Menyiapkan generasi Muslim yang tangguh menghadapi tantangan zaman
Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Tantangan terbesar pemuda hari ini bukan semata-mata bagaimana memenangkan persaingan, memperoleh pekerjaan, atau meraih kedudukan terhormat. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga jati diri di tengah perubahan yang begitu cepat, mengembangkan kemampuan tanpa kehilangan nilai, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin tanpa terseret arus yang justru merusak masa depan.
Persoalan inilah yang mengemuka ketika merefleksikan tausiyah Ustaz Arifuddin Al Fauzy Al Makassary dalam kegiatan Subuh Moderasi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang dihadiri pimpinan UIN Ar-Raniry, mahasiswa program Ma’had Al-Jami’ah, dan jamaah umum tersebut mengingatkan kita pada satu amanah besar: pemuda, khususnya mahasiswa, harus menyiapkan diri agar tangguh menghadapi tantangan zaman dan mampu menjadi pemimpin masa depan.
Pesan ini patut kita renungkan bersama. Sebab, masa depan tidak cukup dipersiapkan dengan ijazah, gelar akademik, atau kecakapan berbicara. Ia membutuhkan karakter, daya tahan mental, keluasan ilmu, kedalaman spiritual, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Membaca masa depan, bukan sekadar mengkhawatirkannya
Dalam kajian masa depan atau futurologi, perubahan tidak dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pertemuan berbagai kecenderungan yang dapat mengubah kehidupan manusia. Para pemikir masa depan, termasuk Alvin Toffler melalui Future Shock, telah mengingatkan bahwa perubahan yang berlangsung terlalu cepat dapat membuat manusia mengalami keguncangan ketika kemampuan beradaptasinya tertinggal dari perubahan lingkungan.
Peringatan tersebut terasa semakin relevan pada zaman kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi digital, dan keterhubungan global. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memetakan perubahan teknologi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, fragmentasi geopolitik, dan transisi hijau sebagai kekuatan yang membentuk dunia kerja hingga 2030. Laporan itu juga menekankan meningkatnya kebutuhan akan kemampuan berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Sementara itu, OECD dalam Trends Shaping Education 2025 menyoroti bagaimana kecerdasan buatan, kesenjangan sosial, polarisasi, dan perubahan cara manusia berkomunikasi memengaruhi pendidikan serta kehidupan generasi mendatang.
Artinya, pemuda Muslim tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memahami perubahan, menguasai ilmu, dan mampu menentukan bagaimana teknologi digunakan untuk kemaslahatan manusia.
Di sinilah ukuran ketangguhan menjadi penting. Tangguh bukan berarti menolak segala sesuatu yang datang dari luar. Tangguh berarti sanggup memilah, mengambil manfaat, menghadapi tekanan, dan tetap teguh pada prinsip yang benar.
Pengaruh luar: dari layar gawai hingga perubahan nilai
Setidaknya ada lima bentuk pengaruh luar yang perlu disadari oleh generasi muda.
Pertama, banjir informasi dan manipulasi opini. Setiap hari pemuda berhadapan dengan berita, potongan video, komentar, propaganda, dan informasi yang belum tentu benar. Algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus-menerus menerima konten yang sesuai dengan kesukaannya, sehingga pandangannya semakin sempit dan prasangkanya semakin kuat.
Bahaya ini tidak berhenti pada kesalahan memahami informasi. Ia dapat memengaruhi cara seseorang memandang agama, menilai orang lain, menyikapi perbedaan, bahkan mengambil keputusan politik dan sosial. Pemuda perlu belajar memeriksa sumber, membedakan fakta dari opini, dan tidak menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran.
Kedua, kecanduan digital dan budaya serba instan. Teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi penggunaan tanpa kendali dapat mengganggu konsentrasi, disiplin, kualitas tidur, dan kemampuan menikmati interaksi nyata. Kebiasaan memperoleh hiburan secara cepat juga dapat membuat proses belajar yang menuntut kesabaran terasa membosankan.
Ketiga, pergeseran nilai dan krisis keteladanan. Arus budaya global membawa pengetahuan, kreativitas, dan gagasan baru yang bermanfaat. Namun, tidak semua nilai yang populer cocok dengan prinsip moral dan tanggung jawab sosial. Ketika popularitas, kemewahan, kebebasan tanpa tanggung jawab, dan pengakuan publik menjadi ukuran utama keberhasilan, pemuda dapat kehilangan kemampuan membedakan antara sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang benar.
Keempat, persaingan ekonomi dan disrupsi pekerjaan. Gelar akademik tetap penting, tetapi tidak lagi cukup jika tidak disertai kompetensi. Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan terus belajar akan semakin menentukan. Pemuda yang berhenti belajar setelah memperoleh ijazah berisiko tertinggal dalam perubahan yang terus berlangsung.
