-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Subuh Moderasi di Masjid Fathun Qarib, Ustaz Arifuddin Al Fauzy Al Makassary Ajak Mahasiswa Bangun Karakter Kuat dan Sehat Mental

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T00:09:09Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Ustaz Arifuddin Al Fauzy Al Makassary menyampaikan tausiyah dalam kegiatan Subuh Moderasi di Masjid Fathun Qarib, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat (9/10/2026). Dalam tausiyah bertema “Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Kuat, Sehat Mental, dan Tangguh Menghadapi Tantangan Zaman” tersebut, ia mengajak mahasiswa memperkuat akhlak, menjaga kesehatan mental dan spiritual, serta membekali diri dengan kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Kegiatan Subuh Moderasi merupakan program kolaborasi Ma’had Al-Jami’ah, Pusat Kerohaian dan Moderasi Beragama (PKMB), dan BKM Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry. Kegiatan perdana ini dihadiri sekitar 1.600 mahasantri peserta program Ma’had, para pimpinan UIN Ar-Raniry, serta jamaah tetap Masjid Fathun Qarib.


Dalam tausiyahnya, Ustaz Arifuddin menegaskan bahwa generasi muda hari ini merupakan calon pemimpin masa depan. Karena itu, persiapan menjadi pemimpin tidak cukup hanya melalui pencapaian akademik, tetapi juga harus disertai karakter yang kuat, kestabilan emosi, kedalaman spiritual, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana.


Ia menekankan tiga hal utama yang perlu dibangun mahasiswa, yakni karakter dan akhlak mulia, kesehatan mental dan spiritual, serta ketangguhan menghadapi tantangan zaman.


Meneladani akhlak Rasulullah


Dalam membahas karakter, Ustaz Arifuddin mengajak mahasiswa meneladani akhlak Rasulullah saw., terutama melalui empat sifat utama, yaitu ṣiddīq (jujur), amānah (dapat dipercaya), tablīgh (menyampaikan kebenaran), dan faṭānah (cerdas dan bijaksana).


Menurutnya, kejujuran merupakan fondasi kepercayaan, sedangkan amanah harus dimulai dari tanggung jawab-tanggung jawab kecil sebelum seseorang mengemban tugas yang lebih besar.


“Jangan sampai kita ingin menjadi pemimpin besar, tetapi menjaga amanah kecil saja tidak mampu,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi tausiyah tersebut.


Ia juga mengingatkan bahwa keberanian menyampaikan kebenaran harus disertai kesantunan dan kebijaksanaan. Sementara itu, kecerdasan mahasiswa hendaknya tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi diwujudkan dalam kemampuan memahami persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.


Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan Rasulullah sebagai teladan terbaik bagi umat Islam.


Kesehatan mental dan spiritual perlu berjalan beriringan


Selain karakter, Ustaz Arifuddin menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari pembangunan manusia yang utuh. Menurutnya, kecerdasan intelektual perlu berjalan bersama kestabilan emosi, ketahanan menghadapi tekanan, dan kekuatan spiritual.


Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan persoalan mental yang mungkin muncul akibat tekanan perkuliahan, masalah keluarga, kondisi ekonomi, perundungan, maupun persoalan sosial lainnya.


Dalam konteks spiritual, ia mengutip Surah Ar-Ra‘d ayat 28 tentang ketenteraman hati melalui zikir kepada Allah Swt. Salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa merupakan bagian dari ikhtiar memelihara hubungan dengan Allah sekaligus membangun kedisiplinan hidup.


Namun, ia juga menekankan bahwa orang yang mengalami kesulitan mental atau emosional tidak seharusnya langsung dihakimi sebagai pribadi yang lemah iman. Mereka perlu didengarkan, didukung, dan dibantu memperoleh pertolongan yang tepat apabila diperlukan.


Menurutnya, ibadah, dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, dan bantuan profesional dapat saling melengkapi dalam menjaga kesehatan mental.


