Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sesuatu yang menarik ketika kita memperbincangkan angka seribu. Bersama beberapa kawan, kami mendiskusikan angka yang tampak sederhana, tetapi ternyata memiliki rentang makna yang luas dalam kehidupan manusia. Dari uang, Al-Qur’an, sastra, percakapan sehari-hari, hingga tradisi zikir masyarakat Aceh, angka seribu seakan menyimpan cerita tentang nilai, harapan, dan kesungguhan.
Saya teringat masa kecil. Ketika itu, uang seribu rupiah terasa banyak. Bagi anak-anak, memilikinya bisa menghadirkan kegembiraan tersendiri. Bagi orang yang memiliki peluang untuk mengembangkan usaha, seribu rupiah pun dapat menjadi modal awal untuk memperoleh hasil yang lebih besar. Nilai uang memang berubah mengikuti zaman, tetapi pengalaman itu meninggalkan pelajaran: sesuatu yang tampak kecil dapat menjadi berarti ketika berada dalam keadaan yang tepat dan dikelola dengan sungguh-sungguh.
Barangkali karena itulah angka seribu begitu mudah melekat dalam imajinasi manusia. Ia menggambarkan jumlah yang besar, sesuatu yang melampaui kebiasaan, atau sebuah ukuran untuk menyatakan kelimpahan. Menariknya, Al-Qur’an juga menggunakan angka seribu dalam sejumlah ayat untuk menjelaskan perkara-perkara besar, termasuk kemuliaan waktu, pertolongan Allah, dan perumpamaan pahala.
Lantas, bagaimana kita memahami angka seribu dalam zikir? Apakah ia semata-mata bilangan, atau sebuah ajakan untuk memperbanyak ingatan kepada Allah?
Seribu dalam bahasa Al-Qur’an
Salah satu ayat yang paling dikenal umat Islam adalah firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Ayat ini memperlihatkan betapa istimewanya sebuah malam yang oleh Allah diberi kedudukan lebih baik daripada seribu bulan. Jika seribu bulan dikonversi menjadi hitungan tahun, jumlahnya sekitar 83 tahun empat bulan. Namun, pesan ayat ini bukan sekadar perbandingan aritmetika. Ia mengajak manusia memahami bahwa nilai suatu kesempatan tidak selalu ditentukan oleh panjangnya waktu, melainkan oleh kemuliaan dan keberkahan yang Allah letakkan di dalamnya.
Dalam penjelasan tafsirnya, Ibnu Katsir menerangkan keutamaan Lailatulqadar dan mengutip penjelasan para ulama terdahulu tentang nilai amal pada malam tersebut. Riwayat tafsir yang dihimpun Al-Tabari juga memuat penjelasan bahwa amal pada Lailatulqadar lebih baik daripada amal selama seribu bulan yang tidak memiliki malam semulia itu. (Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Tabari atas QS Al-Qadr: 3).
Di sini kita menemukan sebuah pelajaran penting: Allah dapat melipatgandakan nilai sebuah amal melalui kemurahan dan karunia-Nya. Manusia mungkin menghitung waktu dengan jam, hari, bulan, dan tahun, tetapi nilai ibadah tidak selalu mengikuti ukuran waktu yang biasa kita gunakan.
Angka seribu juga muncul dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, ketika Allah memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Satu benih menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah kemudian menegaskan bahwa Dia melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki.
Perumpamaan tersebut menghasilkan gambaran 700 biji dari satu benih. Pesannya bukan bahwa semua amal pasti memperoleh balasan dengan rumus matematis yang sama, melainkan bahwa kebaikan memiliki potensi berkembang jauh melampaui apa yang terlihat pada permulaannya.
Dalam Surah Ali Imran ayat 124–125, angka seribu dan tiga ribu disebut dalam konteks pertolongan Allah kepada kaum Muslimin. Sementara itu, Surah Al-Anfal ayat 9 menyebut janji pertolongan dengan seribu malaikat yang datang secara berurutan. Konteks ayat-ayat ini berkaitan dengan peristiwa dan pertolongan Allah, bukan dengan bilangan zikir.
Dengan demikian, kita tidak perlu memaksakan satu makna untuk setiap kemunculan angka seribu. Justru dengan memahami konteksnya, kita dapat menangkap pesan yang lebih luas: ada nilai yang dilipatgandakan, ada pertolongan yang diharapkan, dan ada kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Seribu dalam sastra dan percakapan manusia
Dalam dunia sastra, angka seribu juga memiliki daya tarik yang panjang. Kita mengenal Seribu Satu Malam, sebuah kumpulan cerita rakyat dari kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan yang dihimpun selama berabad-abad. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai One Thousand and One Nights, sedangkan dalam bahasa Prancis populer dengan judul Les Mille et Une Nuits.