Kelima, tekanan psikologis dan krisis identitas. Perbandingan kehidupan melalui media sosial, tuntutan untuk selalu berhasil, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan lingkungan dapat menumbuhkan kecemasan. Sebagian anak muda akhirnya menilai harga dirinya berdasarkan jumlah pengikut, pengakuan orang lain, atau pencapaian yang tampak di layar.
Semua tantangan tersebut tidak berarti dunia luar harus dicurigai. Persoalannya bukan semata-mata datangnya pengaruh dari luar, melainkan apakah seseorang memiliki bekal untuk menilai dan mengelolanya.
Seberapa siap pemuda Muslim hari ini?
Pertanyaan ini perlu dijawab secara jujur, tetapi juga adil. Kita tidak memiliki dasar untuk menyamaratakan seluruh pemuda Muslim sebagai generasi yang lemah atau tidak siap. Banyak anak muda yang tekun belajar, berprestasi, mengembangkan usaha, menguasai teknologi, menghidupkan masjid, melakukan penelitian, dan melayani masyarakat.
Namun, potensi tersebut belum otomatis menjadi ketangguhan yang merata. Kemampuan menggunakan gawai tidak selalu sejalan dengan kemampuan memeriksa kebenaran informasi. Pengetahuan agama tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan akhlak. Prestasi akademik juga belum tentu diikuti kemampuan mengendalikan emosi, menghadapi kegagalan, atau menerima perbedaan.
Karena itu, kesiapan generasi muda perlu diukur melalui beberapa pertanyaan mendasar.
Apakah mereka mampu membedakan informasi benar dan salah? Apakah mereka sanggup menunda kesenangan demi tujuan jangka panjang? Apakah mereka dapat bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan prinsip? Apakah mereka mampu menerima kritik tanpa merasa direndahkan? Apakah mereka tetap jujur ketika tidak ada orang yang mengawasi? Dan apakah mereka menggunakan ilmu serta teknologi untuk menyelesaikan masalah masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan ini lebih bermakna daripada sekadar menilai penampilan, kesalehan yang terlihat, atau kecakapan berbicara di depan umum.
Al-Qur’an memberikan landasan yang kuat dalam mempersiapkan generasi. Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 60 agar kaum beriman menyiapkan kekuatan semaksimal kemampuan mereka. Dalam konteks pembinaan pemuda, kekuatan itu dapat kita pahami secara luas: kekuatan iman, ilmu, akhlak, fisik, mental, keterampilan, dan kemampuan berorganisasi.
Sementara itu, Surah Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil sikap. Prinsip ini sangat relevan di tengah derasnya arus informasi digital.
Dengan demikian, ketangguhan pemuda Muslim bukan sekadar kemampuan bertahan dari pengaruh luar. Ia juga merupakan kemampuan untuk tetap jernih, adil, produktif, dan bermanfaat ketika berada di tengah pengaruh tersebut.
Membangun kekuatan dari dalam
Jika pengaruh luar begitu kuat, apa yang perlu disiapkan dari dalam diri pemuda?
Pertama, iman yang melahirkan kesadaran dan tanggung jawab. Iman tidak cukup berhenti pada identitas atau simbol. Ia harus membentuk kejujuran, pengendalian diri, kesediaan mengakui kesalahan, dan keberanian menolak sesuatu yang bertentangan dengan prinsip moral.
Kedua, ilmu yang disertai daya kritis. Pemuda perlu memperkuat ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan, literasi digital, kemampuan bahasa, dan pemahaman sosial. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Ilmu agama memberikan orientasi nilai, sedangkan penguasaan ilmu pengetahuan membantu memahami persoalan dan menemukan solusi.
Ketiga, ketahanan mental dan kedewasaan emosional. Kegagalan bukan akhir perjalanan. Kritik bukan selalu permusuhan. Perbedaan bukan ancaman. Pemuda perlu berlatih menghadapi kekecewaan, menyelesaikan konflik, meminta pertolongan ketika diperlukan, dan bangkit setelah mengalami kemunduran.
Keempat, disiplin dan kemampuan mengelola diri. Mengatur waktu, membatasi penggunaan gawai, menjaga kesehatan, membaca secara teratur, menuntaskan tugas, dan memegang komitmen adalah latihan kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri.
Kelima, keterampilan yang relevan dengan masa depan. Pemuda perlu belajar menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring, berkolaborasi, serta memahami persoalan ekonomi dan lingkungan. Teknologi harus menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan pengganti nalar dan tanggung jawab pribadi.
Keenam, lingkungan pergaulan yang sehat. Ketangguhan pribadi lebih mudah tumbuh ketika seseorang berada di tengah teman yang saling mengingatkan, komunitas yang produktif, dan lingkungan yang menghargai ilmu serta akhlak. Kemandirian bukan berarti berjalan sendirian.
Tanggung jawab bersama: siapa menyiapkan generasi?
Menyiapkan pemuda yang tangguh tidak dapat dibebankan hanya kepada mahasiswa atau lembaga pendidikan. Ini adalah pekerjaan bersama.
