-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Total Football, Service Excellence, dan Seni Menghadirkan Diri

Rabu, 14 Oktober 2026 | Oktober 14, 2026 WIB Last Updated 2026-10-14T12:48:07Z


Merawat Khusyuk dalam Ibadah, Fokus dalam Bekerja, dan Utuh dalam Belajar


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu persoalan sederhana yang diam-diam menggerogoti kualitas hidup manusia modern: tubuhnya hadir, tetapi pikirannya berkelana; pekerjaannya berlangsung, tetapi hatinya tidak menyertai; bahkan salatnya selesai, tetapi belum tentu ia benar-benar menyadari siapa yang sedang dihadapinya.


Fenomena ini mengingatkan kita pada dua konsep yang dikenal dalam dunia modern, yaitu total football dan service excellence. Yang pertama berbicara tentang kesatuan gerak, kecerdasan membaca situasi, dan koordinasi seluruh pemain. Yang kedua berbicara tentang pelayanan terbaik yang lahir dari perhatian, kompetensi, tanggung jawab, dan komitmen terhadap mutu.


Keduanya tampak jauh dari pembicaraan agama. Namun, jika direnungkan lebih dalam, terdapat jembatan gagasan yang menarik untuk memahami pentingnya menghadirkan diri secara utuh dalam ibadah, bekerja, dan belajar.


Gagasan ini memperoleh relevansinya ketika Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Prof. Safrilsyah Syarif, menyampaikan tausiyah zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu, 14 Oktober 2026. Beliau mengajak jamaah memahami pentingnya salat yang khusyuk dan bermakna, sekaligus menghadirkan perhatian secara penuh dalam setiap aktivitas kehidupan. Dalam refleksi ini, khusyuk dalam perspektif agama dan mindfulness dalam psikologi dapat dipertemukan sebagai dua pendekatan yang saling menerangi, meskipun keduanya tidak identik.


Total football: jangan biarkan pemain berjalan sendiri-sendiri


Dalam filosofi total football yang populer melalui sepak bola Belanda pada era 1970-an, pemain tidak sekadar menempati posisi masing-masing secara kaku. Mereka membaca permainan, memahami pergerakan rekan, dan mengambil peran yang diperlukan tanpa merusak keseimbangan tim. Ketika seorang pemain meninggalkan posisinya, pemain lain mengisi ruang yang terbuka. Seluruh tim bekerja dalam satu sistem yang saling terhubung.


Kita dapat meminjam prinsip tersebut sebagai metafora bagi manusia.


Manusia bukan sekadar tubuh yang bergerak, pikiran yang memproses informasi, dan hati yang menyimpan perasaan. Ketiganya perlu diarahkan menuju tujuan yang sama. Tubuh boleh berada di masjid, ruang kuliah, kantor, atau rumah, tetapi pikiran dan hati juga perlu menyertai aktivitas yang sedang dijalankan.


Bayangkan seseorang sedang berdiri dalam salat. Tubuhnya menghadap kiblat, lisannya membaca ayat, tangannya bersedekap, tetapi pikirannya sedang menghitung utang, mengingat rapat, atau membayangkan pesan yang belum dibalas. Secara fisik, ia berada dalam salat. Namun, perhatian dan kesadarannya terus berpindah ke lapangan lain.


Begitu pula mahasiswa yang duduk di ruang kuliah. Buku terbuka, dosen menjelaskan, dan catatan terus ditulis. Akan tetapi, pikirannya berpindah-pindah antara media sosial, percakapan dengan teman, dan rencana selepas kuliah. Kehadiran fisiknya tidak otomatis menjadi kehadiran intelektual.


Dalam pekerjaan, keadaan serupa terjadi. Seseorang menyelesaikan tugas karena rutinitas, tetapi tidak sungguh-sungguh memeriksa mutu, memahami kebutuhan orang yang dilayani, atau memikirkan dampak pekerjaannya.


Di sinilah metafora total football menemukan maknanya: jangan biarkan tubuh, pikiran, dan hati bermain dengan strategi yang berbeda. Ketiganya perlu bergerak dalam satu kesadaran, sesuai dengan tujuan aktivitas yang sedang dilakukan.


Tentu saja, manusia tidak selalu mampu mempertahankan perhatian sempurna. Pikiran yang melayang merupakan pengalaman yang wajar. Persoalannya bukan apakah pikiran pernah teralihkan, melainkan apakah kita menyadarinya dan bersedia mengembalikan perhatian kepada hal yang semestinya.


Service excellence: hadir bukan sekadar memenuhi kewajiban


Jika total football menekankan kesatuan gerak, service excellence menekankan kualitas hasil dan pengalaman orang yang dilayani.


