-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ustadz Israk: Bergerak dalam Kerinduan

Selasa, 13 Oktober 2026 | Oktober 13, 2026 WIB Last Updated 2026-10-13T07:28:57Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Selasa, 13 Oktober 2026, berita duka kembali menyelimuti keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Ustaz Israk Ahmadsyah, PhD, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), telah berpulang ke rahmatullah. Kabar ini mengejutkan, terutama karena sehari sebelumnya, Senin, 12 Oktober 2026, kita juga kehilangan Dr. Budi Azhari, Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry.


Dua hari berturut-turut, dua insan akademik yang masih berada dalam usia produktif meninggalkan kita. Keduanya memiliki keluarga, sahabat, pekerjaan, pengabdian, serta cita-cita yang tentu belum seluruhnya selesai ditunaikan. Namun, kehidupan bukan semata-mata tentang berapa lama seseorang diberi kesempatan tinggal di dunia. Kehidupan juga tentang apa yang ditinggalkan ketika seseorang kembali memenuhi panggilan Ilahi.


Ustaz Israk berpulang pada usia 54 tahun, setelah menjalani sakit dan proses istirahat serta pengobatan sekitar empat bulan terakhir. Ketika mulai jatuh sakit, beliau masih aktif mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang II FEBI UIN Ar-Raniry. Kita tentu berharap beliau masih diberi kesempatan untuk kembali beraktivitas, berdiskusi, berbagi ilmu, dan melanjutkan pengabdian. Akan tetapi, Allah menetapkan perjalanan yang berbeda.


Kini, yang tersisa adalah kenangan, doa, dan kerinduan.


Mengenang sosok yang selalu rumeh


Bagi saya, Ustaz Israk bukan sekadar kolega sesama dosen di UIN Ar-Raniry. Hubungan kami telah terjalin sejak 1993, ketika sama-sama menempuh pendidikan di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur. Dari perjalanan panjang itu, saya mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang akademisi, melainkan juga sebagai pribadi yang mudah akrab, hangat dalam pergaulan, dan menyenangkan ketika diajak berbincang.


Dalam bidang ekonomi syariah, beliau memiliki ilmu dan wawasan yang luas. Kami juga pernah beririsan dalam sejumlah kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk melalui PINBUK serta program-program ekonomi dan keuangan mikro syariah, seperti Baitul Mal wat Tamwil (BMT) dan Baitul Qiradh.


Saya menyaksikan bagaimana pengetahuan beliau tentang ekonomi syariah dapat dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat. Ilmu tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi bergerak menuju ruang pemberdayaan, tempat gagasan diuji oleh kenyataan dan pengetahuan diharapkan menghadirkan manfaat.


Namun, di antara sekian banyak hal yang saya ingat, ada satu yang terasa sederhana tetapi membekas: senyum beliau.


Dalam bahasa Aceh, kita mengenal ungkapan rumeh, sebuah pembawaan yang ramah, bersahabat, dan menyenangkan. Begitulah kesan yang saya rasakan setiap kali bertemu Ustaz Israk. Beliau mudah mencairkan suasana dan meninggalkan kesan baik dalam perjumpaan.


Kedekatan itu juga terasa dalam hubungan keluarga kami di Indrapuri. Ustaz Israk mengenal dekat almarhum ayah mertua saya. Karena itu, kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang kolega di kampus, tetapi juga kehilangan seorang sahabat yang memiliki jejak dalam perjalanan keluarga.


Sejak pagi ini, berbagai grup percakapan dipenuhi ungkapan duka dan kesaksian baik tentang beliau. Banyak orang mengenang kebaikannya, keramahan, keluasan ilmunya, serta senyum yang seolah tidak pernah jauh dari wajahnya.


Bagi saya, kesaksian-kesaksian itu menjadi penghibur di tengah kehilangan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang yang telah pergi ternyata meninggalkan begitu banyak kenangan baik di hati orang-orang yang pernah berjumpa dengannya.


Rasulullah saw. bersabda ketika para sahabat memberikan kesaksian baik terhadap seseorang yang meninggal dunia, “Wajabat”, yang berarti telah pasti, dalam konteks penjelasan Nabi mengenai kesaksian yang disampaikan. Dalam hadis tersebut, Nabi menjelaskan bahwa kaum Muslimin merupakan saksi-saksi Allah di bumi. Riwayat ini tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.


Hadis tersebut mengajarkan kepada kita pentingnya kesaksian yang baik dari orang-orang yang mengenal seseorang semasa hidupnya. Tentu, keputusan akhir tentang kedudukan seseorang tetap menjadi hak Allah. Kita tidak memastikan surga bagi siapa pun tanpa dasar yang diberikan wahyu. Namun, kita boleh berharap, berbaik sangka kepada Allah, dan mendoakan agar kebaikan yang dikenang banyak orang menjadi bagian dari rahmat-Nya kepada almarhum.