Karya tersebut mengingatkan kita pada kisah Syahrazad yang menyampaikan cerita demi cerita kepada Raja Syahriar. Kisah-kisahnya melintasi dunia petualangan, kebijaksanaan, kecerdikan, kekuasaan, cinta, dan nasib manusia. Angka seribu satu menjadi bagian dari daya pikat judulnya, menghadirkan kesan cerita yang panjang dan seolah tidak berkesudahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengenal ungkapan “seribu satu macam”. Ungkapan itu menggambarkan beragamnya keadaan, cara, atau kemungkinan. Ada pula “seribu satu alasan”, biasanya diucapkan ketika seseorang dianggap terus-menerus mencari dalih untuk menghindari kewajiban atau tanggung jawab.
Kita juga mengenal istilah “langkah seribu”, yakni ungkapan untuk seseorang yang buru-buru melarikan diri atau menjauh dari keadaan yang dihadapinya. Bahkan, nama “kaki seribu” digunakan untuk menyebut hewan berkaki banyak, meskipun jumlah kakinya tidak selalu tepat seribu.
Semua itu memperlihatkan bahwa angka seribu telah melampaui makna hitungannya. Dalam bahasa, ia dapat menjadi simbol kelimpahan, keragaman, kecepatan menghindar, atau sesuatu yang terasa tidak terhitung banyaknya.
Dari sinilah kita dapat memasuki pembicaraan tentang zikir seribu. Bukan untuk menyamakan semua makna tersebut, melainkan untuk memahami mengapa sebuah bilangan dapat menjadi simbol yang kuat dalam membangun kebiasaan dan tradisi masyarakat.
Ketika seribu menjadi zikir
Dalam tradisi masyarakat Aceh, kita mengenal Rateb Siribee, yang lazim dipahami sebagai zikir seribu. Salah satu bentuk praktiknya adalah memperbanyak pengucapan kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Lā ilāha illallāh.
“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian bunyi yang diulang. Ia merupakan inti pengakuan tauhid, pernyataan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Mengucapkannya berarti memperbarui kesadaran tentang siapa yang menjadi tujuan pengabdian dan kepada siapa manusia menggantungkan harapan.
Tradisi Rateb Siribee juga menjadi perhatian penelitian akademik. Sebuah skripsi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh berjudul Rateb Siribee: Spiritualitas dan Solidaritas Religius Masyarakat Pedesaan di Aceh Modern mengkaji majelis zikir tersebut dalam kehidupan masyarakat Labuhanhaji. Kajian itu menempatkan zikir bukan hanya sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan solidaritas keagamaan masyarakat.
Di sinilah kita melihat bahwa zikir berjamaah dapat memiliki dua dimensi yang saling menguatkan. Pertama, dimensi hubungan seorang hamba dengan Allah. Kedua, dimensi kebersamaan manusia yang berkumpul untuk mengingat Allah, mempererat persaudaraan, dan memelihara kehidupan religius di lingkungannya.
Namun, kita perlu membedakan antara bilangan yang digunakan dalam tradisi dan perintah umum agama. Angka seribu pada nama Rateb Siribee dapat dipahami sebagai penanda banyaknya zikir atau sebagai bilangan dalam tata cara praktik tertentu. Adapun kewajiban memperbanyak zikir memiliki dasar tersendiri dalam Al-Qur’an dan hadis.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya.”
Perintah itu sangat jelas: dzikran katsīrā, zikir yang banyak. Allah tidak membatasi perintah tersebut pada satu tempat, satu kelompok usia, atau satu kegiatan seremonial. Zikir merupakan bagian dari kehidupan seorang mukmin.
Ayat berikutnya, Surah Al-Ahzab ayat 42, memerintahkan agar Allah disucikan pada waktu pagi dan petang. Ini memberi gambaran bahwa mengingat Allah bukan hanya kegiatan sesekali, melainkan kebiasaan yang menyertai perjalanan waktu manusia.
Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ayat ini menjadi landasan spiritual bagi keyakinan bahwa zikir memiliki hubungan erat dengan ketenteraman batin.