Pelayanan prima bukan hanya tentang senyum, keramahan, seragam rapi, atau kecepatan menyelesaikan pekerjaan. Ia juga menuntut perhatian terhadap kebutuhan orang lain, ketepatan, integritas, empati, dan kesediaan memperbaiki kekurangan.


Seorang dokter yang melayani pasien tidak cukup sekadar hadir di ruang pemeriksaan. Ia perlu mendengarkan keluhan, menelaah informasi, menggunakan kompetensinya, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.


Seorang guru tidak cukup menyampaikan materi. Ia perlu memastikan bahwa murid memperoleh pemahaman. Mahasiswa tidak cukup mengejar kehadiran dan nilai. Ia perlu membangun pengetahuan, keterampilan, serta karakter. Pegawai tidak cukup menyelesaikan berkas. Ia perlu memastikan bahwa pekerjaannya memberi manfaat dan tidak merugikan orang yang dilayani.


Lalu, bagaimana konsep ini dihubungkan dengan ibadah?


Kita tentu tidak mengukur ibadah semata-mata dengan kepuasan pelanggan atau standar pelayanan organisasi. Ibadah memiliki tujuan penghambaan kepada Allah, dimensi spiritual, dan tuntunan syariat yang tidak dapat direduksi menjadi ukuran manajemen. Namun, prinsip kesungguhan, ketepatan, amanah, dan mutu dapat menjadi jembatan untuk memahami pentingnya memperbaiki kualitas amal.


Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2 bahwa Dia menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya (ahsanu ’amala). Ayat ini mengarahkan perhatian kita bukan hanya kepada banyaknya pekerjaan, tetapi juga kepada kualitas amal.


Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak salat yang kita kerjakan, berapa jam kita belajar, atau berapa tugas yang kita selesaikan. Kita juga perlu bertanya: seberapa sungguh-sungguh kita melakukannya, seberapa bertanggung jawab prosesnya, dan seberapa besar manfaat yang dihasilkan?


Dalam ibadah, mutu bukan alasan untuk meremehkan kewajiban yang belum sempurna, melainkan dorongan untuk terus memperbaiki kekhusyukan. Dalam pekerjaan, mutu bukan alasan untuk mengejar hasil dengan menghalalkan segala cara, melainkan komitmen terhadap proses yang benar. Dalam belajar, mutu bukan sekadar memperoleh nilai tinggi, melainkan tumbuh menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.


Khusyuk: hati yang menyadari kepada siapa ia menghadap


Al-Qur’an menempatkan khusyuk sebagai salah satu karakter penting orang beriman. Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ


“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1–2).


Ayat ini menempatkan khusyuk sebagai bagian dari kualitas iman yang tercermin dalam salat. Khusyuk bukan sekadar diamnya anggota tubuh, tetapi keadaan batin yang tunduk, sadar, dan tidak lalai dari makna penghambaan.


Allah juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45 agar manusia memohon pertolongan melalui sabar dan salat, seraya menjelaskan bahwa salat terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.


Dalam hadis tentang ihsan, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai ihsan, beliau menjawab:


أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ


“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, hadis Jibril).


Hadis ini memberikan landasan spiritual yang sangat kuat bagi latihan menghadirkan diri. Seorang Muslim tidak menjalankan ibadah semata-mata sebagai gerakan rutin, tetapi dengan kesadaran bahwa dirinya berada dalam pengawasan Allah.


Dalam penjelasan tentang ihsan, Imam al-Nawawi menempatkan hadis Jibril sebagai hadis agung yang merangkum pokok-pokok agama. Sementara itu, Ibnu Katsir, ketika menafsirkan QS. Al-Mu’minun ayat 1–2, menjelaskan keutamaan orang beriman yang khusyuk dalam salatnya. Khusyuk tercermin pada ketundukan, ketenangan, dan perhatian yang tidak terpecah oleh kelalaian.


Landasan lainnya adalah hadis tentang pahala salat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang dapat menyelesaikan salatnya, tetapi pahala yang dicatat baginya hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, dan seterusnya dari salat tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 796, dengan redaksi yang menjelaskan perbedaan bagian pahala yang diperoleh seseorang.


Pesannya bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan menyadarkan bahwa menyelesaikan gerakan salat dan mengoptimalkan kualitas batinnya merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak selalu sama.


Meski demikian, khusyuk tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi ibadah orang lain. Kedalaman batin seseorang bukan sesuatu yang dapat kita ukur hanya dari penampilan luarnya. Tugas kita adalah memperbaiki diri, bukan mengklaim mengetahui kadar penerimaan amal orang lain.