Wajah yang tersenyum ketika seseorang dikenang atau ketika jenazahnya disaksikan orang-orang yang mencintainya memang dapat menghadirkan ketenteraman bagi keluarga. Akan tetapi, senyum bukan ukuran pasti tentang nasib seseorang di akhirat. Yang lebih penting ialah bagaimana kita menjadikan kenangan atas kebaikannya sebagai dorongan untuk memperbanyak amal dan doa.


Kematian yang mengajarkan keikhlasan


Kepergian Ustaz Israk yang berdekatan dengan kepergian Dr. Budi Azhari menyadarkan kita bahwa kematian tidak selalu menunggu seseorang mencapai usia senja. Ada yang dipanggil ketika rambutnya telah memutih, ada pula yang dipanggil ketika tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan banyak orang.


Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:


“Kullu nafsin dzaa’iqatul maut.”


Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.


Ayat ini tidak membedakan profesor dan mahasiswa, pemimpin dan rakyat, orang kaya dan orang miskin, ataupun mereka yang masih memiliki banyak rencana dan mereka yang merasa telah menuntaskan pengabdiannya. Semuanya akan kembali kepada Allah.


Pertanyaannya bukan semata-mata kapan kematian datang, melainkan bagaimana kita memaknai kehidupan sebelum saat itu tiba.


Kita boleh bersedih. Kita boleh menangis. Kita boleh merasa kehilangan seseorang yang kehadirannya telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kita. Islam tidak mengharamkan air mata. Rasulullah saw. sendiri menangis ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.


Ketika ditanya tentang air mata dan kesedihan beliau, Rasulullah menjelaskan bahwa mata dapat mencucurkan air mata dan hati dapat bersedih, tetapi kita tidak mengucapkan kecuali sesuatu yang diridai Allah. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.


Artinya, keikhlasan bukan berarti kita tidak boleh merasa sedih. Keikhlasan adalah kemampuan menjaga hati agar kesedihan tidak berubah menjadi protes terhadap ketetapan Allah. Kita menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai telah pergi, sembari tetap merawat kasih sayang melalui doa dan amal kebaikan.


Dalam Surah Al-Baqarah ayat 156, Allah mengajarkan kalimat yang diucapkan ketika menghadapi musibah:


“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”


Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.


Kalimat ini bukan sekadar ucapan ketika mendengar berita kematian. Ia merupakan pengakuan mendalam bahwa kehidupan, tubuh, keluarga, sahabat, ilmu, jabatan, dan segala yang kita cintai pada hakikatnya adalah titipan Allah. Ketika pemiliknya mengambil kembali titipan tersebut, tugas kita adalah menerima, bersabar, dan menyerahkan urusan selanjutnya kepada-Nya.


Allah tidak menyia-nyiakan kesedihan orang beriman


Ada satu pelajaran yang penting disampaikan kepada keluarga, kerabat, sahabat, dan seluruh orang yang merasa kehilangan Ustaz Israk: jangan mengira bahwa kesedihan yang kita alami tidak memiliki nilai di sisi Allah.


Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah saw. menyampaikan firman Allah bahwa tidak ada balasan bagi hamba-Nya yang beriman ketika Allah mengambil orang yang dicintainya dari kalangan penghuni dunia, lalu ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah, selain surga.


Hadis ini memberikan harapan yang sangat besar. Kehilangan seseorang yang dicintai bukanlah pengalaman yang ringan. Namun, ketika kesedihan itu dihadapi dengan iman, kesabaran, dan harapan akan pahala Allah, penderitaan tersebut dapat menjadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar.


Inilah cara pandang Islam yang menenteramkan: Allah tidak menjanjikan bahwa hidup orang beriman akan selalu bebas dari kesedihan, tetapi Allah membuka jalan pahala di tengah kesedihan itu.


Allah juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–157 bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Kemudian Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yakni mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan bahwa mereka milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kepada mereka diberikan keberkahan dan rahmat dari Tuhan serta petunjuk.


Karena itu, ketika keluarga Ustaz Israk merasa dunia mendadak lebih sepi, sahabat kehilangan teman berbincang, dan rekan kerja kehilangan sosok yang selama ini hadir dalam pengabdian, hendaknya kita mengingat bahwa ada janji rahmat Allah bagi orang-orang yang bersabar.


Kita tidak harus segera menghapus kesedihan. Kita hanya perlu belajar mengarahkannya. Dari kesedihan menuju doa, dari kerinduan menuju amal, dan dari kehilangan menuju kesadaran untuk memperbaiki kehidupan.


Langkah-langkah bergerak dalam kerinduan


Bagaimana keluarga, kerabat, dan sahabat dapat mengikhlaskan kepergian Ustaz Israk tanpa harus melupakan kenangan tentang beliau?