Karena itu, jika kita hendak mengambil pelajaran dari Rateb Siribee, kita dapat mengatakan bahwa seribu menjadi pengingat untuk memperbanyak zikir, membiasakan lisan dengan kalimat tauhid, dan menjaga agar ingatan kepada Allah tidak berhenti setelah majelis selesai.
Nabi mengajarkan lisan yang selalu basah dengan zikir
Anjuran memperbanyak zikir juga ditegaskan Rasulullah saw. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi nomor 3375, Abdullah bin Busr menceritakan bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi bahwa berbagai tuntunan Islam terasa banyak baginya. Ia meminta amalan yang dapat terus dipegangnya.
Rasulullah menjawab:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Biarlah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.”
At-Tirmidzi menilai hadis tersebut hasan gharib melalui jalur periwayatannya itu.
Pesan hadis ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Nabi tidak hanya mengajarkan zikir sebagai kegiatan yang memiliki awal dan akhir, tetapi juga menggambarkan hubungan yang terus terpelihara antara lisan dan ingatan kepada Allah.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda bahwa perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat-Nya seperti orang hidup dan orang mati. Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari nomor 6407.
Perumpamaan tersebut tentu tidak berarti orang yang tidak berzikir kehilangan kehidupan biologisnya. Ia menggambarkan perbedaan kehidupan rohani: hati yang terpelihara oleh zikir memiliki hubungan yang aktif dengan Tuhannya, sedangkan hati yang lalai kehilangan sebagian cahaya pengingat yang semestinya menuntun perilakunya.
Dari ayat dan hadis tersebut, kita memperoleh landasan yang kuat. Memperbanyak zikir bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan bagian dari tuntunan agama. Tradisi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebiasaan itu, selama pelaksanaannya tidak mengabaikan kewajiban lain dan tetap berada dalam koridor ajaran Islam.
Apa manfaat zikir bagi jiwa?
Manusia modern hidup dalam lingkungan yang penuh rangsangan. Pesan masuk tanpa henti, berita datang silih berganti, tuntutan pekerjaan bertambah, sementara pikiran sering terbawa oleh persoalan yang belum selesai. Tidak sedikit orang yang tubuhnya berada di satu tempat, tetapi pikirannya berkelana ke banyak arah.
Dalam keadaan seperti ini, zikir dapat menjadi kesempatan untuk menghentikan sejenak arus perhatian yang terus bergerak. Ketika seseorang duduk dengan tenang, mengucapkan kalimat tauhid secara berulang, dan berusaha menghadirkan maknanya, ia sedang mengarahkan perhatian kepada satu hal yang dianggap paling mendasar dalam kehidupannya.
Dari perspektif psikologi, kegiatan mengulang kata atau frasa yang bermakna dapat membantu sebagian orang mengatur perhatian dan meredakan respons terhadap tekanan. Namun, manfaatnya perlu dijelaskan secara proporsional. Penelitian tentang meditasi dan pengulangan mantra tidak otomatis membuktikan bahwa setiap bentuk zikir memiliki efek klinis yang sama.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine pada 2014 menemukan bahwa program meditasi kesadaran penuh dapat memberikan perbaikan kecil hingga sedang pada beberapa ukuran kecemasan dan depresi dalam kelompok penelitian yang ditelaah. Penelitian tentang pengulangan mantra juga menunjukkan kemungkinan manfaat terhadap tekanan psikologis, tetapi kualitas bukti dan keterbatasan studi masih perlu diperhatikan.
Temuan-temuan itu dapat membantu kita memahami kemungkinan mekanisme psikologis di balik kegiatan yang berulang, seperti pengaturan perhatian, jeda dari pikiran yang mengganggu, dan latihan mengarahkan kesadaran. Namun, kita tidak boleh menyamakan seluruh praktik tersebut atau menjanjikan bahwa zikir pasti menyembuhkan gangguan mental.
Bagi seorang Muslim, zikir memiliki dimensi yang lebih luas daripada teknik relaksasi. Ia merupakan ibadah, pengakuan ketergantungan kepada Allah, dan upaya memelihara hubungan spiritual dengan-Nya. Ketenteraman yang dirasakan dapat menjadi bagian dari pengalaman beribadah, meskipun intensitasnya berbeda pada setiap orang.
Ada pula manfaat pendidikan karakter yang patut diperhatikan. Ketika seseorang membiasakan lisannya dengan kalimat-kalimat baik, ia sedang melatih dirinya untuk lebih berhati-hati terhadap ucapan. Kebiasaan itu diharapkan berlanjut pada cara memperlakukan pasangan, anak, tetangga, teman kerja, dan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya.