Bagi para orang tua, pendidikan ketangguhan dimulai dari rumah. Anak-anak membutuhkan keteladanan, bukan hanya nasihat. Mereka perlu melihat orang tua yang jujur, mampu mengendalikan emosi, menghormati perbedaan, menggunakan teknologi secara bijak, dan berani meminta maaf ketika salah. Rumah juga perlu menjadi tempat aman untuk berdiskusi, sehingga anak tidak mencari seluruh jawaban hidupnya dari dunia maya.
Bagi guru dan dosen, tugas pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi dan pencapaian nilai. Kampus dan sekolah perlu menjadi ruang latihan berpikir kritis, berdialog, meneliti, bekerja sama, serta menghadapi persoalan nyata. Mahasiswa harus dibiasakan menguji argumen, memeriksa sumber, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemandirian berpikir.
Bagi para ustaz, penceramah, dan guru mengaji, pembinaan agama perlu menghubungkan teks dengan realitas kehidupan. Generasi muda membutuhkan penjelasan yang mencerahkan tentang iman, akhlak, pergaulan, teknologi, kesehatan mental, tanggung jawab sosial, dan tantangan pekerjaan. Dakwah akan lebih membekas ketika disampaikan dengan ilmu, keteladanan, empati, dan bahasa yang dipahami generasi sasaran.
Bagi organisasi kemasyarakatan Islam dan organisasi kepemudaan, pembinaan tidak boleh berhenti pada seremoni, perekrutan anggota, atau kegiatan sesaat. Mereka perlu menyediakan ruang aktualisasi: pelatihan kepemimpinan, diskusi lintas gagasan, kegiatan sosial, kewirausahaan, literasi digital, dan pendampingan bagi anak muda yang sedang mencari arah.
Sementara itu, pimpinan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam perlu memastikan bahwa pembentukan karakter berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi. Mahasiswa bukan hanya calon pencari kerja, melainkan calon pemimpin yang kelak memikul amanah di keluarga, masyarakat, dunia usaha, birokrasi, pendidikan, dan berbagai bidang kehidupan.
Khusus UIN Ar-Raniry, kegiatan Subuh Moderasi di Masjid Fathun Qarib dapat menjadi salah satu ruang yang menghubungkan pembinaan spiritual dengan pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi masa depan. Masjid, kampus, Ma’had Al-Jami’ah, dan keluarga perlu saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Dari pemuda yang bertahan menuju pemuda yang memimpin
Pada akhirnya, kita perlu mengubah orientasi pembinaan generasi muda. Jangan hanya bertanya apakah mereka mampu bertahan menghadapi pengaruh luar. Tanyakan pula apakah mereka mampu memberikan pengaruh baik kepada lingkungannya.
Pemuda yang tangguh tidak hanya sanggup menolak berita bohong, tetapi juga membantu meluruskan informasi. Tidak hanya mampu menghindari kecanduan digital, tetapi juga menghasilkan karya yang bermanfaat melalui teknologi. Tidak hanya menjaga diri dari pergaulan buruk, tetapi juga membangun komunitas yang sehat. Tidak hanya mempersiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Inilah perbedaan antara generasi yang sekadar menjadi penonton perubahan dan generasi yang ikut menentukan arah perubahan.
Allah mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 9 agar manusia memperhatikan keadaan generasi yang lemah di belakang mereka. Ayat ini mengandung pesan tanggung jawab lintas generasi: kita tidak cukup merasa bangga terhadap anak-anak muda hari ini; kita juga harus memastikan mereka memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan yang akan mereka warisi.
Karena itu, tausiyah Ustaz Arifuddin Al Fauzy Al Makassary patut kita jadikan momentum evaluasi bersama. Pemuda harus bersungguh-sungguh menyiapkan dirinya, tetapi orang tua, pendidik, ulama, organisasi, dan pemimpin lembaga juga harus bersungguh-sungguh menyiapkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka.
Jangan sampai kita menuntut pemuda menjadi tangguh, sementara kita tidak memberi mereka keteladanan. Jangan sampai kita meminta mereka menguasai masa depan, sementara pendidikan yang kita sediakan hanya mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa lalu. Dan jangan sampai kita mengkhawatirkan pengaruh luar, tetapi melupakan pekerjaan besar membangun kekuatan dari dalam.
Masa depan generasi Muslim tidak cukup dijaga dengan kecemasan terhadap perubahan. Ia harus dipersiapkan dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, akhlak yang teruji, keterampilan yang relevan, serta keberanian untuk terus belajar.
Sebab, pemuda yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah terpengaruh oleh dunia, melainkan mereka yang mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan kompas nilai, mengambil manfaat tanpa kehilangan jati diri, dan menghadapi perubahan tanpa melepaskan tanggung jawab.
Dari sanalah lahir generasi Muslim yang bukan hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga sanggup memimpin dan memberi arah bagi masa depan itu sendiri.
Wallahu a’lam
Darussalam 11 Oktober 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Foto: dari kanan; Ust Muhajirul Fadhli, Zaidan, dan penulis