Pertama, terimalah kenyataan secara bertahap. Tidak perlu memaksa hati untuk segera pulih. Berikan ruang bagi kesedihan, sambil terus mengingat bahwa kematian merupakan ketetapan Allah yang berlaku bagi setiap manusia.


Kedua, perbanyak doa untuk almarhum. Mohonkan ampunan, rahmat, kelapangan kubur, dan keselamatan bagi perjalanan akhiratnya. Doa merupakan bentuk cinta yang tetap dapat diberikan ketika perjumpaan di dunia tidak lagi mungkin.


Ketiga, rawat keluarga yang ditinggalkan. Kehilangan tidak hanya dirasakan pada hari pemakaman. Hari-hari setelahnya bisa menjadi masa yang lebih sunyi. Kehadiran sahabat, perhatian kepada keluarga, bantuan yang tulus, serta kesediaan mendengarkan merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.


Keempat, teruskan kebaikan yang pernah beliau lakukan. Jika beliau dikenal karena ilmu, lanjutkan semangat belajar dan berbagi ilmu. Jika beliau berjasa dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, teruskan ikhtiar membantu masyarakat menjadi lebih mandiri. Jika beliau dikenang karena keramahan, jadikan keramahan itu teladan dalam pergaulan.


Kelima, jaga nama baik dan hubungan persaudaraan. Kenangan tentang seseorang tidak semestinya berhenti pada ungkapan duka di media sosial. Kesaksian baik perlu disertai perilaku yang baik, silaturahmi yang terpelihara, serta kepedulian yang berlanjut kepada orang-orang yang dicintainya.


Keenam, jadikan kematian sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Dua kepergian dalam dua hari di lingkungan kampus mengingatkan kita bahwa jabatan, agenda, rapat, tulisan, dan berbagai rencana tidak selalu sempat diselesaikan. Maka, selagi masih diberi waktu, mari menyelesaikan amanah, meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan meninggalkan manfaat.


Ketujuh, hidupkan harapan melalui amal yang berkelanjutan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis riwayat Muslim ini memberikan arah bagi kita untuk meneruskan manfaat, bukan hanya merawat kenangan.


Boleh jadi, salah satu warisan terbaik Ustaz Israk bukan hanya tulisan ilmiah atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan juga ilmu yang telah dibagikan, masyarakat yang pernah diberdayakan, persahabatan yang dibangun, dan kebaikan yang terus diceritakan orang-orang yang pernah mengenalnya.


Di situlah kerinduan menemukan jalannya. Kita tidak lagi dapat berjalan bersama beliau di lorong kampus atau duduk berdiskusi seperti dahulu. Namun, kita masih dapat bergerak meneruskan nilai-nilai baik yang pernah beliau hadirkan.


Bergerak dalam kerinduan


Ustaz Israk, kami merasa kehilangan. Kami merindukan senyum, keramahan, percakapan, dan keakraban yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kita. Kenangan sejak 1993 di Kuala Lumpur hingga perjumpaan-perjumpaan dalam pengabdian di UIN Ar-Raniry dan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat akan tetap menjadi bagian dari ingatan kami.


Namun, kami memahami bahwa kerelaan atau ketidakrelaan manusia tidak mengubah keputusan Allah. Yang dapat kita lakukan ialah belajar menerima, mengikhlaskan, dan memohon agar keputusan-Nya menjadi jalan terbaik bagi almarhum serta menjadi pelajaran berharga bagi kami yang masih tinggal.


Kerinduan tidak harus membuat kita berhenti bergerak. Sebaliknya, kerinduan dapat menjadi energi untuk melanjutkan kebaikan, mempererat persaudaraan, dan mengisi waktu yang tersisa dengan pengabdian yang lebih bermakna.


Selamat jalan, Ustaz Israk Ahmadsyah. Semoga Allah menerima seluruh amal salehmu, mengampuni segala kekhilafanmu, melapangkan alam kuburmu, menerangi tempat peristirahatanmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.


Ya Allah, ampunilah dosa-dosa almarhum, rahmatilah dirinya, muliakanlah tempat kembalinya, luaskanlah tempat masuknya, dan bersihkanlah dirinya sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Anugerahkanlah kepadanya tempat kembali yang penuh kenikmatan dan keridaan-Mu.


Ya Allah, kuatkanlah keluarga yang ditinggalkan, hiburlah hati mereka, karuniakanlah kesabaran dan keikhlasan, serta jadikanlah kenangan baik tentang almarhum sebagai penguat untuk meneruskan kebaikan.


Semoga Allah mempertemukan kita kembali di dalam surga-Nya, dalam keadaan memperoleh rahmat dan rida-Nya.


Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.


Al-Fatihah.


Amin ya Rabbal ‘alamin.


Darussalam 13 Oktober 2026


(Penulis, sahabat alm Ust Israk, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update