYAKIT HATI YANG HARUS DIHINDARI

Jumat, 23 Oktober 2026 | Oktober 23, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T12:01:05Z


Belajar bahagia atas kebaikan orang lain


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Pesan khutbah Jumat Dr. Tgk. Teuku Zulkhairi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 23 Oktober 2026, tentang pentingnya memelihara kasih sayang menemukan kelanjutannya dalam satu persoalan yang sering tidak terlihat, tetapi dapat merusak hubungan antarmanusia: iri, kebencian, dan kedengkian.


Jika kasih sayang mendekatkan hati, kedengkian justru membuat hati menjauh. Jika kasih sayang mendorong seseorang ikut bahagia atas keberhasilan saudaranya, kedengkian membuat keberhasilan itu terasa seperti ancaman terhadap harga dirinya.


Persoalan ini penting dibicarakan karena kedengkian tidak selalu muncul dalam bentuk pertengkaran terbuka. Ia bisa bersembunyi di balik senyuman, pujian yang tidak tulus, sindiran, usaha mengecilkan prestasi orang lain, bahkan kegembiraan ketika orang yang tidak disukai mengalami kegagalan.


Di tengah masyarakat yang semakin terbiasa membandingkan pencapaian, kedudukan, kekayaan, dan popularitas, menjaga kebersihan hati menjadi tantangan tersendiri. Media sosial, misalnya, memungkinkan kita melihat keberhasilan orang lain setiap hari. Tanpa kedewasaan emosional, apa yang semestinya menjadi inspirasi dapat berubah menjadi sumber ketidakpuasan dan kecemburuan.


Padahal, keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi peluang kita untuk berkembang. Nikmat yang Allah berikan kepada seseorang tidak berarti Allah menutup pintu kebaikan bagi orang lain.


Al-Qur’an mengajarkan kita menjaga hati


Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak berangan-angan terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Ayat tersebut juga mengarahkan laki-laki dan perempuan untuk memohon karunia Allah sesuai dengan apa yang mereka usahakan.


Pesan ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan, kesempatan, dan ujian masing-masing. Daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, kita lebih baik memohon karunia Allah dan berusaha memperbaiki kehidupan melalui jalan yang benar.


Lebih tegas lagi, Allah mengajarkan doa dalam Surah Al-Hasyr ayat 10 agar orang-orang beriman memohon ampunan bagi diri mereka dan saudara-saudara mereka serta memohon agar hati mereka tidak menyimpan kedengkian terhadap orang-orang beriman.


Doa tersebut penting karena kebersihan hati bukan hanya hasil kemauan, tetapi juga sesuatu yang harus terus dimohonkan kepada Allah. Seseorang mungkin mengetahui bahwa dengki itu buruk, tetapi tetap membutuhkan pertolongan Allah untuk mengendalikan perasaan dan memperbaiki sikapnya.


Rasulullah SAW bersabda:


La tahasadu wa la tabaghadu.


Artinya, janganlah kalian saling mendengki dan janganlah saling membenci.


Hadis ini terdapat dalam Sahih Muslim. Dalam hadis yang sama, Nabi SAW juga mengingatkan agar kaum muslimin tidak saling membelakangi dan tidak merendahkan satu sama lain. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kedengkian dan kebencian bukan semata-mata persoalan batin, melainkan dapat berkembang menjadi perilaku yang merusak persaudaraan.


Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin membahas hasad sebagai salah satu penyakit hati yang dapat merusak hubungan manusia dengan sesamanya. Kedengkian membuat seseorang tidak nyaman melihat kelebihan orang lain dan, dalam bentuknya yang lebih buruk, menginginkan agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.


Memahami iri dan dengki melalui psikologi


Dalam kajian psikologi, perbandingan sosial merupakan bagian dari kecenderungan manusia untuk menilai keadaan dirinya dengan melihat orang lain. Perbandingan ini tidak selalu buruk. Seseorang dapat termotivasi belajar ketika melihat temannya berhasil, terdorong memperbaiki pekerjaan setelah melihat prestasi rekan, atau bersemangat meningkatkan kualitas ibadah ketika melihat kesalehan orang lain.


Persoalannya muncul ketika perbandingan itu melahirkan permusuhan, rasa tidak berharga, dan keinginan menjatuhkan pihak lain.


Dalam kajian psikologi Islam, penelitian Ahmad Rusdi tentang pengembangan Skala Hasad (HS-8), yang diterbitkan dalam Jurnal Psikologi Islam pada 2018 dengan melibatkan 823 responden, mengidentifikasi dimensi hasad yang berkaitan dengan kebencian ketika orang lain memperoleh keuntungan serta kegembiraan ketika orang tersebut kehilangan keuntungan itu.


Kajian tersebut membantu kita memahami bahwa kedengkian bukan sekadar keinginan memiliki apa yang dimiliki orang lain. Masalah menjadi lebih serius ketika seseorang tidak hanya ingin memperoleh kebaikan serupa, tetapi juga berharap orang lain kehilangan kebaikannya.