Zikir tidak menjadikan manusia bebas dari masalah. Ia juga bukan alasan untuk mengabaikan ikhtiar, pengobatan, tanggung jawab, atau penyelesaian persoalan secara nyata. Akan tetapi, zikir dapat menjadi salah satu sumber kekuatan spiritual dalam menghadapi masalah tersebut.
Dari lisan yang berzikir menuju lisan yang berakhlak
Ada pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: apa arti ribuan kali mengucapkan lā ilāha illallāh jika setelahnya kita mudah mencaci, merendahkan, memfitnah, atau menyakiti orang lain dengan ucapan?
Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan ibadah zikir. Sebaliknya, ini merupakan ajakan agar zikir tidak berhenti pada gerakan lisan, tetapi berusaha menumbuhkan kesadaran yang tercermin dalam akhlak.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 53 agar hamba-hamba-Nya menyampaikan perkataan yang lebih baik. Dalam Surah Qaf ayat 18, Allah mengingatkan bahwa setiap ucapan yang keluar dari manusia berada dalam pengawasan pencatat amal.
Rasulullah saw. juga bersabda, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.
Pesannya sederhana, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Kita sering mampu mengulang kalimat tauhid di majelis, tetapi kesulitan menahan satu kalimat kasar ketika tersinggung. Kita mampu melafalkan zikir dalam hitungan ratusan, tetapi kadang-kadang tidak mampu menahan diri dari komentar yang merendahkan orang lain di media sosial.
Karena itu, ukuran keberhasilan zikir tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah yang telah diucapkan. Kita juga perlu memeriksa apakah zikir membantu kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih santun, lebih bertanggung jawab, dan lebih mudah meminta maaf ketika berbuat salah.
Tentu kita tidak dapat mengukur kedudukan ibadah seseorang hanya dari perilaku yang tampak. Penerimaan amal adalah urusan Allah. Namun, kita tetap bertanggung jawab untuk mengupayakan agar ibadah melahirkan perubahan yang baik dalam kehidupan.
Membiasakan zikir dalam kehidupan sehari-hari
Generasi Muslim, khususnya anak-anak muda yang tumbuh bersama telepon pintar dan media sosial, membutuhkan cara yang realistis untuk membangun kebiasaan zikir. Tidak cukup hanya menyerukan agar mereka memperbanyak zikir; kita juga perlu membantu mereka menemukan jalan untuk menjadikannya bagian dari kehidupan.
Pertama, mulailah dari waktu yang tetap. Sesudah salat wajib, setelah membaca Al-Qur’an, ketika menunggu kendaraan, atau sebelum tidur, pilihlah waktu yang memungkinkan untuk berzikir secara teratur. Kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat menjadi fondasi bagi kebiasaan yang lebih besar.
Kedua, pahami kalimat yang diucapkan. Ketika melafalkan lā ilāha illallāh, ingatlah makna tauhidnya. Ketika membaca subhānallāh, hadirkan kesadaran akan kesucian Allah. Ketika mengucapkan alhamdulillāh, latih diri untuk mengenali nikmat yang sering terlupakan. Penghayatan tidak selalu hadir sempurna pada setiap pengulangan, tetapi dapat terus dilatih.
Ketiga, gunakan hitungan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Jika mengikuti majelis Rateb Siribee dengan hitungan tertentu, ikutilah tata cara yang dibimbing oleh guru atau pemimpin zikir. Dalam kebiasaan pribadi, seseorang juga dapat memulai dengan jumlah yang mampu dijaga, kemudian meningkatkannya secara bertahap. Jangan sampai mengejar angka membuat kita mengabaikan makna atau meninggalkan kewajiban lain.
Keempat, isi jeda kehidupan dengan kalimat yang baik. Saat berjalan, berkendara sebagai penumpang, atau menunggu giliran, manfaatkan waktu untuk berzikir tanpa mengabaikan keselamatan dan tanggung jawab. Kita tidak harus menunggu berada di masjid untuk mengingat Allah.
Kelima, latih jeda sebelum berbicara. Ketika marah, jangan terburu-buru mengetik komentar atau mengucapkan kalimat yang akan disesali. Berhenti sejenak, menarik napas, beristigfar, dan menimbang akibat perkataan merupakan latihan akhlak yang dapat menyertai kebiasaan zikir.
