Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Salman Abdul Muthalib, mengajak umat Islam untuk senantiasa menjaga perilaku, memperbanyak amal kebajikan, dan menjauhi perbuatan dosa karena setiap amal akan mendapatkan balasannya di sisi Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Salman saat menyampaikan khutbah di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Jumat, 9 Oktober 2026, dengan tema “Setiap Amal Akan Mendapatkan Balasannya.”
Dalam khutbahnya, Prof. Salman mengawali tausiyah dengan sebuah ungkapan hikmah yang mengingatkan manusia tentang konsekuensi setiap perbuatan.
Al-birru lā yablā, wa-dz-dzanbu lā yunsā, wa-d-dayyānu lā yamūtu, fakun kamā syi’ta, fa-kamā tadīnu tudānu.
Artinya, kebaikan tidak akan usang, dosa tidak akan dilupakan, Allah Yang Maha Membalas tidak akan mati. Karena itu, manusia dipersilakan menjalani kehidupannya, tetapi harus menyadari bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan konsekuensi dan pertanggungjawaban.
Menurut Prof. Salman, ungkapan tersebut mengandung pelajaran mendalam bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah SWT. Demikian pula, dosa dan kezaliman yang dilakukan manusia tidak akan luput dari pengetahuan-Nya.
“Apabila kita berbuat baik kepada orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga lisan, menghormati sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan, jangan pernah merasa bahwa kebaikan itu sia-sia meskipun tidak mendapatkan pujian dari manusia,” demikian pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
Sebaliknya, perbuatan zalim, menyakiti hati orang lain, berbohong, mengambil hak sesama, serta melakukan kemaksiatan merupakan tindakan yang harus dipertanggungjawabkan. Kendati tidak diketahui manusia, Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Kebaikan Sekecil Apa Pun Tetap Bernilai
Untuk memperkuat pesannya, Prof. Salman mengingatkan jamaah pada firman Allah SWT dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8 yang menegaskan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya, demikian pula orang yang mengerjakan kejahatan seberat zarah.
Ayat tersebut, menurut pesan khutbah itu, menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan memiliki nilai dan konsekuensi. Karena itu, umat Islam tidak sepatutnya meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekaligus tidak menganggap ringan dosa yang tampak kecil.
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat tiga hal penting yang perlu senantiasa diingat. Pertama, Allah SWT selalu mengawasi manusia. Kesadaran ini hendaknya mendorong seseorang untuk tetap berbuat baik, baik ketika berada di tengah keramaian maupun saat sendirian.
Kedua, manusia perlu menjaga hati nurani agar tetap hidup dalam bimbingan iman, ilmu, dan ketakwaan. Sebelum melakukan sesuatu, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah perbuatan itu diridai Allah, apakah menyakiti orang lain, dan apakah hak sesama telah ditunaikan.
Ketiga, setiap amal akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Sebuah perkataan sederhana, misalnya, dapat menguatkan hati seseorang, tetapi juga dapat melukai perasaannya dalam waktu yang lama.
Jangan Berhenti Berbuat Baik
Prof. Salman juga mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan pujian manusia sebagai ukuran utama dalam berbuat baik. Kebaikan hendaknya dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan rida Allah SWT, bukan semata-mata demi pengakuan atau penghargaan dari orang lain.
Sebaliknya, seseorang tidak boleh merasa bebas melakukan dosa hanya karena perbuatannya tidak diketahui orang lain. Ukuran baik dan buruk tidak semata-mata ditentukan oleh penilaian manusia, tetapi juga oleh tuntunan agama dan tanggung jawab terhadap hak sesama.
Meski demikian, pesan tentang pertanggungjawaban amal tidak berarti manusia yang pernah melakukan kesalahan harus berputus asa. Islam tetap membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.
Karena itu, apabila pernah berbuat salah, umat Islam dianjurkan segera bertobat, memohon ampun kepada Allah SWT, memperbaiki perilaku, dan mengembalikan hak orang lain apabila kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan hak sesama.
Khutbah tersebut ditutup dengan doa agar Allah SWT menjadikan kaum Muslimin sebagai hamba-hamba yang senantiasa menyadari pengawasan-Nya, mencintai kebajikan, menjauhi dosa dan kemaksiatan, serta menjaga lisan dan perbuatan.
Pesan utama khutbah ini menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan sekadar tentang apa yang terlihat dan dinilai manusia, melainkan juga tentang tanggung jawab setiap insan di hadapan Allah SWT. Kebaikan hendaknya terus dilakukan, meskipun tanpa pujian, sementara kesalahan harus diakui dan diperbaiki sebelum manusia kembali menghadap kepada-Nya.
Laporan Saif
