-->

Notification

×

Iklan

Iklan

KASIH SAYANG JANGAN RENGGANG

Jumat, 23 Oktober 2026 | Oktober 23, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T11:58:37Z


Merawat persaudaraan di tengah perbedaan dan kerasnya kehidupan


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Khutbah Jumat Dr. Tgk. Teuku Zulkhairi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 23 Oktober 2026, mengingatkan kita pada sebuah fondasi penting dalam kehidupan seorang muslim: kasih sayang harus tetap terpelihara, jangan sampai renggang oleh perbedaan, prasangka, dan kepentingan pribadi.


Pesan ini patut direnungkan lebih jauh. Kita hidup dalam masyarakat yang semakin terhubung melalui teknologi, tetapi kedekatan secara fisik maupun digital tidak selalu membuat hubungan batin semakin erat. Orang bisa saling mengikuti di media sosial, tetapi tidak saling menyapa ketika bertemu. Keluarga bisa berkumpul dalam satu rumah, tetapi sibuk dengan dunianya masing-masing. Sesama muslim bisa berada dalam satu saf, tetapi menyimpan kekecewaan dan permusuhan di dalam hati.


Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan kita mendirikan ibadah secara individual, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:


Innamal mu’minuna ikhwatun fa aslihu baina akhawaikum wattaqullaha la’allakum turhamun.


Artinya, sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.


Ayat ini meletakkan persaudaraan sebagai identitas sekaligus tanggung jawab. Persaudaraan bukan sekadar pengakuan bahwa kita sesama muslim, melainkan kesediaan menjaga kehormatan, membantu ketika kesulitan, dan mengupayakan perdamaian ketika terjadi perselisihan.


Tafsir As-Sa’di atas ayat tersebut menjelaskan bahwa persaudaraan iman mengandung tuntutan agar seorang muslim menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri. Persaudaraan itu harus diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan berhenti sebagai slogan.


Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan di antara mereka ibarat satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, anggota lainnya ikut merasakan kesulitan karena demam dan tidak dapat tidur. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.


Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa keimanan semestinya menumbuhkan kepekaan. Kesulitan orang lain tidak cukup hanya menjadi tontonan, tetapi harus menggerakkan kepedulian sesuai kemampuan kita.


Dalam perspektif psikologi sosial, rasa memiliki, dukungan emosional, dan hubungan yang saling menghargai merupakan unsur penting bagi kesejahteraan psikologis. Kasih sayang membantu manusia merasa diterima, mengurangi keterasingan, dan membangun kepercayaan. Sebaliknya, hubungan yang terus-menerus diwarnai penghinaan, permusuhan, dan ketidakpedulian dapat memperbesar tekanan emosional.


Karena itu, kasih sayang bukan kelemahan. Ia merupakan kekuatan moral yang membuat manusia mampu menahan ego, mendengar penjelasan orang lain, dan menyelesaikan masalah tanpa harus menghancurkan hubungan.


Namun, kasih sayang juga tidak berarti membenarkan semua tindakan. Kita tetap perlu menasihati ketika ada kesalahan, menegakkan keadilan ketika ada kezaliman, dan menjaga batas yang sehat dalam hubungan. Bedanya, koreksi dilakukan dengan niat memperbaiki, bukan mempermalukan.


Pelajaran bagi generasi muslim


Pertama, biasakan menyapa, memberi salam, dan menjaga komunikasi dengan keluarga, sahabat, guru, serta tetangga.


Kedua, jangan biarkan perbedaan pilihan politik, organisasi, mazhab dalam persoalan yang diperselisihkan, atau kepentingan pekerjaan memutus persaudaraan.


Ketiga, jika terjadi perselisihan, berusahalah mendengar kedua belah pihak sebelum mengambil kesimpulan. Jangan mudah menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.


Keempat, latih empati melalui tindakan sederhana: mengunjungi yang sakit, membantu yang kesulitan, menghormati yang lebih tua, dan mendampingi yang sedang menghadapi masalah.


Kelima, jadilah orang yang menghadirkan ketenteraman. Jangan sampai kehadiran kita membuat orang lain takut, tertekan, atau merasa direndahkan.


Pesan khutbah ini mengajak kita memahami bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan pilihan sikap yang harus diperbarui setiap hari. Persaudaraan akan tetap kuat apabila setiap orang bersedia menjadi bagian dari solusi.


Jangan biarkan perbedaan merenggangkan kasih sayang. Sebab, masyarakat yang kokoh bukan masyarakat yang tidak pernah berselisih, melainkan masyarakat yang mampu menyelesaikan perselisihan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan dan persaudaraan.


Wallahu a’lam 


Darussalam 23 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib)

×
Berita Terbaru Update