-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Khutbah di Fathun Qarib Dr Zulkhairi Ajak Umat Tebarkan Kasih Sayang dan Jauhi Kebencian

Kamis, 22 Oktober 2026 | Oktober 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T06:32:00Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Akademisi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang juga Wakil Ketua Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Dr Tgk Teuku Zulkhairi, mengajak umat Islam untuk menebarkan kasih sayang, menjauhi kebencian dan kedengkian, serta menjaga kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari.


Ajakan tersebut disampaikan Tgk Teuku Zulkhairi dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat (23/10/2026), bertepatan dengan 12 Jumadil Awal 1448 Hijriah.


Dalam khutbah bertema “Menebarkan Kasih Sayang, Menjauhi Kebencian, dan Menjaga Kerendahan Hati” itu, ia menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang Muslim memperlakukan sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.


Menurutnya, akhlak seorang Muslim tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ketenangan, memberikan manfaat, dan menjaga perasaan orang lain.


“Jangan sampai kehadiran kita justru menjadi sumber kesedihan bagi orang lain. Sebaliknya, jadikanlah diri kita sebagai pribadi yang membawa ketenangan, memberikan manfaat, dan menghadirkan kebahagiaan di mana pun kita berada,” demikian pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.


Tgk Teuku Zulkhairi mengawali khutbah dengan mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT. Syukur, katanya, tidak cukup diucapkan melalui lisan, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan, amal saleh, serta penggunaan nikmat untuk hal-hal yang diridai Allah.


Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa orang-orang yang penyayang akan mendapatkan kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih.


Pesan tersebut, lanjutnya, mengajarkan bahwa kasih sayang tidak boleh dibatasi hanya kepada keluarga, sahabat, atau orang-orang yang memiliki kesamaan kepentingan. Kasih sayang harus menjadi bagian dari kepribadian seorang Muslim ketika berinteraksi dengan siapa pun.


Karena itu, umat Islam dituntut membiasakan diri menghargai orang lain, membantu mereka yang mengalami kesulitan, serta menghindari perkataan dan tindakan yang menyakiti sesama.


Hindari Kedengkian dan Permusuhan


Dalam khutbahnya, Tgk Teuku Zulkhairi juga mengingatkan bahaya kebencian, kedengkian, dan permusuhan yang dapat merusak persaudaraan.


Mengutip hadis riwayat Muslim, ia menyampaikan pesan Rasulullah SAW agar umat Islam tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi, serta senantiasa menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.


Menurutnya, perbedaan pendapat, latar belakang, kemampuan, maupun cara memahami suatu persoalan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan dan menyakiti orang lain.


Ia mencontohkan persaudaraan kaum Muhajirin dan Ansar sebagai teladan tentang bagaimana persaudaraan diwujudkan melalui kepedulian dan kesediaan membantu sesama, bahkan ketika diri sendiri memiliki keterbatasan.


“Persaudaraan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu membantu orang lain meskipun kita sendiri memiliki keterbatasan, menjaga kehormatan saudara kita ketika ia tidak berada di hadapan kita, serta ikut merasakan kesedihan dan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.


Ia turut mengingatkan bahwa kasih sayang harus dimulai dari lingkungan keluarga, terutama melalui perhatian kepada kedua orang tua.


Jangan sampai seseorang begitu mudah memberikan perhatian kepada orang lain, tetapi melupakan orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya sejak kecil.


Karena itu, jamaah diajak meluangkan waktu untuk menghubungi orang tua, menanyakan kabar, memperhatikan kebutuhan mereka, serta membahagiakan mereka melalui perkataan yang santun dan perbuatan yang baik.


Bagi orang tua yang telah meninggal dunia, kasih sayang tetap dapat diwujudkan dengan mendoakan dan memohonkan ampunan kepada Allah SWT untuk mereka.


Selain orang tua, ia mengingatkan pentingnya mendoakan guru-guru, keluarga besar, dan orang-orang yang telah berjasa dalam perjalanan kehidupan.


Ilmu dan Jabatan Bukan Alasan untuk Sombong


Pesan lain yang mendapat perhatian dalam khutbah tersebut adalah pentingnya menjaga kerendahan hati dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain.


Tgk Teuku Zulkhairi mengingatkan bahwa seseorang yang memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, bersedekah, dan melakukan amal saleh tetap harus waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesombongan.


Ia mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Iblis yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena merasa dirinya lebih baik.


Menurutnya, kesombongan dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran dan mendorongnya memandang rendah orang lain.