Mindfulness: melatih perhatian untuk kembali ke saat ini


Psikologi menawarkan konsep mindfulness, yang secara umum berkaitan dengan kesadaran terhadap pengalaman saat ini, termasuk keadaan tubuh, pikiran, dan emosi. American Psychological Association menjelaskan bahwa konsep ini digunakan dalam sejumlah pendekatan psikologis untuk membantu seseorang mengenali pengalaman yang sedang berlangsung dan mengurangi respons otomatis yang tidak produktif.


Dalam praktiknya, seseorang belajar menyadari ketika perhatiannya teralihkan, mengenali apa yang sedang terjadi dalam pikirannya, lalu mengarahkan perhatian kembali dengan sengaja. Penelitian psikologi telah mempelajari manfaat latihan mindfulness dalam sejumlah konteks, termasuk pengelolaan stres dan pengembangan perhatian. Namun, manfaatnya tidak berarti setiap latihan cocok untuk semua orang atau menjamin hasil yang sama pada setiap individu.


Di sinilah terdapat titik temu dengan pembicaraan tentang khusyuk: keduanya menuntut latihan perhatian, kesadaran atas keadaan diri, dan kemampuan untuk kembali ketika pikiran mulai menyimpang.


Namun, perbedaan keduanya harus tetap dijaga. Mindfulness dalam psikologi merupakan konsep kesadaran dan pengaturan perhatian yang dapat digunakan dalam berbagai konteks. Khusyuk dalam Islam memiliki orientasi ibadah, ketundukan kepada Allah, serta dimensi keimanan dan spiritualitas. Seorang Muslim dapat memanfaatkan keterampilan mengelola perhatian untuk membantu memperbaiki salat, tetapi mindfulness bukan pengganti khusyuk dan bukan pula ukuran tunggal diterima atau tidaknya ibadah.


Dengan kata lain, psikologi membantu kita memahami cara melatih perhatian, sementara agama memberikan arah, tujuan, dan makna penghambaan.


Menghadirkan diri: tiga unsur, satu tujuan


Jika kedua konsep tadi dipadukan sebagai metafora, kita dapat merumuskan tiga unsur yang perlu berjalan bersama.


Pertama, tubuh yang hadir. Kita berada di tempat yang tepat, melakukan aktivitas yang tepat, dan menjaga perilaku sesuai dengan tuntutan kegiatan.


Kedua, pikiran yang terarah. Kita memahami apa yang sedang dilakukan, mengetahui tujuan dan tahapannya, serta mampu mengembalikan perhatian ketika teralihkan.


Ketiga, hati yang menyertai. Dalam ibadah, hati diarahkan kepada Allah dengan rasa tunduk, harap, takut, dan cinta. Dalam belajar, hati menyertai dengan kesungguhan dan kerendahan hati untuk menerima ilmu. Dalam bekerja, hati diwujudkan melalui amanah, kejujuran, empati, dan niat memberikan manfaat.


Ketiga unsur ini tidak berarti kita harus merasakan emosi tertentu setiap saat. Hati manusia berubah-ubah. Ada kalanya kita lelah, cemas, atau sulit berkonsentrasi. Yang diperlukan ialah kesediaan untuk kembali kepada tujuan, memperbaiki cara, dan terus berlatih.


Di sinilah kita dapat menggabungkan total football dan service excellence: yang pertama mengingatkan kita agar seluruh unsur diri bekerja secara terpadu; yang kedua mengingatkan kita agar keterpaduan itu menghasilkan kualitas amal yang semakin baik.


Panduan praktis bagi generasi Muslim


Gagasan reflektif ini akan lebih bermakna jika diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dapat dilatih. Berikut tujuh langkah sederhana.


1. Berhenti sejenak sebelum memulai.


Sebelum salat, belajar, atau bekerja, ambil jeda singkat. Tinggalkan aktivitas sebelumnya, rapikan perlengkapan, dan sadari apa yang akan dilakukan. Untuk ibadah, hadirkan niat dan ingat bahwa kita sedang memenuhi panggilan Allah. Untuk belajar dan bekerja, tentukan tujuan yang jelas.


2. Tetapkan satu tujuan utama.


Saat salat, pusatkan perhatian pada bacaan, gerakan, dan makna ibadah. Saat belajar, tetapkan materi yang hendak dipahami. Saat bekerja, pastikan hasil yang harus dicapai. Jangan memaksa pikiran menangani terlalu banyak hal sekaligus ketika tugas membutuhkan konsentrasi mendalam.


3. Gunakan jeda sebagai pintu masuk perhatian.


Dalam salat, manfaatkan ketenangan sebelum takbir untuk menata kesadaran. Saat belajar, tarik napas dengan wajar dan arahkan perhatian ke materi. Saat bekerja, hentikan perpindahan tugas yang tidak perlu. Jeda bukan tujuan, melainkan kesempatan untuk kembali fokus.