Kita perlu membedakan dua keadaan. Pertama, seseorang melihat keberhasilan orang lain lalu berkata dalam hati, “Alangkah baiknya jika saya juga bisa berhasil seperti dia.” Perasaan ini dapat diarahkan menjadi motivasi yang sehat. Kedua, seseorang berpikir, “Saya tidak senang dia berhasil. Lebih baik dia gagal daripada saya harus melihatnya maju.” Inilah sikap yang perlu diwaspadai karena telah bergerak menuju kedengkian.


Dalam tradisi Islam, keinginan meneladani kebaikan tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang lain sejalan dengan semangat berlomba-lomba dalam kebajikan. Kita boleh ingin menjadi lebih berilmu, lebih dermawan, lebih terampil, dan lebih bermanfaat. Namun, kemajuan diri tidak seharusnya dibangun di atas kehancuran orang lain.


Kedengkian dapat merusak persaudaraan


Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin merasa iri melihat sahabat memperoleh jabatan, tetangga memiliki usaha yang maju, rekan kerja mendapat penghargaan, atau tokoh masyarakat semakin dihormati. Jika tidak dikendalikan, perasaan itu dapat berkembang menjadi kebiasaan mencari-cari kesalahan, meremehkan prestasi, menyebarkan kabar buruk, atau menghalangi usaha orang lain.


Di sinilah kedengkian menjadi persoalan sosial. Orang yang dikuasai dengki tidak lagi menilai orang lain secara adil. Prestasi yang seharusnya diakui dianggap sebagai kebetulan, kebaikan dianggap pencitraan, dan keberhasilan dianggap hasil kedekatan atau keberuntungan semata.


Sikap semacam ini dapat muncul dalam keluarga, lingkungan kerja, organisasi, lembaga pendidikan, bahkan kehidupan bermasyarakat. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk membangun bersama justru habis untuk persaingan tidak sehat.


Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mudah menuduh orang lain dengki hanya karena mereka mengkritik atau berbeda pendapat dengan kita. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan niat memperbaiki bukanlah kedengkian. Demikian pula, ketidaksetujuan yang beralasan tidak boleh langsung dianggap sebagai kebencian.


Yang perlu dinilai adalah sikap dan tindakannya: apakah kritik disampaikan secara adil, apakah fakta dijaga, dan apakah tujuan utamanya memperbaiki keadaan atau menjatuhkan seseorang.


Dengan demikian, membersihkan hati dari dengki harus berjalan bersama keadilan dalam menilai orang lain.


Pelajaran bagi generasi muslim


Pertama, biasakan mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan ketika melihat keberhasilan orang lain. Jadikan prestasi mereka sebagai inspirasi, bukan ancaman.


Kedua, kurangi kebiasaan membandingkan seluruh kehidupan kita dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial. Apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan perjuangan mereka.


Ketiga, kenali nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri. Membiasakan diri bersyukur dapat membantu kita mengalihkan perhatian dari kekurangan menuju kesempatan memperbaiki diri.


Keempat, ketika merasa iri, ubahlah menjadi tujuan yang sehat. Jika orang lain berhasil dalam pendidikan, tingkatkan belajar. Jika mereka berhasil dalam usaha, pelajari cara kerjanya tanpa merusak atau merendahkan mereka.


Kelima, jaga lisan dan jari. Jangan menyebarkan fitnah, sindiran, atau informasi yang bertujuan menjatuhkan reputasi seseorang hanya karena kita tidak senang melihat kemajuannya.


Keenam, biasakan mendoakan orang yang kita anggap sebagai pesaing. Jika hati masih terasa berat, teruslah berusaha memperbaikinya melalui doa, introspeksi, dan tindakan baik.


Ketujuh, tanamkan dalam keluarga dan lingkungan pendidikan bahwa keberhasilan orang lain bukan alasan untuk merasa kalah. Setiap anak memiliki potensi, jalan belajar, dan kesempatan berkembang yang berbeda. Mereka perlu didorong untuk memperbaiki diri tanpa merendahkan teman.


Kedelapan, jika muncul persaingan, arahkan kepada kompetisi yang sehat. Ukur kemajuan bukan hanya dari posisi kita dibandingkan orang lain, tetapi juga dari seberapa jauh kita berkembang, seberapa jujur usaha kita, dan seberapa besar manfaat yang kita berikan.


Kedengkian membuat seseorang sibuk mengawasi kehidupan orang lain hingga lupa membangun kehidupannya sendiri. Sebaliknya, hati yang bersih memberi ruang bagi rasa syukur, ketenangan, dan kemajuan bersama.


Generasi muslim perlu belajar bahwa keberhasilan bukan perlombaan untuk mengalahkan semua orang. Kita boleh berkompetisi, tetapi hendaknya berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba menjatuhkan.


Sebab, nikmat yang diterima saudara kita bukanlah musibah bagi diri kita. Ketika kita mampu ikut bahagia atas kebaikan orang lain, saat itulah persaudaraan mulai tumbuh lebih kuat di dalam hati.


Jangan biarkan iri berubah menjadi dengki, dan jangan biarkan dengki merusak persaudaraan. Bersihkan hati, perbaiki diri, serta jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.


Wallahu a’lam 


Darussalam 23 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib)

×
Berita Terbaru Update