Karena itu, kekayaan, jabatan, ilmu, keturunan, maupun kedudukan sosial tidak boleh dijadikan alasan untuk merasa lebih mulia daripada sesama.


Mengutip hadis riwayat Muslim, ia mengingatkan bahwa kesombongan merupakan perkara serius dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kesombongan berkaitan dengan sikap menolak kebenaran dan merendahkan manusia.


Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh harta, jabatan, popularitas, atau keturunan.


“Jika kita memiliki ilmu, gunakanlah ilmu tersebut untuk membimbing, bukan menghina. Jika kita memiliki harta, gunakanlah untuk membantu, bukan menyombongkan diri. Jika kita memiliki jabatan, gunakanlah untuk melayani, bukan menindas,” menjadi pesan penting dalam khutbah tersebut.


Ia menambahkan, seorang Muslim hendaknya terus memperbaiki diri tanpa sibuk merendahkan orang lain. Sebab, manusia tidak mengetahui secara menyeluruh keadaan hati, perjuangan, keikhlasan, dan amal seseorang di hadapan Allah SWT.


Bahkan, melalui hadis tentang seseorang yang mendapat ampunan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan, serta kisah perempuan yang mendapat hukuman karena menelantarkan seekor kucing, umat Islam diingatkan agar tidak meremehkan perlakuan terhadap makhluk Allah.


Kebaikan Harus Terlihat di Rumah


Dalam bagian berikutnya, Tgk Teuku Zulkhairi mengajak jamaah berusaha menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, tetangga, sahabat, dan orang-orang yang berinteraksi dengan mereka setiap hari.


Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya.


Menurutnya, ukuran akhlak seseorang tidak cukup dilihat dari sikapnya di hadapan masyarakat. Cara memperlakukan keluarga di rumah juga menjadi bagian penting dalam menilai kualitas akhlak tersebut.


Seseorang mungkin terlihat ramah dan santun ketika berada di tengah masyarakat, tetapi justru mudah marah dan berkata kasar kepada keluarganya. Sikap seperti itu perlu menjadi bahan introspeksi.


Karena itu, suami dan istri hendaknya membangun rumah tangga dengan kasih sayang dan tanggung jawab. Orang tua perlu mendidik anak dengan perhatian, sementara anak-anak harus menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua.


Dalam kehidupan bertetangga, umat Islam juga diingatkan untuk tidak menjadi sumber gangguan bagi orang lain.


Mengutip hadis riwayat Bukhari, ia menegaskan pentingnya menjaga tetangga agar merasa aman dari perkataan maupun tindakan yang merugikan.


Jamaah diajak mengevaluasi diri dengan beberapa pertanyaan mendasar: apakah perkataan yang selama ini disampaikan lebih banyak membawa kebahagiaan atau melukai orang lain? Apakah kehadiran seseorang membuat keluarganya merasa tenang atau justru cemas? Apakah orang-orang di sekitarnya merasa dihargai atau direndahkan?


Pertanyaan tersebut, menurut pesan khutbah itu, menjadi sarana introspeksi untuk memperbaiki akhlak, menjaga lisan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan membangun hubungan yang lebih baik.


Menghadirkan Islam yang Menyejukkan


Menutup khutbahnya, Tgk Teuku Zulkhairi merangkum empat pesan utama yang perlu diamalkan umat Islam, yakni menebarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah, menjauhi kebencian dan permusuhan, menjaga kerendahan hati, serta menjadi pribadi yang baik bagi keluarga dan lingkungan sekitar.


Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Karena itu, waktu dan kesempatan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah, berbakti kepada orang tua, dan menjaga persaudaraan.


Umat Islam juga diingatkan agar tidak menghabiskan kehidupan dengan memelihara kebencian atau terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain hingga melupakan kekurangan diri sendiri.


Melalui pesan tersebut, khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry diharapkan menjadi pengingat bahwa kualitas keberagamaan harus tercermin dalam perilaku nyata.


Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual melalui ibadah, tetapi juga kesalehan sosial melalui kasih sayang, kepedulian, kerendahan hati, dan komitmen untuk tidak menyakiti sesama.


Dengan demikian, kehadiran seorang Muslim di tengah keluarga, kampus, dan masyarakat hendaknya membawa manfaat, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan suasana kehidupan yang lebih damai dan bermartabat.


Khutbah ditutup dengan doa agar Allah SWT mengampuni dosa, memperbaiki hati, menjauhkan umat dari kebencian, kedengkian, dan kesombongan, serta menjadikan mereka hamba-hamba-Nya yang saleh.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update