Keenam, bangun lingkungan yang mendukung. Keluarga, sekolah, kampus, masjid, dan komunitas pemuda dapat menyediakan ruang zikir yang nyaman dan mendidik. Majelis zikir sebaiknya tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial, persaudaraan, dan semangat memperbaiki diri.
Ketujuh, lakukan evaluasi akhlak setiap hari. Sesudah berzikir, tanyakan kepada diri sendiri: apakah hari ini saya lebih sabar? Apakah saya menahan satu ucapan yang menyakitkan? Apakah saya menunaikan tanggung jawab yang sempat ingin saya hindari? Apakah saya telah meminta maaf kepada orang yang saya sakiti?
Dengan cara itu, zikir tidak hanya memiliki hitungan, tetapi juga memiliki arah.
Jangan sampai seribu menjadi seribu satu alasan
Kita telah mengenal ungkapan seribu satu alasan untuk menggambarkan orang yang selalu mencari dalih agar terhindar dari tanggung jawab. Bukankah ironi jika kita rajin memperbanyak zikir, tetapi tetap pandai mencari alasan untuk tidak menunaikan amanah?
Kita juga mengenal istilah langkah seribu, ketika seseorang memilih melarikan diri dari persoalan yang semestinya dihadapi. Jangan sampai kaki kita ringan melangkah menuju majelis zikir, tetapi berat melangkah menuju orang yang membutuhkan pertolongan. Jangan sampai lisan kita fasih mengucapkan kalimat tauhid, tetapi kelu untuk mengakui kesalahan.
Zikir seharusnya tidak menjauhkan kita dari kehidupan. Justru ia perlu membantu kita kembali ke tengah kehidupan dengan hati yang lebih terarah. Orang yang mengingat Allah tetap harus bekerja, belajar, menjaga keluarga, melayani masyarakat, menepati janji, dan menyelesaikan persoalan yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam konteks ini, tradisi Rateb Siribee memiliki ruang untuk terus memberi makna bagi kehidupan masyarakat Aceh. Majelis zikir dapat menjadi tempat memelihara spiritualitas sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Orang-orang yang duduk bersama menyebut nama Allah semestinya juga belajar saling menghormati, saling menolong, dan tidak mudah menjatuhkan satu sama lain.
Angka seribu mengingatkan kita pada banyaknya pengulangan. Akan tetapi, kehidupan yang baik tidak dibangun hanya oleh banyaknya pengulangan, melainkan oleh kebaikan yang terus diulang.
Penutup: memperbanyak zikir, memperluas kebaikan
Dahulu, uang seribu rupiah dapat menghadirkan kebahagiaan bagi seorang anak. Kini, dalam kehidupan yang berbeda, angka seribu tetap memiliki daya untuk mengajak kita berpikir tentang nilai dan kelimpahan. Serta kelipatan, sampa misalnya seribu triliun atau ribuan tanpa batas.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa suatu malam dapat lebih baik daripada seribu bulan. Perumpamaan tentang sedekah memperlihatkan bagaimana satu benih dapat menghasilkan ratusan biji. Sastra menggunakan seribu satu malam untuk membingkai cerita yang panjang. Bahasa sehari-hari memakai angka seribu untuk menggambarkan keragaman, banyaknya alasan, atau langkah menghindar.
Dalam tradisi zikir Aceh, seribu mengingatkan kita pada ajakan untuk memperbanyak kalimat-kalimat baik dan menjaga ingatan kepada Allah. Dasar perintah itu telah ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, sedangkan Rateb Siribee menjadi salah satu bentuk praktik keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah membuat angka seribu terdengar sakral dalam setiap keadaan. Yang penting ialah mengambil pelajaran darinya: jangan meremehkan kebaikan yang diulang, jangan menyia-nyiakan kesempatan, dan jangan membiarkan lisan lebih akrab dengan keburukan daripada dengan kebaikan.
Mari kita basahi lisan dengan zikir, kita hidupkan hati dengan mengingat Allah, dan kita buktikan pengaruhnya melalui perilaku sehari-hari. Jika kita mampu memperbanyak kalimat lā ilāha illallāh, semoga kita juga semakin mampu menjaga lisan dari caci maki, menjaga hati dari kebencian, dan menjaga tangan dari perbuatan yang merugikan sesama.
Sebab, zikir yang kita harapkan bukan hanya zikir yang memenuhi hitungan, melainkan zikir yang menuntun kehidupan.
Ribuan terimakasih.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Tungkop, 13 Oktober 2026
(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