Waspadai perundungan, judi daring, dan narkoba


Dalam membahas tantangan zaman, Ustaz Arifuddin mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati terhadap perundungan (bullying), perjudian daring (judi online), penyalahgunaan narkoba, serta penggunaan teknologi dan media sosial secara berlebihan.


Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 11 sebagai landasan untuk tidak mengolok-olok atau merendahkan orang lain. Perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, bukan sekadar candaan karena dapat melukai martabat, merusak kepercayaan diri, dan menimbulkan tekanan emosional bagi korban.


Mahasiswa juga diingatkan agar tidak tergoda perjudian daring yang menjanjikan keuntungan instan, tetapi berpotensi menimbulkan kerugian finansial, utang, konflik keluarga, dan gangguan konsentrasi belajar. Larangan berjudi dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 90, menjadi pengingat agar umat menjauhi perilaku tersebut.


Sementara itu, penyalahgunaan narkoba dipandang sebagai ancaman terhadap kesehatan, kemampuan berpikir, pendidikan, dan kehidupan sosial. Ia mengajak mahasiswa membangun pergaulan yang sehat serta tidak mengucilkan teman yang menghadapi masalah, melainkan mendorong mereka memperoleh bantuan yang sesuai.


Terkait perkembangan teknologi, mahasiswa diminta memanfaatkannya untuk belajar, memperluas jaringan, meningkatkan keterampilan, dan menghasilkan karya. Teknologi seharusnya menjadi sarana pengembangan diri, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan hingga mengabaikan ibadah, perkuliahan, istirahat, dan hubungan sosial.


Formula 4K untuk membangun generasi unggul


Sebagai panduan praktis, Ustaz Arifuddin memperkenalkan formula 4K, yaitu Kenali Diri, Kontrol Lingkungan, Kuatkan Ibadah, dan Kembangkan Potensi.


Pertama, Kenali Diri, yakni memahami tujuan hidup sebagai hamba Allah sekaligus menyadari tanggung jawab untuk belajar dan memberi manfaat kepada masyarakat.


Kedua, Kontrol Lingkungan, yaitu memilih pergaulan yang positif dan berani menolak ajakan yang bertentangan dengan prinsip agama maupun tanggung jawab pribadi.


Ketiga, Kuatkan Ibadah, dengan menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. Ia mengingatkan bahwa kualitas ibadah semestinya tercermin dalam akhlak, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.


Keempat, Kembangkan Potensi, dengan memanfaatkan masa muda untuk belajar sungguh-sungguh, aktif dalam organisasi, mengasah keterampilan komunikasi dan kepemimpinan, serta berani mencoba berbagai kegiatan positif.


Ia mengingatkan bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu menjadi pejabat untuk belajar bertanggung jawab, menjadi kaya untuk membantu sesama, atau menjadi pemimpin besar untuk memberikan manfaat.


“Mulailah dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang,” menjadi pesan penting bagi mahasiswa dalam memanfaatkan masa muda.


Subuh Moderasi sebagai ruang penguatan karakter


Kegiatan Subuh Moderasi di Masjid Fathun Qarib menjadi ruang pembinaan yang mempertemukan penguatan spiritual dengan persoalan nyata yang dihadapi generasi muda. Melalui kolaborasi Ma’had Al-Jami’ah, PKMB, dan Masjid Fathun Qarib, kegiatan ini diharapkan mendukung pembentukan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, kuat secara spiritual, dan mulia dalam akhlak.


Ustaz Arifuddin berharap mahasiswa UIN Ar-Raniry tumbuh menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan ilmu, iman, dan kebijaksanaan, sekaligus membawa perubahan positif bagi agama, bangsa, dan negara.


Pesan utama tausiyah tersebut menegaskan bahwa membangun generasi unggul bukan hanya tentang menyiapkan orang-orang pintar, melainkan juga membentuk pribadi yang jujur, amanah, sehat mental, tangguh, dan bermanfaat bagi sesama.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update