-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tausiyah Zuhur di Fathun Qarib, Prof Safrilsyah Ajak Jamaah Hadir Sepenuhnya dalam Salat dan Aktivitas Kehidupan

Selasa, 13 Oktober 2026 | Oktober 13, 2026 WIB Last Updated 2026-10-14T06:28:31Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Safrilsyah Syarif, mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas salat dengan menghadirkan hati dan pikiran secara utuh dalam setiap rangkaian ibadah. Salat yang khusyuk, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan gerakan fisik, tetapi juga kesadaran, pemahaman, dan penghayatan terhadap makna ibadah.


Pesan tersebut disampaikan Prof. Safrilsyah dalam tausiyah zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026), dengan mengangkat tema “Salat yang Khusyuk dan Bermakna: Belajar Hadir Sepenuhnya dalam Setiap Aktivitas.”


Dalam tausiyahnya, Prof. Safrilsyah mengawali pembahasan dengan mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 45 yang memerintahkan manusia memohon pertolongan melalui sabar dan salat. Ayat tersebut, jelasnya, mengingatkan bahwa salat dapat menjadi sumber pertolongan dan kekuatan bagi orang-orang yang mampu menjalaninya dengan penuh kekhusyukan.


Ia mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap salat masing-masing. Apakah selama salat, sejak takbiratul ihram hingga salam, hati benar-benar hadir menghadap Allah, atau justru pikiran disibukkan oleh pekerjaan, urusan rumah tangga, tugas kuliah, dan persoalan kehidupan lainnya?


“Secara fisik kita mungkin sedang salat, tetapi pikiran kita berjalan ke mana-mana. Tubuh berdiri, rukuk, sujud, dan duduk mengikuti gerakan salat, sementara hati belum sepenuhnya hadir,” demikian inti pesan yang disampaikan Prof. Safrilsyah.


Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya terjadi dalam ibadah, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari, khususnya proses belajar di lingkungan perguruan tinggi. Seorang mahasiswa dapat hadir di ruang kuliah, mendengarkan dosen, bahkan mengisi daftar hadir, tetapi belum tentu benar-benar memahami materi yang disampaikan.


Karena itu, ia mengingatkan bahwa kehadiran fisik perlu disertai perhatian dan kesadaran terhadap tujuan kegiatan. Dalam belajar, mahasiswa perlu mengevaluasi materi yang sudah dipahami, menandai bagian yang belum dimengerti, membaca kembali, serta aktif bertanya dan berdiskusi.


Prinsip yang sama, lanjutnya, perlu diterapkan dalam salat. Ibadah tidak semestinya berhenti pada rutinitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi perlu menjadi sarana memperbaiki perilaku, menenangkan hati, dan menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai persoalan.


Menghubungkan Khusyuk dengan Mindfulness


Dalam perspektif psikologi, Prof. Safrilsyah menghubungkan pentingnya menghadirkan perhatian dengan konsep mindfulness, yakni kemampuan memberikan perhatian terhadap pengalaman yang sedang berlangsung dengan kesadaran terhadap apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan.


Ia menjelaskan, seseorang yang sedang belajar perlu memusatkan perhatian pada materi yang dipelajari. Ketika berbicara dengan orang lain, ia perlu sungguh-sungguh mendengarkan. Demikian pula ketika melaksanakan salat, seseorang perlu menyadari bahwa dirinya sedang beribadah dan menghadap Allah Swt.


Meski memiliki titik temu dalam hal perhatian dan kesadaran, ia mengingatkan bahwa mindfulness dalam psikologi dan khusyuk dalam Islam bukanlah dua konsep yang sepenuhnya sama. Khusyuk memiliki landasan spiritual dan dimensi penghambaan kepada Allah, sedangkan mindfulness dibahas dalam kerangka psikologi.


Keduanya dapat menjadi ruang refleksi untuk memahami pentingnya kesadaran dalam menjalani aktivitas, tanpa mengaburkan perbedaan konteks dan landasan masing-masing.


Prof. Safrilsyah juga mengilustrasikan bagaimana seseorang yang menghadapi penyakit serius dan harus menjalani operasi besar dapat semakin menyadari keterbatasan dirinya serta kebutuhannya terhadap pertolongan Allah. Dalam keadaan demikian, salat dapat menjadi momen untuk menghadirkan hati, menyadari kelemahan manusia, dan berserah diri kepada-Nya.