4. Latih kemampuan kembali, bukan sekadar bertahan.


Pikiran mungkin melayang ketika membaca Al-Fatihah, mendengarkan dosen, atau menyelesaikan laporan. Jangan langsung menyerah atau marah kepada diri sendiri. Sadari bahwa perhatian telah berpindah, kemudian kembalikan dengan tenang. Dalam salat, kembalilah kepada bacaan dan makna ibadah; dalam belajar, kembali ke pokok materi; dalam bekerja, kembali pada tugas prioritas.


5. Kurangi gangguan yang bisa dikendalikan.


Letakkan telepon genggam jauh dari jangkauan ketika tidak diperlukan. Matikan notifikasi yang tidak mendesak. Siapkan meja belajar atau ruang kerja agar mendukung konsentrasi. Untuk salat, usahakan menyelesaikan kebutuhan mendesak sebelumnya agar perhatian tidak terus ditarik oleh urusan yang sebenarnya dapat ditunda.


6. Ukur kualitas, bukan hanya durasi dan jumlah.


Setelah belajar, tanyakan apa yang benar-benar dipahami, bukan sekadar berapa halaman yang dibaca. Setelah bekerja, periksa mutu, ketepatan, dan manfaat hasilnya. Setelah salat, lakukan muhasabah dengan rendah hati: apakah kita telah berusaha memahami bacaan, menjaga ketenangan, dan memperbaiki perhatian? Evaluasi ini bukan untuk memastikan penilaian atas penerimaan ibadah, melainkan untuk menemukan ruang perbaikan.


7. Tutup aktivitas dengan refleksi dan rasa syukur.


Luangkan waktu sejenak untuk menilai apa yang berjalan baik, apa yang mengganggu perhatian, dan apa yang perlu diperbaiki esok hari. Jangan hanya menghitung kekurangan. Syukuri kemajuan kecil, kemudian jadikan pengalaman hari ini sebagai latihan untuk menghadirkan diri dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.


Ketujuh langkah ini tidak menuntut kesempurnaan dalam satu malam. Konsistensi jauh lebih penting daripada semangat besar yang hanya bertahan sebentar. Generasi Muslim perlu memahami bahwa fokus adalah keterampilan yang bisa dilatih, sementara khusyuk merupakan ikhtiar spiritual yang terus dipelihara sepanjang kehidupan.


Dari lapangan hijau menuju mihrab kehidupan


Sepak bola mengajarkan bahwa pemain hebat tidak cukup memiliki kemampuan individual. Ia perlu memahami permainan, membaca keadaan, dan berkoordinasi dengan seluruh tim. Manajemen pelayanan mengajarkan bahwa keberhasilan tidak cukup ditandai oleh pekerjaan yang selesai, tetapi oleh mutu proses dan manfaat yang dihasilkan.


Sementara itu, Islam mengingatkan bahwa kehidupan manusia bukan sekadar rangkaian kegiatan yang harus diselesaikan. Ada niat yang perlu diluruskan, amanah yang harus dijaga, dan hubungan dengan Allah yang mesti dirawat.


Kita tidak ingin menjadi manusia yang sibuk, tetapi kehilangan makna; rajin, tetapi tidak bertumbuh; hadir, tetapi tidak menyadari kehadirannya sendiri.


Kita ingin menjadi manusia yang tubuhnya menjalankan tugas, pikirannya memahami arah, dan hatinya menyertai dengan kesadaran. Dalam salat, kita berusaha hadir sebagai hamba. Dalam belajar, kita hadir sebagai pencari ilmu. Dalam bekerja, kita hadir sebagai pemegang amanah yang ingin memberikan manfaat.


Barangkali, inilah pesan paling penting yang dapat kita petik dari tausiyah Prof. Safrilsyah: jangan hanya menyelesaikan aktivitas, tetapi belajarlah menghidupinya dengan kesadaran.


Sebab, kualitas kehidupan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak hal yang kita lakukan, tetapi juga oleh seberapa utuh kita hadir ketika melakukannya.


Jangan biarkan tubuh bermain di lapangan, sementara pikiran berada di tribun dan hati entah di mana. Satukan gerak, arahkan perhatian, dan hadirkan makna. Itulah ikhtiar menuju salat yang lebih khusyuk, belajar yang lebih mendalam, dan kerja yang lebih bermutu.


Semoga Allah membimbing kita menjadi pribadi yang lebih khusyuk dalam ibadah, lebih sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dan lebih amanah dalam bekerja. 


Amin ya Rabbal ’alamin.


Wallahu a’lam 


Darussalam 14 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Foto: dari kiri; penulis, Arsyad (cucu), Yasar (menantu)

×
Berita Terbaru Update