Namun, ia menegaskan bahwa seseorang tidak perlu menunggu sakit atau menghadapi kesulitan besar untuk belajar khusyuk. Kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah perlu dibangun setiap hari, baik ketika sehat maupun sakit, serta dalam keadaan lapang ataupun sempit.


Empat Langkah Melatih Kesadaran


Untuk membantu jamaah menghadirkan perhatian dan kesadaran dalam ibadah maupun aktivitas sehari-hari, Prof. Safrilsyah memaparkan empat langkah yang dapat dipraktikkan secara konsisten.


Pertama, meluruskan niat. Ia mengingatkan hadis Rasulullah saw., “Innamal a‘malu binniyat,” yang berarti sesungguhnya amal bergantung pada niatnya. Niat yang benar akan membantu seseorang memahami tujuan dari aktivitas yang dijalani, baik dalam beribadah maupun menuntut ilmu.


Mahasiswa, misalnya, perlu menyadari bahwa kuliah bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan ikhtiar menuntut ilmu, memperbaiki diri, membahagiakan orang tua, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Kedua, menghadirkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan. Dalam salat, jamaah diajak berusaha memahami bacaan, merenungkan makna Surah Al-Fatihah, menghayati rukuk sebagai bentuk pengagungan kepada Allah, serta menyadari kerendahan diri ketika bersujud.


Apabila pikiran mulai teralihkan, seseorang perlu berusaha mengembalikan perhatiannya kepada bacaan dan gerakan salat. Hal serupa berlaku dalam belajar, yakni tidak sekadar membaca atau menyelesaikan materi, tetapi berusaha memahami isi dan maknanya.


Ketiga, mengenali dan mengelola gangguan perhatian. Telepon genggam, notifikasi media sosial, percakapan, serta persoalan pekerjaan dan keluarga dapat menjadi sumber distraksi. Karena itu, seseorang perlu mengenali gangguan yang paling sering mengalihkan perhatiannya dan mengambil langkah yang memungkinkan untuk menguranginya.


Persiapan sebelum salat dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif merupakan bagian dari upaya tersebut. Tidak semua gangguan dapat dihilangkan, tetapi respons terhadap gangguan dapat dilatih dan dikelola.


Keempat, melakukan evaluasi dan perbaikan secara konsisten. Setelah salat, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri apakah telah berusaha menghadirkan hati, memahami bacaan, dan memperoleh dorongan untuk memperbaiki perilaku.


Evaluasi bukan dimaksudkan untuk membuat seseorang berputus asa, melainkan menjadi jalan untuk terus bertumbuh. Jika hari ini masih mudah marah, seseorang dapat belajar mengendalikan emosi. Jika konsentrasi belajar belum baik, ia dapat memperbaiki cara belajar. Perubahan tidak selalu berlangsung seketika, tetapi dapat dibangun melalui niat, usaha, dan pertolongan Allah.


Salat sebagai Sumber Ketenangan dan Perbaikan Diri


Menutup tausiyahnya, Prof. Safrilsyah menekankan bahwa kualitas suatu aktivitas tidak hanya ditentukan oleh apakah aktivitas tersebut dilakukan, tetapi juga oleh bagaimana seseorang menjalaninya dan sejauh mana ia memahami tujuannya.


Salat, katanya, bukan sekadar gerakan tubuh, melainkan ibadah yang mengajarkan ketundukan, doa, zikir, dan permohonan pertolongan kepada Allah. Sementara itu, belajar bukan sekadar datang ke kelas dan mengisi daftar hadir, tetapi merupakan proses memahami ilmu dan membentuk diri agar ilmu tersebut membawa manfaat.


Ia mengajak jamaah membiasakan diri meluruskan niat, menghadirkan perhatian, mengelola gangguan, dan mengevaluasi diri dalam setiap aktivitas kebaikan.


Pesan penting dari tausiyah tersebut adalah bahwa kesadaran untuk memperbaiki diri tidak perlu menunggu datangnya musibah atau kesulitan besar. Waktu, kesehatan, kesempatan beribadah, dan peluang menuntut ilmu merupakan nikmat yang perlu disyukuri serta dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Melalui tausiyah ini, jamaah diajak menjadikan salat bukan hanya sebagai kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga sebagai sumber ketenangan, kekuatan, kesabaran, dan perbaikan diri dalam menjalani kehidupan.


Prof. Safrilsyah berharap Allah Swt. menjadikan umat Islam sebagai hamba yang senantiasa menjaga salat, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, serta mampu menghadirkan hati dalam setiap kebaikan yang dilakukan. Dengan demikian, nilai-nilai ibadah diharapkan tidak berhenti di tempat salat, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update